
"Maaf tuan.. maaf. Saya tidak bermaksud untuk menatap, atau menggoda anda tuan." Zulaikha kembali dalam posisi berlutut dan menunduk malu atas kesalahannya.
Mendengar ucapan Zulaikha, Sabi kembali teringat pada sesuatu yang sepertinya hampir dia lupa.
Tunggu. Gumam Sabi, sembari mengingat kejadian semalam.
Sepertinya aku bermimpi buruk semalam, namun kenapa aku baik - baik saja sekarang.?! Tunggu, ini jam berapa?! Gumamnya lagi.
"Hey ini jam berapa?" celetuk Sabi, masih memelototi Zulaikha.
Segera Zulaikha melirik jam tangan lusuhnya, yang menunjukkan jam 8 pagi.
"Jam 8 tuan." jawab Zulaikha, masih dengan keadaan menunduk.
"Apa?! aku kesiangan!" sergah Sabi.
"Lalu kenapa kamu tidak membangunkanku hah?!" teriaknya geram.
"Maaf tuan. maaf. tidur anda nyenyak skali, jadi saya takut membangunkan tuan." ucap Zulaikha takut.
Apa?! aku tidur nyenyak?! Sabi kembali berpikir berusaha mengingat mimpinya.
"Apa kamu tidak mendengarku mengigau atau teriak - teriak tidak jelas?" tanya Sabi berusaha memastikan.
"Tidak tuan." singkat Zulaikha.
"Anda tidur tenang sekali, layaknya bayi tuan." sambung Zulaikha.
Menyadari bahwa kata - katanya ada yang sedikit keliru, dia segera membungkam mulutnya. Dirinya takut, bahwa mengatakan tuannya seperti bayi akan membuat Sabi kembali marah pada dirinya.
Sabi berdesis kesal sambil memelototi Zulaikha.
Yang dia katakan ada benarnya juga. Gumam Sabi melirik Zulaikha yang masih menundukkan kepalanya.
Baru kali ini aku bisa kesiangan dan bangun dengan keadaan segar. Akhirnya.. Akhirnya aku bisa tidur nyenyak! Gumamnya bahagia dalam batinnya.
Tiba - tiba terlintas kembali, wajah seorang gadis yang bersama dia semalam.
Tunggu! itu dia! wanita yang membantuku tidur nyenyak semalam. Seru Sabi, berhasil mengingat sedikit kejadian semalam setelah bermimpi buruk.
Tapi siapa? siapa orang itu? tanyanya pada batinnya berusaha mengingat wajah wanita yang bersamanya semalam.
Namun nihil. Dia sama skali tidak bisa mengingat wajah wanita yang bersamanya semalaman.
"Tuan.. sebaiknya anda bersiap - siap." Kata Zulaikha perlahan.
Sabi mendelik, melirik Zulaikha yang masih berjongkok sambil menunduk takut.
"Hey.. Apakah kamu dari tadi bersamaku?" tanya Sabi, memastikan sesuatu.
"ii iya tuan.." jawab Zulaikha ragu - ragu.
"Kalau ditanya itu, jawab yang tegas dan cepat!" sergah Sabi, mengerutkan alisnya kesal.
"Aku tanya skali lagi."
"Apa kamu dari tadi sudah disini?" tanya Sabi tegas.
"Iya tuan!" jawab Zulaikha tegas, menatap wajah Sabi penuh percaya diri.
"Apa kamu juga yang menjagaku semalaman?"
"Iya tuan!" jawab Zulaikha tegas.
"Eh!" Zulaikha segera membungkam mulutnya.
Apa yang kau katakan?! astagah.. bagaimana ini?! Gumam Zulaikha, merasa bersalah atas jawabannya yang keliru.
"Jadi benar kamu.." ucap Sabi.
"Maafkan saya tuan. maaf, sebenarnya saya_"
"Terimakasih." Sergah Sabi lembut, memotong ucapan Zulaikha.
Ha? Maksudnya?! Gumam Zulaikha pada batinnya sembari menatap mata Sabi yang balik menatapnya lembut.
"Terimakasih telah membuatku tidur nyenyak." Sambungnya sambil menyentuh pucuk kepala Zulaikha.
Mata Zulaikha langsung membulat sempurna menyaksikan sikap tuannya pagi ini.
Baru kali ini dia melihat sikap dan tatapan atasannya yang begitu lembut padanya. Yang meskipun dia tidak tau untuk apa ucapan terimakasih itu. Namun, hatinya begitu girang. Karena tak seperti biasanya dia mendapatkan ucapan langka dengan nada yang lembut seperti itu.
Segera Zulaikha menunduk malu, dan menggigit bibirnya menahan sebuah rasa senang yang ada dalam batinnya.
Akhirnya, yang dia tunggu - tunggu selama ini terjadi juga. Setelah seribu doa yang dia panjatkan setiap malam dan selalu bersabar disetiap keadaan yang terjadi. Perlahan membuahkan hasil. Sabi akhirnya mulai bersikap lembut padanya, setelah selama ini dia selalu dibentak, dimarahi dan diusir begitu saja.
