
Setelah diusir dari ruangan bossnya. Zulaikha tak punya pilihan lain selain menurut. Karena berdiam diri didalam ruangan Sabi, tidak akan membuat amarah Sabi mereda. Disisi lain dia juga merasa bersalah, seandainya kemarin dia tidak melakukan hal bodoh itu pada tuan muda Sabi, mungkin nasibnya tidak akan menjadi seperti ini.
Dipojokkan ruang tunggu kantor, terlihat Zulaikha yang duduk termenung dengan wajah lesu, sambil mengingat - ingat kejadian saat di rumah sakit.
***
(Di rumah sakit)
"Jangan mendekat!" Zulaikha sedikit berteriak, melarang Sabi untuk mendekat.
"Kenapa memangnya? jangan - jangan kamu pencuri yaa.. pencuri yang mengatai orang lain pencuri!" Ucap Sabi tegas.
Disekitar mereka, orang - orang mulai berdatangan menyaksikan mereka berdebat. Baik tua maupun muda, mereka ramai asik menonton. Beberapa pria paruh baya telah menyiapkan diri mereka untuk menangkap salah satu dari mereka, yang terbukti sebagai pencuri asli.
"Apakah kamu sudah yakin menuduhku pencuri?" tanya Zulaikha yang masih berusaha berpikir untuk keluar dari situasi gila ini. Dia bisa saja langsung lari, tidak tanpa obat milik ayahnya. Ayahnya membutuhkan obat itu sebagai penenang untuk jiwanya yang sedang terluka akibat kehilangan salah satu anak gadisnya. Oleh sebab itu, Zulaikha tidak bisa pergi begitu saja tanpa obat itu.
"Tentu saja.. kalau bukan, untuk apa kamu tidak berbalik. kenapa? kenapa? haaa?" Ucap Sabi ngotot.
Ya ampun ni orang sudah salah ngotot lagi! kenapa siih ni orang?! koslet?!
"Maaf.. anda bisa memeriksa nama yang ada pada kantung obat itu. Saya bisa jamin, dikantong obat itu bukan nama anda kan tuan?!" Ucap Zulaikha yang tiba - tiba teringat bahwa dikemasan obat tertera nama pemilik obat.
"Cepetan diliat masss.." seru orang - orang yang sedari tadi menonton pertengkaran mereka.
Tanpa ragu - ragu Sabi segera mencari name tag yang ada pada pembungkus obat, dan alngkah terkejutnya. Ternyata nama yang ada pada bungkusan obat itu, bukanlah tertera nama Jones melainkan Josep S.
Semangat membara yang dari tadi membuatnya ngotot berkoar - koar, kini seketika luntur. Lidahnya mendadak keluh, ingin rasanya segera nenghilang dari tempat itu karena rasanya malu sekali.
"Bagaimana tuan?" tanya Zulaikha yang masih membelakangi Sabi.
"Hmmm.." Gumam Sabi mengiyakan pertanyaan Zulaikha.
Suara sabi yang begitu kecil, membuat Zulaikha tak bisa mendengar dengan jelas apa yang Sabi katakan. Disamping mereka juga banyak sekali orang yang sedang menyaksikan mereka, sambil ikut menebak - nebak siapa yang merupakan pencuri diantara mereka berdua.
"Apa? bisa anda katakan lebih keras?!"
Siaal..! Sabi.
"Hmm.. iyaaa." Jawab Sabi dengan berat hati, sambil menaikkan topi jaketnya. Berusaha menutupi wajahnya.
"Iiyaa apa mass?" teriak salah satu wanita paruh baya yang sedari menyaksikan mereka berdua.
Aiiisshh... keluh Sabi kesal.
Sabi tetap diam dan enggan untuk bersua. Rasanya malu untuk mengakui bahwa dirinya yang salah, apalagi telah disaksikan oleh banyak orang.
"wwooii mas.. kenapa diam aja?! jangan - jangan mas yaa pencurinya?!" Orang - orang mulai bersorak -sorai menyudutkan Sabi yang masih diam berusaha untuk mengakui kesalahannya.
"Iya.. ini obat miliknya.." ucap Sabi tegas.
"Huuuu pencuriii!" seru orang - orang setelah mendengar pernyataan Sabi. Semakin menyudutkan Sabi.
