FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
40. Berbagi



Sabi menggendong Queen menuju kantornya dan mendudukkan Queen di sofa. Dia lalu mengeluarkan sebuah bungkusan coklat dari dalam saku celananya.


“Makanlah dulu ini. Nanti aku akan memesankanmu makanan.”


Queen melirik Sabi dengan tatapan jengkel.


“Tidak usah malu. Ambillah.. aku tau kamu lapar.” Sabi masih terus menyodorkan bungkusan coklat itu pada Queen yang sama skali tidak ada minat untuk makan.


Karena tak kunjung diambil oleh Queen, Sabi membuka bungkusan coklat itu. Lalu diserahkannya lagi pada Queen yang masih menatapnya jengkel.


“Ini coklat kesukaanku. Dari aku kecil, aku selalu makan coklat ini.”


Queen menarik nafasnya dalam - dalam.


Rasa galau yang tadi dia rasakan ketika melihat Zayn malah berganti dengan perasaan jengkel pada Sabi yang sok tau pada hidupnya.


Kenapa ada manusia seperti ini?! Dia benar - benar sok tau. Aaaaarrghhhh...


“Sa_”


Sabi langsung memasukkan coklat itu kedalam mulut Queen.


“Yaaa!!!” Teriak Queen, kesal.


Sabi langsung menutup mulut Queen, agar Queen tidak memuntahkan coklat yang barusan dia isi dimulut Queen.


Dengan segala kekuatan yang dia miliki, Queen berusaha melepaskan dirinya dari dekapan tangan Sabi yang menempel pada mulutnya. Namun apa daya, dirinya tidak berdaya dan dengan sangat terpaksa mengunyah cokelat itu lalu menelannya.


“Nahh gitu dong!” Seru Sabi, tersenyum girang pada Queen.


“Tuan muda, anda sudah terlambat.” Ucap Zulaikha yang sudah putus asa melihat sikap Sabi.


“Oh iya!” Seru Sabi melepaskan tangannya dan pergi berlari meninggalkan Queen yang masih menatap jengkel dirinya dari belakang.


Zulaikha mau tak mau pun ikut berlari mengejar Sabi yang telah pergi lebih dulu.


Di dalam lift, Sabi melirik Zulaikha dan tersenyum lebar pada asistennya itu.


“Gimana? Aku keren kan tadi pas gendong Queen?!”


Ha?!


“Aku sudah mirip artis papan internasional kan kayak gitu?!”


Ha?! Anda kenapa tuan muda?!


“Iyakan Zu?!” Sabi meletakkan tangannya dikedua pundak gadis itu.


Mata Zulaikha langsung mengerjap kaget dengan sikap Sabi yang terasa sudah sangat dekat dengannya.


“I iya tuan muda.” Jawabnya canggung dan malu.


“Good!” Sabi melepaskan tangannya yang menempel dipundak Zulaikha.


“Setelah ini, dia pasti tidak akan memandangku sebagai pekerja yang tidak kompeten.” Ucapnya percaya diri.


Astagah.. jadi masih seputar muka tidak kompeten, hingga dengan mudahnya melewatkan waktu rapat.?! Tuan muda.. kamu kapan dewasa seperti yang seharusnya sih?!


Zulaikha geleng kepala melihat tingkah Sabi.


...........


Benar saja, selang 20 menit Sabi pergi meninggalkan Queen. Beberapa staff datang membawa makanan yang berprotein tinggi. Staff itu melayani Queen dengan sangat baik dan ramah. Bahkan meminta Queen untuk menyampaikan jika Queen merasa yang kurang dimakanan yang mereka sediakan.


“Tidak usah repot - repot. Ini sudah cukup.”


Sekiranya hanya itu yang bisa dia katakan saat ini. Karena sekarang Queen benar - benar tidak merasa lapar. Dia hanya syok dan juga sedih secara bersamaan melihat Zayn bersama dengan seorang wanita yang tidak dia kenal. Apalagi menggandeng tangan Zayn seperti itu, membuat jantungnya lemas seketika.


Para staff pergi meninggalkan Queen dengan harapaj Queen akan segera menyantap makanan yang mereka antarkan. Namun Queen masih tetap bengong dan diam, sama sekali tidak menggubris makanan yang ada di depannya.


