FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
43. Somay yang Enak



Setelah berkendara selama beberapa menit menuju ke pusat kota. Queen banyak bertanya tentang keadaan jalan raya seperti apa malam itu. Karena dia tidak sanggup untuk melihatnya saat berada dalam mobil.


Dengan sabar, Sabi mendeskripsikan jalan raya seperti apa yang dilihatnya. Sangat ramai dan padat. Sabi juga mendeskripsikan ada banyak penjual kaki lima dijalan itu, yang rasa makanannya enak.


Queen yang mendengar, terus mengecap lidahnya seakan bisa ikut merasakan enaknya makanan yang Sabi deskripsikan.


Sabi sedikit tertawa tanpa suara melihat sikap Queen yanh seperti anak kecil ketika mendengar dongeng. Sangat bersemangat dan terlihat sangat ingin merasakan. Tiba - tiba terbesit sebuah ide di kepalanya.


“Pak berhenti sampai sini.” Seru Sabi menepuk kursi supir taksi itu.


“Kenapa?” Tanya Queen sedikit heran.


“Hmm.. sebaiknya kita jalan kaki. Karena kalau kita naik mobil, matamu tertutup. Mana bisa kamu mendapatkan inspirasi dengan mata yang tertutup seperti itu.” Jawab Sabi sembari membantu Queen melepaskan penutup matanya.


Queen sedikit terkejut merasakan tangan Sabi yang tiba -tiba membantunya melepaskan penutup matanya.


“Sekarang buka matamu, dan mari kita menikmati pemandangan malam di pusat kota.” Seru Sabi lalu memberikan kain penutup mata itu pada Queen.


Queen tersenyum dan mengangguk penuh semangat.


Setelah Sabi selesai membayar ongkos taksi, mereka berdua sama - sama turun dari mobil. Berjalan disepanjang trotoar.


“Tidak buruk.” Seru Queen.


“Buruk? Hey.. jadi pikirmu negaraku adalah negara yang buruk?!” Celetuk Sabi.


“Aa bukan seperti itu maksudku.”


“Lalu?”


“Disini kalau siang panas sekali, ditambah aku yang tidak bisa melihat keluar jendela mobil jadi aku tidak pernah menikmati pemandangan kota ini.” Jawab Queen, sembari menyenggol Sabi.


“Hey..” seru Sabi.


“Tapi berkatmu, aku jadi bisa menikmati pemandangan kota meskipun malam hari, selain pantai.” Sambung Queen.


Sabi berjalan sedikit lebih cepat dan berhenti di depan Queen.


“Jadi selama kamu disini, kamu belum pernah jalan - jalan saat siang hari selain ke pantai?” Tanyanya yang sedikit terkejut.


Queen mengangguk lembut, lalu mendorong pundak Sabi pelan untuk menyingkir.


“Hey.. negaraku ini adalah negara yang punya sejuta keindahan, dan kamu akan jadi orang yang sangat merugi jika datang kemari tanpa menikmati keindahannya.”


Langkah Queen terhenti, dia berbalik menatap Sabi yang juga sedang menatapnya dengan tatapan bangga setelah menceritakan keindahan negaranya.


“Sebenarnya aku ingin. Tapi waktuku sedikit, dan aku tidak bisa menyia - nyiakannya lagi.” Sahut Queen.


“Jadi kamu akan segera kembali ke Paris?”


Queen diam dan hanya nenatap Sabi yang menatapnya dengan mengangkat kedua alisnya yang sedikit tebal.


“Hmmm...” Sabi terlihat sedikit berpikir sambil berjalan mendekati Queen yang masih diam membisu.


“Kalau begitu kamu harus menikmati yang ada.” Imbuhnya.


“Menikmati yang ada? Maksudnya?” Queen mengangkat sebelah alisnya.


Sabi tidak menjawab. Dia hanya tersenyum, lalu memegang lengan Queen.


Sabi lalu sedikit berlari sambil terus memegang tangan Queen. Mau tidak mau, Queen harus ikut berlari mengikuti langkah kaki Sabi. Untung saja kaki Queen jenjang, jadi dia bisa mengikuti langkah kaki Sabi yang panjang.


“Hey.. kita kau kemana?” Teriak Queen.


“Ikut saja..” sahut Sabi, tersenyum.


