
Setelah melewati sesi wawancara yang panjang, menghadapi dan menelaah setiap karakter yang hadir untuk diwawancarai. Akhirnya sesi wawancara hari ini berakhir dengan lancar. Ruangan yang tadinya ramai dihiasi dengan pelamar kerja yang berpakaian putih hitam, perlahan - perlahan ruangan itu jadi sunyi dan kosong tanpa seorangpun.
"Yeeee... selesaii!" seru Sabi dengan raut wajah riang gembira memamerkan lesung pipinya, membuatnya terlihat sangat manis ketika tersenyum.
"Waktunya pulaang!" Sabi bangkit dari duduknya sembari meregangkan otot tangan dan belakangnya.
Pewawancara lainnyapun ikut berdiri sambil meregangkan badan, lalu mengambil tas mereka bersiap untuk pulang.
"Kita lanjut rapat untuk menentukan siapa pelamar terbaik yang akan menjadi sekertaris direktur Andi Sabi." Seru Zayn, memecahkan senyum yang telah terukir di wajah para pewawancara.
Segera para pewawancara duduk kembali ke kursinya dan meletakkan kembali tas yang telah mereka pegang. Sementara Sabi yang acuh tak acuh dan cuek pada apa yang Zayn katakan, melangkah pergi meninggalkan kursinya.
"Kamu mau kemana?" cegat Zayn.
"Mau pulang laah...kenapa? mau barengan?"
"Siapa yang menyuruhmu pulang? kembali ke tempat dudukmu!" Pintah Zayn, menatap Sabi dingin.
Heeey.. aku atasanmu! berani sekali kamu memerintahku!
Sabi memelototi Zayn sebagai protes karena tidak sopan padanya.
"cepat duduk kembali ke kursimu atau aku akan menyadarkan seperti apa posisiku yang sebenarnya dengan posisimu" Ancam Zayn, sambil tersenyum licik menatap Sabi yang mendadak tegang.
Para pewawancara segera menyoroti Sabi dengan tatapan yang dipenuhi rasa penasaran.
Sabi melihat satu persatu wajah pewawancara yang dipenuhi dengan rasa penasaran akan kata - kata yang dilontarkan oleh Zayn.
Sial kau Zayn!
Secepat kilat Sabi segera kembali duduk ditempat duduknya, tersenyum lebar yang lebih tepatnya senyum terpaksa, menatap Zayn tajam.
"Apa yang ingin kamu katakan? tentu saja posisiku adalah direktur dan kamu?" Sabi menunjuk Zayn yang masih tersenyum licik menatapnya.
"tentu saja kamu adalah wakilku... kamu bawahanku dan seharusnya kamu lebih sopan padaku.." sambil terkekeh, berusaha menutupi sebuah kebenaran.
"kamu tidak perlu mengatakan padaku posisimu dan posisiku seperti apa bahwa kamu seharusnya menghomatiku seperti raja dan melakukan semua pekerjaan yang aku perintahkan tanpa perlu protes sedikitpun. Namun.. karena aku terlalu baik, dengan hati yang selembut sutra. Aku tidak akan menjadi atasan seperti itu!" Sambung Sabi memasang wajah iba, berusaha mengambil simpati pendengar.
Zayn mengerutkan keningnya mendengar kata - kata Sabi yang lebih terdengar seperti sebuah kebohongan.
Sebenarnya anda mau merendahkan diri atau menyombongkan diri anda tuan muda?! Ridwan memutar bola matanya merasa muak dengan Sabi.
"Dimanaaa kalian akan menemukan atasan yang baik hatinya seperti dirikuu ini?! Dimanaa?" Sabi masih berusaha mencari simpati para pendengar.
"tidak ada tuan mudaaa!" para pewawancara serempak menjawab pertanyaan dari Sabi dengan senang.
"Maka dari itu, bersyukurlah karena memiliki atasan seperti diriku ini." Sabi melirik Zayn dengan tatapan percaya diri.
