FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
77. Metamorfosis



Mau tidak mau, suka tidak suka. Zulaikha tetap dibawa ke Mall W dengan rambut yang diikat sembarang, pakaian tidur yang bukan sepasang dan juga sendal berbulunya yang berwarna hijau. Tidak ada kekontrasan warna sama skali antara baju tidur bagian atas dengan bagian bawah, jaket dan juga sendal bulunya berwarna hijau itu. Semakin membuat rasa malunya besar tak terhingga.


Terlebih lagi, dia datang dengan dua orang pria yang tampan, tinggi dan juga keren. Yang sekarang sedang berjalan di belakangnya.


Apakah mereka sengaja membiarkanku berjalan paling depan, agar aku bisa menjadi tontonan banyak orang?! Aiisshh ... pantas saja tadi perasaanku tidak enak.


Sebisa mungkin dia mencoba menutupi wajahnya dengan tangan kecilnya, meskipun masih kelihatan. Tapi setidaknya dia merasa lebih baik daripada tidak sama sekali.


Jika nona Queen Lee berada diposisiku saat ini, aku ragu dia akan tetap percaya diri. Ini sangat memalukan!


“Hey ... belok!” Ucap Ridwan dengan nada kuat, memerintah. Membuat gadis itu sedikit tersentak dan langsung berbelok seperti yang diucapkannya.


Untung saja kedua pria yang berjalan dibelakangnya tampan dan keren. Hingga semua mata hanya tertuju pada mereka berdua, dan tidak fokus pada Zulaikha. Membuat Zulaikha yang menyadari itu bisa sedikit bernafas lega.


Mereka masuk ke toko QL, tempat dimana semua barang dengan merk ‘Queen Lee’ dijual. Ini yang pertama kalinya Zulaikha bertandang di toko QL, membuatnya kagum melihat dekorasinya yang menggambarkan sosok Queen Lee sekali. Nuansa mewah yang kuat, dengan sentuhan Eropa yang lembut.


Para pelayan tokonya pun terlihat sangat cantik dan tampan dengan balutan seragam yang rapih, dan wangi tentunya. Mereka juga terus memakai sarung tangan putih, terlihat sangat profesional.


Zulaikha sempat berpikir, bahwa merk pakaian QL ini pasti bukan sembarang merk. Karena melihat interiornya saja sudah mewah dan juga pelayan tokonya yang terlihat profesional, pasti harganya tidak main-main.


Tapi satu yang pasti, ada apa sampai Zayn dan Ridwan mengajak Zulaikha ke toko QL ini?! Zulaikha berbalik dan melihat mereka berdua secara bergantian.


Ridwan mengangkat bahunya, masih dengan wajah datarnya. Membuat Zulaikha memakinya dalam hati.


“Tuan Zayn Adijaya ... ada yang bisa kami bantu?!” Sapa seorang pelayan toko yang merupakan seorang manager di toko itu. Membungkuk, memberi hormat pada Zayn dengan ramah.


Zayn membalasnya dengan menganggukan kepalanya. “Saya ingin membeli beberapa pakaian untuknya.” Jawab Zayn santai, membuat mata Zulaikha membulat tak percaya.


“Untukku?” Tanya Zulaikha heran, menunjuk dirinya sendiri. “Kenapa?” Tanyanya lagi, yang tetap belum dijawab oleh Zayn.


Tiba-tiba tubuh Zulaikha ditarik oleh manager toko dan juga pelayan toko dengan lembut, menuju ke sebuah kamar ganti.


Zayn bersama dengan Ridwan dan juga seorang pelayan toko, melihat-lihat sejumlah pakaian yang menurut mereka cocok untuk dipakai saat ke kantor dan juga ke sebuah acara kantor.


Setelah terkumpul beberapa, mereka mengumpulkannya dengan rapih pada sebuah kereta gantungan pakaian. Queen Lee benar-benar tidak mengizinkan pakaian yang dirancangnya tidak diperlakukan dengan baik. Membuat Zayn dan juga Ridwan sedikit terkejut melihat sebuah troll dengan bentuk gantungan, agar pakaian itu tidak kusut ataupun terhambur seperti pakaian kotor jika diletakkan dalam keranjang.


Sejumlah pakaian itu, dibawa oleh pelayan toko menuju kamar ganti yang telah dijaga oleh manager toko itu sendiri. Mereka bahkan sampai membantu Zulaikha mengganti bajunya, agar pakaian yang dicoba tidak lusuh dan diperlakukan sembarangan.


Setelah memakai sebuah setelan pakaian kantor berwarna hitam dan juga putih, Zulaikha diminta untuk keluar dari kamar ganti, oleh manager toko.


