FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
61. Dinner



Sabi menatap kedatangan Zulaikha dengan raut wajah yang sedikit ditekuk. Dia mencoba untuk mengabaikan Zulaikha yang datang menghampirinya dengan berjalan menuju meja kerjanya yang dipenuhi dengan beberapa tumpukan kertas.


Dia menarik nafasnya dalam-dalam sembari melirik satu persatu tumpukan kertas, memilih mana yang akan dia kerjakan duluan.


“Tuan muda, ini kopi anda.” Zulaikha menyerahkan dua gelas kopi pada Sabi yang sibuk memandang tumpukan kertas yang ada di depannya.


“Oke, terimakasih.” Sabi mengangguk, dan sedikit melirik ke arah Zulaikha.


Dia kembali teringat akan kata-kata John yang mengatakan Zulaikha adalah gadis cantik. Diperhatikannya wajah sekertarisnya itu. Kulit putih mulus, dengan hidung mancung yang proporsional serta gummy smile yang dimiliki Zulaikha, membuatnya terlihat imut ketika tersenyum. Namun saat ini wajah gadis itu sedang tidak terlihat baik-baik saja. Tidak ada senyuman dan gummy smile pun tidak terlihat disana.


Apakah dia kelelahan karena membeli kopi yang banyak? Sabi melirik kopi yang dibawakan Zulaikha padanya.


Setelah diperhatikan baik-baik, kopi itu ternyata sedikit tumpah sehingga meninggalkan bekas noda di pinggiran gelas. Sabi kembali melirik Zulaikha yang masih menekuk wajahnya.


“Apakah tadi kamu terjatuh?”


Zulaikha mendelik, menatap Sabi dengan tatapan bingung.


“Gelas kopi ini sedikit kotor, sepertinya kamu terjatuh. Atau apakah aku salah?” Imbuh Sabi, menunjuk gelas kopi itu dengan sorot matanya.


Zulaikha segera menyoroti gelas kopi yang dibawanya tadi. Sedikit gugup, Zulaikha menggigit bibirnya. Betapa bodohnya dia kenapa tidak menyadari hal seperti itu. Sekarang dia jadi harus berpikir apa yang harus dia ucapkan pada Sabi agar bossnya ini tidak mencurigainya karena diseret oleh Ridwan keluar secara paksa dari ruangan Zayn, hingga membuat gelas kopi jadi sedikit kotor seperti itu.


Sabi tidak boleh tau bahwa dia selalu menyampaikan informasi tentangnya pada Zayn. Sabi juga tidak boleh tau bahwa kopi untuk Zayn, telah dia buang tadi. Apalagi sampai dia tau bahwa Zayn tidak ingin meminum kopi pemberiannya, bisa-bisa mereka berdua akan berkelahi lagi. Harinya sudah melelahkan, jadi dia tidak ingin menambah beban lagi hari ini.


“ i ... iya tuan muda.” Akhirnya sebuah jawaban keluar dari mulutnya dan memilih berbohong daripada harus melihat mereka berdua bertengkar.


“Aku tidak memintamu untuk cepat kembali. Jadi berjalanlah dengan hati-hati.” Tutur Sabi, memandang lembut Zulaikha. “Apakah kaki atau tanganmu ada yang terluka?”


Zulaikha tersenyum lalu menggeleng pelan. Hatinya merasa sedikit lebih tenang sekarang dengan perhatian kecil yang diberikan Sabi padanya. Setidaknya meskipun harinya begitu melelahkan, tapi ketika mendapatkan sebuah perhatian kecil seperti ini, rasanya beban yang tadinya berat jadi terasa lebih ringan.


“Oh, baguslah.” Seru Sabi, memalingkan pandangannya kembali pada tumpukan kertas. Sambil menarik nafas panjang, Sabi mulai menarik kertas paling atas dan mulai fokus untuk bekerja.


Zulaikha yang melihat itu semakin melebarkan senyumannya, merasa Sabi sudah mulai dewasa dari hari ke hari. Segera dia membantu Sabi dengan mengambil beberapa tumpukan kertas untuk dikerjakannya.


Hari mulai menjelang malam, tak terasa mereka berdua kerja dengan begitu serius. Bahkan Sabi tidak banyak drama seperti dulu saat disuruh menyelesaikan satu buah pekerjaan.


Kertas yang tadinya menumpuk di atas meja kerja Sabi, kini mulai berkurang dan tinggal beberapa tumpukan.


