
Rapat yang Sabi selenggarakan hari ini, bersama dengan beberapa orang penting yang terlibat dalam event besar Asian Party Show Model, berjalan dengan lancar. Beberapa orang penting yang datang dalam rapat, termasuk Zayn Adijaya, Paman Edie, Queen Lee dan beberapa orang penting lainnya. Tidak seperti biasanya, dalam rapat hari ini Sabi tampil dengan sedikit serius.
Bahkan Zayn sedikit terkejut dengan pemandangan hari ini. Meskipun Sabi sedikit terlambat, tapi Sabi bisa menyampaikan materi rapat dengan cukup baik.
Paman Edie sedikit bertepuk tangan dan memuji keseriusan Sabi dalam event besar ini. Dia bahkan tidak menyangka bahwa anak manja yang selama ini dia lihat, ternyata bisa berubah jadi sedikit lebih baik.
Berbeda dengan Queen, dia bahkan tidak memperhatikan Sabi. Matanya hanya tertuju pada Zayn yang bahkan tidak ingin meliriknya sekalipun. Hatinya benar - benar kuat karena mampu mencintai sosok yang dingin dan keras seperti Zayn.
Sementara Zulaikha, gadis itu terus berdiri tak jauh dari tempat Sabi berdiri. Membantu apa yang bisa dia bantu untuk memudahkan Sabi. Dengan senyum kecutnya, dia terlihat sangat dewasa dalam menjalani harinya yang tak mudah.
Semua orang pun bertepuk tangan setuju dengan apa yang dipaparkan oleh Sabi. Meskipun ada seorang yang tidak terlalu setuju dengan beberapa gagasan yang Sabi ajukan, namun dia tetap mengapresiasi kerja keras Sabi. Siapa lagi jika bukan Zayn. Orang yang selalu bisa menemukan kekurangan seseorang, meskipun itu adalah hal yang kecil sekalipun.
Rapat pun selesai, dan akan dilanjutkan lagi beberapa hari kedepan. Semua orang meninggalkan ruangan rapat termasuk Zayn yang terlebih dahulu meninggalkan ruang rapat tanpa menghampiri Sabi terlebih dahulu.
Ciihh ... coba lihat dia. Dia bahkan enggan menyapaku. Dasar sombong! Gumam Sabi pada dirinya yang melihat Zayn pergi begitu saja saat rapay dinyatakan selesai.
Mata Queen terus memandang Zayn, sampai tubuh Zayn benar - benar menghilang seutuhnya dari pandangan matanya.
“Paman harap kamu akan terus seperti ini.” Ucap Paman terlihat bangga pada Sabi, yang mengelus pundak Sabi perlahan lalu melangkah pergi.
“Queen ... jika kamu butuh sesuatu, telfon saja yah. Aku akan membantumu menyiapkan segala keperluan yang kamu butuhkan untuk event besar kita.” Seru Paman Edie yang tersenyum ramah pada Queen, lalu meninggalkan ruangan.
Queen hanya menganggukkan kepalanya perlahan, dan sedikit tersenyum pada Paman.
Sabi melirik Queen yang masih duduk tak jauh darinya. Diliriknya gadis itu, ada rasa sedikit tak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya. Queen datang menghadiri rapat dengan pakaian sedikit mencolok, yang jika orang melihatnya dari jauh pasti akan terlihat jelas.
Sabi sedikit tersenyum melihat pakaian yang Queen gunakan.
Sementara Zulaikha memperhatikan sikap Sabi yang sedari pagi tidak banyak bicara dan ekspresi datar, tapi begitu melihat Queen, dia tersenyum dengan mudahnya.
Queen yang merasa sedang diperhatikan, jadi merasa sedikit tak nyaman dan memilih menoleh, mencari sesuatu yang membuatnya merasa tak nyaman.
Aaiissh ... kenapa dua orang itu memperhatikanku seperti itu?!
“Kenapa?” Tanya Queen sambil memandangi Sabi dengan tatapan seperti mengajak berkelahi.
“Apa?” Sabi bertanya balik.
“Kenapa kamu melihatku seperti itu?!” Queen semakin nyolot.
“Kenapa memangnya? Salah jika aku melihatmu?!”
“Ciiih ...” Queen mendesis, memutar bola matanya.
“Apa?! Ciihh?! Kamu berdesis dan waah ... kamu memang ahli membuat orang kesal.” Sergah Sabi, mulai memunculkan sifat kenanakannya.