Sabi lalu menguatkan genggaman tangannya dengan menggenggam telapak tangan Queen. Telapak tangan mereka saling menggenggam satu sama lain dengan eratnya, sambil terus berlari.


Sampailah mereka di sebuah taman kota, disana terlihat beberapa pedagang kecil yang sedang menjajahkan makanan mereka. Banyak sekali orang yang sedang menikmati makanan di tempat itu. Bahkan orang - orang yang naik mobil pun singgah bercengkrama di tempat itu sambil memakan makanan sederhana itu.


“Apa kita sudah sampai?” Tanya Queen yang sudah ngos - ngosan.


“Belum.”


Sabi kembali menarik Queen, namun kali ini mereka berjalan santai dengan tangan yang masih saling menggenggam satu sama lain.


Sabi menghentikan langkahnya di depan sebuah gerobak pedagang kaki lima yang menjajahkan sebuah somay, batagor, cireng dan tahu goreng.


“Taraaa!!! Kita sudah sampai.” Seru Sabi sedikit heboh memperlihatkan tempat makan favoritnya.


“Jadi ini?” Tunjuk Queen yang terlihat sedikit tak terima dengan jajanan yang penuh dengan minyak.


Ekspetasi Queen terlalu tinggi dengan kenyataan yang ditunjukkan oleh Sabi. Apalagi dengan pakaiannya yang modis, lalu singgah di tempat seperti itu. Sungguh Queen tidak habis pikir. Ditambah lagi dirinya yang tidak suka makanan yang berminyak, membuat kepalanya sudah sakit duluan sebelum menyantap jajanan itu.


“Cobalah..” Ucap Sabi yang sudah terlebih dahulu mengambil satu tusuk somay.


“Hmmm.. enak sekali.” Imbuhnya.


Queen menelan salivanya yang terasa keras. Dia tidak percaya harus makan makanan yang berminyak.


“Ti tidak.” Tolak Queen halus.


“Cobalah.. kamu tidak akan menyesal.”


Sabi mengambil satu tusuk somay dan langsung menyodorkannya di depan mulut Queen.


Mata Queen membelalak, seakan ingin berkata kasar dan memukul tangan Sabi untuk menjauhkan jajanan itu darinya.


“Belum pernah kesini ya mba?” Tanya mba pedagang somay itu.


“Iya dia belum pernah kemari.” Sahut Sabi.


“Oh pendatang yah.. cobain aja satu mba, pasti ketagihan.”


“Iya, dia ini bule rasa lokal.” Sabi terkekeh.


“Maksudnya?” Queen dan Mba penjual Somay sama - sama bingung dibuatnya.


“Dia ini dari warga negara Paris, tapi asli negara sini.” Jelas Sabi.


“Heh..” Queen dengan geram menginjak kaki Sabi hingga lelaki di depannya itu mengerang kesakitan.


“Emang benar kok. Tuh buktinya kamu fasih bicara bahasa sini.” Keluh Sabi sambil menggoyang - goyangkan kakinya yang di injak oleh Queen.


Queen hanya memelototi Sabi, dengan tatapan geram.


Dengan cepat Sabi kembali mendekat dan membuat Queen memakan somay yang dari tadi dipegangnya.


Setelah sedikit bergelut hingga membuat mba somay tertawa, akhirnya satu buah somaypun masuk dimulut Queen. Dengan cepat Sabi menarik Queen lalu mendekap mulut Queen agar dia tidak memuntahkan somay itu.


Mau tidak mau Queen terpaksa mengunyah somay itu, sambil menutup matanya. Berharap dia tidak akan muntah setelah ini karena jajanan yang berminyak itu.


Setelah susah payah dikunyah, Queen lalu menelannya sambil meremas lengan Sabi dengan kuat.


“Hey.. ini cuma somay, bukan racun.” Seru Sabi sedikit tertawa melihat Queen yang ketakutan menelan somay itu.


Mata Queen seketika membelalak.


“Eh mas. Itu mba nya kenapa?” Seru Mba Somay yang sedikit terkejut melihat Queen.


Sabi segera melepaskan tangannya dan menatap wajah Queen. Dengan perasaan yang sedikit hawatir, Sabi menggoyang - goyangkan pundak Queen yang masih diam membisu namun dengan mata yang membulat sempurna.


