FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
15. Penolakan



Dengan perasaan kesal yang memenuhi rongga dadanya, Bunga tak segan - segan berteriak pada Ridwan yang sedang menatapnya tajam.


"Kamu juga mau mengalangiku ha?"


"Iya." Sahut Ridwan singkat.


"Biarin aku lewat atau panggil Zayn kemari!"


Bunga mendekat, menatap kesal Ridwan.


Mata mereka saling bertemu, menatap tajam satu sama lain. Namun bedanya, Ridwan masih tenang tentram seperti tidak ada secuil serangga yang mengganggunya, sedangkan Bunga dengan perasaan kesal berkecamuk memenuhi rongga dadanya.


"Tuan Zayn bukan sembarang orang yang bisa dipanggil begitu saja kemari untuk bertemu dengan kutu seperti anda nona."


"Haa? Apa?! Kutu katamu? aku? Kutu?!" Bunga menganga tak percaya dengan apa yang didengarnya, disusuli gelak tawa sinis memenuhi koridor.


"Apa kau sudah bosan bekerja disini?!" tatap sinis Bunga.


"Tidak."


"Kalau begitu jaga ucapanmu atau akan kubuat kau dipecat bersama dua pegawai pria tidak tau etika itu!" Teriak Bunga sambil menunjuk - nunjuk dua pegawai pria yang masih berdiri didekatnya.


Ridwan dan dua pegawai pria yang terus memperhatikan Bunga, diam dan tak bergeming. Meskipun Bunga cukup membuat lantai yang tentram sentausa menjadi berisik dan kacau. Namun tak ada satupun pegawai yang berani untuk melihat bahkan melirik asal tempat kebisingan yang saat ini begitu menggoda jiwa - jiwa kepo untuk mencari tau apa yang sedang terjadi.


"Anda tidak punya hak atas itu nona."


Sebuah tawa kembali terdengar memenuhi koridor yang begitu tenang.


"Kenapa bisa aku tidak punya hak atas itu?!"


Bunga melangkahkan kakinya, lebih mendekat pada tubuh kekar Ridwan. Seakan tidak ada rasa takut pada wanita cantik itu, hingga begitu berani mendekat pada seorang Ridwan yang begitu sangar dan tegas.


"Asal kamu tau.. Ibuku adalah seorang seorang penanam saham di perusahaan ini!" tanpa rasa takut, Bunga meletakkan jari telunjuknya di jidat lebar milik Ridwan. Sambil terus mendorong kepala Ridwan beberapa kali tanpa rasa takut.


Astagah.. Apa dia sudah gila?! Gumam salah satu pegawai pria, seolah tidak percaya apa yang tengah dilihatnya.


"dan asal kamu taa_"


"dan asal kamu tau.. jari anda bisa patah jika anda terlalu kurangajar seperti ini nona!" secepat kilat Ridwan menangkap jari Bunga, lalu meremasnya dan membengkokkan sedikit jari panjang nan mulus itu hingga cukup membuat Bunga mendesis kesakitan.


"Aaaaa..!" teriak Bunga kesakitan yang sudah tidak bisa dia tahan lagi. "Lepaaaasss!" tangan itu berusaha lepas dari genggaman tangan Ridwan. Namun nihil, Ridwan tidak akan semudah itu melepaskan tangan kurangajar yang sudah berani mendorong kepalanya.


"Lepaaaaas!!!"


Ridwan tersenyum licik menatap Bunga yang merintih kesakitan.


"A.. apa kamu tuli hahhh?!"


"Aaa... Lepaaassss!"


"Katakan maaf, maka akan kulepas."


"Tidaaaakk!" Bantah Bunga yang masih keras kepala mempertahankan gengsi tingginya.


"Baiklah.. takkan kulepas!" Semakin membengkokkan jari Bunga yang membuat Bunga semakin berteriak merintih kesakitan.