"Anggaplah seperti itu, sekarang berhentilah bicara karena aku akan segera memulai rapatnya." Zayn mengalihkan pandangannya, membongkar - bongkar resume dan hasil seleksi para pelamar kerja.
Lihat lihat! dia bahkan masih bisa menyombongkan dirinya. Dasar!
Setelah lama berdebat dengan Zayn dan beberapa pewawancara, Sabi belum kunjung menentukan siapa yang akan dia pilih menjadi sekertarisnya. Sabi selalu menolak pelamar yang disarankan oleh Zayn. Meskipun Zayn telah menawarkan pelamar dengan poin tertinggi tetap dia tolak mentah - mentah.
Sudah gila kamu yaa mau kasih aku sekertaris yang membosankan seperti itu, yang ada aku bakalan mati kebosanan!
"Kami sudah memilihkan pelamar dengan point tertinggi seperti yang kamu minta sebelum membuka lowongan pekerjaan, lantas apakah kita harus membuka lowongan lagi?!" jelas Zayn.
Apa? buka lowongan lagii? aah.. inipun belum selesai - selesai. Aku lelaah Zayn.. Apa kamu tidak lelah?! Sabi mengerutkan wajahnya.
"Tentukan pilihanmu malam ini atau kita akan bermalam di kantor!"
sontak kata - kata Zayn membuat orang - orang yang ada didalam ruangan segera mendongak dan menatap Zayn.
Segera Sabi mencari - cari resume para pelamar yang dia inginkan. "Aku ingin dia!" menunjukkan resume milik Bunga.
"dia tidak sesuai dengan selera pak Andi Sabi.. persentase hasil seleksinya pun tidak mencapai 80%." sahut seorang pewawancara.
"Saya harap anda tidak lupa bahwa pelamar yang haruslah anda pilih yaitu pelamar yang mencapai persentase 95% sesuai dengan kriteria yang telah anda tetapkan." sambung Zayn.
Aarrghhhh... aku tidak mau merekaaa! mereka terlalu membosankan untuk diriku yang terlalu asik!
"Hey.. meskipun dia tidak mencapai persentase 95% tapi setidaknya dia orang yang asik, seru dan juga tidak membosankan. Ditambah lagi dia cantik!" Seru sambi sambil menirukan gaya Bunga yang menggoda Zayn ketika sesi wawancara.
menjijikkan! Zayn membuang mukanya.
Lihat lihat! Dia jengkel! hahahaa... Sabi terkekeh melihat Zayn yang raut wajahnya berubah masam.
"pak Andi Sabiru.. mohon anda mempertimbangkan kembali apa yang anda pilih." Seru seorang pewawancara.
Aaargghhhhh... Tidak maaauuu! Sabi mulai putus asa.
Tiba - tiba sebuah ide terbesit dikepala Sabi.
"Kalian boleh pulang.. terkecuali Saya, Zayn dan sekertarisnya!"
Zayn memelototi Sabi, geram dengan tindakan yang semau - maunya.
"Apa benar kami sudah bisa pulang pak?" seorang peeawancara memastikan apa yang barusan mereka dengar.
"Tentu sajaaa.. apa yang kalian takutkan?! pulanglaah.. masalah ini biar saya dengan Zayn yang diskusikan bersama." Seru Sabi, tersenyum memperlihatkan lesung pipinya melirik Zayn yang masih memelototinya tajam.
Zayn menarik nafasnya panjang, mengangkat tangannya memberikan kode agar pewawancara segera meninggalkan ruangan tanpa melirik mereka sedikitpun.
Segera para pewawancara meninggalkan ruangan sebelum Zayn berubah pikiran, entah mengapa mereka lebih menakuti Zayn daripada Sabi. Padahal wajah Zayn tidaklah menyeramkan, justru dia terlihat tampan bahkan dalam raut wajah tanpa senyuman. Hidung yang sangat mancung, kening tebal dan bibir tipis kemerah - merahan membuat siapa saja yang melihatnya jatuh cinta. Seperti Bunga yang sangat menyukainya entah sejak kapan.