Mata Zulaikha mulai berkaca - kaca senang, rasanya dia tidak akan melupakan hari ini begitu saja. Setelah semua yang dia alami. Namun sekaligus, ada sebuah rasa bersalah muncul dalam batinnya mengikuti rasa bahagianya.
..........
Setelah selesai bersiap - siap. Sabi keluar dari kamarnya, disambut oleh Zulaikha yang sedari tadi setia menunggunya di depan pintu kamarnya.
Sabi lalu melangkah menuruni tangga, disusuli Zulaikha dibelakangnya, sambil membawakan tas kerja Sabi. Didepan mereka terlihat Queen yang baru menaiki tangga yang sama dengan mereka.
"Tuan.. apakah anda akan sarapan terlebih dahulu?" tanya Zulaikha.
"Tidak." singkat Sabi.
Mereka berdua pun berpapapasan dengan Queen yang menghentikan langkahnya, sambil memperhatikan Sabi.
"Selamat pagi nona Queen." Sapa Zulaikha ramah.
Queen mengangguk, namun terus memperhatikan Sabi. Seolah menunggu sesuatu dari lelaki yang ada di depannya itu.
Apalagi yang Queen tunggu selain ucapan terimakasih, karena demi menolong Sabi, dirinya bergadang semalaman sambil bersenandung untuk Sabi.
"Ssst..!" Sabi memberi kode agar Zulaikha diam.
"Kamu tidak perlu memberi salam padanya. Dia bukan pemilik rumah ini, jadi kamu tidak perlu membungkuk ataupun memberi salam padanya." Ucap Sabi, melirik Queen dengan tatapan meledek.
Queen mendesis kesal.
"Apakah begini caramu memperlakukanku?!" sergah Queen.
"Iya. Begini!" jawab Sabi penuh dengan percaya diri.
Queen tertawa terbahak - bahak mendengar ucapan Sabi. Kemudian dia berhenti lalu menatap tajam Sabi.
"Dasar tidak tau diri!" geram Queen, kembali berjalan meninggalkan Sabi dan Zulaikha yang masih menatap bingung mereka berdua.
"Kamu yang tidak tau diri, katanya anak muda terkaya, nyatanya datang ke Indo malah nginap di rumah orang. Huuu.." ejek Sabi kembali melangkahkah kakinya.
Merasa kesal mendengar ucapan Sabi, Queen dengan cepat menjulurkan sebelah kakinya, hingga membuat kaki Sabi tersandung.
"Aaaa.." jerit Sabi kesakitan memeluk kedua lututnya yang terbentur di tangga.
"Tuan mudaa.. apakah anda tidak apa - apa?!" Seru Zulaikha, segera berlari menghampiri Sabi yang terduduk kesakitan.
"Aaargghhh.." erang Sabi kesakitan.
"Dasar perempuan gilaa!" teriak Sabi kesal, menatap Queen penuh benci.
Melihat Sabi yang kesakitan, Queen hanya tersenyum senang tanpa beban. Sesekali dia menjulurkan lidah, meledek Sabi yang kesakitan.
"Oh." ucap Queen lembut, sambil menatap Sabi dengan raut wajah meledek.
"Dasar gilaaaa! gilaaaa!" Sabi terus berteriak kesal, dan geram pada Queen.
Namun Queen tak bergeming. Dia justru tetap naik ke kamarnya tanpa menghiraukan teriakan demi teriakan yang Sabi lontarkan.
..........
* Di kantor
"Aaaaa!!!" teriak Sabi kesakitan.
"Tahan tuan, agar lebamnya bisa cepat hilang." ucap Zulaikha sembari terus mengompres lutut Sabi yang membiru akibat jatuh dari tangga.
"Dasarrr!" teriak Sabi geram.
"Liat saja nanti pembalasanku!" imbuhnya geram.
Zulaikha hanya bisa diam, tak berani banyak berkata - kata lagi. Dia takut jika bersuara dalam keadaan seperti ini, yang ada hanya dia yang akan kena semprot marah oleh Sabi.
Dengan cekatan, Zulaikha kembali mengoleskan sebuah obat merah untuk mengobati goresan - goresan kecil yang ada di lutut Sabi.
Sesekali Sabi meraung - raumg kesakitan meskipun yang disentuh hanyalah luka kecil.
"Hey.. bisakah kamu lebih lembut sedikit?!" geram Sabi, menahan tangan Zulaikha.
"Maaf tuan, dari tadi saya sudah lembut mengoleskan obat merah ini." saut Zulaikha.
"Apanya yang lembut. Kamu sangat kasar!" rengek Sabi.
Zulaikha langsung tersenyum dibuatnya. Baru kali ini dia melihat tuannya merengek seperti anak kecil di depannya. Seandainya Zulaikha tau yang sebenarnya bagaimana sikap Sabi. Mungkin, pasti lama - lama akan emosi juga.
"Hey.. kenapa senyum - senyum? apa kamu lagi puber?!" Sebuah pertanyaan tidak masuk akal kembali terlontar dari mulut Sabi.
"Astagah tidak tuan. Maafkan saya." Zulaikha tertunduk malu, menghindari tatapan Sabi.
