
Sepeninggalnya dari ruang kerja, Sabi mengendeap - endap dan berusaha tak terlihat baik oleh Ridwan maupun Zayn. Karena jika ketahuan, maka rencananya untuk bersenang - senang dengan Jon akan gagal total.
Sesekali dia berjalan sambil menundukkan kepalanya agar wajahnya tidak terlalu nampak. Namun semua itu sia - sia. Sejauh mana dia mencoba menyembunyikan wajahnya dengan telapak tangannya, seluruh karyawan dapat mengenalinya dengan baik.
Beberapa karyawan terlihat menyapanya dengan ramah dan hanya dibalas anggukan kecil oleh Sabi yang sedang dalam mode sembunyi.
Aissh.. kenapa kantor ini besar skali?! jadi lama sekali sampai ke pintu utama. Gerutu Sabi seraya mempercepat langkah kakinya.
Beberapa kali juga dia tak sengaja menabrak orang yang ada didepannya karena berjalan sambil menunduk. Beberapa kali itu juga dia selalu mengucapkan kata maaf tanpa menoleh hingga orang yang ditabraknya jadi kebingungan dengan tingkahnya.
Untung saja dia seorang direktur, jika bukan mungkin dia akan dimarahi oleh karyawan yang dia tabrak.
Sampailah dia di depan pintu utama kantor. Sambil melirik ke kiri dan ke kanan, Sabi segera bersembunyi dibalik pohon mini yang jadi pajangan pintu utama. Segera dia merogoh handphone - nya yang ada di saku celananya. mengetik sebuah nama kontak yang selalu dia hubungi.
-Supir andalangku-
Dengan semangat dia menekan tombol panggil hingga langsung terhubung dengan pemilik nomor yang tak lain adalah supir pribadinya.
"Halo.. cepat antar mobil kedepan pintu utama. jangan lama!" Singkatnya lalu menutup panggilan tanpa mendengar sautan dari sulir pribadinya itu.
Seolah dia tau jika supirnya akan selalu datang tanpa harus didengar kata 'baik' atau 'tidak'. Karena dia yakin bahwa supirnya akan selalu datang ketika dia menelfon.
Benar saja, tak lama kemudian sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam berhenti didepannya. Siapa lagi jika bukan supir pribadinya yang selalu siap dalam kondisi apapun.
Sabi tersenyum cerah melihat supirnya yang biasa dia panggil Pak van itu keluar dari mobil dan membukakan pintu belakang untuknya.
Sabi berlari dan segera masuk kedalam mobil sebelum dua makhluk yang paling dibencinya mermergoki dirinya yang sedang berusaha bolos kerja.
Melihat Sabi yang terlihat seperti seorang siswa yang sedang bolos dari sekolah, Pak Van segera mengerti bahwa tuannya ini sedang bolos kerja dan tidak ingin ketahuan oleh orang yang bisa menggagalkan rencananya tersebut. Segera pak Van menutup kembali pintu mobil, dan masuk kedalam mobil. Lalu membawa laju kendaraan itu sampai Sabi menyebutkan tempat yang ingin dia kunjungi.
"Aku sudah kirim ke bapak lokasinya." Ucapnya senang sambil terus melihat layar ponselnya.
"Baik tuan muda." pak Van tersenyum ramah sambil mengklik handphonenya hingga terbukalah maps tempat yang akan mereka tuju.
Begitulah pak Van, seolah sudah hatam dengan sikap Sabi. Sehingga tanpa perlu Sabi ucapkan bahwa dia ingin kabur maka pak Van akan membawanya kabur secepat mungkin yang diinginkan oleh tuannya itu.
Sudah sekitaran 13 tahun pak Van bekerja khusus sebagai supir pribadi Sabi, bahkan hingga sekarang dia berumur 27 tahun, Sabi masih belum bisa melepaskan pak Van sebagai supirnya.
Bukan tanpa alasan Sabi tidak ingin melepas pak Van yang sudah berumur 50 an itu. Hal itu dikarenakan, Sabi yang sampai sekarang belum juga kunjung bisa mengendarai mobil sendiri. Semacam ada rasa takut, tegang dan ngeri dalam dirinya jika mengendarai mobil sendiri. Itu sebabnya kemanapun dia pergi, dia akan meminta pak Van untuk ikut dengannya menjadi supirnya.
Bahkan ketika Sabi kuliah di New york, pak Van setia menjadi supir pribadinya disana. Hingga di kembali lagi ke tanah air, pak Van pun mengikuti. Bagaikan seorang istri yang selalu mengikuti kemanapun suaminya pergi, begitulah setianya pak Van pada Sabi.
Setelah 20 menit perjalanan, sampailah mereka di depan sebuah hotel besar nan mewah.
"Tuan muda, kita sudah sampai." ucap pak Van, menarik perhatian Sabi dari layar ponselnya yang sedari tadi dia mainkan.