Dasar keras kepala! Ridwan menyeringai sinis melirik Bunga yang masih merintih kesakitan sambil menarik - narik tangannya dari tangan kekar itu.


"Keributan apa ini Ridwan?" Ucap Zayn yang tiba - tiba keluar dari ruangannya, seketika membuat Ridwan melepaskan remasan tangan kekarnya dari jari Bunga yang hampir patah.


"Maafkan saya tuan muda, nona muda ini berusaha untuk bertemu dengan anda tanpa mematuhi peraturan yang sudah anda tetapkan." Ridwan menganggukkan kepalanya, seraya meminta maaf atas kebisingan yang telah dia perbuat. Meskipun sebenarnya bukan dia yang berisik, namun baginya dia tetap salah karena gagal membuat ruangan itu agar tetap tenang.


"Zayn.. kamu harus memecat mereka semua!" Teriak Bunga kesal melirik Ridwan dan kedua pegawai Pria yang masih menundukkan kepala pada Zayn.


"Maaf.. Anda tidak punya hak untuk memerintah saya untuk memecat pegawai."


"Tentu saja aku punya hak atas itu Zayn, karena aku adalah putri dari Ayu Puspita. Ibuku salah satu penanam saham diperusahaan ini, dan juga salah satu pebisnis fashion yang ada di Mall W."


"Tidakkah kamu seharusnya tau itu?" Sambung Bunga dengan percaya diri.


Zayn terlihat sedikit berpikir, mengingat orang yang dikatakan Bunga sebagai ibunya. Sedikit gambaran tentang ibunya memang terlintas dipikirannya, namun sosok Bunga yang sedang berdiri didepannya dengan gaya feminim sambil menggulung - gulung rambutnya, mengingatkannya pada seseorang.


Seperti tidak asing, tapi siapa?!


"Zayn.. apa kamu tidak mengingatku?"


Zayn melirik Bunga dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Sedikit ada rasa janggal karena dia merasa seperti pernah bertemu dengan Bunga sebelumnya. Namun dimana? kapan? entahlah.. Zayn terlalu masa bodoh jika bertemu dengan orang - orang yang dia temui, hingga tidak bisa mengingat Bunga yang minggu kemarin dia wawancarai pada saat mencarikan Sabi sekertaris pribadi.


"Haruskah aku memperkenalkan diriku kembali?" Bunga terlihat bersemangat, seolah lupa akan sakit pada jari telunjuknya yang hampir patah dibuat Ridwan.


"Zayn.. perkenalkan aku Bunga Puspita Negara." tersenyum Ayu didepan Zayn sambil menjulurkan tangannya.


"Kita bertemu dimana? kenapa kamu mengenalku? sementara aku tidak." Bukannya menjabat tangan Bunga, Zayn justru memangku kedua tangannya didepan dada.


Aaah.. Sial! kenapa dia begitu cool! Batin Bunga meronta - ronta gemas melihat sikap dingin Zayn.


"Kita bertemu saat sesi wawancara, kamu mencari sekertaris."


"Ooh.. rupanya kamu." ucap Zayn datar, berhasil mengingat Bunga yang saat sesi wawancara terakhir berusaha menggodanya sambil menggulung - gulungkan rambutnya dengan tatapan penuh napsu. Hingga Sabi meledeknya habis - habisan.


"Apa kamu tidak mau menjabat tanganku?"


Bunga semakin menjulurkan tangannya dengan perasaan senang dan bahagia karena dia bisa berdiri dan bertatapan langsung dengan orang yang dia sukai selama 3 tahun terakhir ini.


"Nona.. sebaiknya anda pergi ka_" Segera ucapan Ridwan terpotong ketika melihat simbol tangan yang diangkat Zayn, agar berhenti dan tidak menyela.


Bunga yang melihat itu merasa senang dan menang. Tersenyum malu didepan Zayn yang menatapnya datar.


"Lantas apa urusanmu datang ke kantorku membuat onar seperti ini, bertindak semaumu, kekanak - kanakan!" herdik Zayn.


