FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
39. Kurus



Alarm handphone berbunyi tepat pukul 06:00. Mata Sabi terbuka perlahan, lalu menyipit kembali karena disambar matahari pagi yang mulai cerah. Tiba - tiba terlukis sebuah senyuman dibibirnya hingga membuat sebuah lubang dimasing - masing pipinya.


“Waahh.. tidurku sangat nyenyak!” Serunya senang sambil meregangkan badannya.


Dia bangkit dari tempat tidurnya dengan semangat. Diregangkan lagi badannya, sambil berlari kecil lalu melompat - lompat merasakan otot tubuhnya yang terasa segar karena bisa tertidur nyenyak.


Diliriknya lagi, pakaian yang telah disiapkan oleh Pak Tri, telah tergantung rapih ditempat biasa.


“Oke!!!” Serunya lagi sambil melentikkan kedua jarinya secara bersamaan.


Di meja makan. Seperti biasa, Nenek dan Nyonya Sura sudah datang lebih dulu. Kemudian, Sabi datang dengan wajah ceria tanpa beban membuat hati Nyonya Sura yang melihatnya menjadi ikut senang.


“Sepertinya ada kabar baik.” Singgung Nenek seraya tersenyum memperhatikan Sabi yang dari tadi tersenyum cerah tanpa beban.


“Kabar baik? Apa?” Sabi balik bertanya heran.


“Apakah kamu mendapat kabar baik hari ini?” Tanya Nyonya Sura.


“Aku dapat kabar baik? Hmm.. tidak!” Jawab Sabi setelah sedikit berpikir.


“Tapi kamu terlihat sangat ceria pagi ini, tidak seperti biasanya.” Seru Nenek.


“Iya, tidak biasanya kamu ceria seperti ini.” Sambung Nyonya Sura.


“Nenek, Ibu. Sabi selalu ceria kok setiap hari. Hanya saja, hari ini badan Sabi terasa lebih segar aja gitu dari biasanya.” Jawab Sabi, memecahkan rasa penasaran kedua wanita paruh baya yang ada di depannya.


“Kenapa bisa?” Tanya Nyonya Sura.


“Karena.. sudah 2 malam ini Sabi tidur nyenyak terus, dan tidak mimpi buruk lagi.” Jawab Sabi dengan mata yang berbinar.


“Benarkah?” Seru Nenek dan Nyonya Sura berbarengan, merasa senang tak percaya dengan apa yang mereka dengar barusan.


“Serius...” seru Sabi, mengangkat kedua jarinya.


Pak Tri, datang membawakan tas Sabi yang ketinggalan di kamar.


“Ini tas anda Tuan Muda.” Pak Tri meletakkan tas itu disebelah kursi Sabi.


“Memang rumah ini jadi terasa sangat bagus ketika tidak ada mereka. Jika ada mereka, rasanya seperti neraka.” Ketus Nyonya Sura yang menyindir paman Andi Syafar bersama istrinya.


Mendengar hal itu, Nenek jadi terdiam dan langsung melahap makanannya yang tadi dia abaikan karena berbincang dengan Sabi. Pak Tri pun refleks menundukkan kepalanya, mencoba tidak peduli dan tidak mendengar apa yang barusan diucapkan oleh Nyonya Sura. Karena dirinya harus tetap bersikap netral selama bekerja di dalam rumah ini dan tidak boleh memihak kepada siapapun selain pada Nenek yang memegang kendali penuh pada rumah ini.


“No no no..” Sabi menggeleng - gelengkan kepalanya, sambil melahap makanannya.


“Apa yang No?!” Sela Nyonya Sura.


“Bukan karena itu Ibu..”


Zulaikha pun datang menghampiri meja makan, dengan pakaian rapihnya yang seperti biasanya. Sebuah senyumanpun tak lupa dia sunggingkan, sebagai ucapan selamat pagi kepada tuan rumah yang ada di depannya.


“Sabi bisa tidur nyenyak, karena diaa!!!” Seru Sabi seraya menunjuk tangannya pada Zulaikha yang berdiri di belakang kursinya.


