
Dengan berat hati dan sangat terpaksa, Sabi harus turun ke lapangan untuk menghadiri event lomba di sebuah pantai.
Panitia yang melaksanakan event tersebut merupakan kerabat dari paman Andi Syafar yaitu Edie Sugio. Yang merupakan seorang pemilik stasiun TV ternama di Indo, yaitu News TV.
Kali ini mereka mengadakan sebuah seleksi awal dalam pencarian model lokal untuk event besar mereka yaitu Asia Party Show Model. Dimana mereka akan bekerja sama dengan beberapa orang ternama di seluruh Indo, dan juga akan berkolaborasi dengan orang - orang ternama yang bersal dari luar negeri.
"Apa tugas kita?" Tanya Sabi, menutupi setengah wajahnya yang terpapar sinar matahari.
"Tugas kita adalah, ikut membantu event awal hari ini serta menarik minat pak Edie Sugio agar dia mau mengadakan event besar mereka di W Mall Center." jawab Zulaikha sambil membaca sebuah map.
"Apakah tidak ada tugas menawari sponsor? karna setauku mereka sudah mempunyai tempat untuk mengadakan event besar itu." tanya Sabi lagi.
"Tugas menawari sponsor telah dilakukan oleh tuan Zayn, tuan muda. dan tempat awal yang telah mereka pilih, katanya mengalami masalah mengenai citra tempat itu." tutur Zulaikha menjelaskan.
"Aaaishh.. Sial!" Keluh Sabi, sembari menendang sebuah batu dengan perasaan kesal.
"Ada apa tuan muda?" Kali ini Zulaikha balik bertanya melihat sikap tuannya yang tiba - tiba kesal mendengar ucapannya.
"Menarik minat paman Edie itu tidak mudah!" Bentak Sabi kesal.
"Ha?!" Zulaikha menganga bingung.
"Aku sudah mengenalnya sejak aku kecil, bahkan terkadang paman sendiri yang merupakan kerabat baiknya, biasa dia tolak jika paman berusaha menarik minatnya untuk menawarkan sesuatu." ujar Sabi dengan raut wajah yang mulai putus asa.
"Dasar Zayn sialan!" bentak Sabi.
"Dia sudah tau ini akan terjadi, dan dia sengaja melakukan ini untuk membuatku pulang dengan rasa malu." keluhnya geram.
"Aaaiish.." Sabi kembali menendang batu yang ada di depannya.
Tiba - tiba batu itu mengenai seseorang.
"Aa.." jerit seorang pria paruh baya, yang memakai baju kaos oblong beserta earphone yang masih terpasang ditelinganya.
"Siapa yang beraninya melempar batu padaku?" teriak pria itu yang ternyata adalah paman Edie Sugio.
Sabi yang melihat itu segera berbalik, dan berpura - pura seakan bukan dia yang menendang batu. Namun Zulaikha yang masih berdiri dengan polosnya, segera ditarik Sabi agar ikut berbalik.
Bisa bahaya posisi mereka, jika mereka ketahuan melempar batu ke arah paman Edie, meskipun itu tidak sengaja. Karena selain pemilih, paman Edie juga adalah orang yang pendendam.
"Ada apa tuan?" tanya Zulaikha dengan suara yang setengah berbisik.
"Sstt! diam aja!" jawab Sabi dengan suara yang setengah ketakutan.
"Hey kamu yang di sana!" teriak paman Edie, mendapati Sabi dan Zulaikha yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Gawat! dia melihat kita berdua!" seru Sabi yang semakin ketakutan.
Sabi segera berjalan perlahan berusaha menghindari paman Edie yang perlahan mendekatinya.
Lebih baik pulang malu, daripada harus dibenci sama paman Edie selama bertahun - tahun. Gumam Sabi dengan wajah yang setengah pucat.
Namun dengan cepat paman Edie menepuk pundak Sabi, yang membuatnya bergidik ketakutan.
"Hey.." seru Paman Edie.
Dengan berat hati, Sabi pun berbalik sambil tersenyum pucat pada Paman Edie.
"Hola.." Sapa Sabi canggung.
"Eh paman Edie." ucapnya pura - pura baru melihat paman Edie.
"Eeh.. kamu.. bukannya Andi Sabiru?" Tanya paman Edie memastikan.
"hehe.. iya paman." jawabnya ragu.
"Kamuuu..." Paman Edie mengangkat tangannya dan dilayangkan pada Sabi.
Sabi yang melihat hal itu langsung panik ketakutan. Tak ada yang bisa dia perbuat selain harus meminta maaf, daripada menunggu paman Edie menyuruhnya maka pasti dendam paman Edie akan lebih kesumat.
"Maaf paman. Maaf.." Teriak Sabi langsung segera berjongkok dan menyentuh kaki paman Edie.
"sudah besar!" sambung paman Edie, menyapa ramah sekaligus tiba - tiba bingung melihat Sabi yang berjongkok di depannya.
