
Seperti biasa mereka menaiki mobil pribadi Sabi dengan Pak Van yang menjadi supirnya. Kali ini Zulaikha duduk di belakang bersama dengan Sabi, karena Sabi yang memintanya sendiri pada Zulaikha agar duduk berdampingan dengannya.
Sesekali Sabi menarik nafas, entah kenapa dia merasa grogi dengan situasi yang seperti ini. Rasanya sangat canggung, bahkan dia sempat berpikir bahwa ide yang diberikan oleh John bukanlah ide yang baik. Rasanya dia seperti sedang melakukan kencan dengan sekertarisnya sendiri.
“Tuan muda ... kita mau kemana?” Tanya Zulaikha lembut, mencairkan suasana yang terasa canggung bagi Sabi.
Sabi sedikit berpikir, seolah tidak tau mau kemana. Padahal dia sudah memikirkan tempat bagus yang ingin dia kunjungi. Alhasil, dia hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban tidak tahu.
“Hm?!” Alis Zulaikha sebelah naik ke atas. Menatap bingung Sabi. “Lalu kita mau makan dimana?”
“Terserah.” Jawabnya singkat sambil mengangkat kedua bahunya dan tersenyum.
Apa ini? Kenapa malah terbalik?! Seharusnya wanita yang mengatakan itu, bukan?! Gumam Zulaikha dengan sedikit terkekeh.
“Kenapa kamu ketawa?” Sabi melirik wajah lembut Zulaikha yang sedang terkekeh dan Zulaikha hanya menggeleng lembut menyembunyikan alasannya.
Sabi mendesis lalu mengalihkan pandangannya.
“Aku punya tempat makan favorit, makanan disitu enak. Tempatnya juga sangat sederhana, kamu mau?”
“Boleh.” Ucap Zulaikha tersenyum, melihat Sabi yang sama skali tak menoleh padanya.
Setelah beberapa menit berkendara, mereka akhirnya sampai di tempat yang Sabi maksud. Di sebuah taman kota, dimana banyak pedagang kaki lima beserta gerobaknya telah tersebar di segala penjuru taman dengan dagangannya yang terpampang memanjakan mata pecinta makanan berlemak.
“Kita sampai.” Seru Sabi yang sudah keluar dari mobil terlebih dahulu, lalu membukakan pintu untuk Zulaikha.
Mata gadis itu membulat sempurna melihat sikap manis Sabi, padanya hari ini. Membuat hatinya semakin ingin melompat kegirangan dibuatnya.
Apakah ini yang dialami oleh Nona Queen setiap jalan bersama dengan tuan muda?! Zulaikha tersenyum tipis, berjalan beriringan disebelah Sabi.
Mereka berdua berjalan santai menuju pedagang kesayangan Sabi yang letaknya ada di ujung taman. Sambil berjalan, Sabi sedikit menceritakan masa remajanya di kota ini bersama dengan sahabat dekatnya John, yang sempat Zulaikha temui tadi. Zulaikha dengan antusias terus mendengar apa yang diceritakan Sabi, padanya sambil membayangkan setiap kejadian yang diceritakan oleh Sabi.
Cerita Sabi terdengar menyenangkan untuk seorang anak remaja kaya yang bisa melakukan apapun yang dia mau. Bolos sesuka hati, jajan kesana kemari bahkan terkadang bolos sampai ke luar kota. Zulaikha yang mendengarnya jadi merasa miris dengan masa remajanya dulu, yang banyak dia habiskan hanya di depan buku. Belajar, belajar dan belajar. Sangat takut untuk bolos, berpikir banyak kali untuk jajan ini itu, keluar kota pun hanya sekali seumur hidupnya itupun jika bukan karena Ibunya meninggal dan saudarinya menghilang, mungkin mereka tidak akan keluar dari desa kecil tempat dia lahir.
“Kita sampai.” Seru Sabi lagi saat mereka sampai di depan dagangan penjual kaki lima kesayangannya. “Ini pedagang kesayanganku, somay yang paling enak disini.” Sabi segera mengambil satu tusuk siomay dan melahapnya, merasakan adonan daging sapi yang sangat berasa dengan bumbu sambal kacang yang gurih. “Hmm ... enaknya!”
Zulaikha terkekeh melihat Sabi yang terlihat polos seperti anak kecil, saat menyantap somay itu.
Bodoh! Dia memang anak kecil dengan tubuh raksasa. Gumamnya terus memandang Sabi.
“Hey ... cobalah. Kamu pasti akan ketagihan, Queen saja_” Ucap Sabi tergantung.
“Kenapa dengan Queen, tuan?”
“Hm ... tidak.” Sabi segera mengambilkan beberapa tusuk somay dan meletakkannya di sebuah piring kecil, lalu diberikan pada Zulaikha.
Jawaban Sabi, membuat batin Zulaikha semakin penasaran dan bertanya-tanya. Dia jadi ragu dengan ucapannya pada Zayn, bahwa Sabi dan Queen tidak akrab seperti yang dia lihat.
