FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
76. Ulat yang Berubah



Beberapa hari berlalu dengan cepat. Bagaikan roller coster yang melaju dengan kecepatan tinggi, membuncah jantung berdetak semakin cepat. Seperti itulah perasaan Sabi saat itu. Jantungnya terus berdetak dengan cepat, saat hari yang tidak dia tunggu-tunggu ini akhirnya tiba. Ya, hari pengankatan Gio sebagai CEO baru di perusahaan mereka dan hari dimana dia akan mengambil alih seluruh mall W yang ada diberbagai kota.


Sabi melirik jas hitamnya yang sudah tergantung rapih di depan lemarinya. Dia meraihnya dan mengecek merk jas yang akan dipakainya itu. Lagi-lagi merk QL, dan senyumnya terangkat.


“Harus ku akui, semua pakaian yang dia buat memang bagus. Terlepas dari pribadinya yang kacau.” Gumam Sabi, lalu memakai jas itu.


“Tuan muda, Nyonya sudah menunggu di mobil.” Seru Pak Tri yang memasuki kamar Sabi.


Sabi mengangguk mendengar ucapan Pak Tri, tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Rasanya dia sangat malas hari ini, mengingat dirinya akan menjadi bawahan dari sepupunya sendiri. Bahkan mungkin akan dipecat oleh sepupunya sendiri yang memiliki sikap seperti iblis.


Dengan wajah masamnya, dia berjalan keluar dari kamarnya lalu menuruni tangga. Diperhatikannya ke sekitar, belum ada tanda-tanda keberadaan Gio. Tapi bukankah seharusnya dia sudah kelihatan, karena hari ini adalah pelantikannya di perusahaan. Dia seharusnya bergerak cepat.


Tumben dia gerakannya lambat.


Sabi kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu depan. Disana sudah terlihat sebuah mobil terparkir, dengan Ibu dan Pak Jaka yang sudah ada didalamnya.


Ciih ... darimana saja dia selama ini? Kenapa baru kelihatan.?! Gumamnya menyoroti wajah Pak Jaka, asisten pribadi Ibunya.


“Maaf, aku terlambat bu.” Ucapnya, memasuki mobil dan duduk disebelah Nyonya Sura.


“Tidak apa. Santailah ... ini bukan akhir dari segalanya.” Seru Nyonya Sura, menenangkan Sabi yang jelas terlihat suram pada hari ini.


Sabi hanya tersenyum mendengarnya, berharap hari ini secepat hari kemarin.


Mereka akhirnya sampai di perusahaan. Acara pengangkatan Gio sebagai CEO baru, menggantikan posisi ayahnya, Paman Andi Syafar.


Sambutannya terlihat sangat mewah dan sangat meriah melebihi saat dirinya dulu diangkat sebagai direktur pengelola senior. Bahkan acara pengangkatan Gio diadakan di perusahaan langsung bukan di Aula Mall, seperti dirinya dulu.


Sabi menarik nafasnya, berusaha dewasa dan menerima takdirnya. Untuk waktu yang sangat lama setelah kehilangan ayahnya, baru kali ini lagi dia memikirkan ayahnya. Memikirkan apakah nasibnya akan seperti ini, jika ayahnya masih hidup?! Pastinya tidak.


Ayahnya yang akan menduduki posisi CEO, dan akan memberikan posisi itu padanya, sebagaimana Paman Andi Syafar pada Gio.


Andai saja ayah masih ada, pasti akan sangat baik. Bahkan jika bukan aku yang terpilih menjadi penerus untuk menduduki posisi itu, setidaknya akan baik bukan jika ayah ada disini?!


Sabi tertunduk lesu memasuki aula tempat pengangkatan Gio.


Dia langsung menuju ke sebuah meja khusus yang sudah disiapkan untuknya dan juga Nyonya Sura. Matanya melihat ke sekitar, mencari keberadaan Paman, Bibi dan juga sepupunya itu. Aneh saja melihat mereka bertiga belum muncul ditempat acara.


“Bu, kenapa mereka belum datang?” Bisik Sabi pada telinga Nyonya Sura dan Nyonya Sura hanya menggeleng.


Ah, sial! Kenapa harus aku yang merasa gelisah jika mereka yang terlambat?! Berhenti memikirkan keluarga itu.


Sabi menggeleng kepalanya, dan memejamkan matanya sebentar. Mencari ketenangan yang hilang selama beberapa hari ini dari pikirannya.


“Selamat pagi, tuan muda.” Sapa Zulaikha yang tampil cantik dalam balutan kemeja hitam dengan dada yang sedikit terbuka dan rambut hitamnya yang tergerai indah, sedikit bergulung. Rok hitam yang juga mengembang indah, membuat tubuh kecilnya semakin terlihat imut seakan menggeser umurnya ke angka belasan.