"Hey.. ini memang obat dia, tapo bukan berarti saya mencuri obat dia. Saya hanya salah ambil obat!" Bantah Sabi berusaha membela dirinya.
"Iyaa.. dia tidak mencuri obat saya, dia hanya salah ambil." Bela Zulaikha, berusaha meluruskan kesalahpamahan. Karena tidak mungkin seorang direktur Andi Sabiru mau mencuri sebuah obat yang harganya bahkan lebih murah daripada kaus kaki yang biasa digunakan oleh Sabi.
"Bohooong! bohooong!" seru orang - orang yang tidak percaya akan kata - kata Sabi. "Mba jangan takut... kami saksi mata, kalau dia macam - macam kami akan melindungi mba." teriak salah seorang penonton.
Astagaaah.. kenapa jadi begini siih?! Zulaikha.
Siaaal..! Sabi
"Cepat katakan, aku bukan pencuri!" bentak Sabi, kesal.
Ni orang kenapa sih? minta tolong baik - baik kan bisa! keluh Zulaikha, kesal.
"Maaf bapak - bapak ibu - ibu.. benar bapak ini bukan pencuri. dia hanya salah ambil obat. Buktinya dia bakal ambil obatnya di apotik sana, oke?!" Ucap Zulaikha dengan sedikit berteriak, agar suaranya bisa didengar oleh penonton yang sudah terlanjut berkoar - koar kesal pada Sabi. Masih tetap dalam posisi membelakangi Sabi.
"Ini cepat ambil obat kamu!" ketus Sabi.
Mendengar ucapan Sabi, Zulaikha dengan cepat mengulurkan tangannya kebelakang mengambil obatnya yang masih dipegang Sabi. Sabi mengulurkan obat itu, tangan kecil Zulaikha meraih obat itu dan menarik kembali tangannya. Namun.. tiba - tiba, Sabi tetap menggenggam kuat dan menahan obat yang ada pada tangannya. Dia lalu menarik tangannya, hingga pertahanan Zulaikha goyah, tubuh mungil itu seketika tertarik kebelakang dan berbalik mengantam tubuh Sabi.
Zulaikha melirik keatas kepalanya, disana dia mendapati sebuah wajah tampan menatapnya dalam dan tajam. Tatapan itu.. seolah tidak asing baginya. Zulaikha bisa merasakan ada kehangatan dan juga kenyamanan dibalik tatapan itu. Begitu nyaman menatap mata itu, hingga dia lupa akan sekelilingnya.
"Hey.. heeyyyy..." seru Sabi berusaha mengalihkan tatapan Zulaikha yang membuatnya risih. "Bodohhh!!!" ucap Sabi, seraya mendorong jidat Zulaikha dengan jari telunjuknya. Berusaha menjauhkan tubuh Zulaikha darinya.
Seketika Zulaikha sadar, dan merasa malu atas sikapnya sendiri.
"Aaishh.. Dasaaarrr gila!" seru Zulaikha sambil mengambil obat miliknya dari tangan Sabi, lalu berlari meninggalkan Sabi.
"Kurangajar! kamu yang gilaaa! dasar cewe gilaa!" teriak Sabi, kesal.
***
Aaaaa... tamat sudah riwayatku! Aku sudah mengatai seorang direktur dengan kata 'gila'. Bos mana yang tidak akan marah jika diberikan pegawai yang kurangajar sepertiku. Bodoh..Bodoh.. Bodoh.. Kenapa kamu bisa begitu bodoh hanya karena tatapan ituuu?! Aaaah.. Aku bisa gilaaa! Zulaikha mengutuk dirinya sendiri, sembari memukul - mukul pelan kepalanya.
Zayn yang saat itu sedang lewat, tidak sengaja melihat Zulaikha yang sedang duduk di pojokan sambil memukul - mukul kepalanya.
"Apa yang dilakukannya disana? bukankah seharusnya dia di ruangan manusia abnormal?!" Seru Zayn, lalu menghampiri Zulaikha. Diikuti dengan Ridwan yang setia mengikuti dari belakang sambil memeriksa isi tab yang dia pegang.
"Apa yang kamu lakukan disini? kenapa kamu bermalas - malasan pada saat jam kerja seperti ini?!" Ucap Zayn dingin.