“Queen.. Queen.. kamu baik - baik saja?”


“Queen..” panggil Sabi lagi masih menggoyangkan bahu Queen.


“So somay.” Ucap Queen terbata.


“Iya.. Kenapa somaynya? Nyangkut?”


“Eeenak!” Jawab Queen lalu menangis tanpa air mata.


Ha?


“Yaa Tuhan...” Seru Sabi lega.


Sabi dan Mba Somay sama - sama mengelus dada setelah jantung mereka tadi berdegup kencang karena hawatir dengan keadaan Queen yang terlihat seperti orang yang terkena struk ringan.


“Kalo enak, tambah lagi mba.” Ucap mba somay menyodorkan satu tangkai somay.


“Tidak. Aku tidak bisa.” Queen melirik somay itu dengan tatapan sedih.


“Ya elah.. makan saja. Memangnya kenapa kalau makan somay? Kamu mati kalau makan somay?” Sergah Sabi.


Queen kembali diam dan menatap Sabi dengan tatapan sedih.


“Makan aja.. kalau mati ya sudah mati. Berarti sudah ajal. Mau bagaimanapun kamu menghindari ajal, ya ujung - ujungnya tetap bakalan mati. Tapi kamu mati dengan keadaan menyesal, karena kamu tidak menikmati hidupmu sebelum mati.” Sambung Sabi.


Queen terlihat sedikit berpikir. Perkataan Sabi ada benarnya juga. Dia akan menyesal seumur hidup jika tidak menikmati makanan enak ini. Seperti dirinya yang akan menyesal jika tidak memperjuangkan Zayn.


Queen melirik somay yang disodorkan mba somay itu padanya. Queen kembali melirik Sabi, Sabi mengangguk meyakinkannya untuk memakan somay itu. Queen kembali melirik somay itu. Tanpa berlama - lama, tangannya segera menyambar somay itu dan melahapnya.


“Mmmmm... enak.” Seru Queen girang.


Sabi tertawa senang melihat Queen yang akhirnya mau memakan somay itu. Melihat Queen yang lahap, Sabi segera mengambil sebuah piring kecil lalu di isinya piring itu dengan beberapa tusuk somay, cireng dan batagor. Tak lupa dia membumbuinya dengan sambal kacang dan saos.


“Ini..” Sabi menyodorkan piring itu pada Queen.


“Makasih.” Queen tersenyum girang.


Sabi kembali mengambil piring kecil.


“Untuk apa?” Tanya Queen melirik piring kecil yang diambil Sabi.


“Untukku.”


“Tidak usah. Pake satu piring ini saja. Lagian ini terlalu banyak untukku.”


Sabi hanya diam menatap Queen. Gadis ini benar - benar menganggapnya sudah seperti teman. Padahal mereka selalu bertengkar dan rusuh.


“Kenapa? Kamu jijik?” Tanya Queen lagi.


“Tidak!”


“Lalu?”


“Baiklah...” sahut Sabi sambil meletakkan kembali piring kecil itu.


Mba somay yang melihat mereka berdua, terus tersenyum. Tingkah mereka berdua seperti orang yang sedang PDKT. Membuat orang yang melihatnya pun ikut berbunga - bunga.


“Ayo kita duduk disana.” Sabi menunjuk sebuah pohon yang dibawahnya ada tempat duduk.


Mereka pun menikmati makanan mereka bersama dalam satu piring. Sesekali mereka berdua berbagi cerita, dan tetap saling usil meskipun sedang makan. Tawa pun terdengar, dan mereka pun terlihat semakin akrab.


...........


Seperti biasa, Zulaikha naik ke kamar Sabi. Dilihatnya pintu kamar Sabi sedikit terbuka.


Apakah dia belum tidur?


Zulaikha membuka pintu itu lalu masuk ke dalam kamar Sabi.


“Tuan muda..” panggil Zulaikha sambil melihat ke beberapa tempat mencari keberadaan Sabi.


Sabi tetap tidak terlihat dipandangannya. Bahkan setelah mencari ke balkon dan di ruang ganti serta kamar mandi pun, dia tetap tidak menemukan keberadaan Sabi di kamar itu.


Apakah tuan muda sedang di ruangan lain? Tapi tidak biasanya dia pergi ke ruangan lain. Karena ini sudah jam tidurnya. Ataukah dia marah padaku karena aku datang terlambat?!


