
Situasi rapat yang tadinya tenang, perlahan - perlahan mulai memanas dan mulai bermunculan forum dalam forum.
Pengumuman yang paman sampaikan membuat pro dan kontra. Beberapa orang dalam ruangan terlihat tidak sepakat atas apa yang paman sampaikan, terlebih lagi Ibu. Wajahnya semakin menampakkan kekhawatiran.
Sementara yang sepakat dengan pengumuman yang paman sampaikan, mereka justru terlihat tenang, dan tersenyum santai tanpa beban. Seperti yang terlihat di wajah Zayn.
Zayn terlihat menikmati pemandangan ruang rapat yang mulai ricuh atas pengumuman paman.
Zayn menyandarkan punggungnya di kursi tempat dia duduk sambil memangku kedua tangannya di dada, lalu melirik tepat ke arah Ibu yang terlihat sangat risau dan juga geram. Sebuah garis tipispun terlihat naik, terukir di bibir tipisnya yang kemerahan.
Seolah ada rasa menang dalam batinnya ketika melihat wanita paruh baya itu menampakkan kerisauannya.
"Ibu.." panggil Sabi.
"Dia semakin melunjak!" geram Ibu, menatap paman Andi Syafar tajam.
"Instruksi.." Suara Ibu memecahkan keributan dalam ruangan rapat.
"Tidakkah terlalu cepat bagi Andi Firman untuk menjabat sebagai direktur utama di W mall center?! Saya rasa dia masih terlalu muda untuk menjadi direktur utama. Dia perlu latihan dan banyak belajar lagi di perusahaan. Karena teori dan praktek si lapangan itu berbeda! bisa saja sia unggul teori di kampus, namun belum tentu dia bisa unggul dalam praktek di perusahaan." Tutur Ibu yang berusaha menolak atas apa yang disampaikan oleh paman Andi Syafar.
Mendengar ucapan Ibu, membuat senyum cerah paman Andi Syafar tadi menghilang bak ditelan bumi. Terlihat dari raut wajahnya, dia sedikit goyang dengan ucapan Ibu. Karena apa yang diucapkan Ibu ada benarnya juga. Jika paman tetap ingin menaikkan Gio sebagai direktur utama, maka dia harus bisa melawan ucapan dari Ibu dengan perkataan yang lebih masuk akal dan mendukung.
Sial! Gumam paman, kesal.
"Maaf saya menyela ucapan nyonya." Potong Zayn sambil kembali duduk tegap.
"Andi Firman bisa belajar sambil memimpin W Mall Center dan saya sendiri yang akan memantau dan memandu Andi Firman selama dia menjadi direktur utama. Lagian, Andi Firman adalah pemuda yang cerdas dan juga cepat tanggap sepertiku. Jadi.. Saya rasa, dia tidak akan memakan waktu lama dalam belajar. Berbeda dengan seseorang yang sudah beberapa minggu ini saya pandu, namun kerjanya bolos terus." Sambung Zayn, diakhiri dengan sedikit tawa.
"Apa kamu baru saja menghinaku, Zayn?" Seru Sabi.
Zayn terkekeh.
"Apakah kamu merasa bahwa kamulah yang kusebutkan tadi?! Padahal Saya sama sekali tidak menyebutkan nama anda tuan muda." Jawab Zayn enteng.
Apa?! Sabi meremas kertas yang ada didepannya dengan geram.
"Namun jika anda terlalu merasa bahwa diri anda yang saya sebutkan tadi, maka segeralah intropeksi diri, bekerjalah lagi lebih giat dan kurangi bolos kerja. Ini kan bukan sekolah, hanya bocah skolahan saja yang kerjanya bolos." Sambung Zayn, melirik Sabi dengan wajah datarnya.
"Yyaa! Zayn!" Bentak Sabi sambil memukul meja.
"Mohon tuan muda Andi Sabiru, diharapkan untuk tetap tenang." Ucap moderator, berusaha tetap mengendalikan suasana rapat.
"Sabi.." panggil Paman yang berusaha tetap tenang.
Tangan Ibu segera merangkul lengan Sabi. Menahan Sabi agar tidak bertindak lebih jauh lagi.
"Saya rasa, persoalan Andi Firman yang akan diangkat menjadi direktur utama tidak tepat untuk dibahas dalam agenda rapat hari ini." Ibu memotong perseteruan diantara Sabi dan Zayn.
"Saya memang belum akan membahas soal itu hari ini. Namun, kalian semua terlalu tegang dan bertindak terlalu berlebihan." sergah paman diselingi tawa khasnya.
