FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
59. Sabi dan John



Saat dalam mobil, John tak henti-hentinya melirik Queen yang ada di kursi belakang, dari pantulan spion mobil. John terlihat sedikit terkejut melihat Queen yang menutup matanya dengan kain selama dalam perjalanan.


“Queen, are you oke?” Tanya John, yang sesekali mencuri pandang melirik spion.


“Im oke. Tenang saja John. Kecuali kamu membuka penutup mata ini, baru aku tidak baik-baik saja.” Sahut Queen sembari tersenyum.


“Fokus saja menyetir. Aku tidak mau kita kecelakaan.” Sabi menendang kursi kemudi John hingga membuat John tersentak dan berteriak geram padanya.


“Iya John, fokus saja menyetir. Aku sangat takut kalau harus mengalami kecelakaan lagi.” Timpal Queen, mendukung Sabi.


“Apakah kamu pernah mengalami kecelakaan sebelumnya, Queen?” John memelankan laju mobilnya.


“Hmm ...” Queen mengangguk, mengiyakan pertanyaan John.


Sabi melirik Queen, melihat gadis itu dengan tatapan iba.


“Berapa kali? Apakah parah?” John bertanya lagi dan Sabi menendang kursi kemudi lagi. Memberi kode pada John untuk berhenti memberi pertanyaan yang mengorek luka lama Queen.


Sabi adalah orang yang mengalami trauma yang sama seperti Queen, jadi dia tau rasanya ketika ditanya tentang bagaimana bisa dia mendapatkan trauma itu. Rasanya menyakitkan, dan melemahkan tubuh maupun pikiran. Itu sebabnya dia sangat tidak suka ditanyai tentang traumanya, karena harus mengingat trauma yang dia alami.


Meskipun dirinya tidak mengingat dengan jelas kecelakaan apa yang dialaminya dulu. Satu yang pasti, dia sangat takut dengan kecelakaan. Sehingga dia berasumsi bahwa mungkin dulu dia mengalami kecelakaan sehingga membuatnya mengalami trauma dengan mobil, atau pun tentang kecelakaan.


“Tidak perlu dijawab.” Ucap Sabi tegas.


“Tidak apa ...” Queen menyenggol Sabi yang ada di sebelahnya. Menyunggingkan senyuman, agar Sabi melihatnya bahwa dia baik-baik saja.


“Hm ... kalau tidak salah, 2 kali kecelakaan mobil.” Queen mengangkat dua jarinya. Sabi dan John yang menyimak, menganga mendengar ucapannya.


“Kecelakaan yang pertama saat umurku masih sangat muda, aku tidak ingat umur berapa. Kecelakaan yang kedua saat aku remaja, kecelakaan yang merenggut nyawa Boss Bob.” Queen menelan salivanya, perlahan. Menahan sebuah kesedihan dalam hatinya. Untung saja matanya tertutup dengan kain, jika tidak pasti Sabi bisa melihat matanya yang berair.


“Boss Bob? Saat kamu remaja, kamu sudah kerja?” John tidak bisa menahan rasa penasarannya.


Queen sedikit terkekeh diantara rasa sedihnya.


“Tidak. Boss Bob bukan bos ditempat kerja. Dia adalah ayahku. Aku memanggilnya Boss, karena dia seperti Boss yang punya banyak kekuasaan dan memiliki banyak hal yang sangat aku sukai.” Queen menarik nafasnya dan membuang nafasnya perlahan.


Jadi, dia yatim sepertiku? Mata Sabi berkaca, merasakan kesedihan yang Queen rasakan.


“I’m Sorry Queen ...” Sahut John, yang mencuri pandang melihat Queen dari kaca spion mobilnya.


“Tidak apa.” Ucap Queen singkat, menundukkan kepalanya sembari tersenyum kecut.


“Lalu ibumu dimana? Apakah masih di Prancis atau dimana?!” Tanya John lagi, yang seolah tidak kehabisan akal untuk mengorek kisah hidup orang lain.


“Aku juga kehilangan Ibuku, selang beberapa hari Boss Bob_” Suara Queen mulai bergetar, menahan sesak dalam hatinya.


“Stop Queen.” Sabi meraih tangan Queen, dan meremasnya. “Sekali lagi kamu bertanya, akan ku putuskan lidahmu.” Sabi menendang sekali lagi kursi kemudi, John.


John terkekeh canggung, baru menyadari dirinya yang terlalu kepo dengan kisah hidup Queen. Tanpa menyadari membuat gadis itu menjadi sedih, mengingat kenangan masa lalunya yang ternyata cukup menyedihkan.