Zulaikha terlihat sedikit panik. Dia lalu berlari keluar dari kamar Sabi, menuruni tangga dan mencari Sabi di beberapa ruangan. Hingga tak sengaja bertemu dengan Pak Tri.


“Oh iya pak Tri.” Seru Zulaikha mendekati pak Tri.


“Iya nona. Ada yang bisa saya bantu?”


“Apakah pak Tri melihat tuan muda? Soalnya saya cari di kamarnya, tuan muda tidak ada.” Sahut Zulaikha sedikit panik.


“Memangnya ada apa nona, jika tuan muda sekarang tidak lagi di kamarnya?!” Pak Tri balik bertanya dengan tatapan dingin.


“Ehm.. kan ini sudah jam tidurnya tuan muda. Seharusnya aku datang untuk membantu tuan muda tidur, tapi tuan muda justru tidak ada di kamarnya. Atau jangan - jangan tuan muda marah padaku karena aku datang terlambat?!” Jelas Zulaikha merasa bersalah atas kelalaiannya.


Pak Tri menarik nafas panjang. Entah mengapa tatapan Pak Tri begitu dingin pada Zulaikha malam ini. Mungkin karena Zulaikha lalai dalam pekerjaannya, atau bisa jadi karena Pak Tri tau Zulaikha telah berbohong.


“Anda tidak perlu hawatir nona, tuan muda sekarang sedang keluar bersama nona Queen.”


“A apa? Kemana?” Mata Zulaikha mengerjap beberapa kali, sedikit kaget dengan apa yang didengarnya.


Tidak seperti biasanya, Sabi mau keluar hanya berdua dengan Queen karena mereka tipe dua manusia yang tidak bisa akur dimanapun dan kapanpun mereka berada.


“Maaf saya tidak tau. Itu bukan urusan saya dan itu juga bukan urusan anda.” Sahut Pak Tri, lalu pergi meninggalkan Zulaikha yang masih bingung dengan apa yang terjadi.


Kok bisa tuan muda mau keluar bersama Nona Queen, padahal tuan muda tidak pernah akur jika bersama Nona Queen.


Zulaikha kembali berjalan menuju kamarnya. Saat ditengah jalan, Queen berjumpa dengan Pak Van yang baru saja akan pulang ke rumahnya.


Itu Pak Van. Lalu Tuan muda dan Nona Queen keluar naik apa?!


Beberapa pertanyaan semakin menumpuk di kepala Zulaikha. Aneh jika dua orang yang tidak akur secara tiba - tiba keluar bersama dan hal itu terus mengganggu pikiran Zulaikha malam itu.


Di kamarnya, Zulaikha memandang keluar jendela. Menatap langit gelap tanpa bintang. Anginpun mulai ramai berhembus, mengacak - acakkan beberapa dedunan.


Layaknya dedaunan yang teracak - acak oleh angin. Rasanya perasaan Zulaikha pun sama seperti itu saat ini. Entah mengapa, perasaannya tidak tenang dan terus memikirkan Sabi yang pergi keluar bersama Queen tanpa dirinya.


Mungkinkah dirinya cemburu pada Queen yang bisa dengan mudahnya ada disekitar Sabi?! Tapi jika dibandingkan antara dirinya dengan Queen, dirinya yang lebih sering bersama dengan Sabi dibandingkan dengan Queen.


Ya ampuun.. Keluh Zulaikha sambil memegang kepalanya.


Ada apa denganku? Kenapa aku harus memikirkan hal yang tidak berguna seperti itu?


Cemburu?


Tidak, tidak... aku tidak cemburu!!!


Lagian apa hakku untuk cemburu?


Singkirkan pikiran itu Lai. Jauh.. menjauh dari pikiranku!!!!


Tiba - tiba suara petir terdengar, membuat Zulaikha terperanjat kaget dan sadar dari perdebatan dengan pikirannya.


Rintik hujan pun mulai berjatuhan. Lama - kelamaan hujan semakin deras dan kencang bersamaan dengan angin yang ramai berhembus.


“Hujan.. Baiklah. Aku akan tidur dengan nyenyak.” Seru Zulaikha, menutup gorden jendelanya.


Bersambung....