
“Sudah berani kamu rupanya.” Zayn menyeringai dan seringaiannya terlihat jelas dipantulan jendela mobil. Membuat Zulaikha yang melihatnya, menjadi ciut.
“Alasanku, rasa hawatirku atau apapun itu, tidak penting untukmu!” Ucap Zayn, masih memandang keluar jendela mobil. “Yang paling penting sekarang ini, adalah tidak membiarkan Sabiru mendapatkan tempat bersandar selain kamu dan menggali informasi sebanyak mungkin tentang dia.” Imbuh Zayn, memalingkan wajahnya dan menatap lekat mata Zulaikha.
“Ma ... maafkan saya tuan. Sa ... saya hanya ingin bertanya. Mengeluarkan apa yang selama ini menjanggal di kepalaku.” Zulaikha terbata, berusaha menghindari tatapan mata Zayn.
Zayn tersenyum sinis melihat Zulaikha yang mati kutu, tidak berani menatap matanya. “Ternyata kalian sama. Tidak bisa menahan apa yang menjanggal di kepala kalian.”
“Siapa yang tuan maksud?”
“Saudarimu.” Jawab Zayn singkat dan Zulaikha langsung mengangkat kepalanya, menatap Zayn.
“Benarkah?” Seru Zulaikha tak percaya dengan apa yang didengarnya. Matanya berbinar, memancarkan kebahagiaan saat mendengar sedikit cerita tentang saudarinya.
Zayn mengangguk, perlahan tatapan tajamnya mulai melemah saat melihat dua buah mata yang tengah berbinar menatapnya. “Dia juga punya mata yang indah.” Ucap Zayn, tak sadar mulai mengangkat tangannya.
*Piiiiipppppp .... piiiipppp ....
Suara klakson mobil dari depan mulai riuh, diikuti dengan suara klakson mobil yang ada di belakang.
Membuat Zayn tersadar dari pikirannya, dan menurunkan kembali tangannya yang bergerak melampaui egonya yang keras.
“Tapi, dia berbeda denganmu.” Seru Zayn, mengalihkan pandangannya.
“Apa yang berbeda?”
“Dia memiliki mata yang indah dengan tatapan yang kuat, dan dia akan selalu mengatakan apa yang menjanggal di kepalanya secara langsung. Tanpa harus berpikir panjang.” Jawab Zayn. “Itulah kenapa aku bisa mengatakan padamu bahwa kalian sangat berbeda.” Imbuh Zayn.
“Sifat kami memang sangat berbeda.” Ujar Zulaikha, tersenyum mengingat sosok saudarinya yang tergambar jelas dalam ingatannya. “Meskipun dia lebih muda dariku, tapi dia lebih tangguh dariku. Bahkan kamu bisa melihatnya melalui tatapan matanya yang kuat.” Tutur Zulaikha, tanpa dia sadari tersenyum saat menceritakannya pada Zayn.
Zayn melihatnya diam-diam. Melihat Zulaikha tersenyum, sesaat menghilangkan senyuman sinis yang tadi terpampang diwajahnya. Sementara Ridwan yang menyaksikan mereka berdua dari kaca spion, tersenyum sendiri bersembunyi dibalik kursi kemudi.
...........
“Aaahh, aku lelah.” Seru Sabi, meletakkan mangkuk ice cream yang telah kosong.
Queen meliriknya, lalu mendesis.
“Bukannya aku habis makan mau tidur, tapi semalam aku tidak tidur karena lembur.” Ucap Sabi, dengan mata yang mulai sayu. “Aku sangat ingin tidur, tapi tidak bisa.” Imbuhnya, melirik Queen yang ada disampingnya.
Matanya semakin sayu, dan tatapannya semakin kabur. Matanya serasa ingin menutup, tapi alam bawah sadarnya selalu menolak dan terus memaksa matanya untuk terus terbuka.
“Tidak, aku tidak akan tidur.” Sabi memelototi Queen yang sedang tidak menoleh padanya.