"Apakah dengan memamerkan orangtuamu didepanku mampu mengangkat derajatmu 10 kali lipat?" tanya Zayn sinis.


"Tidak! kamu hanya mempermalukan kedua orangtuamu. Jika aku jadi orangtua, mungkin aku akan malu memiliki anak gadis yang tidak tau malu dan tidak tau etika seperti dirimu." Sambung Zayn tanpa sempat membiarkan Bunga menyaut.


"Zayn..." seru Bunga tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Pulang sana!"


"Zayn.. aku bahkan belum bilang apa maksudku datang menemuimu."


"Tidak perlu, tidak penting!"


"Zayn.. apa kamu tidak penasaran kenapa aku seseorang yang sudah berada dan memiliki segalanya, kemarin mau melamar menjadi sekertarismu?!" Sergah Bunga, semakin mendekati Zayn.


"Tidak!"


"Zayn.. setidaknya dengarkan dulu!" Bunga memelas dengan mata yang mulai berkaca.


"Pulanglah.. aku tidak ingin melihatmu." Ucap Zayn dingin, berbalik masuk ke ruangannya.


Seakan muak melihat wanita cantik itu didepannya, tanpa menunggu aba - aba dan memperdulikan perasaan Bunga, Zayn berlalu begitu saja.


"Zayn.. kenapa kamu begitu acuh pada calon tunanganmu?!" Bunga berteriak kesal, hingga membuat langkah kaki Zayn seketika berhenti. Tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.


Apaaa?! Seru Ridwan dan dua pegawai pria yang sedari tadi menyimak, seolah kompak tak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar.


"Zayn.. Bukankah ibu Ayu Puspita sudah pernah bilang ke kamu kalau kita akan dijodohkan?"


Zayn berbalik melirik Bunga yang mulai tersenyum melihatnya.


"Saya adalah putrinya, jadi kamu akan segera dijodohkan denganku. Awalnya aku ingin bertemu bertatap muka denganmu saat makan malam pembahasan soal perjodohan. Namun.. Aku terlalu senang. Jadi aku ingin secepatnya bertemu denganmu." Ucap Bunga senang, mendekati Zayn lebih dekat.


"Awalnya aku ingin bertemu berdua saja denganmu. Namun kamu selalu bilang sibuk melalui sekertarismu yang kasar itu. Sehingga aku memilih hadir sebagai pelamar kerja dan melamar menjadi sekertarismu agar bisa berjumpa denganmu." Sambungnya.


"Niat sekali kamu."


"Iya.. itu semua karena aku mencintaimu. Sudah 3 tahun aku mencintaimu diam - diam. Namun aku terlalu malu untuk datang menemuimu. Tapi.. sekarang, aku memberanikan diri datang karena kupikir sampai kapan aku harus bersembunyi? Toh kita akan segera menikah." ucap Bunga seraya menyentuh dasi Zayn dengan lembut.


Dua pegawai pria beberapa kali mengerjapkan matanya, masih belum percaya apa yang mereka lihat. Benar - benar diluar ekspektasi. Tuan Zayn yang selama ini hanya sibuk bekerja bekerja dan bekerja tenyata dekat ini akan segera melangsungkan pernikahan dan yang paling mereka sesali, mereka telah mencegat calon istri dari tuan Zayn itu sendiri.


Hey.. apakah kita akan segera dipecat?! Bisik salah satu pegawai pria dengan wajah pucat. Namun kawannya tak berani menjawab apapun, karena dia pun sama takutnya apabila beneran mereka sampai dipecat.


"Mungkin lebih baik kamu tetap menyukaiku dalam diam." ucap Zayn dingin, menangkap tangan Bunga yang sedari tadi mengelus dasinya lembut.


"kenapa?" Jantungnya mulai berdegup kencang, bahagia sekaligus kasmaran karena tangannya digenggam oleh Zayn, pria yang dia cintai.


