
Sesampainya di ruang rapat, terlihat semua orang penting telah berkumpul. Termasuk paman Andi Syafar, Ibu Sabi, dan juga Zayn beserta asisten pribadinya Ridwan.
Seluruh mata segera tertuju pada Sabi yang baru saja datang ke ruangan itu. Banyak tatapan - tatapan tak senang yang dia dapati akibat keterlambatannya dalam agenda rapat. Seharusnya dia datang lebih awal agar terhindar dari tatapan tak menyenangkan dari para orang penting.
Aiissh.. sial! gerutunya.
Segera Sabi duduk di kursi yang telah disediakan, dan baru saja pantat Sabi menyentuh kursi, rapat langsung dibuka oleh moderator rapat saat itu.
Jadi mereka belum memulai rapat karena menungguku?! aish.. sial! benar - benar memalukan. Gerutunya.
Tak lama terdengar sebuah pintu terbuka, dan sontak memancing tatapan - tatapan tak menyenangkan dari orang - orang penting. Sabi pun ikut melirik kesal, namun siapa sangka ternyata pengganggu itu adalah asistennya sendiri, Zulaikha.
Aiish.. sial! wajah Sabi seketika mengkerut kesal melihat Zulaikha yang masih dengan polosnya berdiri sambil memeluk setumpukan kertas.
"Atasan dan bawahan sama saja." cetus Zayn, menyunggingkan sebuah senyuman meledek.
"Apa_" Sabi mendelik kesal.
Segera sebuah tangan menarik Sabi dan menghentikannya untuk bertindak lebih jauh.
"Berhenti!"
"Ma_"
"Jangan membuat mama malu." ucap Ibu, lalu menarik tangannya kembali.
Kata - kata Ibu bagaikan cambukan hingga membuatnya segera diam sambil melirik Zayn kesal.
Tak ada yang lebih harus dijaga Sabi selain nama baik keluarga. Sehingga dia benar - benar harus menjaga sikap dan tingkahnya untuk menjaga martabat keluarga elitnya. Dengan begitu, dia akan terhindar dari gosip kalangan atas. Karena tak ada yang lebih menjengkelkan selain gosip yang beredar dikalangan atas.
Gosip itu akan cepat menyebar layaknya bakteri dan biasanya akan semakin parah dari cerita aslinya. Sehingga banyak kalangan atas yang sangat menjaga penampilan, sikap dan juga perbuatannya. Meskipun tak semua kalangan atas seperti itu.
Sementara Zulaikha yang masih berdiri dengan polosnya, segera mendekat ke kursi Sabi, sambil menyerahkan beberapa dokumen penting yang akan dibahas pada saat rapat.
Rapatpun dimulai kembali, ada beberapa poin penting yang dibahas satu per satu oleh masing - masing atasan, sebagai pemegang tanggung jawab dari setiap divisi terkait perkembangan perusahaan.
Semua orang di dalam ruangan memperhatikan dengan seksama sambil sesekali membolak balikkan dokumen yang ada didepan mereka.
Sabi pun berusaha mengikuti alur dari rapat hari ini. Namun apa daya, dia bukan tipe orang yang bisa serius dengan mudah. Sesekali dia melirik pamannya yang nampak dahinya berkerut karena serius menyimak.
Aaarghh.. aku sangat bosan. Semuanya terlalu serius, otakku serasa beku. Aah.. kapan rapat ini akan berakhir?! aku bosan, bosan, bosaaan.. Gumamnya dengan raut wajah yang berkerut lesu.
Diliriknya lagi orang - orang yang ada di sekitarnya, berusaha mencari sebuah hiburan untuk mengobati rasa bosannya. Namun nihil, semua wajah nampak serius dan otaknya semakin frustasi.
Disisi lain, dia ingin bertingkah sebagaimana dirinya sendiri, namun di ruangan ini terlalu banyak orang penting. Sehingga dia harus bisa menjaga sikap dan nama baik keluarganya, meskipun bosan dan rasa mengantuk datang mengahantui pikirannya.
Aaaarghhh... Keluhnya frustasi.
Mendadak mataya yang tadi mulai sayu akibat mengantuk, mendadak membelalak kaget. Segera dia menatap sekitar memastikan apakah benar namanya yang disebutkan.
Setelah dilihat - lihat, seluruh mata sedang tertuju padanya. Tidak salah lagi, memang benar namanya yang disebutkan oleh moderator.