“Hey ... aku tidak apa.” Sebelah tangan Queen lainnya meraba telapak tangan Sabi yang memegang tangannya. Lalu melepaskan kedua tangannua dari remasan tangan Sabi.


Sabi meliriknya, dan memandangnya dalam diam. Cukup lama dia menatap, Queen tanpa berkata apapun. Melihat betapa kuatnya dia menahan kesedihannya di depan orang lain, dengan berusaha tersenyum. Sabi tersenyum melihatnya, dan John memperhatikan mereka berdua diam-diam.


Setelah cukup lama mereka terdiam. Queen mengeluarkan suaranya, memecahkan keheningan suasana dalam mobil.


“John, turunkan aku di jalan Merdeka.”


“Oke..” Sahut John dengan semangat.


“Apa yang kau lakukan disana?” Sabi mendelik.


“Aku punya urusan disana.” Jawab Queen, singkat dan Sabi diam tak bersuara lagi.


Mobil mewah John, Mercedes Benz S350 yang berwarna hitam pekat. Memelan saat di jalan Merdeka dan berhenti tepat di depan sebuah toko kain terbesar di ibu kota, sesuai dengan arahan Queen.


Sabi membantu Queen membuka penutup matanya, dan mengikatkan penutup mata itu di tali tasnya. Dia memandang Queen yang keluar dari mobil, dan langsung memasuki toko kain itu tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Sabi menarik nafasnya panjang, melihat sikap Quen yang sekali lagi cuek dan acuh tidak mengucapkan sebuah kata terimakasih pada John ataupun padanya. Rasanya Sabi akan mulai terbiasa dengan sikap Queen yang seperti itu.


Mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju ke kantor, perusahaan pusat milik keluarga Andi. Saat sampai, John memarkirkan mobilnya dengan hati-hati dan bersama-sama turun dari mobil berjalan menuju pintu masuk.


Di depan pintu masuk, terlihat Zulaikha berdiri seolah sedang menunggu seseorang disana.


“Hey ... siapa gadis cantik itu?” John menyiku Sabi, menunjuk Zulaikha dengan sorot matanya.


Sabi melirik ke arah yang John tunjuk, dan mendapati Zulaikha yang terlihat sedikit mondar mandir seolah sedang menantikan sesuatu.


“Itu sekertarisku, Zu.”


“Benarkah? Wah ... wajahnya sangat cantik. Dia seperti dewi.” John menyentuh dagunya, memikirkan kecantikan Zulaikha yang bagaikan seorang dewi di matanya.


“Lebay.” Sergah Sabi. Semakin mempercepat langkahnya.


“Tuan muda ...” seru Zulaikha yang menyadari kedatangan Sabi. Matanya menatap ke sekitar mencari sosok Queen, namun sosok Queen tidak terlihat sedikitpun. “Dimana Nona Queen?”


Sabi menggeleng kepalanya, dan langsung berjalan melewati Zulaikha. John menarik nafasnya, melihat sikap Sabi yang sedikit acuh pada seseorang yang seharusnya dia anggap penting.


John segera mempercepat langkahnya, berusaha mengejar Sabi yang ada di depannya.


“Hey ... ada apa denganmu dan dia?” Ucp John dengan nada berbisik, berjalan beriringan dengan Sabi.


“Aku tidak bisa membicarakannya sekarang.” Balas Sabi dengan nada berbisik.


“Hey ... ingat, dia adalah bagian terpenting di hidupmu. Kamu tau itu.” John menyiku Sabi, berusaha mengingatkan Sabi dan tujuannya untuk mengembalikan memori Sabi yang hilang.


Sabi menarik nafasnya dalam-dalam, memutar bola matanya dan membuang nafasnya kasar. Dia lalu berbalik ke belakang, melihat Zulaikha yang terus mengikuti mereka dari belakang.


“Iya tuan muda.” Zulaikha tersenyum polos menatap Sabi.


“Bisa belikan aku kopi americano 2 gelas?” Sabi mengeluarkan dompetnya, mengeluarkan beberapa uang pecahan 100 ribu.


“Di cafe yang ada di ujung jalan ini yah. Jangan di tempat lain. Harus disitu.” Sabi menekankan kalimatnya untuk tidak membeli ditempat lain, dan sengaja memilih cafe yang jauh agar dia dan John punya waktu untuk membahas masalah pribadinya tanpa didengar oleh Zulaikha.