“Ha? Dia? Kenapa dengan dia? Maksud Ibu, kenapa bisa?!” Nyonya Sura sedikit tertegun dengan jawaban Sabi yang sedikit mengejutkannya.


Pak Tri dan Nenek pun sontak melirik ke arah Zulaikha yang tengah tersenyum malu karena Sabi.


“A ada apa denganku tuan muda?!” Seru Zulaikha yang masih belum mengerti dengan ucapan Sabi barusan.


“Nenek.. Ibu, perkenalkan. Inilah asisten pribadi saya, Zulaikha, yang telah membantuku hingga aku bisa tidur nyenyak dalam dua malam ini.” Jelas Sabi, tersenyum bangga.


Mata pak Tri mendelik kaget mendengar ucapan Sabi. Mata Pak Tri segera melirik tajam ke arah Zulaikha, seolah ada sesuatu yang dia tau namun dia memilih bungkam.


“Apa yang telah dia lakukan padamu, sampai kamu bisa tidur nyenyak?” Tanya Nenek penasaran.


“I iya nak.. apa yang telah dia lakukan?” Sergah Nyonya Sura penasaran.


Sabi tertawa geli mendengar pertanyaan kedua wanita paruh baya itu. Seolah - olah mereka telah membayangkan adegan berbahaya yang telah dirinya lakukan bersama Zulaikha. Sungguh Sabi tak habis pikir, bisanya mereka membayangkan hal aneh itu.


“Nek.. Ibu.. Zu tidak melakukan hal - hal aneh atau apapun yang ada di pikiran kalian. Zu hanya bersenandung untukku, sampai aku tertidur. Hanya itu.” Jelas Sabi.


“Oh bersenandung..” seru Nenek lega.


“Memangnya kamu pikir kami membayangkan apa?” Sergah Nyonya Sura menatap tajam pada Sabi.


Seketika mulut Sabi yang sedari tadi mengunyah makanan langsung terhenti.


“Ha?!” Sabi menatap Ibunya, malu.


Tidak mungkin, dia akan mengatakan bahwa Ibu dan Neneknya memikirkan adegan dewasa tentang dirinya dan Zu. Selain tidak sopan, juga akan terlihat bahwa dirinya terlalu mesum. Sekarang, dia jadi merasa bahwa dirinya lah yang berpikir terlalu mesum. Melihat dari raut wajah Nyonya Sura dan Nenek yang biasa saja, menandakan mereka tidak berpikir mesum.


Aaiishh.. sial! Gerutu Sabi dalam hatinya, menyesali ucapannya tadi.


“Good Morning..” Sapa Queen sambil tersenyum dengan wajah layu.


Sabi melirik Queen, dan langsung segera menarik Queen untuk duduk di dekatnya.


“Hey..” seru Queen yang terkejut dengan sikap Sabi yang mendadak.


“Cepat makan! Kita akan terlambat.” Seru Sabi, sambil mengambilkan beberapa nasi, daging dan sayuran lalu diletakkannya pada piring milik Queen.


“Ada apa denganmu? Terlambat? Memangnya kita mau kemana?” Queen melirik Sabi dengan tatapan risih.


“Kita akan ke kantor! Kantorr!!!” Jawab Sabi nyolot, langsung menyumpal mulut Queen dengan sendok yang sudah terisi nasi dan sayuran.


Queen jadi tidak bisa berkata apa - apa karena mulutnya yang sudah penuh diisi dengan makanan. Sedangkan Sabi berusaha mengalihkan topik pembicaraan tentang tadi.


Zulaikha yang melihat dari belakang hanya bisa mengusap wajahnya, malu dengan sikap Sabi, yang kekanakan.


............


Di kantor, ruangan Sabi.


“Katanya, kamu tidak kasih aku datang.” Seru Queen meledek Sabi yang sedang membaca beberapa dokumen bersama Zulaikha.


Sabi diam, mencoba tidak menghiraukan ucapan Queen.