Hey... tersenyumlah sedikit, kamu membuat mereka takut melihatmu! wajah pas - pasan trus sok - sok an. Wanita mana yang mau jatuh cinta padamu. Sabi memutar bola matanya.
"Cepat tentukan pilihanmu!" pintah Zayn.
Kamu siapa mau memerintahku?!
"Tidak!"
Hey... inikan sekertaris untukku, kenapa kamu yang ngotot?!
"Cepat tentukan sekarang, atau aku yang akan memilihkannya untukmu!"
"Untuk apa aku harus memilih sekarang sedangkan apa yang jadi pilihanku selalu tidak untukmu! ini kan sekertarisku, kenapa kamu yang menentukan iya atau tidak?!" Bentak Sabi, mendorong kursinya menjauh dari meja.
"karena apa yang kamu pilih sekarang tidak sesuai dengan apa yang kamu katakan sebelumnya, kamu masih ingat bukan kriteria yang kamu minta?!" Zayn menyodorkan sebuah kertas kriteria sekertaris yang Sabi pernah minta.
Aaarrghh... itu cuma formalitaaass! Aku tidak bersungguh - sungguh! aku cuma mau kamu dan seluruh pegawai dikantor ini menganggapku hebat dan perfeksionis! Puasss?!
"Kenapa diam? tentukan pilhanmu sekarang!" Zayn memukul meja hingga menyadarkan Sabi dari menggerutu dalam hati.
"Aaa? akuu.." ucapan Sabi terpotong ketika mendengar sebuah nada dering yang tidak asing ditelinganya.
*Cit cicicit doraa.. Cit cicicit Dora... Cit cicicit Dora..
Semua orang fokus mendengarkan Nada dering.
Sabi terkekeh mendengar nada dering yang merupakan soundtrack dari kartun kesukaannya saat kecil. Dia segera melirik Ridwan, memberi kode agar segera mengangkat telfonnya.
Muka sangar, tatapan macam preman tapi nada dering Dora! Heeyy.. jiwa recehku bergejolak! Sabi terkekeh berusaha menahan tawanya.
"Maaf tuan, itu bukan nada dering saya!" Sahut Ridwan dengan rautvwajah kebingungan.
"Itu juga bukan nada deringku!" ucap Sabi.
Tidak mungkin ini nada dering tuan muda Zayn! Gumam Ridwan tak percaya.
Sabi dan Ridwan segera menyoroti Zayn yang ternyata berusaha menutupi wajahnya yang memerah berusaha menahan malu.
"Ahahahhahaaa..." Sontak Sabi dan Ridwan tertawa terbahak - bahak mendapati sebuah fakta bahwa pemilik nada dering kekanak - kanakan itu adalah seorang Zayn.
Sial!
"Hey.. cepat angkat telfonmu sebelum panggilannya berakhir!" Seru Sabi yang masih terkekeh geli.
Sial kamu Sabi! Diaaaam!
"Cit cicicit dora.. cit cicicit doraa..." Sabi menyanyi mengikuti ritme nada dering Zayn dengan wajah yang dibuat - buat.
Ridwan tambah ngakak melihat Sabi yang mengejek Zayn.
Siaaall! diam kau Sabi! kamu juga Ridwan awaaasss!
Sabi dan Ridwan terus - menerus menertawakan Zayn meskipun telfon telah berhenti berdering. Sedangkan Zayn hanya bisa memalingkan pandangannya dan menyembunyikan wajahnya karena terlalu malu untuk melihat mereka yang terus - terusan menertawainya.
Bersambung....
Epilog :
Didalam ruangan CEO Andi Syafar, terlihat Sabi dan Zayn yang duduk saling berhadapan didepan pandangan Andi Syafar. Disebelah Sabi terlihat ibu sedang duduk menyilangkan kakinya dengan anggun memperhatikan Zayn dengan senyuman menyelidiki.