Seketika Zulaikha segera berdiri dari duduknya sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Maaf pak.. saya diusir tuan muda Sabi dari ruangannya."
"Diusir bukan berarti membuatmu harus bermalas - malasan seperti ini disini! tidak ada yang namanya alasan untuk tidak bekerja pada saat jam bekerja! Pegawai sepertimu hanya akan merusak citra perusahaan!" Ucap Zayn, tanpa ekspresi namun dengan nada yang menusuk. "Dasar pemalas!" Sambung Zayn.
Pantas saja tuan muda Sabi dan Zayn tidak akur, ternyata mereka sama - sama menyebalkan. Zulaikha.
"Maaf pak.. tapi sepertinya tuan muda membenci saya kare_"
"Mau dia membencimu atau ingin memakanmu hidup - hidup, selama kamu masih bernyawa, pergi sana bekerja!" Potong Zayn yang tidak suka mendengar alasan. "Ridwan.." panggil Zayn tanpa menoleh.
"Iya tuan muda.."
"Sepertinya ada lagi kutu yang harus kamu atasi." Ucap Zayn.
"Baik tuan muda.." Angguk Ridwan patuh, seakan mengerti apa yang dimaksud Zayn.
Zayn lalu pergi meninggalkan Ridwan dan Zulaikha.
Kutu? Apa yang mereka berdua bicarakan?! Zulaikha.
"Apa urat malumu sudah putus?" tanya Ridwan kesal.
"Hahh?!" Zulaikha masih belum paham.
"Segera ke lantai 3, temui Ibu Novita. ambil gajimu disana, dan jangan pernah lagi kembali ke perusahaan." Ucap Ridwan tegas.
Apaa?! Aku dipecat?! secepat ituuu! Aku bahkan belum melakukan apa - apa.
"Pak maafkan saya, saya akan bekerja lebih keras lagi.." Sahut Zulaikha memohon.
"kutu seperti dirimu yang suka bermalas - malasan tidak pantas berada ditempat ini. Pergilah.. kami tidak membutuhkan orang yang tidak berguna seperti dirimu!" bentak Ridwan, lalu pergi meninggalkan Zulaikha.
Apa? jadi yang mereka maksud kutu tadi aku?!
"Saya mohon paak.. jangan pecat saya. Saya membutuhkan pekerjaan ini." Zulaikha memelas sambil terus mengikuti Ridwan. "Pak.. saya mohon. Saya akan bekerja lebih keras. jangan pecat saya."
"Pergi sana!" Ridwan mendorong tubuh Zulaikha menjauh darinya.
Aku tidak akan pergi!
Zulaikha tetap gigih dan ngotot mengikuti Ridwan. Dia tidak mempedulikan lagi dengan urat malunya. Dia pasrah, terserah orang kantor mau bicara apa tentang dia. Dia tidak peduli, karena di rumah sedang ada seorang ayah yang sedang menunggunya untuk diberi makan.
Zulaikha kehabisan akal, dia lalu dengan cepat berdiri didepan Ridwan. Mencegat Ridwan, sambil membentangkan kedua tangannya. Berusaha menghalau Ridwan, agar Ridwan mau mendengarkannya.
"Pak.. beri saya satu kesempatan! Saya janji, saya akan bekerja dengan rajin! bahkan ketika tuan muda Sabi mengusirku, aku akan tetap bekerja, bekerja, bekerja dan bekerja. Saya janji!" Zulaikha sedikit berteriak, menatap Ridwan yakin, dan penuh harap.
"Minggir!" tanpa memikirkan perkataan Zulaikha, Ridwan menghempaskan tubuh kecil Zulaikha hingga dia jatuh dan tersungkur. "Buktikan!" Sambung Ridwan, lalu pergi meninggalkan Zulaikha yang matanya mulai berkaca - kaca. Sedikit lagi mungkin kita bisa melihat sebuah air mancur bercucuran dari pelopak matanya, jika Ridwan benar - benar mengacuhkannya.
Okeee.. Meskipun hari pertamaku bekerja sial. Kalian liat saja nanti, aku Zulaikha akan bekerja dengan keras! Aku akan terus bekerja meski manusia itu mengusirku berkali - kali. Akan kubuat dia jadi bergantung padaku! Seru Zulaikha menatap sembarang tempat dengan tatapan tajam dan antusias sambil tersenyum.
Bersambung...