FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
12. Satu Sama



Di kantor utama, tepatnya di dalam ruangan Sabi. Terlihat Zayn yang telah duduk tenang sambil memangku tangannya. Didepannya sudah tertata rapih map yang berisikan kontrak pekerja, calon sekertaris pribadi yang siap ditanda tangani oleh Sabi.


Diluar ruangan, Sabi dengan santainya berjalan menyusuri koridor menuju ruangannya sambil terus memberikan senyuman manisnya. Sesekali dia memberi hormat pada atasan - atasan yang dilewatinya, sesekali dia juga manjawab salam yang dilontarkan oleh pegawai - pegawai muda padanya.


Sesaat sampai didepan pintu ruang kerjanya, Sabi disambut oleh seorang staff penjaga ruangannya. Dengan ramah Sabi membalas sambutan staff penjaga. Tiba - tiba Sabi terperanjak kaget mendapati Zayn yang sudah lebih dulu datang, sembari menatapnya tajam.


Apa yang dilakukan manusia itu diruanganku? Sabi.


Asisten pribadi Zayn, yang berdiri tepat dibelakang Zayn. Memberi kode pada Sabi dengan menunjukkan arloji miliknya, sebagai kode bahwa Sabi terlambat dan sangat menyia - nyiakan waktu. Dengan cepat Sabi segera menengok arloji miliknya. Dan benar saja, jam menunjukkan pukul 9.


Sial! Makinya dalam hati.


Sabi mencoba tertawa untuk mencairkan suasana, berjalan santai dan menyapa Zayn seperti orang yang tidak punya salah dan dosa.


"Apakah kamu tau ini jam berapa?" tanya Zayn dingin.


"yaa.. yaa.. aku tau! jam 9 kan?!" Sabi tersenyum menatap jendela ruangannya. Mencoba menghindari tatapan mata Zayn.


"Baiklah.. Ini kontrak kerja pegawai yang akan menjadi sekertaris pribadimu." Ucap Zayn sambil menyodorkan sebuah map hitam.


Sabi yang masih berdiri, melirik map yang disodorkan Zayn diatas meja.


Apa ini? bukannya aku belum memutuskan siapa yang harus ku pilih?


"Hm.. bukankah harusnya aku memilih dulu yaa.." Sabi segera duduk didepan Zayn. menelan ludah, hawatir akan karyawan yang tidak dia senangi.


"Tentu saja.. seharusnya kamu memilih sekerterismu sendiri." jawab Zayn memperbaiki duduknya. Menekuk kedua tangannya di paha, menyatukan jari - jari kokohnya satu sama lain, dan menatap Sabi tajam.


Apa ini? Dia pikir dia keren seperti itu! Ciiih.. Sabi melirik Zayn seraya mengangkat sebelah bibirnya keatas.


"Namun... hari ini kamu sudah membuatku kesal. Jadi,.. yang memutuskan siapa sekertarismu adalah saya sendiri." Sambung Zayn sambil menyunggingkan senyum sinis pada Sabi.


What? Sabi sontak bangun dari duduknya.


"Pegawai yang akan akan diterima nanti akan menjadi sekertaris pribadiku, jadi aku yang berhak menentukan siapa yang pantas! Kamu tidak punya hak atas itu!" Protes Sabi yang kesal.


Zayn tersenyum licik melihat Sabi yang berkoar - koar tidak terima dengan keputusannya. Seakan ada kepuasan tersendiri baginya melihat Sabi si manusia tidak jelas dan manja tengah meronta - ronta menderita dan tidak bahagia atas apa yang terjadi.


"Hahh?! kamu tersenyum? kamu bahagia melihat orang lain menderita?" Tanya Sabi yang tidak percaya atas apa yang dilihatnya. Perasaan jengkel Sabi semakin menjadi, rasanya dia ingin menarik bibir Zayn lalu menmpelkannya di dinding sebagai pengganti lukisan.


"Jadi menurutmu aku harus bersedih dan bersimpati padamu?!" Tanya Zayn sambil terkekeh.


"ii_"


"Tidak tidak tidakk! itu tidak akan mungkin terjadi! Seorang Zayn Adijaya tidak akan bersedih dan bersimpati pada sesuatu yang abnormal." Sambung Zayn, memotong ucapan Sabi sambil mengayun - ayunkan jari telunjuknya, mengisyaratkan sebuah ketidakmungkinan. Seraya terkekeh.


Hahh... Apa? Abnormal? Saya?


"Abnormal katamu?! heyy Zayn... sini kamu berdiri, biar kamu tau kalo orang yang kamu katai abnormal bisa buat kamu wisata ke balikpapan bawah tanah!" Tantang Sabi yang sudah bersiap dengan jotosnya, dan melonggarkan dasinya.


"Jadi sudah sadar diri yaa kalau kamu abnormal. Baguslah.."


"Apaaa?!"


"Berhentilah aneh - aneh disitu, dan cepat tanda tangani kontrak persetujuan itu!" Seketika ekspresi Zayn berubah datar dengan tatapan yang tajam.


"Tidak maau!" Bantah Sabi.


"Terserah... kamu mau tanda tangan atau tidak juga tidak ada pengaruhnya. Keputusanku sudah mutlak dan tidak bisa terbantahkan lagi." Ucap Zayn dengan angkuhnya.


