FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
11. Tubuh yang Renta Sedang Merindu



Jon yang saat itu sedang menunggu didalam mobil, mulai menunjukkan ekspresi gerah karena menunggu kelamaan. Bukannya menyetel lagu di mobilnya, Jon justru bernyanyi sendiri dengan suara serak basahnya yang khas, sambil memukul - mukul setir mobil yang dia anggap sebagai drum.


Pintu mobil tiba - tiba dibuka oleh seseorang yang tak lain adalah Sabi. Dengan raut wajah kesal, Sabi melepaskan jaket hitam yang sedari tadi menutupi badannya lalu membuangnya sembarang ke belakang.


"eeh.. sudah datang, Aku pikir kamu tidak mau pulang." ejek Jon sambil cengengesan,memperhatikan wajah kesal sahabatnya.


"Gila kamu.." Seru Sabi kesal.


"Yeee.. biasa aja kali. Sudah begitu memang kalau mengantri obat di apotik rumah sakit. Harus sabar, sabar, dan sabar..." Tutur Jon dengan entengnya.


"Bukan masalah antri!"


"terus?"


"Tadi aku dicegat sama cewe, dia narik belakang aku sampai aku jatuh. Nihh liat.. sikuku sampai memar Jon.." Ujar Sabi sambil menunjukkan sikunya yang membiru. Sementara Jon menutup mulutnya, bukannya menutup mulut karena kaget tapi Jon justru berusaha menahan tawanya.


"Gila itu cewe! sudah buat siku aku memar, trus dia nuduh aku pencuri. Yaa aku langsung marah. eeh.. pas aku marah - marah dia malah belakangin aku. kurangajar kan?!" Celoteh Sabi.


"Hm... iya sih." Sahut Jon seraya mengangkat kedua bahunya bersamaan.


"Udah gitu, pas aku mau dekatin. Dia malah melarangku untuk mendekati dia. Aneh bukan?!"


"Mmm.. iya, trus yang buat kamu jengkel apa?."


"Yaa.. yang buat aku jengkel karena dia tidak ngasih tau aku dari awal kalau aku salah ambil obat!" Jawab Sabi dengan kesal.


"Whattt?!" Seketika Jon tertawa terbahak - bahak, dan mengatai Sabi adalah orang bodoh.


Sabi yang masih kesal karena Zulaikha, bertambah kesal melihat Jon malah menertawainya dan bukan bersimpati padanya. Dengan segera Sabi mengambil kotak tisu yang ada di depannya dan melemparkannya pada Jon dengan sekuat tenaga.


Jon mendesis memohon ampun dan mengambil kotak tisu yang dilemparkan Sabi secara berulang - ulang, lalu membuangnya keluar mobil.


"Eey boss.. mau diliat dari segi manapun kamu tetap salah. Siapa suruh salah ambil obat, yaa jelas orang yang punya obat marah dong dan liat muka kamu aja jadi malas!" Ucap Jon berusaha menenangkan Sabi yang masih kesal dengannya.


"Yaa tetap dia salah! setidaknya kalau memang aku salah ambil obat, ya dibilang dari awal. Bukan malah sembarang asal narik bahu orang sampe jatuh. Trus ngatain aku pencuri, dan baru dia jelaskan kalau obat yang aku pegang bertuliskan nama bapak dia. Bukan nama kamu Jon!" Ujar Sabi membela diri.


"Tidah perlu lah rasa sakit pas jatuh itu. Malunya itu looh.. Aku malu 3 kali! Triple Kill! Satu, malu karena jatuh. Dua, malu karena dikatain pencuri. Tiga, malu karena setelah saya ngotot mempertahankan obat itu ternyata obat itu bukan obat aku!" Tambah Sabi sambil membanting - bantingkan tubuhnya di kursi mobil, lengkap dengan ekspresi kesal dicampur malu.


"Yaa.. itu sih DL. Derita Lo!" ejek Jon, lalu menjulurkan lidahnya. Mengejek Sabi yang merasa dirinya hari ini benar - benar dipermalukan di tempat umum.