“Hey makan yang banyak. Habis ini kita akan kerja lembur.” Seru Sabi, sedikit terkekeh dan Zulaikha mengangguk segera menyantap somay yang diberikan Sabi padanya.
Harus dia akui, selera Sabi terhadap makanan memang sangat baik. Somay di tempat ini memang enak. Rasa dagingnya sangat berasa dan tidak lengket di langit-langit mulut, dan bumbu kacangnya pun gurih. Membuat lidah pemakan somay itu terasa seperti dimanjakan dengan kenikmatannya.
“Bagaimana? Enakkan?!” Sabi melirik Zulaikha, dengan tatapan bersemangat.
“Hm ... iya enak, tuan.” Zulaikha mengangguk.
“Pacarnya mana mas?” Tanya mba pedagang kaki lima itu pada Sabi.
Sabi menoleh, menatap bingung penjual kaki lima itu. “Ha? Pacar?”
“Iya pacar Mas yang rambut pirang itu lo.” Sergah mba penjual kaki lima berusaha menjelaskan ciri-ciri Queen Lee.
“Rambut pirang?” Tany Sabi lagi, memastikan.
Mba penjual somay itu mengangguk. “Iya rambut pirang. Si bule rasa lokal itu loh mas.”
Sabi langsung membuang tusuk somaynya, dan mengangguk mengerti siapa yang dimaksud oleh pedagang somay itu padanya.
“Oooh Queen? Dia bukan pacar saya mba.”
Hmm ... jadi benar, Queen juga pernah datang kesini. Sepertinya memang benar mereka akrab lebih dari yang terlihat. Zulaikha terus menyimak pembicaraan Sabi dan Mba penjual somay yang terus membahas Queen.
Pembicaraan mereka terdengar sangat seru saat menceritakan pengalaman pertama Queen yang memakan somay di tempat ini. Mereka bahkan menertawakan Queen, merasa kehadiran Queen sepertinya sangat dinantikan oleh penjual somay itu. Zulaikha tersenyum kecut mendengarnya.
“Ini juga pasti bukan pacarnya, mas. Iyakan?” Penjual somay itu berhasil menebak dengan benar dan Sabi mengangguk ceria membenarkan ucapan mba penjual somay itu.
“Tambah lagi mba. Somaynya sudah ludes tuh dipiring.” Canda Mba somay itu sambil menunjuk piring Zulaikha yang sudah kosong. “Jangan malu-malu, tambah aja. Si Queen juga kemarin begitu pas pertama makan disini. Awalnya malu-malu mau nambah, sama kayak Mba.”
“Iya mba. Saya sudah kenyang.” Zulaikha mengangguk sembari meletakkan piring kecil itu, sambil terus tersenyum kecil pada mba penjual somay.
“Kamu sudah kenyang? Cepat skali.” Seru Sabi yang masih mengambil satu tusuk somay lagi.
“Sepertinya anda sangat menyukai somay disini yah, tuan.” Ucap Zulaikha yang melihat betapa sukanya Sabi dengan somay di tempat ini.
“Tentu. Ini somay favoritku sejak dulu.” Sabi mengangguk dengan mulut yang masih penuh.
Sekali lagi Zulaikha terkekeh dibuatnya.
Melihat Zulaikha yang sudah selesai makan dan tengah menunggunya, Sabi semakin mempercepat kegiatan mengunyahnya. Dia tidak ingin membuat gadis itu menunggu terlalu lama. Segera dia mengeluarkan dompetnya, membayar somay yang mereka berdua makan dan beranjak pergi dari situ.
Ditempat parkir, Pak Van juga terlihat telah selesai makan somay yang ada di dekat mobil. Sabi dan Zulaikha tersenyum melihat Pak Van yang langsung berlari ke mobil, ketika melihat kedatangan mereka.
Pak Van dengan sigap langsung masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin, agar Sabi tidak menunggu lama. Karena bagi Pak Van, lebih baik dia yang menunggu daripada harus membuat orang lain menunggu. Itulah mengapa Sabi memilih Pak Van untuk menjadi supir pribadinya.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil, dan duduk berdampingan. Kali ini Sabi tidak merasa canggung lagi seperti tadi, dia mulai merasa nyaman dan menganggap biasa kehadiran Zulaikha yang duduk di sebelahnya.
“Pak, ke cafe biasa yah ...” ucap Sabi pada Pak Van.
“Baik, tuan.” Sahut Pak menganggukkan kepalanya, lalu mulai menancap gas perlahan. Melaju dengan kecepatan sedang ke cafe langganan Sabi.
“Tuan, saya pikir kita akan kembali ke kantor.” Kata Zulaikha, melirik Sabi yang ada di sebelahnya.
Sabi tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Sepertinya kita kesana dulu baru kembali ke kantor.” Ucap Sabi, sedikit melirik ke arah Zulaikha.
Zulaikha mengangguk mengerti, menurut saja pada kemauan bossnya itu. Hitung-hitung ini sebagai rekreasi baginya yang belum pernah libur semenjak dia bekerja menjadi asisten pribadi Andi Sabiru.
Bersambung ....