FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
6. Nada dering Zayn



Sesaat setelah tawa mereka mulai berkurang, Zayn mulai mendongakkan kepalanya memelototi Ridwan dengan perasaan kesal. Ridwan yang menyadari hal itu segera membungkam mulutnya. Hari ini Ridwan kehilangan taringnya sebagai seorang sekertaris pribadi dengan badan preman dan tatapan dingin menusuk.


Setelah ini aku akan menghajarmu, bersiap - siaplah.. Zayn tersenyum melihat Ridwan, namun entah mengapa Ridwan lebih merasa itu seperti sebuah peringatan kematian untuknya.


"Maafkan saya tuan muda." ucap Ridwan, membungkuk didepan Zayn berharap mendapatkan pengampunan.


Jadi sekarang sudah sadar yaa.. aku tidak akan mengampunimu begitu saja, setelah kamu menertawakanku bersama dengan lubang cacing itu.


Habislah akuuu... kenapa humorku malam ini receh sekali! bodoh! bodohh! Ridwan memaki dirinya sendiri, masih dengan keadaan membungkuk didepan Zayn.


"Hey... kenapa marah padanya? lagian tadi itu memang lucu. Siapa yang tidak akan tertawa jika mendengar nada dering kartun dipakai oleh seseorang yang berhati dingin dan berwajah tripleks sepertimu!" bela Sabi, masih berusaha mengejek Zayn.


Zayn menatap Sabi tajam, tatapannya seakan - akan ingin menyerang Sabi dengan membabi buta. Sorot matanya terlihat menakutkan untuk dimiliki oleh orang tampan seperti Zayn. Sabi yang melihat tatapan itu pun segera mengalihkan pandangannya.


Ada apa dengan tatapannya itu? mengerikan!


"Cepat tentukan pilihanmu atau akan kubuat kamu menyesal dengan sifat tulalitmu yang tidak jelas itu!"


Apa? tulalit? tidak jelas? hahhh... benar - benar manusia ini minta diputus lidahnya! Sabi tersenyum tipis, menutupi rasa kesalnya.


"Apalagi yang kamu tunggu? segera laksanakan perintahku!" bentak Zayn, memukul meja, membuat Ridwan dan Sabi terperanjak kaget.


Gila ni manusia! kalau saja aku bukan dalam masa percobaan, mungkin lubang pantatmu sudah jadi dua sekarang!


Tuan muda berhentilah marah... ini sepenuhnya bukan kesalahan kami. Seharusnya jika kamu malu dengan nada dering itu, kamu tinggal menggantinya agar tidak ada yang akan menertawaimu. Ridwan.


Sabi dengan perasaan kesal membolak balikkan resume dan hasil penilaian akhir pada peserta pewawancara. Otaknya berkecamuk membayangkan satu persatu para pelamar itu menjadi sekertarisnya. Entah mengapa dia harus membayangkan para pelamar itu satu persatu menjadi sekertarisnya, jelas - jelas itu akan menguras otak dan memakan waktu.


Aku mau sekertaris yang asik diajak bercerita dan tidak membosankan... hanya ituu! Tuhan.. tolong aku.. membayangkan semua sekertaris ini membuat otak cerdasku serasa mati. Semua pelamar dengan nilai tertinggi sangat sangat membosankan... Apakah ini akhir dari hidupku, apaakah seperti ini caraku mati?! mati dengan ketebosanan yang haqiqi.


Aaarrgghh...


Baru seperti itu sudah terlihat seperti mau mati, bagaimana kedepannya. Aku akan membuatmu benar - benar merasakan bahwa tempatmu bukanlah disini*. Zayn menatap sinis Sabi yang terlihat begitu frustasi dan putus asa.


Tiba - tiba saja sebuah nada dering berbunyi, membuat semua orang dalam ruangan fokus mendengarkan nada dering itu dengan seksama.


*Cit cicicit dora... Cit cicicit dora... Cit cicicit dora...


Sabi langsung terkekeh geli, seolah - olah semua frustasinya langsung berterbangan pindah pada Zayn yang merasa syok mendengar nada deringnya berbunyi lagi.


