
Kabar menggegerkan itu, membuat seluruh acara berita hari itu terus menayangkan berita kecelakaan yang dialami oleh keluarga Andi Syafar. Kecelakaan beruntun dua mobil pribadi yang diakibatkan oleh minyak solar yang tumpah di jalanan, hingga membuat 2 mobil pribadi yang ditumpangi oleh keluarga Andi Syafar terpeleset dan hilang kendali hingga saling menabrak dan keluar dari jalur.
Mobil pertama dikendarai oleh supir, selaku sekertaris pribadi dari Andi Syafar, Pak Doni dan Andi Syafar beserta sang istri sebagai penumpang. sementara mobil kedua ditumpangi oleh Andi Fergio bersama sang supir pribadinya.
Kecelakaan itu merenggut nyawa seorang supir pribadi Andi Fergio dan Istri dari Andi Syafar, Nyonya Denissa. 3 orang lainnya mengalami luka berat, yaitu Andi Syafar selaku CEO dari perusahaan besar Andi group, putranya Andi Fergio dan Pak Doni.
Sabi mengambil remot tv, lalu mematikan tv yang terus-terusan membahas berita kecelakaan yang dialami oleh keluarga pamannya. Matanya melirik pamanya yang terbaring lemah, penuh luka di bagian kepala. Masih belum sadarkan diri.
“Ya Tuhan, entah apa kesalahanku padamu. Hingga engkau selalu mengujiku dengan kejadian seperti ini.” Air mata jatuh dipelupuk mata Nenek Salma, yang sejak tadi terus menangisi putra terakhirnya itu. “Dua orang telah pergi, jangan lagi anakku yang ini. Hukum sajalah aku, jika dosaku yang membuat takdir keluargaku selalu sial seperti ini.” Lirihnya lagi, membuat hati Sabi seperti teriris.
Sabi bisa memahami apa yang dirasakan oleh Nenek Salma. Nenek Salma pasti sangat terguncang, karena dia telah kehilangan dua putranya sebelum ini dan sekarang dia hampir kehilangan putra terakhirnya.
Sabi tidak tahan dengan rasa sesak ini. Melihat neneknya yang terus menangisi pamannya, membuat perasaannya sakit. Dia segera beranjak dari tempatnya duduk, keluar dari ruangan. Belum saja dia sempat membuka pintu, Nyonya Sura telah masuk lebih dulu dengan mata yang sedikit sembab.
“Kita harus kembali.” Ucap Nyonya Sura, menatap Sabi dengan mata sembabnya. “Denissa akan dimakamkan hari ini. Jenazahnya sudah dibawa ke rumah orangtuanya.” Imbuh Nyonya Sura, kemudian mengelap matanya yang sembab dengan hati-hati.
“Lalu bagaimana dengan jenazah supir yang satunya lagi?” Tanya Sabi, masih belum mau beranjak.
“Jenazahnya masih sementara diotopsi, tapi setelah selesai, akan segera diantar ke rumah keluarganya yang ada dibagian timur kota ini.” Jawab Nyonya Sura. “Oh iya, akan ada beberapa manager dan direktur yang akan ke rumah duka supir itu, untuk mewakili kehadiran kita disana.” Jelas Nyonya Sura, memuaskan pertanyaan yang bermunculan diraut wajah Sabi. Membuat raut wajah Sabi sedikit lebih tenang mendengarnya.
“Nek, nenek ikutkan ke rumah keluarga Laha?!” Kata Sabi mendekati Nenek Salma yang masih bersedih.
Nenek Salma hanya bisa mengangguk sesegukan, tidak bisa berkata-kata lagi. Sabi membantu tubuh renta itu berdiri, dan merangkul pudaknya untuk berjalan beriringan. Sabi bisa merasakan betapa syoknya Nenek Salma saat ini, dengan melihat caranya berjalan yang sempoyongan.
...........
“Tuan, sepertinya anda harus bersiap-siap untuk mengunjungi salah satu rumah duka dari supir yang meninggal karena kecelakaan itu.” Kata Ridwan, dan Zayn mengangguk mengerti.
“Dimana gadis itu?”
“Siapa?” Sergah Ridwan, menatap Zayn bingung.
“Zulaikha.” Jawab Zayn singkat. “Hubungi dia, pastikan dia terus mengekori Sabi, bahkan ke rumah duka keluarga Laha sekalipun.” Titah Zayn, dingin dan Ridwan mengangguk mengerti langsung mengambil handphonenya. Menelfon gadis yang dimaksud oleh Zayn.
Setelah beberapa saat menelfon, Ridwan kembali menyampaikan informasi bahwa Zulaikha sedang diperintahkan oleh Sabi untuk kembali ke rumah kediaman Andi.
“Gadis itu tengah diperintahkan Sabi untuk kembali ke kediaman Andi, mengambil beberapa pakaian yang akan mereka gunakan saat disana.” Ucap Ridwan dan Itu membuat Zayn yang mendengarnya, tersenyum kecil.
“Baiklah.” Sahutnya masih dengan tatapan dingin.
...........
Zulaikha turun dari mobil, bersamaan dengan seseorang yang juga turun dari mobil yang ada di depannya. Matanya melirik sosok yang tidak asing, pakaian serba merah jambu dengan sepatu buts putih yang hampir membungkus seluruh kakinya. Itu Queen Lee.
Nona Queen Lee ... gumamnya langsung mengenali sosok itu.