"Saya hanya ingin mengumumkan! namun persoalan sepakat atau tidak sepakatnya, sudah saya jadwalkan kapan kita akan mengadakan rapat kembali untuk membahas pengangkatan putra sulung saya menjadi direktur utama dan saya menjadi CEO dari W Mall Center." Sambung Paman.
"Apaa?!" Seru Ibu tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Apa aku tidak salah dengar?" Tanya Ibu, berusaha memastikan bahwa dia tidak salah mendengar apa yang diucapkan oleh paman.
"Tentu saja kamu tidak salah dengar adik iparku." jawab paman enteng dengan tatapan merendah.
"Apakah Ibu sudah bersedia memberikan W Mall Center padamu seutuhnya?! Karena setahuku, kamu bukanlah pewaris utama." tutur Ibu geram.
"Itu akan kita bahas menyeluruh pada rapat selanjutnya. Jadi.. Bersabarlah. Jangan memandangiku seperti itu adik ipar." Saut Paman sembari tersenyum tipis, menatap Ibu.
Segera Ibu memalingkan wajahnya dan berdesis geram.
Rapatpun berakhir.
Terlihat raut - raut wajah yang masam ketika keluar dari ruangan rapat, mereka dari kubu yang sependapat dengan Ibu. Namun ada juga yang keluar dengan raut wajah yang tetap biasa saja, mereka dari kubu paman Andi Syafar.
Begitulah suasana akhir dari rapat hari ini. Tidak selamanya semua orang akan membela pemimpin dan tidak semua orang akan selalu sependapat. Sehingga menyebabkan akhir rapat yang gaduh dan sedikit emosional.
...........
Di dalam ruangan Sabi, terlihat Ibu yang duduk dengan keadaan gelisah sambil memandang keluar jendela berusaha mendapatkan ide, atau apapun untuk menghentikan paman mengadakan kenaikan Andi Firman sebagai direktur utama.
"Ibu.. tenanglah. Jangan terlalu dipikirkan." Seru Sabi, menyadarkan Ibu dari pikirannya.
"Bagaimana Ibu bisa tenang Sabi?! Ibu memikirkanmu!" tegas Ibu.
Sabi terlihat sedikit terkejut. Ternyata apa yang diduganya dari tadi, benar. Ibu menghawatirkan posisinya akan terancam di perusahaan. Belum lagi jika Gia adik dari Gio telah menyelesaikan kuliahnya, maka pastilah dia akan tergeser dan Ibu sudah memikirkan semua itu.
Perasaannya pun ikut tak tenang. Segera Sabi melirik Zulaikha yang sedari tadi berdiri dan terus diam di samping kursinya.
"Hey.. kamu.." panggil Sabi sembari menunjuk Zulaikha dengan jari telunjuknya.
"Iya tuan." Zulaikha menjawab lembut.
"Keluar!" pintahnya ketus, sambil menunjuk pintu keluar.
"Aa?!"
"K E L U A R!" Bentak Sabi kesal.
"Ba baik tuan." jawab Zulaikha terbata. Lalu sedikit berlari keluar dari ruangan Sabi.
"Ibu.. berhentilah. Sabi tidak apa - apa." seru Sabi memulai percakapan serius dengan Ibu.
"Tidak apa - apa bu.. Sabi tidak tertarik untuk menjadi direktur. Lagian menjadi direktur terlalu melelahkan dan membosankan. Aku muak dengan semua itu." Jawab Sabi berusaha meyakinkan Ibu.
"Lalu kamu mau menjadi apa? pengemis? gembel dijalanan? hah?!" seru Ibu.
"Bu.."
"Ibu tidak bisa membiarkanmu tersingkir. Ibu sudah sejauh ini untuk membawamu sampai di posisimu yang sekarang. Jadi Ibu tidak bisa diam saja, jika dia dengan mudahnya mengangkat dirinya sebagai Ceo dan putranya sebagai direktur utama. Ciih.." Imbuh Ibu geram.
"Apa maksud Ibu, sudah sejauh ini?"
"Hm?" Lidah Ibu mendadak keluh dan sontak terdiam ketika mendengar sebuah pertanyaan yang terlontar dari putra kesayangannya.
Rasanya Ibu kehilangan kata - kata untuk menjawab sebuah pertanyaan singkat dari putranya. Pertanyaan yang begitu singkat, namun sepertinya mengandung makna yang luas dan mendalam untuk Ibu.
"Bu.." panggil Sabi.
"Sabi.. Stop!" Ibu membentak halus Sabi.
Ibu semakin gelisah. Pikirannya semakin kacau. Rautan diwajahnya semakin nampak karena terlalu berpikir keras. Dia tidak bisa berlama - lama di ruangan ini bersama Sabi. Baginya terlalu berbahaya, hingga dia memutuskan untuk beranjak pergi.