Sabi berusaha tidak melihat Jon yang terus menjulurkan lidah padanya. Karena dirinya benar - benar malu dan apes sekali hari itu. Hari pertamanya berkunjung ke rumah sakit yang harusnya menjadi hari bahagia dan suka cita baginya dan akan dia kenang sepanjang hidupnya. Namun menjadi hari paling memalukan sepanjang sejarah dia hidup di dunia. Sabi seperti tidak ingin mengingat hari ini untuk jangka waktu yang panjang.


"Tapi obat kamu apa kabar?" Tiba - tiba pikiran Jon teralih memikirkan obat beratas namakan dirinya.


"Tenang, ada." singkat Sabi.


"Okeee!" Seru Jon, sambil menyalakan mesin mobil dan menancap gas dengan kecepatan diatas rata - rata.


****


~Aaaaaaaaaaa...!!! (suara teriak seorang anak perempuan)


Suara teriakan anak perempuan, membuat Sabi tersentak kaget dan terbangun dari mimpi buruknya.


"Aaahh.. Lagii?!" Seru Sabi sambil memiringkan tubuhnya.


Lagi - lagi dia bermimpi buruk, sudah dua hari sejak dirinya bertandang ke rumah sakit untuk berobat. Namun dirinya masih selalu saja bermimpi buruk. Belum ada perubahan, dan belum ada perkembangan yang baik.


Sabi berusaha bangkit dari tempat tidur yang sepertinya memiliki daya tarik yang lebih kuat dibanding gaya gravitasi bumi pagi itu. Setelah beberapa menit berusaha melawan daya tarik kasur, akhirnya Sabi berhasil duduk, menatap kosong kamarnya yang seperti biasa tertata dengan rapih.


Setelah beberapa saat meregangkan tubuhnya, dia segera masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa handuk baru yang dia ambil dari lemari tempat penyimpanan handuk. Masuk ke dalam kamar mandi, membasuh tubuhnya menghilangkan rasa kantuk yang masih bergelantungan di pelupuk matanya.


Setelah selesai mandi, Sabi keluar dari kamar mandi dan mendapati pelayan wanita telah selesai menyiapkan segala perlengkapan yang akan Sabi gunakan ke kantor. Masih dengan gerakan santai, Sabi meraih kemeja dan setelan jas yang akan dia kenakan. Setelah selesai, beberapa pelayan wanita masuk kembali kedalam kamar Sabi, membatu Sabi merapikan rambut, memakaikan jam tangan, sepatu dan juga dasi yang berwarna biru tua. Serasi dengan setelan jas yang dia gunakan.


Sabi melangkahkan kakinya keluar dari kamar, menuju ruang makan. Namun, sebuah pemandangan yang di meja makan membuat dirinya mengurungkan niat, dan menarik kembali langh kakinya pergi dari ruang makan.


Pemandang yang membuat Sabi tak berselera adalah saat keluarga besar Andi berkumpul untuk sarapan, namun sarapan sambil Vc dengan sepupunya Andi Gio Bani atau yang biasa dipanggil dengan Gio. Gio lebih muda beberapa tahun daripada Sabi, dan masih sementara kuliah master di Oxford.


Bukannya dia tidak senang untuk menyapa sepupunya lewat Vc disana bersama dengan paman Andi Syafar dan bibinya Denisa. Namun, Sabi selalu dibanding - bandingkan dengan Gio yang mampu kuliah di Oxford. Sedangkan dirinya hanya kuliah di universitas biasa di Newyork. Gio juga selalu digadang - gadangkan akan menjadi pewaris utama dan menjadi presdir di Mall W menggantikan paman Andi Syafar, dan hal itu selalu saja membuat ibunya seperti kebakaran janggut. Karena ibu selalu berharap bahwa Sabi, putra kesayangannya yang pantas menjadi Presdir di Mall W.


Sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan rumah untuk menjemput Sabi. Pintu mobil dibukakan oleh supir dengan sopannya. Namun saat hendak masuk, sebuah pemandangan menarik perhatian Sabi. Sesaat Sabi mematung melihat ke arah taman utama.


Di taman, berdiri seorang nenek dengan rambut yang seluruhnya telah memutih. Dibaluti pakaian berwarna hitam nan elegan lengkap dengan tongkatnya, membantu nenek itu untuk berdiri. Sesekali bahu nenek itu terlihat bergetar. Sabi merasa risau dan pergi menghampiri nenek itu yang merupakan neneknya sendiri.