"Karena aku menolak perjodohan ini!" singkat Zayn, sambil menghempaskan tangan Bunga dengan kasar.


Yesss! Seru kedua pegawai pria itu kompak, lalu saling menepuk tangan satu sama lain. Gembira tak karuan, karena mereka tidak akan dipecat.


Berbanding terbalik dengan pegawai pria itu, Bunga seketika menatap Zayn dalam. Sebuah pasang mata yang tadinya berbinar - binar memancarkan aura kebahagiaan. Mendadak berubah menjadi tatapan sedih bercampur dengan kesal dan kecewa.


"Kenapaa?" Teriak Bunga dengan wajah yang mulai memerah. Antara malu dan kesal.


"Satu. Aku tidak mencintaimu. Bahkan berpikir untuk mencintai wanita sepertimu, sama skali tidak pernah terbesit dalam benakku."


"Tapi kita sudah sepakat untuk dijodohkan!"


"Ibu mu sama sekali belum pernah membicarakan perjodohan ini denganku. Tapi syukurlah kamu segera memberitahukanku, sehingga aku tidak perlu repot - repot hadir diacara makan malam itu. Karena sebelumnya ibumu hanya mengatakan ingin makan malam keluarga saja bersama ayahku. Bukan tentang perjodohan." Jelas Zayn.


"Zayn.. kamu tidak bisa seperti ini!" Memelas sambil menggoyang - goyangkan tangan Zayn.


"Aku tidak masalah jika sekarang kamu tidak mencintaiku. Aku akan membuatmu mencintaiku. Izinkan aku berusaha membuatmu mencintaiku setelah kita menikah. Aku yakin, kamu akan bisa mencintaiku." Sambungnya dengan mata yang memelas sambil berusaha meyakinkan Zayn.


Zayn menepihkan tangan yang sedari tadi merangkulnya dengan kasar tanpa sedikitpun memandang wajah Bunga, dan tak terlihat sedikitpun rasa iba diwajah lelaki tampan itu pada wanita yang tengah memelas untuk mendapatkan cinta darinya.


Zayn kembali memberi kode pada Ridwan dan kedua pengawalnya untuk membawa Bunga pergi dari kantor. Karena baginya Bunga cukup mengganggu harinya yang tenang.


Ridwan dan kedua pegawai mengangguk, mengerti dengan kode yang diberikan Zayn. Dengan cepat, masing - masing pegawai pria itu memegangi salah satu lengan Bunga.Kemudian mengangkat Bunga yang masih berdiri, meronta kaget dengan perlakuan kedua pegawai itu.


"Zaaaayyn..." Teriak Bunga dengan sekuat tenaganya sambil terus meronta, berharap Zayn akan berbalik dan menahannya. Namun Zayn sedikitpun tidak bergeming, tetap diam melihat Bunga dengan tatapan datar tanpa rasa iba sedikitpun.


"Zaaaaayn...."


"Zaaaaayyyn..."


"Zaaaaaaynnn...." Teriakan itu semakin mengecil, berlalu dan meninggalkan kesedihan dihati Bunga. Penolakan yang dia terima, adalah penolakan terburuk bahkan lebih buruk dari penolakan yang sering dia lakukan kepada setiap pria yang menyatakan cintanya.


Pupus sudah cinta dalam dalam diam itu, pupus sudah harapan yang telah dirajutnya selama ini. Cinta dalam diam yang selama ini dia pendam berakhir tragis dan memalukan. Mungkin perasaan itu akan bisa hilang dengan sendirinya, namun apakah malu yang dia dapatkan akibat penolakan itu bisa hilang dalam jangka waktu panjang? tak ada yang tahu.


Namun satu yang pasti, rasa malu itu tidak pernah bisa murni hilang. Karena rasa malu biasanya akan tetap membekas dan tetap teringat meskipun hanya mengingat kejadian serupa.


Bersambung...