“Kamu jatuh cinta padaku kan? Karena aku tampil cantik hari ini?!” Queen tersenyum melihat wajah Sabi, lalu memasang pose dengan cantiknya.
Rasanya Sabi harus menjadi sedikit gila jika bicara dengan Queen. Karena harus membuang pikiran rasionalnya untuk membalas perkataan Queen yang kadang tidak masuk akal baginya.
“Apa?! Heeey ... jangan gila!” Bentak Sabi, mengelus rambutnya berusaha menahan emosinya.
“Katakanlah kamu tidak mencintaiku, tapi aku cantikkan?!”
Sabi menarik nafasnya dalam - dalam. Baru kali ini dia bertemu gadis yang tingkat kepercayaan dirinya setinggi langit.
“Waah ... kamu benar - benar. Sangat percaya diri!”
“Tentu saja. Menjadi seorang desainer terkenal sepertiku tidak mudah, kamu harus selalu tampil percaya diri. Bagaimana orang akan percaya diri memakai pakaian yang aku buat, sementara aku saja tidak percaya diri. Jadi aku harus percaya diri.” Queen dengan santainya menyahut ucapan Sabi.
Sepertinya aku iri dengannya. Hidupnya sangat mudah dan dia sangat beruntung memiliki hidup yang sangat baik. Zulaikha memandang Queen dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Semua yang Queen pakai setiap harinya, dan kepercayaan diri Queen yang tinggi adalah impian setiap wanita, yang ingin selalu berpenampilan baik dan percaya diri dengan apa yang mereka kenakan. Tidak heran jika ada perempuan yang iri dengannya. Ditambah lagi dia kaya dan berpenghasilan sendiri, itu adalah impian bagi semua pria maupun gadis di dunia ini.
“Hm ... tidak heran kamu seperti itu.” Celetuk Sabi.
“Intinya, jangan mencintaiku. Aku takkan bisa membalas perasaanmu.” Queen berdiri dari tempat duduknya, menatap Sabi dalam.
“Hey ... siapa yang mencintai perempuan aneh, kasar, dan gila sepertimu?! Jika aku diberi uang 10 milyar pun, aku takkan pernah mau.” Bentak Sabi, tak terima dengan ucapan Queen.
“Baguslah. Pertahankan. Jangan pernah berubah pikiran. Oke?!” Queen lalu pergi meninggalkan ruangan rapat dengan anggunnya.
“Waah ... siapa orang tuanya?! Aku penasaran, apakah ayah atau ibunya yang menurunkan sifat itu padanya. Rasa percaya diri dan sok taunya benar - benar lewat dari batas normal.” Gerutu Sabi.
“Iya ... anda benar tuan.” Sahut Zulaikha merasa sangat sepakat dengan apa yang dikatakan Sabi padanya.
...........
3 hari kemudian. Setelah mempersiapkan beberapa bahan untuk dirapatkan dan beberapa laporan yang telah selesai dia lakukan untuk event besar itu. Dia telah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi direktur yang baik, sehingga harus lembur beberapa hari karena mengurus pekerjaan itu dan sekarang Sabi sangat siap untuk mengikuti rapat lanjutan hari ini.
Setelah selesai bersiap - siap, Sabi keluar dari kamarnya. Di depan pintu, sudah ada Zulaikha yang telah siap menunggu Sabi dari tadi.
“Tuan muda ... silahkan menuju ruang makan.” Ucap Zulaikha mempersilahkan Sabi untuk menuju ruang makan.
Ekspresi Sabi seketika berubah ketika mendengar ruang makan disebut.
Dikepalanya sudah terbayang sosok Gio yang dengan sombongnya merendahkan dirinya di depan seluruh keluarga. Hal itu sangat memuakkan baginya.
“Tidak. Aku akan sarapan di kantor saja.”
“Tapi tuan, Tuan Andi Syafar yang memintanya.” Sergah Zulaikha, sedikit memelas.
Dengan sangat terpaksa, dia akhirnya melangkahkan kakinya masuk ke ruang makan bertemu dengan keluarga manisnya. Daripada Zulaikha yang akan terkena dampaknya nanti.
“Tuan ...” panggil Zulaikha lagi, sebelum Sabi masuk ke ruang makan keluarga.