Waktu terus berputar, sudah selang beberapa jam Queen masih belum menyentuh makanan itu sedikitpun. Pikirannya masih dipenuhi dengan Zayn, Zayn dan Zayn.


Pikiran dan jiwanya sedang tidak tenang sekarang. Dia merasa seperti ada di medan tempur. Karena sekarang saingannya bukanlah impian Zayn lagi melainkan seorang wanita yang sekantor dengan Zayn.


Bagaimana aku bisa menang, jika sekarang sainganku ada dua. Yang pertama impiannya & yang kedua wanita ****** itu!


Queen mendengus frustasi memikirkan cara untuk memenangkan Zayn. Datang ke negara ini pun, dia harus menyusun rencana selama beberapa bulan dengan perencanaan yang sangat matang dan merealisasikan rencana ini setelah 3 tahun dari perencanaan.


Sudah berada sedekat ini dengan Zayn pun sudah sangat bagus. Namun tidak ada perkembangan. Jadi dia perlu merubah rencana A ke rencana B. Dimana dia benar - benar harus bertempur dengan wanita itu untuk menjauhkan wanita itu dari Zayn tanpa ditau Zayn niat sucinya.


Queen.. pikirkan rencana secara matang, lalu realisasikan. Karena jika rencana ini gagal, maka kamu tidak akan pernah bisa menyusun rencana C sampai Z. Semuanya akan sia - sia! Seperti hidupmu yang singkat ini.


Queen merengek kesal, mengingat betapa susahnya untuk mendapatkan lelaki yang sudah dia cintai sejak lama.


“Semangaaaatt!!! Kamu pasti bisa!” Seru Queen dengan jiwa semangat 45.


Dia segera bangkit dari duduknya, dan tak sengaja menyenggol sebuah sendok hingga sendok itu jatuh ke lantai.


Diliriknya sendok itu lamat - lamat. Lalu pandangannya beralih ke meja yang dipenuhi dengan makanan yang berprotein tinggi.


“Astagah.. benar. Bagaimana bisa aku pergi dengan makanan yang aku belum sentuh sedikitpun?!” Queen menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Berpikir Queen.. berpikir.. ayo berpikir..”


Ahaaa!!! Sebuah ide tiba - tiba terbesit dikepalanya.


Queen berdiri di pintu ruangan Sabi, sambil terus memperhatikan karyawan yang akan lewat. Tiba - tiba matanya menangkap ada satu orang karyawan yang akan melintasi ruangan Sabi. Dengan cekatan, Queen meraih tangan karyawan pria itu lalu ditariknya masuk ke dalam ruangan.


“Hey.. apa yang anda lakukan?” Seru karyawan itu kaget.


“Sstttt.. diam bentar!” Sergah Queen.


Tak lama, seorang karyawan wanita pun lewat, lalu ditarik oleh Queen masuk ke dalam ruangan Sabi.


“Astagh.. Apa yang sedang anda lakukan?” Seru karyawan wanita itu sama kagetnya dengan karyawan pria tadi.


“Maaf maaf... aku tidak bermaksud apa - apa. Aku hanya mau minta tolong.”


“Maaf mba.. saya tidak punya waktu. Ada banyak pekerjaan yang menanti di meja saya.” Ujar karyawan wanita itu.


“Benar!” Timpal karyawan pria.


“Etetetet.. kalian tidak boleh pergi.” Queen menghalangi jalan karyawan yang hendak pergi dari ruangan.


Dengan cepat Queen menutup pintu rapat, lalu menguncinya.


“Hey..” seru karyawan pria yang mulai emosi.


“Sebenarnya apa maumu?” Timpal karyawan wanita.


“Nice question!” Seru Queen, mengancungkan jari telunjuknya di depan wajah karyawan wanita itu.


Queen menarik tangan karyawan wanita dan pria itu secara bersamaan menuju meja yang telah tersedia makanan.


“Mba.. apa yang kamu lakukan? Ini ruangan pak Andi Sabiru. Kita akan dalam masalah jika ketahuan pak Andi Sabiru.” Ujar karyawan pria yang baru menyadari keberadaan mereka.


“Sepertinya kalian berdua anak magang yah..”


