FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
67. Bad Day



“Jika aku bagaikan orang bisu yang terus bicara, maka kamu seperti orang miskin yang berpura-pura kaya.” Ucap Gio dengan suara lantang, seolah sengaja dia lakukan agar beberapa karyawan yang telah mengantri didepan lift mendengarnya dan langkah Sabi terhenti mendengar ucapannya.


“Sangat tidak tahu malu dengan keadaannya sekarang yang tidak memiliki apapun tapi berlagak seolah memiliki segalanya.” Sambung Gio, sebelum akhirnya pintu lift menutup seluruhnya.


Kata-kata Gio yang terakhir membuat kemenangan yang sempat dia rasa tadi langsung hilang seketika. Harga dirinya terasa ditusuk dsn membuatnya begitu emosional. Tangannya mengepal sempurna, berusaha menahan kesal dan terus melangkah maju ke depan.


Pikirannya begitu kacau, dan terus memikirkan ucapan Gio, hingga dia tidak fokus memperhatikan apa yang ada di depannya. Sampai akhirnya dia tidak sengaja menabrak seseorang, yang tak lain dan tak bukan adalah Paman Eddie.


“Hey ...” Seru Paman Eddie, langsung membungkuk mengambil beberapa kertasnya yang terjatuh.


“Paman?!” Seru Sabi sedikit terkejut dengan kehadiran Paman Eddie di kantor mereka sepagi ini.


“Sabiru, berhati-hatilah kalau berjalan. Kamu hampir membuat pria tua ini terjatuh.” Ucap Paman Eddie yang mengatakan dialah orangtua hanh diucapkannya.


“Maaf, Paman. Aku tidak fokus.” Sabi mengusap wajahnya dan menarik nafasnya berusaha menyingkirkan kekesalannya.


“Oke, tidak apa-apa.” Sahut Paman Eddie. “Paman duluan, yah.” Paman langsung bergerak meninggalkan Sabi, seperti sedang terburu-buru.


“Apa yang Paman lakukan disini sepagi ini?” Pertanyaan Sabi membuat langkah Paman Eddie langsung berhenti dan berbalik melihatnya.


“Hmm ... Entahlah. Aku hanya diundang oleh Syafar untuk datang menemuinya disini.” Jawab Paman Eddie seperti menggantung.


Sabi tau ada yang sesang disembunyikan oleh Paman Eddie darinya, dia terus menatap Paman Eddie, berharap Paman Eddie akan mengatakan sesuatu padanya meskipun dia tau itu mustahil.


“Sabiru .... Maafkan aku.” Paman Eddie menatap Sabi dengan tatapan iba, semakin membuat Sabi penasaran dan juga takut untuk mendengar ucapan Paman Eddie, jika dis mengatakannya sekarang.


“Pamanmu, Andi Syafar. Akan mempercepat pengangkagan Gio sebagai CEO di perusahaan ini, dan kemungkinan besar saat event besat kita nanti, Gio telah menjadi CEO saat itu. Seluruh daerah di negeri ini akan mengenalnya lewat event itu.” Sambung Paman Eddie, menatap Sabi dengan tagalan rasa bersalah. Karena sebelumnya dia sudah tau dengan rencana Andi Syafar hang akan mempercepat pengangkatan Gio. Namun dia dimunta untuk tetap diam, sampai saatnya nanti tiba.


Sabi menganga mendengarnya. Emosinya benar-benar berantakan bersamaan dengan pikirannya. Paman Andi Syafar benar-benar tidak terduga, dia benar-benar licik dengan mempercepat dua kali lipat pengangkatan Gio. Bahkan Andi Syafar merahasiakannya dari dirinya dan juga Ibunya, Nyonya Sura.


“Sabiru ...” panggil Paman Eddie menyadarkan Sabi dari pikirannya. “Jika kamu tidak sibuk, bagaimana sbeentar kita bertemu membahas event kita yang sudah dekat ini? Nanti aku akan meminta Queen dsn Zayn untuk datang. Mumpung Paman sedang ada disini.” Sambung Paman Eddie, berusaha membuat Sabi tidak kepikiran tentang Gio.


“Maaf, Paman. Aku tidak bisa. Aku sudah punya janji.” Sabi menolak dan melangkah pergi meninggalkan Paman Eddie.