Segera dia merapikan cara duduknya, mengatur nafasnya yang sedikit memburu karena mulai merasa gugup, dan sesekali menggeleng - gelengkan kepalanya agar bisa fokus pada apa yang ditanyakan oleh moderator.
Mencoba untuk menyusun kata demi kata di otaknya dengan rapih agar bisa disampaikan dengan baik. Namun gagal. otaknya beku dan tidak bisa memikirkan apapun selain kata 'sial' yang terlintas.
Aiissh.. sial!
Disebelah Sabi, Ibu sesekali menyenggol lengan Sabi agar segera mengatakan sesuatu karena semua mata masih terpaku padanya. Namun pikiran Sabi masih beku. Dia tidak bisa memikirkan sebuah kata yang bagus untuk disampaikan, karena dari tadi dia hanya melamun dan sama skali tidak menyimak. Jadi apa yang bisa dia sampaikan, selain kegugupan yang mulai tergores di wajahnya.
Paman Andi Syafar segera menarik nafas panjang melihat kelakuan Sabi hari ini. Seperti ada sebuah rasa malu menyusupi pikirannya, hingga membuatnya tak sanggup melihat Sabi lebih lama lagi dan mengalihkan pandangannya ke Zayn yang sedang duduk menatap remeh Sabi.
Segera paman berdeham untuk memberi kode pada Zayn, dan benar saja, Zayn segera berbalik menatap paman seolah mengerti arti deheman yang paman lontarkan.
"Baik, sebelumnya saya mohon maaf kepada moderator karena menyela. Namun sepertinya tuan muda Andi Sabiru telah menerima dan merasa puas atas presentasi dari setiap kepala divisi. Jadi, silahkan dilanjutkan agendanya." Zayn menyela ramah, mempersilahkan moderator untuk melanjutkan agenda rapat.
Sabi segera melirik Zayn kesal, sambil mengepalkan telapak tangannya.
Moderatorpun kembali melanjutkan agenda rapat yang kedua. Yaitu pengumuman penting yang akan disampaikan langsung oleh paman Andi Syafar kepada seluruh anggota rapat yang hadir hari ini.
"Terimakasih saya ucapkan kepada para pemegang saham dan juga kepada para petinggi - petinggi yang telah hadir hari ini." Ucap paman sambil tersenyum ramah, melihat seluruh wajah yang hadir di ruangan rapat.
"Sebenarnya pengumuman ini tidaklah begitu penting." Sambung paman diselingi gelak tawa.
Orang - orang segera menatap paman dengan tatapan heran dan juga bingung. Terlebih ibu. Ibu mendesis melihat tingkah paman yang masih sempat - sempatnya mencoba untuk melawak.
Namun berbeda dengan Sabi, dia satu - satunya orang di dalam ruangan yang membalas tawa paman Andi Syafar dengan tawa gurihnya. Sontak semua mata kembali tertuju padanya, hingga dia menyadari hal itu dan kembali membungkam mulutnya untuk diam.
"Maaf.. maksud saya tidak terlalu penting karena saya hanya ingin mengumumkan bahwa putra sulung saya, Andi Giovani Firman atau yang biasa kalian kenal dengan Andi Firman atau Gio. Kini telah menyelesaikan studi masternya di new york." seru paman.
Beberapa tepuk tanganpun mulai terdengar dan semakin kuat memenuhi ruangan rapat. Semuanya memberikan tepuk tangan yang meriah sebagai ungkapan selamat pada paman.
Namun berbeda dengan Ibu yang tangannya tiba - tiba lesu mendengar ucapan paman. Raut wajahnya pun terlihat kaget, nampak terselip sebuah kekhawatiran di wajahnya.
"Terimakasih terimakasih..." seru Paman mengangkat kedua tangannya sebagai kode untuk menghentikan tepuk tangan yang begitu meriah.
"Mungkin saya sedikit berlebihan untuk mengatakan kelulusan putra saya di agenda rapat hari ini. Namun, pengumuman yang akan saya sampaikan hari ini bukanlah sekedar pengumuman bahwa putra sulung saya telah lulus dengan nilai yang sangat baik." Tutur paman sambil mengulas senyuman bangga.
"Melainkan bahwa saya juga ingin mengumumkan bahwa, putra saya Andi Firman yang akan menggantikan posisi saya sebagai direktur utama di W center Mall." Sambung paman, sambil melirik Ibu yang menganga tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Bersambung...