Sabi meregangkan tulang belakangnya yang terasa kaku dan pegal karena kelamaan duduk. Zulaikha juga mengikuti Sabi dengan melakukan sedikit peregangan pada tulang belakang dan pinggulnya yang kecil.


Sabi menggelengkan kepalanya sambil melayangkan sebuah senyuman. Sebelah tangannya pun berusaha menghalangi tangan Zulaikha untuk membereskan beberapa kertas yang berhamburan di atas mejanya.


“Tidak perlu, Zu.”


“Kenapa tuan?” Zulaikha menatap heran Sabi karena tidak biasanya Sabi akan menolak bantuan darinya.


“Aku akan lembur hari ini.” Jawab Sabi, lugas.


Ha?! Zulaikha menganga tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.Tidak biasanya Sabi mau lembur kerja.


“Tuan muda, apakah anda baik-baik saja?” Tanya Zulaikha berusaha memastikan keadaan Sabi yang aneh.


Sabi terkekeh melihat Zulaikha yang tidak percaya dengan dirinya. “Tentu saja aku baik-baik saja. Lihatlah, betapa sehatnya aku.” Sabi melompat-lompat, memperlihatkan betapa bugar tubuhnya dengan kantong mata yang terlihat jelas menghitam dibawah matanya.


Zulaikha ikut terkekeh, dengan perasaan yang sedikit gusar melihat wajah lelah Sabi. Dia tau, Sabi sedang berbohong. Sabi tidak baik-baik saja saat ini. Pasti dia sedang menghindari orang rumahnya untuk menjauh dari kata stres setiap melihat mereka berkumpul di meja makan. Hati Zulaikha melemah perlahan, merasakan betapa rapuhnya Sabi di dalam batinnya.


“Pulanglah Zu, dan bersitirahat. Aku akan lembur.” Ucap Sabi yang mulai ngos-ngosan, lalu berhenti melompat karena rasanya paru-parunya hampir saja terbang meninggalkan tubuhnya.


Zulaikha kembali terkekeh dan memandangi Sabi lembut. “Aku juga akan lembur. Membantu anda, tuan.”


“Tidak. Tidak usah Zu. Pulanglah, kamu harus beristirahat.” Ucap Sabi tegas, menolak keras Zulaikha yang ingin ikut lembur bersamanya. Namun Zulaikha tetap menggeleng dan bersikeras untuk ikut lembur bersamanya.


Mau tidak mau, Sabi mengangguk setelah melihat betapa keras kepalanya Zulaikha menolak untuk pulang. Tiba-tiba terbesit saran yang John sampaikan tadi, untuk membawa Zulaikha jalan-jalan berdua untuk mendapatkan sebuah perasaan yang bisa memancing memorinya dulu.


“Hey ... hmm, apa kamu mau makan malam?” Seru Sabi, dengan ekspresi wajah yang sedikit canggung. Sabi bahkan mengalihkan pandangannya dan tak berani melihat Zulaikha, dia akan sangat malu jika gadis itu menolak untuk makan malam bersamanya. Namun dia tidak punya pilihan, setidaknya dia harus mencoba demi dirinya sendiri.


Sementara Zulaikha berusaha menahan senyuman yang seakan ingin merekah saat mendengar tawaran Sabi. Hatinya serasa ingin melompat dari tempatnya karena saking senangnya. Meskipun didalam pikirannya yang logis, itu hanyalah sebuah makan malam sesama rekan kerja tapi seperti itu saja sudah membuat Zulaikha senang bukan kepalang dibuatnya. Sampai membuatnya lupa tentang rasa kecewanya tadi pada Zayn.


Zulaikha tak bersuara, dan hanya mengangguk. Namun Sabi tak melihat anggukan itu, jadi Sabi tetap diam dan menunggu sebuah suara mengatakan iya atau sejenisnya yang akan membuatnya segera beranjak.


Aisshh ... kenapa lama sekali menjawab? Tinggal bilang iya atau tidak. Apa aku seburuk itu sampai membuat dia bimbang mau makan malam bersamaku atau tidak?! Gumam Sabi masih diam menunggu jawaban Zulaikha yang tidak dia lihat.


“Aissh ... kalau tidak mau tidak usah. Aku pergi sendiri saja.” Celetuk Sabi, langsunh melangkah pergi.


Zulaikha menganga heran dengan Sabi yang tiba-tiba seperti anak kecil yang sedang merajuk. “Tuan muda, tunggu aku.” Panggil Zulaikha yang mengikuti langkah Sabi dari belakang.


Mendengar hal itu, Sabi tersenyum dibuatnya.