Sabi membuka matanya perlahan, dan menoleh ke sumber suara. Diliriknya gadis muda itu. Mulutnya spontan membulat, dan matanya tidak berkedip melihat penampilan Zulaikha yang berbeda dari biasanya.


Zulaikha tersenyum malu, dibuatnya. “Apa ada yang salah dari pakaianku, tuan muda?”


Sabi menggeleng tidak bisa berkata apa-apa. Sangat cantik! Kira-kita itulah kata yang tertulis dikepalanya saat ini, untuk menggambarkan sosok Zulaikha di depannya ini.



Zayn yang duduk tidak jauh dari meja Sabi, tersenyum sinis melihat Sabi terkagum pada Zulaikha.


............


11 Jam sebelumnya.


Telfon Zulaikha berdengung. Sebuah pesan dari Ridwan masuk.


*Cepat keluar ke depan gerbang, sekarang!


Zulaikha membuang nafasnya kesal, membaca pesan yang memerintahnya untuk keluar disaat dia akan beristirahat.


Dengan santainya dia beranjak tanpa mengganti piyama tidurnya, tak lupa mengambil sebuah jaket untuk menutupi tubuh kecilnya dari tiupan angin malam.


Kaki kecilnya melangkah perlahan, dan tenang keluar dari rumah besar itu. Jangan sampai memancing perhatian dari siapapun, atau setelah ini akan ada masalah baru yang harus dia hadapi. Seharian dia sudah kelelahan menghadapi Sabi yang terus bekerja tanpa istirahat, jadi sebisa mungkin pada malam hari dia tidak boleh melakukan sesuatu yang merepotkan tubuhnya.


Sesaat setelah dia sudah berada di pekarangan dan lumayan jauh dari bangunan rumah utama, segera dia berlari menuju pagar hitam raksasa yang membatasi rumah itu dengan jalanan umum.


Disana telah terparki sebuah mobil Agya TRD S Automatic Transmission berwarna abu-abu. Melihat mobil itu, langkah Zulaikha jadi ragu untuk melangkah mendekat. Karena seingatnya mobil yang biasa dibawa oleh Ridwan untuk membawa Zayn, bukanlah itu.


Zulaikha meraih handphone nya yang ada di saku jaket. Namun belum saja dia membuka kunci yang ada di layar handphonenyq, seseorang memanggil dari arah mobil itu.


“Hey ...”


Zulaikha mengadahkan pandangannya, dan melihat sosok Ridwan yang duduk di kursi kemudi. Mau tidak mau, dia berjalan mendekati Ridwan.


Pasti ada sesuatu lagi yang diperintahkan untukku. Gumamnya menebak.


Untuk beberapa saat, Ridwan mengamatinya dari atas ke bawah secara berulang kali hingga dia merasa tersinggung dalam batinnya.


“Masuk.” Ucap Ridwan setelah membuatnya tersinggung, tanpa dia sadari.


Zulaikha menurut dan masuk, duduk dibelakang yang ternyata disana sudah ada Zayn. Berpenampilan rapih dan wangi seperti biasanya, namun kali ini sedikit lebih cassual dari biasanya.


Oh, jadi seperti ini gayanya ketika diluar jam kerja?! Pikir Zulaikha, melihat gaya Zayn yang terlihat lebih manusiawi daripada biasanya.


Zayn menatapnya sama seperti Ridwan menatapnya, dia ditatap dari ujung kaki hingga kepala dan lakukan secara berulang. Seakan ada yang salah pada tubuhnya. Padahal dia hanya memakai piyama, apa yang salah dari itu?!


“Apa ada yang salah?!” Zulaikha mencoba bertanya, daripada terus-terusan merasa tersinggung dengan tatapan mereka berdua.


“Tidak.” Sahut Zayn, dingin. “Apa kamu yakin, mau keluar dengan gaya seperti itu?” Tanyanya kemudian. Seolah ragu melihat penampilan Zulaikha yang tubuhnya dibaluti piyama tidur, serta sendal tidur bulu yang menghiasi kakinya.


“Iya, tuan. Kan hanya bertemu dengan tuan disini.”


Terdengar Ridwan berdeham dibalik kursi kemudinya, dengan senyuman lebar terpampang di wajahnya yang tidak bisa dilihat oleh siapapun.


“Siapa bilang kita hanya bertemu disini?!” Tanya Zayn.


“Hmm ... lalu jika kita tidak, kita akan kemana tuan?!” Perasaan Zulaikha mulai tidak enak. Berharap tidak ada hal aneh yang akan terjadi padanya hari ini.


“Kita akan ke Mall W.”


“Whaaaatt?!!!” Zulaikha menganga tak percaya, mendengar ucapan Zayn.


Bisa-bisanya dia membawaku ke mall dengan penampilan seperti ini?!


Bersambung ....