Mereka membukakan tirai dengan lembut, memperlihatkan tubuh Zulaikha yang ramping sangat pas di setelah kantor itu. Rok hitam yang sedikit span mengikuti lekuk tubuhnya, dan pendek tepat dilututnya. Memperlihatkan kakinya yang putih dan juga mulus. Seperti tidak ada sebercak noda dosa disana, semakin membuatnya terlihat elegan, dan mewah tentunya. Padahal itu hanya setelan kantor, tapi Zulaikha sudah terlihat sangat cantik dibaluti setelan itu.


“Oke.” Seru Sabi. “Selanjutnya!” Imbuhnya lagi, dan pelayan toko itu menariknya masuk ke dalam lagi.


Malam ini dia benar-benar diperlakukan seperti seorang putri yang tiba-tiba bertemu dengan ibu peri yang baik hati. Memberinya kesempatan mencoba berbagai pakaian yang indah dan bermerk.


Dia melihat sosok Zayn yang lebih santai dengan balutan pakaian cassualnya, dan melihat sedikit senyuman di bibir Zayn, sekaligus kerutan di wajahnya saat dia mengatakan ‘tidak’ pada pakaian yang dianggapnya norak.


Dia terlihat seperti manusia sekarang. Gumam Zulaikha, tersenyum tipis dari balik kamar ganti.


Setelah mengetes berbagai macam setelan baju kantor dan juga pesta. Zayn pergi ke kasir dan membayar semua pakaian yang Zulaikha kenakan tadi, terkecuali pada pakaian yang dia katakan ‘no’.


“Berapa harganya?!” Spontan Zulaikha bertanya, sebelum kasir itu menyebutkan nominalnya.


Kasir m itu jadi terdiam dan melirik Zayn, seolah minta izin padanya apakah boleh dia memberi tahu pada nona polos itu harga baju yang telah mereka beli atau tidak.


“Ridwan, bawa dia pergi dari sini. Dia terlalu berisik.” Gerutu Zayn, sembari menyodorkan kartu creditnya pada kasir toko itu.


“Hey, ketika ada seseorang membelikanmu sesuatu. Jangan pernah kamu tanya berapa harganya.” Seru Ridwan, melepaskan tarikannya dari tangan Zulaikha.


“Memangnya kenapa?” Tanya Zulaikha dengan polos. Membuat Ridwan menghentakkan gigi gerahangnya.


“Karena kamu seperti tidak menghargai pemberian dari orang itu. Bisa saja kamu juga melukai perasaan dari orang yang memberikan hadiah. Coba pikir, bagaimana jika barang yang dia beli ternyata harganya murah?! dan kamu dengan tidak tau dirinya menanyakan harganya.” Jelas Ridwan mencoba membuat Zulaikha mengerti.


“Hmm ... benar juga.” Zulaikha mengangguk mengerti.


“Ayo kita pergi.” Ucap Zayn langsung menyerahkan beberapa paper bag itu pada Zulaikha sekaligus. Membuat gadis itu hampir kehilangan keseimbangannya karena ditimpa oleh beberapa paper bag yang ukurannya melebihi tubuh bagian atasnya.


“Bantu dia.” Pinta Zayn pada Ridwan yang langsung gercep membantu Zulaikha, membawa paper bag itu sebagian.


“Apakah kamu tau make up?” Sebuah pertanyaan aneh terlontar dari mulut Zayn.


“Tidak.” Jawab Zulaikha singkat, yang membuat Zayn mendenguskan nafasnya kesal.


Apa? Dia kesal? Kenapa harus kesal jika aku tidak pandai make up?! Itu urusanku, bukan urusannya, bukan?!


“Aku akan mengirim orang ke kediaman Andi besok.”


“Orang? Untuk apa, tuan?!”


“Untuk mendandanimu!” Jawab Zayn tegas, berbalik melihat wajah Zulaikha. “Jangan pernah katakan tidak. Karena ini perintah dariku. Anggap ini hukuman karena ceroboh dalam melaksanakan apa yang aku perintahkan untukmu.” Imbuhnya.


Hukuman? Apakah dia selalu menghukum orang dengan cara foya-foya seperti ini?! Hukuman apa ini?! Ini lebih ke mentraktir daripada menghukum seseorang.


“Besok, gunakan baju yang ada di paper bag dengan tanda pita warna putih, untuk acara pengangkatan Andi Fergio sebagai CEO baru.” Tutur Zayn, dengan tatapan dinginnya. “Pastikan besok kamu tampil cantik.” Imbuh Zayn, mengangkat sebelah alisnya. Menatap Zulaikha tajam, dengan senyuman yang tidak bisa dijelasan.


Begitulah, kenapa Zulaikha. Si ulat bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang cantik di acara pelantikan Gio, hingga Sabi menganga melihatnya.


Bersambung ...