"Sabi.. perkenalkan, Dia adalah direktur Zayn Adijaya. Dia putra satu - satunya dari Pak Adijaya, pemegang saham terbesar ketiga diperusahaan ini. Dia mungkin terlihat muda, tapi kemampuannya melebihi anak - anak muda lainnya." Ujar Andi Syafar.
Sabi menganggukan kepalanya sopan memberi salam pada Zayn.
"Kita langsung saja ke inti dari pertemuan ini kak.." seru Ibu yang mulai bosan dengan suasana yang canggung.
"Baiklah.. Alasan saya mempertemukan kalian disini adalah untuk menentukan posisi apa yang pantas untukmu Sabi." ujar Andi Syafar.
"Lalu jabatan apa yang pantas untuknya? kakak tidak lupa bukan bahwa Sabi lulusan terbaik di universitas yang sangat terkenal di New york." pamer Ibu.
"Tentu saja aku tidak lupa, tapi tetap saja Sabi masih perlu banyak belajar dari Zayn." potong paman.
Ibu melirik Zayn yang masih menatap mereka tanpa ekspresi.
"Sabi akan menjadi wakil direktur dan Zayn akan membimbing langsung Sabi, sehingga Sabi menjadi handal." jelas paman.
"Apa? kak.. aku sedikit keberatan.. Apa yang akan dikatakan oleh orang - orang bahwa Andi Sabiru menjadi bawahan?!" Ibu mulai geram.
"Sabi bukan bawahan siapa - siapa, dia hanya harus banyak belajar dari Zayn karena Sabi harus punya pengalaman dengan orang hebat seperti Zayn."
"Kalau begitu, putramu Andi Firman jika telah menyelesaikan sekolahnya harus berada dibawah Sabi. Dia harus melewati apa yang Sabi lalui.." ucap Ibu melirik Andi Syafar dengan tatapan tajam.
Andi Syafar segera melirik Zayn, Zayn mengangguk, memberi sebuah isyarat pada Andi Syafar yang sepertinya telah dimengerti oleh Andi Syafar sendiri.
"Kalau begitu.. Sabi akan masuk sebagai direktur menggantikan posisi Zayn." ucap paman dengan berat hati.
Ibu tersenyum menang mendengar ucapan paman. Sedangkan raut wajah Sabi terlihat sedikit murung atas apa yang didengarnya barusan.
"Dengan catatan... Zayn akan tetap menanggung tugas sebagai direktur, sementara Sabi berstatus sebagai direktur namun perlu mengerjakan apa yang dikatakan oleh Zayn tanpa boleh menolak karena Sabi perlu banyak belajar dari Zayn. Apabila dia berhasil dalam pembelajarannya bersama Zayn dan berhasil melampaui Zayn, maka aku sendiri yang akan meresmikan Sabi menjadi direktur yang sesungguhnya." jelas paman, mantap tanpa ragu.
"Kenapa seperti itu? aku keberatan kak.." tolak Ibu dengan nada suara yang sedikit meninggi.
"Jika tidak mau, silahkan mundur dan melamar diperusahaan ini layaknya kebanyakan orang." bentak Andi Syafar.
Ibu seketika diam mendengar bentakan dari Andi Syafar, ini sedikit sulit untuknya, namun dia tidak punya pilihan lain. Sebagai seorang Ibu dia akan memilih yang terbaik dari yang baik untuk putra semata wayangnya. Tentu ini tidaklah mudah untuknya, semacam ingin memberontak tapi takut keadaan akan menjadi lebih buruk.
"Baiklah.." Ibu mengangguk terpaksa mengiyakan kesepakatan ini, menatap Zayn sinis dengan senyuman manis penuh kepalsuan.
"Tapi.. aku akan mengadakan pesta penyambutan untuk Sabi sebagai direktur pengelola senior yang baru!" seru Ibu sambil berlalu meninggalkan ruangan.
Andi Syafar menarik nafas panjang melihat tingkah Ibu Sabi. "Terserah.. lakukan apa yang kamu mau."
......