
Bulan menampakkan cahaya nya dengan sangat indah. Beberapa orang memilih untuk tidur, melepaskan lelahnya. Namun beberapa orang lainnya memilih untuk menikmati betapa indahnya cahaya bulan malam itu. Seperti Queen lee yang masih berada di taman menikmati indahnya rembulan, tanpa ditemani siapapun. Wajahnya terlihat sangat tenang dan begitu menikmati malam yang sepi seorang diri.
Sementara, tak jauh dimana tempat Queen berdiri ditaman. Tepat di atas kepalanya adalah kamar milik Sabi. Kaca jendelanya yang besar terlihat masih terbuka. Sementara sang pemilik kamar, Sabi nampak tertidur lelap dengan pakaian tidur seperti biasanya. Semua berwarna hitam. Sambil meringkuk di atas tempat tidurnya yang nyaman. Nampak alisya berkerut, dan keringat membasahi wajahnya.
Padahal suasana malam itu tidaklah panas, namun dia seperti orang yang kepanasan, mengeluarkan keringat yang begitu banyak hingga membasahi bajunya.
Sesekali dia mengerang dan meraung, berarti mimpinya malam ini tidaklah lagi bagus.
"Buuu..." teriak Sabi dalam keadaan yang masih tertidur.
Nampaknya, kenangan yang muncul tadi siang kembali terulang dalam mimpinya. Teriakan demi teriakan dia lontarkan dengan kuatnya seakan - akan mimpi yang dialaminya begitu nyata.
Wajahnya berkerut gelisah dan ketakutan. Tangannya mengepal begitu kuatnya meremas selimut. Sesekali kakinya menendang seakan menendang sesuatu.
"Bukaa.. Bukaaa!!!" teriaknya lagi masih dalam keadaan tertidur.
Quen sedikit mendengar teriakan Sabi dari bawah.
"Apakah dia belum tidur?"
"Bukaaa.. Bukaaa!!! Buka pintunya Ibuuu!" Teriak Sabi dengan keringat yang membasahi tubuhnya.
"Apa yang orang itu lakukan malam - malam begini? Dasar pengganggu!" keluh Queen mengerutkan alisnya.
Segera dia masuk ke dalam rumah dengan wajah kesal, karena dia merasa bahwa malam indahnya telah menjadi kacau akibat mendengar suara Sabi.
"Gara - gara dia, aku jadi kehilangan ilhamku malam ini! arrrghhh.. *****!" gerutunya sambil menaiki tangga menuju kamarnya.
Langkahnya terhenti di depan pintu kamar milik Sabi. Queen mengangkat jari tengahnya, dan diacungkan di depan pintu yang ditujukan untuk Sabi.
Namun tiba - tiba dia mendengarkan teriakan Sabi, kali ini kata - kata yang diucapkan Sabi terdengar lebih jelas daripada saat dirinya berada di taman tadi.
Queen segera menurunkan jari tengahnya, lalu merapatkan dirinya lebih dekat ke pintu kamar Sabi. Telinganya pun di rapatkan ke pintu, memastikan apakah yang di dengarnya benar atau tidak.
"Apakah dia meminta tolong?!" gumam Queen, masih penasaran dengan teriakan Sabi.
"Buka.. Buka pintunya.. buka! siapapun buka pintunyaaa!"
Terdengar suara Sabi berteriak, seolah meminta pertolongan.
"Hey.. dia terkunci." seru Queen.
"Apakah dia terkunci di kamar mandi?"
"Apakah aku harus menolong laki - laki aneh itu?!"
"Aah.. sudahlah. Biarkan saja Queen.. toh nanti juga ada pelayan yang datang menolongnya." Serunya berusaha mengabaikan hati nuraninya.
"Masa bodoh dengannya, dasar penghancur suasanaa!" bentaknya lalu pergi melangkah menuju kamarnya.
"Stupid! awas saja besok kamu tidak berterimakasih padaku!" gerutu Queen, kembali dan membuka pintu kamar Sabi yang ternyata tidak terkunci.
"Aarrghh.. susahnya punya sifat baik." geramnya menahan kesal pada dirinya sendiri.
"Bukaa! bukaaa!" teriak Sabi dari tempat tidurnya.
Segera Queen bergerak mencari asal suara yang terdengar semakin kuat. Diliriknya seluruh dinding, mencari ruangan menuju kamar mandi.
"Aha! itu!" seru Queen, melihat ruangan yang sepertinya kamar mandi.
Kakinya melangkah perlahan dan pelan, berusaha untuk tidak membuat keributan di tengah malam.
"Bukaaa.. Bukaaa! Buka pintunyaa!"