“Apalagi?” Rengek Sabi dengan raut wajah yang terlihat sangat tertekan.
“Maaf tuan muda, apakah anda akhir - akhir ini tidur dengan baik?”
Sabi menarik nafasnya dalam.
“Iya aku tidur nyenyak.” Jawabnya singkat berusaha menutupi sebuah kebenaran bahwa dia tidak benar - benar tidur jika malam.
Apalagi setelah mengetahui bahwa Zulaikha selalu meninggalkannya setelah dia tertidur. Dia sadar, dia tidak bisa mengandalkan siapapun untuk selamanya seperti itu. Zulaikha juga butuh istirahat, hingga dia harus mandiri dan kembali ke cara awalnya yaitu tidur hanya beberapa jam saja dan diisi dengan menyelesaikan pekerjaan kantornya. Dengan begitu mimpi buruk tidak akan datang.
“Syukurlah ... tapi mata anda terlihat sangat lelah tuan muda.” Spontan Zulaikha menyentuh kelopak mata Sabi yang terlihat sayu karena terus bergadang.
Sontak Sabi tertegun merasakan tangan Zulaikha yang mengelus lembut kelopak matanya. Bibir Sabi sedikit tersenyum dengan sikap Zulaikha yang sangat memperhatikan dirinya.
Segera Sabi meraih tangan Zulaikha yang mengelus lembut kelopak matanya, lalu diturunkan perlahan.
“Tenang saja, aku baik - baik saja.” Ucapnya lalu pergi masuk ke dalam ruang makan.
Disana terlihat sudah ada Paman Andi Syafar, Gio, Nyonya Denisa, Nyonya Sura dan juga Nenek serta beberapa pegawai yang senantiasa berdiri dekat meja makan.
Tanpa banyak bicara, Sabi segera duduk dan mengambil beberapa lauk dan juga nasi. Dengan cepat, dia melahap semua makanan itu agar lekas keluar dari ruangan itu.
“Hey ... apakah ayahku tidak memberimu makan selama beberapa hari? Kenapa makanmu jadi seperti babi?!” Seru Gio, melirik Sabi dengan tatapan mengejek.
Segera Nyonya Denisa menyiku lengan Gio, agar putranya berhenti berkata yang tidak baik pada Sabi. Terlebih lagi di meja makan ada Nenek dan juga Nyonya Sura yang melihat.
“Kenapa bu? Memang kenyataan kan kalau makannya seperti babi. Lihat sendiri, dia makan dengan sangat rakusnya.” Imbuh Gio, terus mengejek tanpa memperdulikan Nyonya Sura sebagai Ibu dari Sabi yang mendengar ucapannya barusan.
“Gio, kamu beberapa tahun lebih muda dari Sabi. Jadi tolong jaga sikapmu dengan baik.” Ucap Nyonya Sura, tak bisa terus diam dengan sikap Gio yang semena - mena pada putranya.
Gio tergelak tawa melirik Nyonya Sura, menatap perempuan paruh baya itu dengan tatapan mengejek.
“Apa kamu sedang merendahkanku sekarang?!” Sergah Nyonya Sura menatap lembut Gio, berusaha menahan amarah pada batinnya.
“Sudah sudah ... hentikan semua kekacauan ini.” Paman berusaha melerai.
“Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi sebelumnya maaf baru mengatakannya sekarang.” Sambung Paman, sambil menarik nafasnya perlahan.
“Minggu ini aku akan mengadakan acara penyambutan Gio sekaligus mengangkay Gio sebagai direktur utama menggantikanku.”
Ucapan itu sontak menarik perhatian Sabi, Nyonya Sura dan juga Zulaikha. Mereka seperti tak percaya dengan apa yang disampaikan Paman Andi Syafar barusan.
“Kak ... tidakkah ini terlalu berlebihan? Bukankah katamu jika Gio kembali, kamu akan memberikan jabatan dibawah Sabi dan Gio juga harus belajar banyak dari Zayn Adijaya?!” Ucap Nyonya Sura yang merasa tidak terima dengan keputusan Paman.
Sabi diam, menyimak apa yang didengarnya. Ingin sekali dia berpendapat, namun dia sadar siapa dirinya. Bahkan untuk bicara mengeluarkan pendapatpun, rasanya dia tidak pantas karena kekurangan yang dia miliki.
