FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
60. Tidak Berbobot



“Hey ... kenapa topik kita jadi mengarah ke Queen?!” Sergah John. “Kembali ke masalahmu.” John menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Sementara Sabi masih senyum sendiri, sibuk mengingat perkelahian dan perdebatannya dengan Queen.


“Hey Sabiru ...” panggil John menyadarkan Sabi dari lamunannya.


Sabi menengok namun tak menjawab.


“Apakah kau pernah jalan-jalan bersamanya?” John memangku tangannya di depan dada.


“Siapa?” Tanya Sabi.


John menarik nafasnya dalam, merasa kesal karena Sabi seperti tidak fokus dengan pembicaraan serius ini. “Zulaikha!!! Si sekertaris cantikmu itu!” John berteriak kesal, gagal menahan emosinya.


“Oh ..” Sabi mengangguk mengerti lalu kemudian menggeleng, memberitahu bahwa dia tidak pernah jalan-jalan berdua dengan sekertarisnya. Diluar dari jam kerja.


John menganga tak percaya. Bisa-bisanya dia belum pernah melakukan hal itu, padahal mereka tinggal serumah atau lebih tepatnya satu lingkungan rumah.


John mengusap wajahnya, berusaha rileks. “Ajak dia jalan-jalan berdua dan temukan memorimu yang hilang. Dengan begitu mimpi burukmu akan berakhir.” John lalu menepuk pahanya dan berdiri dari tempat duduknya, menatap Sabi dalam. “Ingat, sesegera mungkin kamu harus mengatasi mimpi burukmu.”


“Ada apa denganmu? Kenapa jadi kamu yang tegang?!” Sabi mengadahkan kepalanya menatap John yang juga tengah menatapnya.


John tidak menjawab. Dia hanya menyunggingkan senyuman, menepuk pundak Sabi, lalu pergi meninggalkan ruangan Sabi.


“Hey ... kopimu belum datang.” Sabi meneriaki John, berusaha menahan John. Namun John melambaikan tangannya dan pergi dengan santainya.


“Ciih ... dasar!” Sabi mendesis, mengalihkan pandangannya.


..........


Di ruangan yang dominan dengan warna gelap dan klasik modern. Zulaikha melihat Zayn dan Ridwan secara bergantian, yang terlihat sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Rasanya dia sedikit takut untuk bersuara mengganggu dua laki-laki yang seperti macan, yang akan sigap kapan saja menelannya jika mereka merasa terganggu atas kehadirannya.


Aaiisshh .... Zulaikha mengetukkan ujung sepatunya pelan ke lantai.


Sontak Zayn dan Ridwan langsung menoleh dan menatapnya tajam dengan tatapan yang siap menerkam.


Zulaikha sedikit terkekeh, sambil menggaruk lehernya yang tak gatal.


“Apa yang membawamu kemari?” Ucap Ridwan, berdiri dari tempat duduknya. Memperhatikan Zulaikha dari ujung kaki hingga ujung kepala.


“Ehm ... ini.” Zulaikha mengulurkan 2 gelas kopi yang dia beli tadi. “Tuan muda Andi Sabiru membelikannya.”


Ridwan melirik gelas kopi itu secara teliti, dengan rasa heran yang menelisik kepalanya.


“Apa aku tidak salah dengar?” Sahut Zayn, yang masih sibuk membolak balikkan beberapa kertas yang dipegangnya.


Zulaikha melirik Zayn yang terlihat acuh, namun ternyata mendengarkan dengan baik. “Iya, tuan.” Zulaikha mengangguk, mengiyakan ucapan Zayn.


“Kesambet apa dia hari ini?” Zayn, merobek beberapa kertas dan dibuang ke dalam tong sampah dengan sangat arogannya.


Zulaikha menelan salivanya, merasa ruangan ini begitu tegang sampai-sampai air ludahnya saja terasa besar dan keras. “Saya tidak tau, tuan. Mungkin tuan muda hanya ingin berbagi.”


“Bawa kembali. Aku tidak butuh.” Ucap Zayn, melirik Zulaikha tajam sembari merobek beberapa kertas lagi dengan arogan.


Apa ini? Kenapa dia begitu? Zulaikha mundur perlahan, berusaha pergi tanpa terlihat takut pada Zayn.


“Saya permisi, tuan.” Zulaikha mengangguk, lalu pergi secepat mungkin dengan elegan keluar dari ruangan Zayn yang suram ini.


“Tunggu!” Seru Zayn, dan Ridwan dengan cepat mencegat Zulaikha. Menarik tangan gadis itu, hingga Zulaikha kembali ke tempat dia berdiri tadi.


Aiisshh ... apalagi?! Alis Zulaikha berkerut, mengutuk Zayn dalam batinnya.