"Ha? Suaranya kok kuat di sebelah sini, kan kamar mandi disana." gumam Queen heran.
Dengan cepat Queen melirik ke arah sebelahnya.
Jreng jreng!!!
Dia mendapati Sabi yang berteriak dari atas tempat tidur dengan keadaan mata yang tertutup alias tidur.
"Whaaaattt?!" Seru Queen tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"What the hell!" imbuhnya tak percaya.
Dia segera mendekati Sabi lebih dekat, dan sangat dekat hingga tubuhnya tepat berada disebelah tempat tidur Sabi.
Queen berdesis kesal.
"Kekonyolan apa ini?!" serunya kesal.
"Ku kira dia terkunci di kamar mandi atau apalah, ternyata dia cuma mengigau!" Imbuhnya diselingi gelak tawa kesal.
"Tolong.. Buka.. bukaa!" teriak Sabi lagi, masih dengan keadaan tertidur dalam mimpi buruknya.
"Eeh.." Seru Queen heran.
"Wooi.. wake up! bangun.. banguuun.." teriak Queen masih berdiri memangku kedua tangannya.
Namun Sabi tak kunjung bangun. Gelagat Sabi terlihat semakin menghawatirkan. Wajahnya berkerut ketakutan dengan keringat yang semakin banyak bercucuran di wajahnya.
"Apakah dia baik - baik saja?! Apakah aku harus memanggilkan pelayan?!" Gumam Queen bimbang, yang nampak mulai hawatir dengan keadaan Sabi.
"Aaargh.. aku malas melakukan ini." keluhnya sembari duduk di sebelah tempat tidur Sabi.
"Seseorang sering melakukan ini padaku dulu, ketika aku mimpi buruk. Semoga ini bekerja padamu." Lirihnya menatap Sabi yang masih meraung - raung gelisah dalam tidurnya.
Segera Queen berdiri kembali lalu duduk di atas tempat tidur bersama Sabi. Tepat bersebelahan dengan kepala Sabi. Lalu dia mengulurkan tangannya, menyentuh sebelah kanan dada Sabi kemudian di tepuk - tepuk lembut, sambil mulai bersenandung.
Queen bersenandung sambil terus mengamati wajah Sabi lekat - lekat. Diperhatikannya wajah lelaki malang itu. Terbesit rasa penasaran pada dirinya tentang keadaan lelaki yang sedang bersamanya sekarang.
Apa yang terjadi padamu hingga bermimpi buruk seperti ini?! Apa kamu juga pernah mengalami hal buruk?! Gumam Queen, yang mulai prihatin.
"Aaiish.. Sial! kenapa aku jadi emosional sekarang?!" keluh Queen, menghentikan senandungnya.
"Itu karena dirimu yang terlalu aneh dan mesum, hingga banyak doa buruk yang datang padamu. Makanya sekarang kamu bermimpi buruk." celetuknya.
Queen menarik nafas lega.
"Syukurlah itu berhasil padamu." katanya tersenyum senang.
"Sekarang aku akan pergi, sisanya kamu sendiri yang urus. Setidaknya aku sudah membantu. Jadi, jangan lupa berterimakasih." tuturnya, kemudian berdiri meninggalkan Sabi.
Tiba - tiba, Sabi menahan tangan Queen yang hendak pergi.
"Eh.." Seru Queen, mendapati tangan Sabi yang menahan tangannya.
"Jangan pergi." Lirih Sabi, setengah sadar menatap Queen.
"What?!" Seru Queen tak percaya dengan apa yang didengarnya.
..........
Matahari kembali bersinar, ayam dan burung telah berkicau dengan sangat girangnya menyambut hari yang begitu cerah.
Semua pelayan telah kembali pada pekerjaannya masing - masing. Tuan dan Nyonya di rumah besar Andi, telah berkumpul di meja makan dengan rapihnya menantikan sarapan.
"Sabi dimana?" tanya paman Andi Syafar. melirik kursi Sabi yang kosong.
"Mungkin sedang bersiap - siap." jawab Ibu, tanpa melirik paman.
"Tidak. Kata pelayan, dia masih tertidur pulas di kamarnya." Saut nyonya Denisa.
"Apa?! benarkah?" Tanya paman diselingi gelak tawa.
"Tanyakan saja pada pak Tri." Saut Nyonya Denisa, sambil melirik pak Tri yang baru saja datang membawakan sarapan.
"Apakah itu benar Tri?" tanya paman penasaran.
"Iya benar tuan." Jawab pak Tri sopan.
"Wah.. tidak biasanya anak itu bisa tidur pulas. Sepertinya kita harus merayakannya." Seru Paman dengan girangnya.