“Ibu ... lihatlah kelakuan kak Syafar. Dia seperti tidak menghargai putraku dalam keluarga ini.” Nyonya Sura sebisa mungkin mencari pembelaan atas ketidak adilam yang diterimanya.
Bagi Nyonya Sura, Sabi dan Gio sama - sama memiliki hak untuk naik ke posisi direktur utama. Karena Sabi juga termasuk keturunan Andi seperti Gio. Kenaikan jabatan haruslah bertahap dan bersaing secara adil, tidak boleh langsung naik seperti yang Paman Andi Syafar lakukan skarang. Sehingga terkesan semena - mena.
Almarhum suami Nyonya Sura memiliki saham yang sama banyaknya dengan Paman Andi Syafar. Mungkin jika lebih sedikit, itu karena dukungan dari istrinya atau Nyonya Denisa yang juga berasal dari keluarga kaya.
Gio yang menyaksikan betapa rendahnya Nyonya Sura memohon pada Nenek, langsung tersenyum licik pada Sabi yang saat itu tengah menatapnya kesal.
“Aku tidak bisa apa - apa. Sekarang yang memimpin perusahaan adalah dia. Jadi saya mengikuti saja sebagaimana baiknya demi perusahaan kita yang menaungi Mall W.” Sahut Nenek, memejamkan matanya tak sanggup melihat wajah memelas Nyonya Sura.
Bahkan Nenekpun merasa Nyonya Sura benar - benar kasihan dengan posisinya yang seorang janda dan memperjuangkan hak anaknya dalam keluarga ini. Meskipun dia pemilik saham terbesar sekaligus pemilik perusahaan, namun dia sudah malas mengurusi itu semua sejak anak kandungnya meninggal dunia bersama dengan istri dan cucunya. Baginya sekarang, dia hanya ingin menjalani sisa hidupnya lalu bertemu dengan keluarga kecilnya di surga.
“Ibu ... ibu jangan diam saja. Apakah Ibu tega melihat Sabi diperlakukan secara tidak adil seperti ini?! Suamiku pun pasti tidak akan terima dengan ini semua. Ibu ... aku mohon padamu.” Sekali lagi Nyonya Sura memelas memohon pertolongan dari mertuanya itu.
“Aku pun tidak akan tinggal diam, jika cucuku masih hidup. Akan kupastikan Dewa yang akan menjadi direktur utama sekaligus pemilik perusahaan ini. Sehingga baik Sabi ataupun Gio tidak akan ada kesempatan sedikitpun untuk naik menjadi direktur utama.” Sergah Nenek, dengan nada yang sedikit membentak lalu pergi dari ruang makan.
Raut wajah Paman dan Gio mendadak berubah tak senang melihat Nenek yang berjalan keluar dari ruang makan. Mereka seperti tersinggung dengan ucapan Nenek, seolah mereka tidak ada artinya jika anak dan cucunya masih hidup.
“Ciihh ...” Gio mendesis kesal.
Ruang makan hari ini benar - benar kacau. Nyonya Sura dan juga Paman Andi Syafar saling adu argumen di meja makan. Bahkan tidak ada dari mereka terlihat menyentuh makanan mereka lagi.
Sudah kuduga ini akan terjadi.
Sabi pergi meninggalkan ruang makan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
“Rajinlah selagi aku belum masuk.” Gio mencegat Sabi diambang pintu keluar ruang makan.
Sabi melirik dan menatap Gio dengan tatapan tajam dan tak suka. Laki - laki didepannya ini tak lagi dia anggap sebagai sepupunya, tapi sebagai iblis bermuka dua.
Jika dulu aku heran dia dapat dari siapa sisi iblisnya ini, tapi sekarang aku tau. Ternyata turun dari Ayahnya. Mereka mahir dalam berbohong dan bermuka dua.
“Karena jika aku telah masuk, maka akan kutendang kamu dari perusahaan secara perlahan - lahan.” Imbuh Gio, tersenyum licik pada Sabi.
“Silahkan ... lakukan jika kamu bisa.” Ucap Sabi.
“Tentu saja aku bisa. Aku Andi Fargio, apa yang tidak bisa kulakukan?!” Seru Gio menatap enteng Sabi.
“Tapi berhati - hatilah ... terkadang orang yang terlalu antusias dan kelewatan sepertimu adalah orang yang paling duluan meninggalkan dunia ini.” Seru Sabi membalas senyuman Gio dengan menatap Gio dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan.
Bersambung ....