"Looh.. apa yang kamu lakukan?!" tanya paman Edie.
"Aa? heheh.. paman tidak marah?!" Sabi balik bertanya.
"Marah kenapa? memangnya kamu yang melemparkan batu ke paman?" ujar paman yang balik bertanya lagi.
"Ahahaha..ooh tentu saja tidak paman!" jawab Sabi cepat, berusaha mengelak.
"Sabi tidak sekurangajar itu paman." ucapnya lagi, sambil kembali berdiri menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Sabi kan baik, dan orang yang melakukan itu nakal. Jadi, bedalah sama aku." Sambungnya di selingi gelak tawa liciknya.
Arrgh.. berarti anda nakal yah tuan muda. Gumam Zulaikha.
"Iya paman tau kamu anak yang baik, tapi apa yang membawa kamu kemari?"
"Aaa iya paman, maksud kami berdua kemari yaitu mau membantu paman." jawab Sabi lugas.
"Ooh jadi maksud Zayn, tim lapangan itu kalian berdua?! Rajin sekali kamu Sabi!" puji Paman tersenyum senang.
Sial! dugaanku benar! ternyata Zayn sudah merencanakan ini semua. Awas saja kamu Zayn. Gumam Sabi kesal.
"Ayo, ikut paman." ajak Paman Edie.
Paman Edie mengajak mereka melihat - lihat tempat seleksi. Terlihat di setiap sudut terdapat kamera dan juru kamera yang siap menyorot setiap gadis yang akan masuk ikut audisi.
Sesekali paman menjelaskan tentang alur event yang sedang dia selenggarakan, dan paman juga menceritakan bahwa lokasi untuk pelaksanaan event besar telah gagal karena mengalami banyak kendala. Hingga membuat wajah paruh bayanya berkerut sedih.
Kesempatanku! seru Sabi bersemangat.
"Paman.. bagaimana_"
"Pak Edie.. maaf pak mengganggu." Seru seorang kru yang datang terburu - buru memanggil pak Edie, yang membatalkan rencana besar Sabi.
"Ada apa?" tanya pak Edie sambil melirik kru nya.
"Maaf pak. peserta yang datang hari ini melebihi dari perkiraan. Hingga panitia banyak yang kewalahan. Sepertinya kita harus menambah kru lagi pak." jawab pria cungkring itu.
"Astagah.. gawat! kita tidak akan sempat mencari kru dadakan. Apakah panitia yang lain tidak memiliki kru tambahan?!" ucap Paman Edie yang mulai gelisah.
"Sudah pak. kru tambahan telah di arahkan ke divisi - divisi lain. Namun di bagian fotografer masih kurang pak."
"Waduh gawat!" seru paman khawatir.
"Paman.. bagaimana aku saja." Sabi unjuk diri.
"Kamu?!" paman Edie berpikir keras berusaha menimbang - nimbang.
Sabi mengangguk percaya diri.
"Aahh benar juga! kalau tidak salah, dulu kamu pernah kuliah di kampus Robert Gordon University, ambil jurusan Photography BA kan?!" tanya paman memastikan.
"Iya paman. Tapi baru 1 tahun, saya pindah kampus lagi sekalian pindah jurusan." jawab Sabi dengan raut wajah yang sedikit sedih.
"Kalau begitu ayo kita liat skill kamu."
Tanpa menunggu lama - lama, paman Edie segera menarik Sabi menuju ke bibir pantai dimana Tim fotografer berkumpul untuk memotret calon model.
Terlihat disana telah berdiri banyak gadis - gadis metrapolitan, yang sedang mengantri giliran secara berkelompok pada masing - masing stan fotografer.
Para gadis berdiri dengan sabarnya, ada yang sesekali melihat cermin, mengecek senyuman dan tak lupa mengecek make up mereka. Ada pula yang melakukan peregangan agar tidak gugup di depan camera. Gaya mereka pun bervariasi, dimulai dari yang biasa - biasa saja, sampai yang luar biasa pun ada di barisan antrian.
Sesekali Sabi berdecak kagum melirik gadis - gadis yang akan menjadi calon model.
"Sabi.. cepat potret dia." ucap Paman, melirik pada seorang gadis yang telah berdiri di sebuah stan.
Sabi mengangguk mengiyakan, sembari meraih camera yang dijulurkan oleh salah satu kru.
"Hm.. senyumannya jangan kaku ya.. coba lebih rileks." ujar Sabi mengoreksi gaya model yang terlihat kaku.
Gadis itu sesegera mungkin langsung menggangti gayanya, sambil dibubuhi senyuman yang sedikit nakal dan juga tatapan mata yang menatap tajam kamera.
Cekrek! cekrek!
Sabi menyerahkan kamera yang dipegangnya pada paman Edie untuk memperlihatkan hasil potretannya.