“Tidur saja.” Pinta Queen, menarik sebuah bantal sofa dan meletakkannya tepat di atas paha Sabi. “Peluk itu, supaya kamu bisa tidur.” Sambung Queen, menarik kedua tangan Sabi untuk memeluk bantal sofa itu.
Sabi menggeleng kepalanya lemas. “Aku tidak mau.” Melihat Queen dengan tatapannya yang sayu.
“Tidak mau apanya, lihat itu. Matamu sangat lelah, mungkin jika satu kali saja kamu menutup matamu selama 5 detik. Kamu pasti akan langsung tertidur pulas.” Celoteh Queen, kembali mengalihkan pandangannya dari Sabi.
“Itu yang aku takutkan.” Gumam Sabi, menatap nanar lampu yang bersinar dengan sangat terangnya. Membuat matanya silau dan ingin skali rasanya menutup matanya lama. Tapi jika dia lakukan itu, pastilah dia akan langsung tertidur seperti yang dikatakan oleh Queen.
“Kamu takut tidur? Mana mungkin.” Queen tersenyum mendengar ucapan Sabi yang bagaikan candaan baginya. “Tidurlah, atau aku akan memukulmu sampai kamu tidur dan tidak bangun selama 3 hari.” Imbuhnya dan Sabi tersenyum.
“Hm ... lebih baik kamu yang tidur. Lihat, matamu juga lelah. Biar aku yang menjagamu, dan aku akan membangunkanmu.” Sergah Sabi mengangkat tangannya perlahan, dan menutupi kedua mata Queen dengan telapak tangannya.
“Hey, apa yang kamu lakukan?” Seru Queen, berusaha menyingkirkan telapak tangan Sabi dari matanya.
Sekali lagi Sabi tersenyum, melihat Queen yang menoleh padanya, menatapnya heran. “Mencoba membuatmu tidur.” Jawabnya singkat, dengan tatapan yang semakin sayu.
“Aisshh ... seharusnya aku yang mengatakan itu padamu. Lihat saja, matamu sangat lelah. Seperti orang yang tidak tidur berapa hari.” Celetuk Queen, meletakkan telapak tangannya diatas mata Sabi. “Jangan melawan, anggap ini tantangan. Kalau kamu bisa menahannya selama 1 menit, setelah itu giliranmu melakukan ini padaku.” Imbuh Queen dan Sabi mengangguk pasrah.
Queen melirik jam tangannya, melihat waktu yang dia tetapkan. Menunggu sampai 1 menit, seperti yang dia katakan tadi.
Tepat satu menit berlalu, Queen melepaskan tangannya perlahan dan melihat mata Sabi yang sudah tertutup.
“Tuhkan apa ku bilang. Dia pasti akan tertidur. Pantas saja dia tidak lagi bersuara.” Queen menggeleng melihat Sabi yang tertidur nyenyak tepat di sebelahnya, dengan kepala yang menyanggah pada kepala kursi.
“Arrghh ... aku juga lelah.” Queen meregangkan tulang belakangnya, lalu bersandar pada sofa putihnya yang empuk. Matanya melihat Sabi yang sesekali mengerang. “Dasar merepotkan.” Ucapnya, lalu bersenandung kecil sambil menepuk-nepuk punggung tangan Sabi dengan lembut.
“Dasar aneh.” Gerutu Queen, melirik Sabi yang sudah tertidur dengan nyenyak. “Kenapa setiap tidur kamu selalu seperti itu?! Seperti orang yang punya dosa besar saja.” Sambungnya sembari menarik tangannya perlahan.
“Sebaiknya aku kembali bekerja.” Gumam Queen, tersenyum dengan semangat lalu perlahan-lahan berdiri.
Namun belum saja dia sempat berdiri, sesuatu tiba-tiba mendarat di pundaknya. Queen langsung menoleh, dan mendapati kepala Sabi yang tersandar dengan nyamannya di pundaknya.
“Eeh ...” Serunya sedikit terkejut.
Bersambung ....