Queen membalas tatapan Zulaikha, tapi bukan dengan tatapan yang baik. Sorotan matanya seolah menyelipkan sebuah kekesalan dan rasa tak suka disana. Kemudian berlalu pergi, dan langsung masuk ke dalam rumah.
Pak Tri menyambut kedatangan mereka berdua yang masuk ke rumah, meskipun tak beriringan. Seperti biasa, dua tatapan datar itu membuat keadaan semakin terasa canggung.
“Siang juga ...” balas Queen dan Zulaikha bersamaan, membuat masing-masing dari mereka terkejut atas ucapan mereka yang bersamaan.
Pak Tri mengangkat kedua alisnya, melihat mereka secara bergantian. “Kalian seperti dua anak kembar, tapi dengan wajah yang berbeda.”
“Kembar darimananya. Kami sangat berbeda dari segi apapun.” Sahut Queen yang tidak terima dirinya disamakan dengan Zulaikha.
Zulaikha hanya diam, dan mata Pak Tri melihat mereka berdua dengan tatapan menelisik. “Ada yang bisa saya bantu?”
“Oh, tidak. Aku hanya akan mengambil pakaian hitamku.” Spontan Queen menjawab, mendahului Zulaikha.
Pak Tri kemudian melirik Zulaikha, seolah memberi gadis itu kesempatan untuk menjawab pertanyaannya.
“Hm ... aku hanya mengambil beberapa pakaian yang diminta oleh tuan muda Sabiru dan Nyonya Sura.” Zulaikha akhirnya bersuara. “Oh iya, dengan pakaian dari Nyonya besar, Nenek Salma.” Sambungnya.
“Hm, baiklah. Akan saya bantu mengambil pakaian Nyonya Sura dan Nyonya Salma.”
“Eh, serius Pak Tri yang mau mengambil pakaian Nyonya Sura?!” Cegat Queen sebelum Pak Tri berlalu dari pandangannya.
Pak Tri memandangnya dengan tatapan heran. “Memangnya ada apa, nona?”
“Berarti Pak Tri juga yang akan mengambilkan pakaian dalam dari Nyonya Sura 'dan Nyonya Salma?!” Queen memelototi Pak Tri, dengan tangan menutupi mulutnya. “Tidakkah itu bagian privasi dari seorang perempuan? Bagaimana bisa seorang lelaki melakukan itu.?!”
“Lalu saya harus membantu apa? Bukankah sudah tugasku membantu kegiatan apa saja yang di rumah ini?!” Sergah Pak Tri.
“Waaah... benar-benar alasan yang cabul.” Gumam Queen, membuat Pak Tri melongo mendengarnya.
Belum pernah ada seorangpun di rumah ini yang menghinanya seperti cara Queen menghinanya. Bahkan Gio dengan sikap yang buruk sekalipun, belum pernah mengusiknya meskipun hanya sekali. Entah darimana gadis itu mendapatkan keberaniannya itu, hingga dia tidak takut dengan siapapun lawan bicaranya.'
“Dan kamu.” Queen menunjuk ke arah Zulaikha. “Jangan bilang kamu akan menggunakan alasan yang sama dengan Pak Tri, untuk mengambilkan pakaian dalam si Biru.” Katanya membuat mata Zulaikha membelalak.
Erangan tawa langsung spontan keluar dari mulutnya, yang tidak takut pada apapun. “Waah, kalian memang cabul!” Timpal Queen.
“Nona, mohon menjaga kata-kata anda.” Pak Tri mulai geram, menahan merah di wajahnya.
“Bagaimana aku bisa menahan kata-kataku, jika kalian tidak menahan diri kalian untuk tidak berlaku cabul. Menyentuh barang privasi, seperti pakaian bagian dalam lawan jenis. Itu termasuk cabul.”
“Lalu kami harus bagaimana, jika itu sudah menjadi tugas kami. Nona tidak akan mengerti karena nona tidak pernah menjadi pesuruh.” Tegur Zulaikha, mulai memunculkan ketegasannya dan itu membuat Queen Lee semakin tertawa sinis.
“Jangan sembarang bicara, kamu tidak tahu apa-apa tentangku. Jadi simpan ucapanmu kembali.” Queen menyeringai. “Kalian lelaki dan perempuan. Setidaknya tukar posisi kalian, Pak Tri mengambil pakaian si Biru dan kamu si sekertaris kaku, ambil pakaian Nyonya Sura dan Nyonya Salma.” Katanya sambil menunjuk Pak Tri dan Zulaikha secara bergantian.
“Atau jika kalian keberatan, aku sendiri yang akan turun tangan mengambil pakaian Nyonya Sura. Lagian, kamu mana tau soal style dan fashion.” Ucap Queen melirik Zulaikha dengan tatapan tak suka. “Bisa-bisa Nyonya Sura nanti akan terlihat seperti pesuruh saat di rumah duka nanti. Mereka tidak akan bisa membedakan mana Nyonya dan mana pesuruh karena ulahmu.” Gumam Queen, dan Pak Tri berdeham.
Tanpa menunggu persetujuan dari pihak manapun, Queen langsung melangkah menuju kamar Nyonya Sura dan Zulaikha beserta Pak Tri hanya melongo melihatnya pergi.
“Apakah kalian hanya akan diam saja disitu?! Cepat bergegas!” Pintahnya dan membuat Zulaikha maupun Pak Tri langsung bergerak ke ruangan masing-masing.
Bersambung ....