Sabi segera menyimpan ponselnya yang sedari tadi dia mainkan.
"Oke.." Serunya.
"eitss.. tidak perlu pak, biar saya sendiri!" ucap Sabi mencegat pak Van yang akan keluar membukakannya pintu mobil.
"Baik tuan muda." sahut pak Van, memperhatikan Sabi dari spion mobil.
Sabi turun dari mobil sambil bersiul riang, dirapikannya jas yang tidak berantakan itu. Lalu melirik ke arah celana dan sepatu yang setengah basah karena terkena pop ice tadi.
Diketuknya jendela mobil depan, tempat pak Van duduk. Pak Van lalu menurunkan kaca mobilnya melihat Sabi
"Pak.. bawakan saya pakaian ganti ya." ucapnya sambil tersenyum ramah, lalu pergi masuk kedalam hotel.
"Baik tuan muda." pak Van mengangguk mengerti, sambil menginjak pedal gas mobil meninggalkan hotel.
..............
Didalam hotel, terlihat Jon sedang berdiri gagah dengan setelan jasnya yang membalut tubuh tinggi berototnya. Menyapa beberapa tamu penting yang tengah bertandang ke hotel miliknya.
Sabi melirik ke arah Jon yang tengah sibuk bercerita dengan tamunya sambil tersenyum ramah, entah apa yang dia katakan namun Jon terlihat begitu berkarisma dan berwibawa menggunakan setelan jas hitam itu.
Ce'elah.. si gembel lagi rapih. Gumam Sabi tersenyum geli melihat sahabat baiknya yang terlihat lebih rapih dari sebelumnya.
Jon nampak sesekali menyapu ruangan dengan mata besarnya, seperti sedang menunggu seseorang. Sampailah matanya tertuju pada seorang pria yang sedang berdiri sambil cengengesan menutupi mulutnya dengan punggung tangan, berusaha menahan tawa gelinya yang tak lain adalah Sabi.
Jon segera melirik pegawai yang berdiri didekatnya, memberi sebuah kode perintah lalu menunjuk ke arah Sabi dengan ujung matanya agar pegawainya segera menyapa dan mengantar Sabi ke ruangan yang dimaksud Jon.
Pegawai itu segera mengangguk mengerti dan pergi mendekati Sabi, sementara Jon mengantar tamu pentingnya ke sebuah ruangan tempat tamu pentingnya ingin tuju.
"Permisi tuan.." Sapa pegawai pria itu ramah.
"Hmm.." Sabi menoleh, tersenyum mengangguk kecil.
"Taun muda Andi Sabiru?" tanya pegawai itu ramah.
"Iya."
"Maaf Tuan Andi, Tuan Jon sedang ada urusan sebentar, mari saya antar ke kamar anda sambil menunggu tuan Jon." ucap pegawai itu mempersilahkan Sani untuk mengikutinya.
"Oke." Jawabnya langsung segera melangkah mengikuti langkah kaki pegawai itu.
Diperhatikannya pernak pernik hotel milik Jon, nampak mewah dan berkelas.
Yaaa... ini sungguh keren, menakjubkan, dan luar biasa! Sabi menganga melihat pemandangan di koridor yang begitu mewah dan sangat nyaman dipandang oleh mata.
Waah.. gila kamu Jon! Aku tidak sangka kamu bisa sesukses ini. Gumamnya kagum melihat secara detail dekorasi hotel yang tengah dia pijaki.
Ooh.. pak Van. Serunya sembari mengangkat panggilan masuk itu.
"Iya pak, ada apa?" Sabi menghentikan langkahnya melihat si pegawai yang berhenti.
"Pakaian anda telah siap tuan, saya harus antar kemana pakaian anda tuan?" tanya pak Van dari seberang telefon.
"Letakkan saja dilobi, dan minta pegawai hotel antar ke kamar saya." Jawab Sabi, fokus mendengarkan pak Van.
"Baik tuan.." Sahut pak Van diseberang telefon.
Secara bersamaan, pegawai itu memberikan sebuah kartu sebagai kunci untuk membuka pintu kamar tersebut.
"Tuan, ada sudah sampai di kamar anda. Silahkan masuk kedalam kamar 109_"
"Iya, jadi pergilah." ucap Sabi memerintah, yang tak sengaja memotong ucapan pegawai itu.
"iya maaf tuan.. saya permisi." sergah pegawai itu, menyodorkan lagi kartu yang belum diambil Sabi.
Sabi melirik ke kartu yang tengah disodorkan padanya, cepat - cepat dia memutuskan panggilan lalu menyimpan kembali handphone miliknya ke saku celana.
"terimakasih.." ucapnya tersenyum.
Pegawai itu segera membungkuk, memberi hormat lalu pergi meninggalkan Sabi.
Eeeh.. tadi katanya nomor berapa? Seru Sabi mendadak bingung mengingat nomor kamar yang disebutkan pegawai tadi.