“Tapi nyatanya aku malah diajak kesini. Hm.. apa ini tanda ucapan terimakasihmu padaku?” Sambung Queen lagi, berdiri dari sofa lalu berjalan melihat setiap dinding ruangan Sabi dengan teliti.


“Ssstttt!!! Diam aja deh. Aku lagi sibuk.” Ketus Sabi.


“Hmm.. tapi aku lebih senang dengan diucap langsung daripada disuap langsung seperti tadi.” Sergah Queen, langsung berbalik menatap Sabi tajam.


“A apa?!” Sabi terbata mendengar ucapan Queen.


Segera rasa malu langsung menggelitik seluruh tubuh Sabi, hingga membuatnya tak berani menatap mata Queen yang sedang menatapnya tajam.


“Ada apa denganmu pagi ini hah?! Jika ingin berterimakasih, berterimakasihlah yang benar. Bukan seperti itu tau.” Ucap Queen sambil menghentakkan kakinya.


“Kamu ja jangan salah paham! Aku.. aku..”


“Aku apa???” Sergah Queen masih menatap tajam Sabi.


“Aku cuma mau kamu menghabiskan makananmu! Iya, aku cuma mau kamu tuh habisin makanan kamu. Itu aja.” Seru Sabi, akhirnya mendapatkan sedikit alasan yang masuk akal.


“Memangnya kenapa? Apa urusannya denganmu?!”


“Kamu tu yah.. kalau makan tuh dihabisin, jangan di sisa - sisa. Aku perhatiin, kamu setiap makan pasti sisanya banyak. Mau diluar rumah maupun di dalam rumah, pasti kamu nyisain banyak makanan. Ngga boleh gitu! Kamu tidak menghargai makanan.” Jelas Sabi.


“Itu urusanku, kamu tidak perlu ikut campur!” Bantah Queen.


“Tentu saja urusanku! Kamu tinggal di rumahku, jadi setidaknya kamu kalau makan tuh banyakin atau dihabisin biar badan kamu berisi sedikit.” Sanggah Sabi.


“Liat tuh badan kamu sudah kekurusan. Apa nanti kata orang jika badan kamu sekurus itu dan kamu tinggal di rumahku. Nanti orang bilang aku dan keluargaku sebagai tuan rumah tidak pernah memberi kamu makan dan membiarkanmu kelaparan sampai kekurusan seperti itu!” Sambung Sabi dengan sedikit berteriak, berusaha menutupi malunya.


Queen langsung tergelak tawa mendengar ucapan Sabi barusan yang baginya terdengar seperti omong kosong.


Sabi dan Zulaikha langsung terangkat kaget mendengar suara nyolot Queen.


“Kurus? Hehh... ini bukan kurus ya, ini tuh langsing!!! Setiap wanita diluar sanapun ingin badannya selangsing ini dan saya sebagai wanita yang bersyukur dengan anugerah ini, harus menjaga tubuh ini agar tetap selangsing ini.” Jelas Queen dengan sedikit nyolot dan memelototi Sabi.


“Aku juga sebagai seorang desainer kelas internasional, bukan kelas ikan teri!!! Harus menjaga penampilanku agar tetap fashionable seperti karya - karyaku. Bukan malah acuh tak acuh pada penampilanku, seperti desainer ikan teri lainnya! Dasar!!!!” Sambung Queen yang semakin ngegas.


“ tapi_”


“Tapi apa? Hah? Sini maju, biar kamu rasa lima ribu gulung dari seseorang yang kamu bilang kurus.” Ucap Queen sambil mengangkat tinjunya mengarah ke tempat Sabi duduk.


Seketika Sabi menelan Salivanya, mengingat betapa ngerinya Queen terakhir kali saat mereka bertemu di hotel. Dia sudah tau bahwa gadis di depannya ini bukanlah sembarang gadis kurus, jadi lebih baik dia diam daripada harus berurusan dengan Queen lagi. Dia tidak ingin jadi tempe - tempe ditangan Queen yang bar - bar.