Apalagi iniii? Arrghhh.. Siaaal! Zayn geram membalikan tempat duduknya hingga membelakangi Ridwan dan Sabi.


Jangan ketawa... jangan ketawa... habislah kau kalau ketawa wan! Ridwan mencubit pahanya agar tidak membuat kesalahan yang sama dalam satu waktu.


Berbeda dengan Ridwan, Sabi justru tertawa terang - terangan. "Hey.. jangan diangkat! Biarkan kami menikmati lagu itu sambil melihatmu mematung menahan malu seperti itu!" Ejek Sabi.


Masih dalam posisi membungkuk, Ridwan membungkam mulutnya, berusaha menahan tawanya. Siapa sangka dibalik tatapan dingin dan wajah preman seorang Ridwan ternyata dia memiliki selera humor yang receh.


"Oh iya.. mungkin aku harus mengabadikan momen ini, pasti tidak akan ada yang menyangka bahwa seorang Zayn Adijaya memiliki nada dering yang lucu seperti itu. Pasti akan sangat menyenangkan." Ejek Sabi masih diselingi dengan tertawa geli. Mengeluarkan Hp nya dari saku jasnya.


"Jangan bertindak aneh kalau kamu masih suka melihat lubang cacingmu hanya satu disetiap sisi wajahmu!" Ancam Zayn sambil pergi keluar dari ruangan.


Hah lubang cacing? maksudmu lesung pipi? Hey.. setidaknya kalau mau mengancam pilih kata - kata yang seram sedikit, bukan malah membuat seseorang tertawa mendengar ancamanmu. Sabi tambah terkekeh tak karuan setelah Zayn meninggalkan ruangan.


"Hey ridwan.. tertawalah.. sekarang dia tidak ada disini, dia keluar karna saking malunya. Dasar bodoh!" ujar Sabi yang masih tertawa geli membayangkan ekspresi malu Zayn.


Ridwan segera meluruskan badannya yang sedari tadi membungkuk. Namun kali ini dia hanya tersenyum kecil, menggigit bibirnya karena takut akan dihajar habis - habisan oleh Zayn.


***


"Kenapa? sudah kubilang untuk jangan pernah menelfonku kalau tidak ada hal penting untuk dibicarakan!" gelisah melirik ke kiri dan ke kanan memastikan tidak ada yang mendengarkan obrolannya dengan seorang penelfon yang entah siapa dan dimana keberadaannya.


Justru aku menelfon karena penting.. terdengar suara seorang gadis dari seberang telfon.


"Katakan!"


Aku merindukanmu.. Suara gadis itu terdengar riang dan manja.


Sejenak Zayn tertegun mendengar ucapan gadis itu. Hanya mendengar dua kata dari gadis itu mampu membuat ekspresi wajah kesalnya runtuh.


"Aku tutup telefonnya!" Zayn membalas dingin.


"Jangan mengataiku tidak sopan kalau kamu sendiri juga tidak sopan berani mengubah nada dering khusus kamu dengan soundtrack kartun."


Oh jadi kamu kesal karena itu yaa.. Hahaha... apakah sekarang kamu sudah bodoh?! waah.. seorang Zayn sekarang menjadi orang bodoh!


"Terserah apa katamu, yang pasti kamu tidak sopan dan aku akan menutup telfon ini!" sekali lagi mengatakan kegininannya untuk menutup telfon namun tidak kunjung menutup telfon itu. Kenapa sangat sulit bagimu untuk berkata baik, apalagi dia seorang wanita.


Stupid! sebelum mengganti nada dering itu aku sudah minta izin darimu dan kamu dengan entengnya bilang iya. Tapi lihat sekarang, kamu bahkan lupa.


Sepenggal kenangan kembali terbayang dipikirannya, bahwa dia mengiyakan tawaran gadis itu disebuah bandara.


Tapi aku senang karena kamu menepati janjimu, tidak mengganti nada dering khususku. Yeeee!


"hm... sekarang kamu senang?"


Of course!