"Nek.. apa yang nenek lakukan disini? kenapa tidak sarapan didalam?!" Tanya Sabi dengan lembut.


Nenek masih tetap diam dan tak bergeming..


"Nek.. paman & bibi lagi Video call dengan Gio looh. Nenek tidak mau lihat Gio?!" Bujuk Sabi seraya tersenyum didepan neneknya, mengukir sebuah sumur kecil di kedua pipinya.


"Kamu kenapa tidak menyapa sepupumu Gio?" tanya nenek menatap wajah Sabi dengan tatapan sendu.


"Ha?! ehm..." Sabi kebingungan menjawab pertanyaan dari neneknya.


"Sepertinya kamu sendiripun bingungkan?"


"ii.. iiya nek." Sabi memangut sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Nenek jangan murung gitu doong.. coba senyum, biar cantiknya nambah." Sambung Sabi menggoda nenek yang masih menatapnya dengan tatapan sendu.


"Seandainya dia masih disini, pasti rasanya bahagia sekali." Bibir kecil nenek mulai bergetar. Seakan ingin mengeluarkan sebuah kesedihan namun dia tahan.


"Neek.." Sabi menyentuh bahu neneknya itu dengan lembut.


Nenek segera memalingkan wajahnya dari Sabi. menitikkan sebuah air mata kesedihan karena merindu pada seseorang yang tidak bisa lagi dia jumpai.


"Neek.. paman, bibi dan kaka pasti sudah bahagia disana. Mereka disana bersama dan tidak ada yang akan memisahkan mereka lagi. Selain itu, mereka juga melihat kita dari atas sana. Jangan bersedih neek, nanti mereka juga akan ikut sedih liat nenek selalu bersedih seperti ini." Tutur Sabi sambil memeluk tubuh neneknya yang renta dari belakang. Mata Sabi juga ikutan berkaca - kaca melihat neneknya yang begitu bersedih.


"Jika mereka tidak ingin melihat nenek bersedih, seharusnya mereka mengajak nenek bersama mereka Sabi.." Ucap nenek dengan terbata - bata, berusaha menahan agar kesedihannya tidak menjadi - jadi.


"Karena mereka begitu mencintaimu nek, sehingga mereka ingin nenek hidup lebih lama lagi menikmati indahnya dunia. Bersama cucu - cucu nenek, seperti aku!" Ucap Sabi dengan ceria membalikkan tubuh neneknya perlahan.


Nenek tersenyum melihat Sabi yang ada didepannya, tersenyum hingga terlihat dua buah lubang bersemayam dikedua pipinya.


"Untung nenek masih mempunyai kamu Sabii.. Jika kamu tidak ada, nenek tidak tau akan jadi seperti apa hidup nenek ini." Nenek tersenyum, mencubit kedua pipi Sabi hingga Sabi mendesis kesakitan.


"Nah gitu dong nekk.. nenek harus banyak - banyak bersyukur punya cucu kayak Sabi. Sudah ceria, manis, imut, ganteng lagiii. Ya kaann?" Sabi merapatkan kedua tangannya dikedua pipinya.Tersenyum hingga bola matanya tidak keliatan dihiasi lesung pipi dikedua pipinya.


Nenek terus tersenyum bahagia melihat tingkah bodoh cucunya yang berlagak sok imut, padahal usianya sudah mencapai 26 tahun. Lagi - lagi Sabi memperlihatkan ketidakjelasannya, meskipun kali ini ketidakjelasannya bermanfaat karena dia berhasil menghibur hati seseorang yang sedang bersedih, akibat ditinggalkan oleh orang yang paling dicintainya.


Meskipun tubuh itu sudah renta. namun rasa rindu akan orang yang dia cintai tetap menghampiri dan menjadi sahabatnya dikala pagi yang cerah maupun dikala malam yang kelam menyelimuti bumi.


Rindu memang suka bersahabat dengan siapapun. Hingga dia tidak memandang usia, status maupun gender. Dia suka datang menghampiri jiwa - jiwa yang kesepian. Membuat hati menjadi gundah, namun jika diobati rindu itu bukan sirna, justru semakin bertambah dan meronta. Sedikit egois, namun tanpanya hati tidak hidup. Karena terkadang rasa rindulah penguat dalam kehidupan.


Bersambung...