“Sabiru ...” panggil Paman Eddie lagi. “Hm ... sebentar sore Paman juga ingin melihat desain baju yang telah Queen rancang. Apakah kamu masih ada rencana sebentar sore? Jika tidak, ayo kita pergi bersama karena Zayn menolak saat ku ajak kesana.” Cegat Paman Eddie masih berusaha untuk menghibur Sabi, tanpa harus memperlihatkan bahwa dia sedang iba dengan Sabi sekarang.


Langkah Sabi berhenti, dia sedikit memikirkan ajakan dari Paman Eddie.


Paman Eddie tersenyum melihat Sabi yang sepertinya tertarik dengan ajakannya. Sabi berbalik dan menatap Paman Eddie tanpa ekspresi.


“‘Maaf, Paman. Aku tetap tidak bisa.”


“Oh, baiklah.” Paman Eddie mengangguk mengerti.


“Tapi bisakah Paman memberikan alamat Queen? Siapa tau aku bisa menyempatkan diri untuk datang.” Sergah Sabi, membuat senyuman Paman Eddie semakin merekah.


...........


*Ding doooong!


Seorang lelaki yang berbadan tinggi, kurus dengan kulit yang sangat putih, berwajah khas Eropa dan make up yang sedikit cetar membahana badai. Pakaian yang tak kalah nyentrik dari bendera umbul-umbul dan juga aneh, membukakan pintu dan membuat Sabi terangkat kaget. Sabi sampai mengelus dadanya karena rasanya jantungnya hampir pindah posisi melihat tampilan aneh lelaki itu.


Lelaki itu mendesis kesal melihat respon Sabi yang berlebih baginya.


“Qui cherches-tu? (Cari siapa?)” tanya lelaki itu, ketus dengan bahasa Prancisnya. Tak mau memandang Sabi.


Sabi yang tidak tau berbahasa prancis, langsung menganga melihat lelaki aneh itu. Padahal sebelumnya dia juga enggan untuk menatap lelaki itu.


“Qui cherches-tu? (Cari siapa?)” tanya lelaki aneh itu lagi, tapi dengan nada yang lebih ketus.


“Can you speak English? (Bisakah kamu berbahasa Inggris?)” Sabi balik bertanya.


Lelaki aneh itu memutar bolat matanya, menarik nafasnya dan menatap Sabi dengan tatapan kesal. “Je n'aime pas parler en Anglais! (Aku tidak suka bicara menggunakan bahasa Inggris!)”


“Hah?!” Sabi masih menganga tak mengerti dengan apa yang diucapkan lelaki yang ada didepannya ini.


Apakah aku salah alamat?! Sabi melirik kembali sebuah potongan kertas yang bertuliskan alamat Queen. Lalu melirik kembali nomor rumah yang tertera di dinding rumah itu.


Hasilnya sama, berarti dia tidak salah alamat. Tapi kenapa yang keluar justru lelaki dengan penampilan aneh yang tidak tau bicara bahasa apa.


Lelaki aneh itu kembali menarik nafasnya dan membuangnya kasar. “Who are you looking for? (Cari siapa?)”


Akhirnya lelaki aneh itu menggunakan bahasa Inggris yang bisa dimengerti Sabi. Membuat Sabi sedikit menyunggingkan senyumannya, meskipun tak dibalas oleh lelaki aneh itu.


“Queen Lee.” Jawab Sabi, singkat.


“Have you made an appointment before? (Sudah buat janji sebelumnya?)” Tanya lelaki aneh itu lagi.


“Yes, of course. (Iya, tentu saja.)”


“What promise? (Janji apa?)”


“See design. (Melihat Desain.)”


“What design? (Desain apa?)”


“Why do you ask so much? (Kenapa kamu banyak tanya?)” Sergah Sabi yang mulai naik darah dengan lelaki aneh itu.


Lelaki aneh itu langsung mundur selangkah dan menutup pintu, namun sebelum pintu itu benar-benar tertutup. Sabi dengan cepat menyanggah pintu itu dengan sepatunya dan membuatnya sedikit menggigit lidahnya karena kakinya yang terjepit.


Lelaki itu kembali membuka pintu itu sedikit, lalu menatapnya tajam.


“Design for events hosted by Eddie! (Desain untuk acara hanh diselenggarakan oleh Eddie!)” Ucap Sabi kesal dengan sedikit berteriak.


Lelaki itu akhirnya membukakan pintu itu selebar mungkin dan mempersilahkannya masuk. “Please come in and follow me.” Ucapnya dan Sabi mengikutinya dari belakang dengan wajah yang kusut dan kaki yang sedikit pincang.


Bersambung ...