Zulaikha mengangguk, dan mengambil uang yang diberikan oleh Sabi padanya. Keningnya sedikit terangkat heran, melihat uang yang Sabi serahkan terlihat banyak untuk harga dua buah kopi.


“Tuan ... tidakkah uang yang tuan berikan tidak terlalu banyak?”


“Oh, benarkah? Kalau begitu, beli beberapa kopi atau minuman dingin untuk karyawan di lantai 3. Termasuk pada Zayn Adijaya si sombong itu.” Sabi tersenyum mengangkat sebelah sudut bibirnya, dan kembali berjalan meninggalkan Zulaikha yang masih menatapnya heran.


“Turuti saja apa yang dikatakannya.” John mengangkat sebelah alisnya, lalu tersenyum pada Zulaikha. Seolah tau kebingungan pada diri Zulaikha, yang merasa bahwa ada sesuatu yang aneh pada Sabi dan John berusaha menutupi keanehan itu.


Zulaikha mengangguk, dan John pergi menyusul Sabi yang sudah berada jauh di depannya.


Saat sampai di dalam ruangannya yang nyaman dengan melirik beberapa tumpukan kertas yang ada di atas meja kerjanya. Sabi menarik nafas sekali lagi, merasa kepalanya begitu engap karena melupakan bahwa kerjaannya sangat menumpuk, mengingat kegiatan mereka tidak lama lagi akan diselenggarakan.


Sabi melonggarkan dasinya dan membuka jasnya, berusaha mencari rasa rileks, setelah melihat pekerjaannya yang menumpuk.


“Kenapa kamu begitu cuek padanya?” John mendudukkan dirinya di sofa kulit, tepat di depan Sabi yang baru saja duduk, sambil melepaskan jasnya.


“Alu tidak cuek.” Jawab Sabi singkat.


“Kalau tidak cuek, yang tadi apa? Kamu seolah-olah tidak peduli padanya yang hawatir menunggu dirimu.” John meregangkan tubuhnya di atas sofa itu. “Dia bahkan terlihat seperti seorang istri yang sedang menunggu suaminya pulang. Sangat manis.”


“Ciihh ...” Sabi mendesis melirik John yang tengah membayangkan wajah Zulaikha tadi saat di pintu masuk.


“Bohong jika kamu bilang dia tidak cantik.” Sergah John, mendelik ke arah Sabi.


Sabi tidak bisa menahan senyumnya saat mendengar ucapan John. Tentu saja, Sabi tidak bisa berbohong tentang itu. Bahkan semua orang tau, bahwa Zulaikha punya wajah yang cantik.


“Benarkan?” Jari telunjuk John, menunjuk-nunjuk Sabi dari jauh berusaha membuat Sabi mengaku padanya.


Sabi menggeleng tapi dia lupa menyembunyikan senyumannya. Membuat John yang melihatnya langsung tau, bahwa Sabi pun melihat Zulaikha sebagai gadis yang cantik.


“Lalu kenapa kamu mengacuhkannya? Kamu tau kan kalau Zulaikha teman masa kecilmu dulu, berarti dia yang bisa menolongmu.” Imbuh John.


“Aku tidak mengacuhkannya, hanya saja ... aku tidak tau kenapa, serasa ada yang janggal.” Sabi menyentuh dadanya, merasakan perasaan hambar yang ada dalam hatinya.


“Janggal? Apa?” John ikut menyentuh dan melirik dadanya sebagaimana Sabi menyentuh dadanya.


“Hm ... aku masih belum mengerti apa yang terasa janggal atau aneh.” Sabi menggeleng kepalanya dengan tatapan yang menerawang, tengah berpikir sebuah perasaan aneh yang dia rasakan. “Perasaanku seperti bertolak belakang dengan apa yang dipikirkan otakku tentang dia.”


John menganga tak mengerti dengan penjelasan Sabi. “Hm ... bisa lebih diperjelas?!”


Sabi mengerang geram mendengarnya.


“Begini ... ini memang terasa sulit dimengerti, tapi cobalah dimengerti.”


“Di pikiranku, aku sudah menemukan anak kecil yang ada dalam mimpiku. Yang ternyata anak kecil itu adalah teman masa kecilku dulu. Tapi ... dalam hatiku, aku tidak merasakan apapun.” Imbuh Sabi melambaikan tangannya di depan John, lalu menyentuh dadanya.


“Aku merasa hambar. Seolah tidak ada yang berubah, meskipun aku tau dia adalah anak kecil yang selalu hadir disetiap mimpiku.” Sambung Sabi, menatap malas John.