Kedua karyawan itu saling bersitatap heran, bagaimana mungkin Queen bisa tahu bahwa mereka anak magang baru di kantor ini.


“Tidak usah penasaran aku tau darimana. Aku cuma mau minta kalian menolongku menghabiskan makanan ini.” Queen memperlihatkan tumpukan makanan yang ada di atas meja.


“Tapi kami sedang bekerja sekarang.” Sahut karyawan pria.


“Nanti kalian bisa bilang kalau kalian sedang membantu tamu penting pak Sabi. Kalian juga bisa hemat uang makan siang karena tak lama lagi adalah jam makan siang.” Sahut Queen masih berusaha membujuk.


“Ayolaah.. tolong aku. Plisss..” Queen semakin memelas dengan menyatukan kedua tangannya didepan dada. Memohon agar kedua karyawan itu akan luluh padanya.


“Baiklah.. kebetulan aku sedang lapar.” Sahut karyawan pria yang langsung mengambil posisi duduk.


“Hey apa kamu sudah gila?” Tegur karyawan perempuan itu.


“Ayolah aku tau kamu juga lapar karena disuruh ambil ini, ambil itu. Jangan membohongi dirimu sendiri. Mumpung ada makanan, makan. Karena kapan lagi kamu bisa makan setenang ini. Diluar saat jam makan siangpun kita harus melayani para senior itu terdahulu.” Sergah karyawan pria itu.


Seketika karyawan wanita itu terdiam. Matanya terlihat berkaca - kaca.


Queen langsung terenyuh mendengar ucapan karyawan pria itu.


Sepertinya apa yang dikatakan karyawan pria itu memang benar terjadi dan jika dilihat - lihat, kedua orang itu benar - benar lelah diperlakukan seperti itu.


“Ayo duduk bersamaku.” Queen menarik lembut tangan wanita itu, lalu mendudukkan wanita itu tepat disebelahnya.


“Makanlah.. nikmati makanan kalian.” Ujar Queen tersenyum ramah sambil menyodorkan air putih.


“Selamat makan..” sambung Queen setelah meminum sebuah jus apel.


“Selamat makan..” seru kedua karyawan itu secara bersamaan.


Queen melirik kedua karyawan itu secara bergantian. Kedua karyawan itu makan dengan lahap sambil sesekali menyunggingkan senyuman.


Queen sangat paham bagaimana rasanya berada di posisi mereka. Hanya saja, Queen lebih dulu merasakannya di usia yang masih sangat muda. Dimana dia harus merantau ke Paris seorang diri, dan memulai karirnya sebagai pelukis jalanan sambil bekerja paruh waktu. Dimarahi dan diusir serta dikejar polisi adalah makanan sehari - harinya. Makanpun, mau enak dan tak enak tetap harus dinikmati agar tidak frustasi.


Mereka masih bisa dikatakan beruntung, tapi tetap hati Queen masih terenyuh ketika mendengar apa yang mereka alami.


“Mba.. kenapa mba tidak makan?” Tanya karyawan wanita, yang mendapati Queen hanya melamun memperhatikan mereka.


“Ha?!” Seru Queen tersadar dari lamunannya.


“Ini makan mba..” karyawan wanita itu menyodorkan sebuah steik.


“Oh tidak!” Tolak Queen lembut.


“Kalau begitu ini.” Karyawan pria menyodorkan sebuah spageti yang didalamnya banyak sekali daging dan nasi di kotak sebelah.


“Oh tidak, tidak!” Queen menolaknya lagi dengan lembut.


“Kenapa mba? Ini enak kok mba.” Ujar karyawan wanita.


“Iya enak mba.” Timpal karyawan pria itu.


“Hehehe saya tidak bisa makan makanan seperti itu.” Sahut Queen pelan.


“Kenapa?” Sergah kedua karyawan itu secara bersamaan.


“Nanti saya mati.” Sahut Queen diselingi senyuman hingga kedua matanya menyipit sempurna.


“Haaa?!!!” Kedua karyawan itu bengong.


Queen langsung tertawa terbahak - bahak.


“Tidak tidak..” ucapnya masih tertawa geli.


“Aku tuh dah kenyang. Soalnya sudah makan dari rumah.” Sambung Queen.


“Beneran mba?” Tanya karyawan pria itu.