"Ciieeee lagi puber, cieee..." ledek Sabi sembari berusaha menatap Zulaikha yang berusaha Zulaikha alihkan sedari tadi, yang tanpa mereka berdua sadari bahwa kedua tangan mereka masih berpegangan.
"ekhhm ekhmm ekhmm.." Ridwan berdeham, memecahkan suasana akur diantara Sabi dan Zulaikha.
Terlihat di sebelah Sabi dan Zulaikha, telah berdiri Zayn dan Ridwan yang entah kapan masuknya.
"Kaliaaaan.." seru Sabi yang kaget melihat kehadiran Zayn dan Ridwan yang tiba - tiba.
"Apa yang kalian lakukan masuk ke ruanganky tanpa mengetuk hah?! kayak setan saja, main masuk - masuk tanpa permisi." sergah Sabi, sambil berteriak kesal.
"Kami sudah mengetuk beberapa kali, namun sepertinya kalian sibuk bermain hingga tidak mendengar kami masuk." kata Zayn datar.
"Apa katamu?! bermain?! apa kamu buta? apa kamu tidak bisa melihat kakiku sedang diobati hah?!" celetuk Sabi.
Zayn menarik nafas, sambil mengangkat sebelah alisnya. Kemudian menunjuk tangan Sabi yang memegang tangan Zulaikha.
Sabi segera melirik ke arah yang di tunjuk Zayn.
"Astagah.." seru Sabi dan Zulaikha bersamaan kaget, sembari melepaskan genggaman tangan mereka satu sama lain.
"Aku pikir kalian sudah ke lapangan untuk melaksanakan tugas yang kuberikan. Tapi ternyata, kalian masih disini sibuk bermain dokter dokteran." Ucap Zayn dingin, menatap tajam Sabi.
"Hey hey hey.. jangan sembarang ya Zayn!" bantah Sabi.
"Apa kamu tidak bisa melihat ini hahh? hah?!" imbuhnya sambil mengangkat sebelah kakinya, memperlihatkan betapa lebam lututnya.
"Tentu saja aku bisa melihatnya. Ini berwarna lebam. Apakah ini asli?!" tanya Zayn tak percaya. sembari memegang lutut Zayn dan menekannya kuat.
"Tentu saja as.. Aaaaaaaa..!!!" Teriak Sabi kesakitan. Sambil meronta kesakitan berusaha melepaskan kakinya dari genggaman tangan Zayn.
Zulaikha yang melihat hal itu, hanya bisa menggigit bibirnya, meresapi betapa ngilu dan sakitnya lutut yang lebam jika diperlakukan seperti itu.
"Aiishhh.." Zulaikha bergidik ngilu.
Sementara Ridwan yang berdiri di belakang Zayn, terlihat senyam senyum menahan tawa. Melihat ekspresi Sabi yang kesakitan.
Mungkin jika Ridwan yang ada di posisi Zayn, akan dia buat Sabi lebih merintih kesakitan. Lebih dari yang Zayn lakukan pada Sabi sekarang.
"Oh asli rupanya." ucap Zayn. Melepaskan tangannya dari lutut Sabi.
"Aaaaa.. aaa...uuuh uh uh.." raung Sabi kesakitan dan juga ngilu secara bersamaan.
"Aku tidak mau tau. Mau kakimu luka atau pun sakit, yang namanya pekerjaan harus tetap dilaksanakan." Imbuh Zayn.
"Apa kamu sudah gila hah? Mana aku bisa berjalan setelah kau membuat kakiku semakin sakit seperti ini!" bentak Sabi tak terima dengan ucapan Zayn.
"Aku tunggu laporanmu sebentar sore." tegas Zayn, sembari berbalik meninggalkan Sabi yang masih meraung kesakitan.
"Aiiish.. sial!" Keluh Sabi dengan wajah yang berkerut kesakitan.
"Kamu sama saja dengan Queen. Dasar dua psikopat gila!!!" Imbuh Sabi.
Mendengar nama Queen. Zayn menghentikan langkahnya. Kemudian berbalik menoleh kembali Sabi.
"Memangnya kenapa dengan Queen?"
"Dia yang membuatku seperti ini!" ketus Sabi kesal.
"Kenapa bisa dia melakukan itu padamu?" tanya Zayn lagi penasaran.
"Aku tidak tau!" bentak Sabi.
"Tanyakan sama dia sendiri. Cuma numpang trus banyak tingkah." Imbuh Sabi kesal.
"Jadi dia tinggal di rumahmu?"
"Tentu saja.." Jawab Sabi melenting.
Seketika raut wajah Zayn yang datar berubah menjadi tidak senang. Dia langsung bergegas pergi dari ruangan Sabi dengan terburu - buru dan nafas yang memburu kesal.
Ridwan yang menyaksikan hal itu, menjadi heran tak karuan. Tidak biasanya Zayn menjadi seperti ini.
Apalagi melihat tatapan matanya yang lebih tajam dari biasanya. Berarti menandakan ketidaksukaannya pada sesuatu. Tapi apa itu? Apa yang membuat Zayn geram dan marah seperti itu.?
Bersambung...