“Oh .. aku mengerti.” John mengangguk mengerti, menyentuh dagunya berusaha berpikir sebuah jalan keluar untuk sahabatnya. “Aku rasa ... perasaanmu hambar karena kamu dengan dia sudah tidak sedekat dulu.”


Sabi mengangkat sebelah alisnya, menatap John heran.


“Begini ... pikiranmu sudah menerima fakta bahwa kamu sudah menemukan gadis kecil itu yang sudah bertumbuh dewasa dan sekarang menjadi sekertarismu. Tapi hatimu seolah belum menerima fakta itu, karena tidak ada perasaan apapun yang kamu rasakan tentang dia.” Imbuh John, menunjuk Sabi.


Sabi mengangguk perlahan seolah paham dengan maksud John, padahal dia masih belum mengerti dengan penjelasan John padanya.


“Hatimu merasa hambar dan tidak merasa apapun, senang ataupun bersemangat. Karena memorimu tentang dia belum kembali. Makanya kamu tidak merasakan apapun.” Sambung John semakin bersemangat menjelaskan argumennya.


“Oooh...” Kali ini Sabi mengangguk mengerti, mulai paham dengan yang dimaksud John.


“Maka dari itu, kamu harus sering bersama dia. Lakukan apapun dengan dia, dengan begitu sedikit demi sedikit memorimu dengan dia akan sedikit terbuka dan perasaan bahagia yang kamu rasakan bersama anak kecil yang ada dalam mimpimu itu, akan kamu rasakan meskipun bukan dalam mimpi.” John menjentikkan jarinya, semakin bersemangat dengan saran yang dia berikan pada Sabi.


“Aku selalu bersamanya dan dia sudah lama tinggal serumah denganku. Tapi perasaanku masih hambar.” Tutur Sabi membuat semangat 45 John sedikit berkurang mendengar ucapannya.


“Wah benarkah?” John menganga tak percaya, dengan kesigapan Sabi terhadap Zulaikha.


Sabi mengangguk polos, mengiyakan pertanyaan dari John.


“Bagaimana bisa?!” John berpindah tempat duduk, didekat Sabi.


“Aissh ... jangan terlalu dekat!” Sabi mendorong tubuh John, berusaha menjauhkan lelaki bertubuh kekar itu darinya.


“Ayolah cerita ...” John memelas dan memanja untuk membujuk Sabi menceritakan kronologi Zulaikha yang sudah tinggal serumah dengan Sabi. Siapa tau kelak dia juga bisa membawa gadis lain untuk tinggal serumah dengannya tanpa harus menikah dan tanpa harus ditentang oleh orangtuanya yang sangat menjunjung tinggi peraturan dalam agama.


“Ada apa denganmu, hah?!” Sabi berteriak kesal, menjauhkan dirinya dari John. “Sebenarnya apa yang kamu pikirkan soal Zu yang sudah tinggal serumah denganku?! Aku saja heran kenapa pamanku mengirim dia untuk tinggal di rumah belakang bersama dengan asisten rumah tanggaku yang lain.”


“Ha? Jadi dia tidak tinggal di rumah utama bersamamu?!” John menganga mendengar ucapan Sabi.


“Tidaklah!” Sahut Sabi, tegas. “Memangnya dia siapa sampai harus tinggal di rumah utama dengan mudahnya seperti itu?! Yang ada pasti Bibi dan Ibuku akan menendangnya jika itu terjadi.”


“Tapi Queen ...” sergah John, mengingat Queen yang dengan mudahnya bisa tinggal di rumah utama tanpa kontra dari pihak manapun yang ada di rumah utama keluarga Andi.


Sabi tertegun mendengar nama Queen disebut. Dia menggigit bibir bawahnya, mengingat sosok Queen saat pertama hadir di rumahnya. Disambut dengan meriah layaknya seperti seorang putri yang datang dari kerajaan yang jauh.


“Iya Queen memang diterima baik oleh paman, bibi maupun Ibu. Tapi jangan lupa kalau kehadiran Queen di rumah utama mendapat kontra dariku.” Sahut Sabi, sedikit tersenyum mengingat betapa seringnya dia berkelahi dengan Queen, saat di rumah.


John menjentikkan jarinya, baru sadar ternyata Queen tidak sepenuhnya mendapat pro dari semua orang di rumah utama. Ternyata ada Sabi yang jadi kubu kontra dalam menanggapi kehadiran Queen di rumah utama.


Bersambung ...