Mata paman Edie membulat takjub melihat hasil potret Sabi. Segeea dia menepuk - nepuk pundak Sabi sambil tersenyum senang.
"Lanjutkan!" seru paman Edie. Kemudian berlalu meninggalkan Sabi dan Zulaikha.
"Eh sebentar.." paman Edie menghentikan langkahnya melirik Zulaikha.
"Kamu.." tunjuk paman Edie pada Zulaikha.
"Iya pak." saut Zulaikha lembut.
"Ikut saya!"
"Baik pak." saut Zulaikha mengekori pak Edie dari belakang.
Mereka berdua pun terpisah dan melaksanakan tugas masing - masing yang diberikan paman Edie.
Sabi terlihat begitu menikmati perannya sebagai fotografer. Bahkan tidak sedikitpun dia mengeluh lelah ataupun mengantuk seperti ketika dirinya di kantor.
Dirinya yang datang mengenakan pakaian resmi, lama kelamaan merasa kegerahan. Meskipun angin pantai terus bertiup, namun panasnya matahari siang itu tidak bisa berbohong.
Segera dia membuka jasnya, lalu menggulung lengan kemeja putihnya. Tak lupa dilepas dasinya yang terikat rapih. Kini gaya Sabi jadi sedikit lebih santai, dan sudah tidak terlalu gerah lagi.
Waktu makan siangpun tiba, para model di arahkan untuk beristirahat. Begitupula dengan seluruh kru. Tak ketinggalan, Sabi juga turut beristirahat dan pergi ke sebuah cafe yang tak jauh dari pantai.
Disana dia duduk di teras cafe, sambil memesan minuman dingin. Matanya menyapu tempat audisi secara keseluruhan, berusaha mencari keberadaan sekertarisnya. Namun dia sama skali tidak menemukan Zulaikha di sana.
Yaah.. baguslah jika dia tidak ada. Aku bisa bersantai sesukaku. Gumamnya senang.
"Tuan mudaa.." panggil Zulaikha dari depan Cafe, dengan kepala yang sudah dibaluti selendang berbunga, membantunya terhindar dari paparan sinar matahari.
Mendengar namanya dipanggil, Sabi segera menoleh ke asal suara.
Dilihatnya Zulaikha yang sedang berdiri di depan cafe sambil tersenyum ke arahnya dengan melambaikan tangannya.
Matahari siang yang bersinar dengan teriknya, sukses membuat wajah Zulaikha yang putih semakin bersinar di bawah sinar matahari. Dibantu dengan angin pantai yang sesekali meniup selendangnya, membuat aura cantiknya semakin keluar. Membuat setiap mata yang memandangnya akan terpesona.
Ya.. Zu.. Lirih Sabi memandang Zulaikha.
Ngiiiiiiiiiiiiiiiingggggg!!!
Tiba - tiba telinga Sabi berdengung dengan sangat kuatnya hingga memekikkan kedua telinganya, disusuli dengan denyutan di bagian kepalanya hingga membuat nyeri.
Segera Sabi merintih kesakitan sambil memegangi kedua telinganya.
Suara samar - samar terdengar di antara dengungan telinganya. Sebuah suara yang tidak asing.
Suara itu terdengar seperti suara seorang anak kecil yang sedang memanggilnya.
Biruuuu... Biruuuuu...
Sabi yang panik dan setengah kesakitan segera menoleh ke sekitar mencari asal suara. Namun tidak dia jumpai anak kecil disekitanya.
Biruuuu.. Biruuu...
Sabi kembali merintih kesakitan. Panik mulai menyerangnya. Tatapannya mulai sayu. Namun tak henti mencari asal suara.
Diliriknya ke depan. Disana dia melihat Zulaikha yang wujudnya berubah menjadi seorang anak kecil yang sedang memakai selendang bermotif bunga dengan rambut hitam legam, terurai indah sambil melambaikan tangan padanya. Sosok yang sama dengan anak kecil yang selalu muncul dalam mimpinya.
"Zzzz.." lirihnya terbata berusaha mengingat anak itu.
Bruukk!
Tubuh Sabi ambruk dengan keadaan berlutut, masih menatap anak kecil berselendang itu.
"Biruu.." Seru anak kecil itu, panik dan berlari menghampiri Sabi.
Anak kecil itu segera berjongkok mendekati Sabi yang tengah kesakitan.
"Zzz.." lirihnya dalam halusinasinya.
"Biruu?" Panggil anak kecil itu.
"Apa yang terjadi Biru?"
Sabi mengangkat tangannya perlahan, menyentuh pipi anak itu lembut.
"Zzz.. Zuuu.." Panggil Sabi, sembari tersenyum pelik pada anak kecil itu.
Zuu.. akhirnya aku mengingat namamu.
Bersambung...
~ Jangan lupa like dan comment 😉 tapi kalo terlalu susah dan repot untuk komen. Like aja. Biar thorr semangat updatenya. Oke?! 😉 ~