“Masih mau?” Sergah Queen lagi, sambil melangkah maju mendekati Sabi.


“Ti tidak.. hehehe tidak. Suer!” Jawab Sabi dengan wajah yang setengah pucat.


Waah.. tumben Tuan Muda takut pada Nona Queen. The Bestlah buat Nona Queen, bisa buat Tuan Muda sampai terpojok seperti ini.


“Nah.. gitu dong!” Seru Queen senang.


“Tuan muda, 10 menit lagi rapat akan dimulai. Sebaiknya kita bergegas menuju ruang rapat agar tidak terlambat lagi.” Potong Zulaikha, setelah melihat jadwal kerja Sabi hari ini.


“Ah iya benar!”


“Oooh.. jadi kamu pekerja yang tidak kompeten! Pantas sih.. terlihat nyata kok di mukamu.” Ledek Queen setengah tertawa, sambil terus memperhatikan wajah Sabi.


“A apa? Aku tidak kompeten? Sembarang skali kamu bicara!”


“Tuan muda.. sudah. Kita harus bergegas.” Ujar Zulaikha berusaha menenangkan Sabi.


“Hey.. mukaku ini muka artis tau! Mana ada muka pekerja tidak kompeten bisa seganteng ini?!” Sabi mendekati Queen, dan tersenyum maskulin ala artis papan atas.


Bukannya terpesona, Queen justru tertawa melihat pose Sabi yang baginya menggelikan perutnya.


“Hey.. aku sudah bertemu dengan banyak artis yang bukan hanya papan atas, tapi papan internasional. Model muka sepertimu ini, tidak laku dipasaran!” Ledek Queen, sambil menjulurkan lidahnya di depan Sabi.


Sabi semakin panas, dan terbawa suasana kompor Queen. Zulaikha yang sedari tadi berusaha menenangkan Sabi agar tidak terjadi keributan lagi, sekarang dengan terpaksa harus menyeret tangan Sabi keluar dari ruangannya agar tidak semakin bergelut dengan Queen.


“Tuan Muda.. ayo!!! Sudah tuan muda... ayo kita ke ruangan rapat. Rapat sedikit lagi bakalan dimulai!!!” Rengek Zulaikha yang setengah mati menarik Sabi agar mau ikut dengannya.


“Awas kamu yaa!!!”


“Awas apa?” Tantang Queen.


“Tunggu aku selesai rapat!”


“Oooke!” Seru Queen percaya diri.


Sabi pun mengangkat jari jempolnya ke atas, lalu diarahkan ke bawah. Mata Queen membelalak tak terima atas hinaan jari jempol yang Sabi tunjukkan padanya. Segera Queen mengejar Sabi yang telah berjalan keluar dari ruangan, ditabraknya Sabi dengan sengaja, hingga lelaki itu hampir tersungku ke lantai bersama Zulaikha.


Ya Tuhan.. mereka berdua ini kenapa sih?! Mau bilang anak kecil tapi sudah tua. Mau bilang orang dewasa pun tapi kelakuan kalah - kalah anak kecil. Rese skali!


Wajah Zulaikha berkerut kesal dibuat Queen, namun Queen tanpa merasa salah dan dosa justru tersenyum menang ke arah Sabi.


“Payah! Ngga makan - makan yah?! Ciihh..” Ledek Queen lalu, pergi meninggalkan Sabi dan Zulaikha yang menatapnya kesal.


“Yyaaa.. Queeeeeeeeennn!!! Dasar orang gilaa!!!!” Sabi berteriak kesal, rasanya ingin dia kejar wanita yang telah membuatnya hampir terjatuh, dan menarik rambutnya sampai dia meringis kesakitan. Namun, waktu yang mepet membuatnya harus memendam jengkel dulu sampai bisa membalasnya.


Kaki Queen tiba - tiba berhenti melangkah. Matanya membulat sempurna melihat seseorang yang datang berjalan ke arahnya.