"Hentikan. Tidak perlu dibesar - besarkan." Sergah Ibu, kesal.
"Baiklah jika kamu meminta." ucap Paman, kemudian melahap sarapannya.
"Dimana Queen Lee? kenapa dia belum juga turun?" tanya Nyonya Denisa pada pak Tri, yang masih setia berdiri di dekat Paman.
"Maaf nyonya, Nona Queen sedang bersiap - siap." jawab pak Tri.
"Oh baiklah." Seru Nyonya Denisa.
"Eeh.. tapi itu siapa?" tanya Nyonya Denisa lagi, sambil menunjuk seorang perempuan yang barusan lewat.
Pak Tri segera menoleh ke arah perempuan yang ditunjuk oleh Nyonya Denisa. Disana dia mendapati Zulaikha yang sedang kebingungan, seperti sedang mencari seseorang.
"Maaf nyonya, saya pamit sebentar." kata pak Tri, menundukkan kepala, lalu pamit meninggalkan meja makan.
Pak Tri segera menghampiri Zulaikha yang nampak kebingungan.
"Maaf nona, ada yang bisa saya bantu?" Sapa pak Tri dengan sedikit tegas.
Zulaikha terperanjak kaget mendengar pak Tri yang tiba - tiba muncul dari arah belakangnya.
"Astagah.." Seru Zulaikha kaget.
"Maaf pak, bapak ini pak Tri kan?" tanya Zulaikha ramah.
"iya." singkat pak Tri.
"Maaf pak, bisa bapak bangunkan tuan Sabi? karena sepertinya dia belum kunjung bangun." ujar Zulaikha, yang mulai gelisah.
"Maaf nona, anda siapa?"
"Oh iya. Maaf pak, saya Zulaikha. Bapak bisa panggil saya Lai. Saya asisten pribadi tuan Sabi." jawab Zulaikha, membungkuk memperkenalkan dirinya.
"Oh. Baiklah. Ikut saya nona." ucap pak Tri, kemudian pergi menuju kamar Sabi.
Sesampainya mereka didepan pintu kamar Sabi, pak Tri memberi kode pada Zulaikha agar segera masuk ke dalam. Namun, Zulaikha yang masih polos dan belum mengerti kode - kodean, hanya bisa tertawa, dan jujur pada pak Tri bahwa dia tidak mengerti.
Pak Tri menarik nafas panjang.
"Nona, anda adalah asisten pribadinya tuan muda Andi Sabiru. Jadi, jika tuan muda tidak biaa dihubungi atau lambat bangun. Maka salah satu tugas anda sebagai sekertaris pribadi adalah menghampirinya langsung." tutur pak Tri, berusaha menjelaskan dengan sabar kepada gadis polos yang ada di depannya ini.
"Baik pak." seru Zulaikha, mengangguk mengerti mendengar ucapan pak Tri.
"Baiklah." Pak Tri berlalu, meninggalkan Zulaikha.
Sementara Zulaikha menarik nafas panjang - panjang, persiapkan mental, lalu masuk ke dalam kamar Sabi.
Zulaikha melirik ke sekitar, dirinya terkagum - kagum dan sesekali memuji interior kamar Sabi yang mewah. Paduan warna dan ornamen kamar yang mewah, membuat matanya puas melirik - lirik sekitar.
Sampai dimana matanya mendapati Sabi yang masih tertidur lelap, segera dia kembali ingat tujuannya.
"Astagah tuan Sabi..." Serunya mendekati Sabi.
Zulaikha berdiri tepat di sebelah Sabi, sambil memanggil - manggil nama lelaki itu. Namun Sabi tak kunjung bangun. Tidurnya begitu nyenyak dan tenang hingga membuat Zulaikha yang melihatnya pun ikut tenang.
"Ternyata, ada kalanya tuan bisa seperti bayi yang begitu tenangnya jika tertidur." ucap Zulaikha, tersenyum menatap wajah Sabi.
"Seandainya anda bisa setenang ini jika beraktifitas di kantor, pasti akan menyenangkan." ujarnya sambil berjongkok tepat disamping tempat tidur Sabi.
Diperhatikannya wajah Sabi lamat - lamat. Sebuah senyumanpun terukir di wajahnya. Ada sebuah rasa senang dan juga nyaman yang dia rasa ketika memperhatikan wajah itu.
Namun tiba - tiba Sabi membuka matanya. Alangkah kagetnya dia mendapati Zulaikha telah berada disampingnya sambil memandangi wajahnya.
"Kamu.." seru Sabi, memelototi Zulaikha yang sedang menatapnya.
Bersambung...