Segera dia berbalik, mencari pegawai pria tadi. Namun, kosong. Dia tidak menemukan pegawai pria yang tadi mengantarnya.
Sial! cepat sekali dia pergi! Gerutunya sambil berusaha mengingat nomor kamar yang dikatakan pegawai tadi padanya.
"Kalau tidak salah tadi... dia bilang angka 1." Sabi melirik ke pintu yang ada disamping kirinya. Dia mendapati sebuah nomor bertuliskan 1092.
"Yap! benar! angka 1!" serunya senang.
"Habis angka 1... ada angka... hmm.."
"Nol!" sambungnya, diliriknya lagi pintu itu.
"Benar! satu.. nol.. terus kalau ngga salah tadi dia bilang angka sembilan kah?!" tanyanya pada dirinya sendiri.
Ditatapnya lagi pintu disebelah kirinya itu dan ditatapnya lagi pintu kamar disebelah kanannya.
"Hmm.. sepertinya bukan deretan kanan." ucapnya serius.
"Berarti kamarku deretan sebelah kiri ini. berarti...angka terakhirnya.. berapa yaa..?" Masih berusaha mengingat - ingat angka terakhir kamar yang disebutkan oleh pegawai tadi.
"Aah.. sial! kenapa aku tidak bisa mengingat angkat terakhir itu berapa?!" keluhnya kesal, sambil mengerutkan kedua alisnya.
Bagaimana bisa dia mengingat angka terakhir jika tadi pegawai itu tidak menyebutkan sampai akhir angka kamar itu, karena pegawai itu mengira jika Sabi menyuruhnya untuk kembali.
Sabi nampak kebingungan dan berpikir keras mengingat - ingat angka terakhir dari nomor kamarnya. Bukankah dia bisa saja melihat nomor kamar di kunci kartu yang dipegangnya itu?! namun hal itu rupanya sama skali tidak terbesit dipikirannya itu. Ya ampun.. mohon gunakan otak anda tuan muda.
"Aaa... empat! pasti 1094!!!" terkanya.
Segera dia melangkahkan kakinya mencari pintu kamar yang bertuliskan angka 1094.
Sampailah dia didepan kamar 1094 yang hanya berjarak 1 pintu dari kamar 1092.
"Ya ini! pasti ini.." ucapnya yakin.
Digeseknya kartu itu di sebuah kotak dekat gagang pintu. Lalu terdengarlah sebuah bunyi yang nampak aneh ditelinganya.
Hmm.. bunyinya kok aneh. Tidak sama seperti pintu - pintu hotel lainnya. Apa salah?! Gumamnya mulai ragu.
Sedikit berpikir, mencoba menepiskan ragu akhirnya Sabi menarik pintu kamar itu sambil menghela napas menepis keraguannya.
Tiiitt... Pintu terbuka.
eeh.. betul?! Gumamnya tak percaya.
Segera dia membuka lebar pintu kamar itu lalu masuk kedalam kamar sambil tersenyum menang dan bangga atas tebakannya yang benar.
Segera pandangannya menyisir kamar hotel itu secara detail dan menyeluruh. Kamar dengan kesan mewah dan juga nyaman dengan dominasi merah silver dan putih, membuat kamar itu semakin terkesan mewah.
"woooww.." serunya kagum.
Diliriknya lagi tempat tidur yang terlihat nyaman dan empuk itu, seakan menariknya untuk merebahkan tubuh magerannya. Tanpa ragu - ragu Sabi segera merebahkan tubuhnya, menyelam kedalam selimut sutra yang nyaman dan juga membuyarkan segala keletihannya siang ini. Meskipun dia tidak melakukan apa - apa namun entah mengapa dia selalu merasa dirinya kelelahan. Dasar Sabi.
Tiba - tiba pintu kamar mandi terbuka. Terlihat seorang gadis keluar dari kamar mandi mengenakan sebuah handuk menutupi tubuh langsing dan tingginya itu.
Sabi yang mendengar pintu terbuka segera mendelik dan melihat ke arah asal suara. Didapatinya seorang gadis berambut panjang terurai basah dan hanya mengenakan sebuah handuk putih.
Yaa.. apa ini?! Gumam Sabi tak percaya melihat apa yang dilihatnya. Segera dia meyembunyikan dirinya dibalik selimut putih itu.
Gadis cantik itu lalu membalikkan tubuhnya sambil memegang sebuau G-string dan sebuah bra yang barusan dia ambil dari dalam tasnya. Gadis itu nampak sama dengan gadis yang datang dari paris secara diam - diam ke tanah air. Bukan nampak, tapi sepertinya memang dia. Ya..dia!
Astagah Jon.. jadi ini yang kamu bilang bersenang - senang?! Gumam Sabi bergetar grogi.
Sial kamu Jon! aku ini masih perjaka! dan kamu berniat merusakku dengan mengirim wanita ini kekamarku?! Brengsek kamu Jooon!
Bersambung...