“Sepertinya ada yang kamu lupakan.” Zayn meletakkan kertas yang dari tadi sibuk dia pandangi. “Bukankah hari ini seharusnya ada yang harus kamu laporkan padaku?!” Dengan dinginnya dia menatap Zulaikha sembari mengancing jasnya yang terbuka.


“I iya ... maafkan saya tuan.” Zulaikha mengadahkan pandangannya menatap Zayn yang juga sedang menatapnya tajam. Sontak dia menundukkan pandangannya, berusaha menghindari tatapan Zayn, yang akan membuat batinnya menggerutu tidak jelas.


Zayn beranjak dari tempat duduknya, berjalan perlahan dan terus menatap Zulaikha. “Cepat, katakan.”


Tuan muda ... maafkan aku. Gumam Zulaikha meremas erat plastik yang membungkus beberapa gelas kopi yang dipegangnya.


Dengan lugas, Zulaikha mulai menceritakan keadaan Sabi yang pernah dia lihat saat pagi hari. Sabi yang terlihat seperti orang yang kejang-kejang, padahal dia masih dalam keadaan tertidur. Beserta keadaan rumah yang menganggap kejadian yang dialami Sabi adalah kejadian yang biasa. Bahkan beberapa orang dalam keluarganya begitu merendahkannya karena keadaan yang dialami Sabi pagi itu. Namun berbeda dengan sikap Nyonya Sura yang berusaha menutupi dan tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Zulaikha, karena memberitahu kepada seluruh orang rumah keadaan Sabi yang terlihat tidak baik-baik saja.


Zayn mengangkat sebelah alisnya dan sedikit menyunggingkan sebuah senyuman yang tidak bisa dijelaskan. Tanpa bersuara dan berkomentar, Zayn terus menyimak apa yang Zulaikha sampaikan dengan serius.


Begitu pula dengan Ridwan yang juga menyimak sambil melirik Zulaikha yang ada di sebelahnya.


“Saya sudah menyampaikan informasi. Bagi saya ini termasuk informasi yang berbobot. Karena sepertinya, Nyonya Sura begitu menutupi hal ini dari orang luar.” Ucap Zulaikha, mengadahkan pandangannya.


“Nice!” Seru Zayn, dan Ridwan merespon dengan bertepuk tangan. Pujian sederhana pun terlontar dari kedua pria itu.


Zulaikha melirik mereka berdua secara bergantian. Tangannya semakin meremas kuat plastik yang dipegangnya, berusaha tidak terlalu merasa tegang berada diantara kedua pria yang tengah memujinya.


“Lalu bagaimana hubungan Sabi dan Queen?” Zayn memangku kedua tangannya di depan dada. “Bukankah sudah pernah ku katakan sebelumnya, bahwa yang boleh dekat dengan Sabi itu hanyalah kamu.”


“Hm ... mereka tidak sedekat seperti yang anda pikirkan tuan.” Jawab Zulaikha, mengingat betapa kacaunya Sabi dan Queen, jika ketemu. Bagaikan sedang cosplay jadi anjing dan kucing.


“Lalu kenapa mereka sering keluar bersama? Bicara bersama? Bahkan tanpa ada kamu.” Sergah Zayn.


Zulaikha menelan salivanya lalu tertunduk bingung. “Maaf tuan, saya tidak tau.”


“Seharusnya kamu tau!” Bentak Zayn, dengan suara yang mulai membesar.


Zulaikha terangkat kaget, dan semakin tertunduk mendengar bentakan dari Zayn yang notabenenya jarang bicara.


Zayn memasukkan kedua tangannya di saku celananya, menatap tajam Zulaikha. “Untuk yang kedua kalinya aku sampaikan lagi padamu, jangan sampai aku melihat mereka berdua terlihat bersama lagi. Sebisa mungkin, harus kamu. Harus kamu lah tempatnya bergantung.” Zayn menekankan kata kamu dengan nada yang dingin dan tajam tertuju pada Zulaikha.


Zulaikha mengangguk mengerti, mengiyakan ucapan Zayn. Meskipun dalam hatinya terus bertanya-tanya kenapa Sabi harus bergantung padanya.


“Pergi sana.” Ucap Zayn, berbalik menuju kembali ke kursi kerjanya.


Zulaikha mengangguk lagi, dan pergi masih dengan kepala yang tertunduk takut. Namun tiba-tiba sesuatu menghampiri kepalanya, yang membuatnya menghentikan langkahnya dan berbalik melirik Zayn yang sedang berjalan menuju kursi kerjanya.


“Tuan, Zayn ...”


“Hm ...” Sahut Zayn yang tak menoleh sedikitpun.