Hahh.. kamu pikir kamu siapa?! Presiden dijaman otoriter?! yang keputusannya mutlak dan tidak bisa terbantahkan?!


Ridwan yang sedari tadi menyaksikan pertengkaran mereka, tiba - tiba bergerak dari posisinya, berjalan menuju pintu masuk.


"Pergi sana ikuti sekertarismu!" Pintah Sabi menunjukk Ridwan dengan matanya.


Apaa?! Sekertarisku sudah disini?! Giilaaa! Batin Sabi berteriak tidak percaya.


Segera Sabi menengok ke arah pintu kantornya. Disana sudah terlihat Ridwan memegang gagang pintu bersiap untuk membuka pintu sambil tersenyum picik.


Zayn terus melihat Sabi lamat - lamat, seolah tidak mau ketinggalan momen dimana Sabi akan merengek karena keadaan tidak berjalan sesuai dengan kenginannya.


Ya Tuhan.. Semoga bukan pegawai yang membosankan! Plisss plisss plisss...


Sabi terus komat kamit dalam batinnya, berharap mendapatkan sekertaris yang sesuai dengan tipenya.


Zayn melihat Ridwan yang masih memegang gagang pintu, lalu dia mengangkat sebelah alisnya. Ridwan yang berdiri didepan melihat ekspresi Zayn, segera menarik pintu agar terbuka. Seolah mengerti maksud dari bosnya.


Pintu terbuka, dan terlihat seorang pegawai wanita yang sedang berdiri dengan canggung. Memakai kemeja putih, rok berwarna hitam dan sepatu high heels yang tingginya 2 cm, yang juga berwarna hitam. Tak ketinggalan rambut hitam pekat dikuncir satu tanpa model, wajah putih tanpa riasan tebal dan bibir tipis berwarna pink yang hanya diolesi pakai lipgloss.


Ohh My God! Seru Sabi tak percaya atas apa yang dilihatnya.


Namun ada sesuatu yang mengganjal saat melihat gadis itu. Sesuatu yang tidak asing dan juga serasa familiar.


Tungguu! Tiba - tiba Sabi teringat pada sesuatu yang tidak asing baginya.


Tiba - tiba Sabi teringat pada gadis yang sempat menariknya hingga terjatuh saat di RS.


"Heyy.. Diaa!" Seru Sabi kaget, menunjukk Zulaikha yang berdiri tepat didepannya.


"Silahkan perkenalkan dirimu pada tuan muda Andi Sabiru." Pintah Zayn yang masih tersenyum picik melihat Sabi.


"Baik.. Nama saya Zu_"


"Apa kamu sudah Gila membawa cewe preman kurangajar ini ke perusahaan menjadi sekertarisku?!" Potong Sabi, segera melirik Zayn yang tersenyum picik padanya.


"Haahh.. apa yang sebenarnya kamu pikirkan?! apa kamu kehilangan akal sehatmu dengan memilihnya?!" Sambung Sabi yang masih tidak bisa menerima kenyataan.


"Bagaimana mungkin aku bisa kehilangan akal sehatku?! Jika itu dirimu, itu baru benar!"


"Hahahaa... Hey Zayn.. kamu gabut? kalau gabut bukan gini caranya! sialan!" Sabi terkekeh dengan nada suara yang meninggi dan tajam.


"Dia berhasil lulus dalam semua tes dengan nilai yang mendekati sempurna, seperti syarat yang sudah kamu lontarkan sebelumnya. Iyakan Andi Sabiru?!" Zayn menjawab dengan santai. Berdiri dari tempat duduknya, lalu merapikan jas yang sama skali tidak berantakan.


"Mau buat apa prestasi tinggi kalau etitutnya itu Nol! Orang seperti itu, hidup di dunia ini tidak berguna!" Teriak Sabi sambil melirik Zulaikha dengan tatapan benci.


Zayn hanya diam, datar dan tenang melihat Sabi yang begitu heboh sendiri hanya karena persoalan kecil.


"Dia yang cegat aku sampai terjatuh, ngatain aku pencuri dan buat aku maa_"


"Oh jadi sudah pernah ketemu... kalau begitu, waktu dan tempat saya persilahkan, untuk saling mengenal."


"Apa?! kamu pikir kami mau kencan buta?!" bantah Sabi dengan kesal.


Zayn tidak peduli, dan terus berjalan keluar dari ruangan sambil tersenyum picik, disusul oleh Ridwan yang begitu setia selalu dibelakang Zayn.


"Dasar psikoooo!" Teriak Sabi kesal.


Alhasil kemenangan kali ini dimenangkan oleh Zayn, kemenangan sebagai balasan dari perbuatan Sabi yang mempermalukan Zayn soal perkara nada dering.


Sementara Zulaikha hanya diam, berusaha tidak terlihat. Agar tidak kena semprot oleh Sabi yang masih sangat kesal Zayn.


"Dan kamu!" Sabi sedikit berteriak. "Keluar keluar kamu dari ruangan saya."


Tuhkaan... pasti ujung - ujungnya aku diusir. Ya Tuhan.. Selamatkan aku..


Bersambung...