"Kalau begitu jangan pernah menelfonku lagi kalau itu tidak penting, atau aku akan melanggar janjiku!" Ancam Zayn segera mematikan telfon.


Namun sebelum Zayn menutup telfonnya terdengar suara teriakan dari seberang telfon.


Aku akan mengunjungimuuuu! tunggu aku di tanah air!


Mendengar teriakan gadis itu, Zayn menempelkan kembali handphone nya ditelinga.


"Jangan berani memunculkan batang hidungmu di tanah air kalau kamu tidak ingin aku membencimu seumur hidupku!" Ancam Zayn, dingin tanpa memperdulikan perasaan gadis yang diseberang telefon.


Segera dia mematikan telfon dengan perasaan kesal, membuka kontak di handphone nya yang bertuliskan -Lily- lalu memblokirnya.


Tidak pandang bulu, baik laki - laki maupun perempuan perlakuannya sama. Tetap dingin dan sangat jujur pada apa yang ingin dia katakan.


Zayn masuk kedalam ruangan masih dengan raut wajah kesal.


"Aku beri kamu waktu 2 hari untuk memilih calon sekertaris itu, jika tidak aku yang akan memilih sendiri siapa yang pantas menjadi sekertarismu dan mengantarnya langsung ke ruanganmu!" ujar Zayn, rupanya membuat Sabi sedikit merasa menang dan bahagia.


Hey hey.. ada apa ini? tadi dia menolak mati - matian setiap saranku, tapi sekarang dia melunak dengan sendirinya setelah menerima telfon. hm.. sepertinya orang yang tadi menelfonnya benar - benar hebat! Aku harus berguru padanya nanti. Sabi tersenyum bahagia dengan apa yang barusan dia dengar.


"dan kamu Ridwan.. kamu tidak perlu mengantarku pulang, aku akan pulang sendiri. Sini berikan kunci mobil padaku."


Hah? apa yang terjadi pada anda tuan muda?! Anda benar - benar aneh sekarang. Ridwan masih menatap lekat Zayn.


"Hey cepat.. aku sedang malas melihat kalian berdua." Zayn menendang pelan ujung sepatu Ridwan.


" Ba.. baik tuan.." Ridwan gelapan menyerahkan kunci mobil pada Zayn.


Zayn segera mengambil tas dan keluar dari ruangan tanpa berkata sepatah katapun. Menoleh pada mereka berduapun tidak sama sekali. Menghilang dalam diam dan meninggalkan tanya teruntuk mereka yang menyaksikan Zayn pergi.


"Dasar aneeeh!" Sabi berteriak kecil, namun Ridwan masih bisa mendengarnya.


"Tuan muda.. hentikan." larang Ridwan untuk mencegah kekacauan bertambah.


"Mau kuantar pulang?" tanya Sabi seperti orang tak berdosa.


"Tidak tuan muda, saya bisa pulang naik taxi online."


"Baiklah.." Sabi mengambil tasnya lalu pergi meninggalkan ruangan. Ridwan menganggukan kepalanya memberi hormat pada Sabi. Namun baru sampai dipintu, Sabi berbalik.


"Sudah berapa lama dia memakai nada dering seperti itu?"


Pertanyaan Sabi sontak membuat Ridwan berpikir.


"Sudah lama saya bersama dengan tuan muda Zayn, namun baru kali ini saya mendengar nada dering itu karena sebelum - sebelumnya nada deringnya hanyalah nada dering biasa tuan." jawab Ridwan tanpa sadar terkejut dengan jawabannya sendiri.


Hey.. kenapa kamu mengatakan hal privasi tentang tuan muda Zayn! gawat! Ridwan terlihat pucat mengingat betapa menyeramkannya Zayn jika marah.


"jangan takut. Aku tidak akan mengadu pada tiang listrik karatan itu." Ucap Sabi, tersenyum ramah lalu meninggalkan Ridwan.


Sepertinya bukan hanya aku saja yang akan tamat jika tuan Zayn mendengar anda menyebutnya sebagai tiang listrik karatan..


Bersambung...