“Iya beneran.” Jawab Queen lembut.


“Berarti ngga apa - apa dihabisin nih?!” Tanya karyawan wanita itu memastikan.


“Iya ngga apa - apa. Habisin aja. Malahan aku bersyukur kalau habis.”


“Oke deeh..” sahut karyawan wanita itu, lalu melanjutkan kegiatan melahap makanannya.


Setelah kedua karyawan itu menghabiskan makanan, Queen mengucapkan banyak terimakasih pada mereka berdua dan membolehkan mereka pergi.


Mereka membungkuk sambil tersenyum penuh pada Queen sebagai bentuk terimakasih mereka padanya yang sudah berbaik hati memberi mereka makanan yang enak.


Setelah kedua keryawan itu pergi, Queen meninggalkan ruangan Sabi, dan pergi.


............


Sabi dan Zulaikha yang baru saja keluar dari ruangan rapat, terlihat kusut dan tak bersemangat. Sepertinya kali ini mereka berdua diremehkan lagi oleh Zayn saat rapat.


Zulaikha yang menyadari wajah Sabi kusut sama seperti perasaannya saat ini, langsung menepuk pundak Sabi dengan lembut.


“Tidak apa tuan muda.. lain kali kita jangan datang terlambat dan besok besok kita pasti bisa meremehkan si kulkas dua pintu itu.” Ucap Zulaikha berusaha memotivasi Sabi.


“Kalau itu aku sudah lama yakin. Aku pasti bisa mempermalukan dia di ruang rapat. Hanya saja sekarang aku biarkan dia memandang remeh diriku. Biarkan dia merasa setinggi langit, lalu akan kujatuhkan ke tanah.” Ujar Sabi percaya diri.


“Lalu kenapa anda terlihat sedih tuan muda?”


“Oh ini?!” Sabi menunjuk wajah kusutnya.


Zulaikha mengangguk.


“Aku hanya lapar. Dari tadi aku merasa sangat lapar, kue saja tidak sanggup mengganjal perutku.” Sahut Sabi dengan suara memelas.


“Ya ampun.. seharusnya anda mengatakannya tuan. Kalau begitu ayo kita ke ruangan anda.”


“Benar! Ayoo!!!” Seru Sabi melangkah cepat, tak sabar menuju ruangannya.


Mereka berdua berjalan beriringan bersama. Terlihat kemistri mereka berdua sebagai bos dan asisten pribadi mulai terbentuk. Sabi yang sudah menerima keberadaan Zulaikha yang sangat bermanfaat bagi dirinya dan Zulaikha yang mulai menerima sifat dan sikap Sabi yang random dan tidak jelas.


Saat sampai di depan pintu ruangannya. Sabi tersenyum penuh percaya diri sambil melirik Zulaikha.


“Zu.. pasti Queen bosan menunggu kita berdua.”


“Iya tuan. Secara rapat kita hari ini lama banget.” Sahut Zulaikha.


Sabi menarik pintu ruangannya dan masuk dengan percaya diri tanpa melihat ke sekeliling dulu.


“Maaf kami membuat mu menunggu, maklum orang sibuk.” Ucapnya sambil memasukkan tangannya ke kantong celananya.


Eh?! Dia dimana? Gumam Sabi, sedikit terkejut melihat ruangan yang kosong tanpa sosok Queen.


“Sepertinya Nona Queen, sudah pergi tuan.” Zulaikha melangkah mendekati meja yang diatasnya terdapat sisa makanan Queen.


“Dan sepertinya Nona Queen telah menghabiskan seluruh makanannya. Jadi anda tidak perlu hawatir, tuan.” Sambung Zulaikha, memperlihatkan bungkusan - bungkusan makanan yang telah kosong.


“Eh.. siapa yang hawatir dengan dia?! Aku biasa aja kok. Malah bagus kalau dia pergi.” Sergah Sabi, berjalan melewati Zulaikha.


“Tapi.. tadi anda terlihat sangat hawatir padanya, Tuan.”


“Sssttt! Jangan mengada - ngada. Lebih baik kita mengunjungi paman Edie. Karena, sudah saatnya kita menonjol.” Sergah Sabi lagi, penung dengan percaya diri.


“Baik tuan.” Zulaikha mengangguk, semangat.


Bersambung...