Lelaki itu adalah Zayn Adijaya bersama dengan asisten pribadinya Ridwan. Melihat sosok Zayn yang muncul di depan matanya, membuat jantungnya berdegup kencang tak menentu. Hatinya terasa sangat senang, meskipun beberapa hari yang lalu dia telah dicampakkan oleh Zayn.


Zeeed...


Panggil Queen dalam benaknya, berharap bahwa Zayn akan meliriknya atau bahkan menegurnya.


“Zayn...”


Suara seorang perempuan tiba - tiba bergema memanggil Zayn, hingga membuat Zayn menoleh. Wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah Bunga. Meskipun telah ditolak oleh Zayn beberapa hari yang lalu namun wanita itu tidak pernah gentar.


“Tunggu aku..” ucap Bunga dengan nada yang memanja.


Ridwan seketika maju, namun Zayn memberi instruksi untuk mundur.


“Yuuk masuk lift bareng aku.” Sambung Bunga, memberanikan diri menarik tangan Zayn.


Zayn mengangguk ramah, dan berjalan beriringan dengan Bunga masuk ke dalam lift diikuti dengan Ridwan dibelakang mereka.


Mata Queen semakin membulat sempurna melihat adegan itu. Rasanya sulit dipercaya, jika Zayn ternyata telah menyukai gadis lain. Hati Queen mendadak terasa perih. Lututnya terasa sangat lemas, hingga tubuhnya oleng bersandar pada dinding koridor.


“Nona Queen..” seru Zulaikha menghampiri Queen.


“Skarang siapa yang payah? Tuh.. akibat malas makan, lemes kan jadinya.” Ledek Sabi, sambil memperhatikan Queen yang terlihat lemah tak berdaya.


“Ayo Zu.. kita akan terlambat.” Seru Sabi yang berjalan tak menghiraukan Queen.


“Ba baik tuan muda.”


Zulaikha dengan terpaksa meninggalkan Queen dan mengikuti Sabi yang telah menunggu di depan pintu lift.


Sabi terlihat tak menghiraukan Queen dan dengan santainya bersiul sambil menggeleng - gelengkan kepalanya sedikit seperti tanpa beban.


Tapi sesekali saat kepalanya bergeleng, matanya melirik ke tempat Queen yang tengah berdiri lemas bersandar pada dinding koridor dengan tatapan kosong melompong.


Aku tidak peduli!


Aku tidak peduli!


aku tidak peduli!


Gumam Sabi setiap matanya melirik ke arah Queen.


*Ting!


Pintu lift terbuka.


Sabi masih terdiam, terlihat sedikit berpikir.


“Tuan muda, silahkan masuk. Pintu lift nya sudah terbuka.” Ucap Zulaikha.


“Sial!” Seru Sabi, melangkahkan kakinya menuju ke tempat Queen berada.


“Tu tuan muda.. anda mau kemana?!” Zulaikha berusaha menahan tangan Sabi namun Sabi berhasil menghindar.


“Kan aku sudah bilang, kalau makan harus banyak! Jangan disisa - sisa!!! Langsing boleh saja, tapi jangan sampai menyiksa dirimu seperti ini!” Bentak Sabi yang tidak tahan melihat kondisi Queen yang sangat memprihatinkan dimatanya.


“Diam! Kamu tidak tau apa - apa!” Bantah Queen dengan mata yang berkaca - kaca.


“Tentu saja aku tau.” Sergah Sabi, mantap.


Queen melirik Sabi dengan mata yang berkaca sedih. “Apa yang kamu tau?!” Ucapnya lirih.


“Aku tau kamu lapar.” Jawab Sabi dengan tatapan hangat.


Haaaa?!!!!!! Mata Queen kembali membelalak tak percaya atas apa yang di dengarnya. Sungguh manusia yang ada didepannya ini benar - benar sok tau dan bodoh tingkat kabupaten rupanya.


Sabi dengan lihai mengangkat tubuh Queen dengan mudahnya dikedua tangannya. Menggendong Queen menuju ruang kantornya.


Bersambung....


Jangan lupa like dan comment yah 😁