“Bukankah aku juga seharusnya mendapatkan sebuah jawaban atas pertanyaanku?”


Langkah Zayn tiba-tiba terhenti. Tangannya perlahan keluar dari kantongnya dengan sorotan mata yang sedikit hawatir dengan ucapan yang dilontarkan oleh Zulaikha.


“Dimana saudariku sekarang?” Tanya Zulaikha yang rupanya membuat Zayn sedikit getir untuk menjawab.


Zayn mendelik, menahan dirinya untuk tetap terlihat biasa saja. Namun Zulaikha berhasil melihat celah kegusaran Zayn. Matanya melebar, dan curiga dengan Zayn yang seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


Apakah selama ini dia berbohong tentang saudariku dan hanya mengambil keuntungan dariku?! Gumam Zulaikha geram.


“Kenapa anda diam saja, tuan?” Seru Zulaikha, masih tetap menunggu respon Zayn.


Zayn masih belum mengeluarkan sepatah katapun. Kepalanya masih berpikir keras, untuk mengeluarkan jawaban yang pas pada Zulaikha dan jawaban yang direstui oleh lidahnya yang kaku, enggan untuk merespon pertanyaan dari Zulaikha.


“Jangan katakan bahwa anda selama ini berbohong, tuan!” Mata Zulaikha mulai berkaca, mengingat dulu ayahnya pernah ditipu oleh orang lain karena mengatakan informasi palsu tentang saudarinya yang hilang.


Ku mohon ... jangan katakan anda berbohong.


Zayn berbalik, melihat Zulaikha yang ternyata tengah menatapnya dengan penuh harap.


“Singkirkan pikiran kotormu itu tentangku.” Seru Zayn, menatap kesal Zulaikha. “Kamu pikir aku bisa mendapat foto masa kecil itu dari siapa. Jika bukan darinya.” Zayn mengangkat sebelah alisnya, menatap Zulaikha dengan tatapan meyakinkan.


Sebuah harapan yang hampir sirna kembali pada tempatnya. Membawa sebuah perasaan lega, bersamaan dengan harapan yang semakin membesar.


“Lantas ... jawab pertanyaanku, tuan.” Ucap Zulaikha, menatap Zayn dengan tatapan yang penuh harap.


Mata Zayn bergetar melihat tatapan mata Zulaikha yang menaruh harapan besar padanya. Zayn tidak tahan, dan mengalihkan pandangannya dari gadis itu. “Dia ... sekarang, ada di negara ini.” Dengan hati-bati Zayn berusaha untuk tidak terlalu blak-blakan atas jawabannya.


“Katakan lebih spesifik, tuan. Saya berhak untuk mengetahui jawaban yang lebih spesifik, setelah informasi berbobot yang saya tukarkan pada anda, tuan.” Sergah Zulaikha.


“Hey ... jangan berlebihan.” Ketus Ridwan, setengah membentak.


Zayn menarik nafasnya perlahan. “Dia ada di ibu kota ini.” Zayn menaruh kembali kedua tangannya di saku celananya. “Puas?!”


“Hah?! Puas?!” Zulaikha mendelik mendengar ucapan Zayn yang singkat dan belum terdengar seperti sebuah jawaban ditelinganya. “Bagaimana aku bisa puas dengan jawaban tak berbobot seperti itu!” Tegas Zulaikha.


“Kamu tidak melaksanakan tugasmu dengan baik. Jadi bagaimana bisa aku menyampaikan jawaban dengan baik, jika kamu saja tidak melaksanakan tugasmu dengan baik.” Sahut Zayn, dengan raut wanah yang mulai santai.


Sial!!!! Gerutu Zulaikha dalam batinnya.


“Taun ... anda tidak bisa_”


“Waan ...” panggil Zayn, menunjuk Zulaikha dengan sorotan tajam matanya dan Ridwan mengangguk mengerti.


Dengan cepat, Ridwan menarik paksa Zulaikha keluar dari ruangan Zayn. Zulaikha tidak tinggal diam saja. Dia terus meronta mencoba untuk bertahan, mendapatkan informasi yang seharusnya lahak dia dapatkan.


“Kamu tidak boleh seperti ini, tuan.” Zulaikha berteriak, terus melawan Ridwan yang terus menariknya keluar.


“Aku akan mengatakannya padamu, jika kamu berhasil melakukan tugasmu dengan baik dan mengatakan informasi tentang Sabi secara rutin padaku.” Sahut Zayn, tersenyum menang.


“Ciiih ... anda sungguh licik!” Zulaikha mendesis kesal, menatap Zayn dengan tatapan benci. Sebelum akhirnya, dirinya benar-benar keluar dari ruangan Zayn lalu Ridwan menutup pintu ruangan dengan mengunci pintu itu.


Bersambung ....