"Ibu.." Panggil Sabi berusaha menghentikan Ibunya.
Pembicaraan mereka belum selesai, sebuah pertanyaanpun belum terjawab. Sabi tidak bisa membiarkan Ibu pergi begitu saja sebelum menjawab pertanyaannya.
"Stop Sabi!" Bentak Ibu melepaskan genggaman Sabi dari tangannya.
"Ada banyak hal yang harus Ibu urus hari ini. Tapi Ibu akan pastikan bahwa kamu, putra Ibu akan mencapai puncak sebagaimana mestinya." Imbuh Ibu lalu pergi dari ruangan Sabi.
Mendengar hal itu, Sabi mengalah dan membiarkan Ibu meninggalkannya dan menghilang dibalik pintu.
Tiba - tiba terlintas sebuah kenangan di kepalanya, layaknya seperti CD lama yang diputar kembali.
Kejadian yang dialaminya saat ini, sama persis dengan kejadian beberapa tahun yang lalu saat mereka masih tinggal di desa.
Flashback..
Sabi remaja terlihat menangis dengan raut wajah yang sangat kesal, sambil memegang tangan Ibu.
"Stop Sabi!" bentak Ibu melepaskan genggaman tangannya.
"Ibu.." isak Sabi.
"Ibu harus pergi. Tapi Ibu akan pastikan bahwa kamu, putra Ibu. Akan mencapai puncak sebagaimana mestinya." sambung Ibu, lalu pergi dari kamar Sabi dan menutup pintu kayu itu lalu menguncinya.
"Ibu... ibu..." teriak Sabi sambil terus menggedor - gedor pintu kamarnya, menangis dan terus menangis dengan terisak.
....
Kenangan itu muncul dan membuat kepala Sabi terasa nyeri. Dia terus mendesis kesakitan, berusaha menghentikan kenangan yang masih terus muncul dan berlanjut di kepalanya.
Zulaikha yang barusan masuk, menyaksikan tuannya mendesis kesakitan sambil memegang kepalanya. Dengan cepat Zulaikha berlari menghampiri sabi.
"Tuan muda.. apa yang terjadi tuan?" tanya Zulaikha, panik.
"Aarrghh.. kepalaku. Arrgh.." jawabnya dengan susah payah menahan nyeri.
"Tunggu sebentar tuan, saya akan memanggilkan bantuan." kata Zulaikha, lalu berlalu pergi.
Belum sempat dirinya melangkah dari Sabi, tangan Sabi dengan cepat menahan tangan Zulaikha.
"Ja jangan.. jangan panggilkan siapapun." ucap Sabi terbata dengan raut wajah kesakitan.
"Tapi tuan.."
Bruk!
Tubuh Sabi ambruk ke lantai.
"Tuan.. Tuan muda.." teriak Zulaikha panik.
Zulaikha segera berusaha mengangkat tubuh Sabi untuk dipindahkan ke sofa dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya. Namun nihil. Tubuhnya terlalu kecil untuk bisa mengangkat tubuh Sabi yang lebih besar darinya.
Karena tidak bisa mengangkat tubuh Sabi yang berat, dia akhirnya mengangkat kepala Sabi bersandar di pahanya sebagai bantal. Setidaknya dia melakukan sesuatu pada tuannya daripada tidak sama sekali. Karena mau dipanggilkan orang untuk membantu, Sabi melarangnya. Sehingga begitulah jadinya.
"Jangan memarahiku karena aku membiarkan tubuhmu terus di lantai. Itu salahmu, aku mau memanggil bala bantuan tapi kamu melarangku. Jadi seperti inilah keadaanmu." keluh Zulaikha pada Sabi yang masih pingsan di pangkuannya.
Tiba - tiba Zulaikha teringat sesuatu, jika dia mempunya balsem dalam saku roknya. Segera dia mengambil balsem itu lalu mengoleskannya di kepala dan juga hidung Sabi. Dengan harapan agar Sabi lekas sadar.
Selang setengah jam berlalu, sepasang mata yang tadinya tertutup. Perlahan - lahan terbuka, pupilnya menyesuaikan cahaya sekitar yang terlihat terang. Meskipun awalnya terlihat samar - samar, namun perlahan menjadi fokus dan terlihat sebuah wajah yang tengah memandanginya serius.
"Tuan muda.." panggil Zulaikha.
Nampak jelas wajah Zulaikha yang cuma berjarak beberapa senti dari wajahnya.
"Syukurlah tuan muda sudah sadar." ucapnya girang, sambil tersenyum.
Sebuah senyumanpun terlihat jelas di depan wajahnya. Senyuman yang menghantarkan sebuah rasa familiar baginya.
*Senyuman itu...
Bersambung*...