
"Tidak. Aku tidak mau." Ucap Queen menolak mentah - mentah tawaran dari Sabi.
"Yyaa! kamu sudah tinggal di rumahku, jadi setidaknya balas aku dengan bekerjasama denganku." Bentak Sabi, kesal.
"Kenapa berteriak padaku? aku semakin malas denganmu." Queen mendelik, melirik Sabi kesal lalu meninggalkannya.
Sabi yang tidak ingin kehilangan kesempatan berharga ini, tidak akan melepaskan Queen begitu saja. Sesegera mungkin dia menarik tangan Queen, hingga menghentikan langkah Queen.
"Lepaass.."
"Tidak. Tidak sampai kamu mau bekerja sama denganku." Ledek Sabi, menunjukkan tangan kokohnya yang berhasil menangkap tangan kecil Queen.
"Apa kamu sudah gila? Lepas!" Queen mengayun - ayunkan tangannya berusaha melepaskan genggaman tangan Sabi dari tangannya.
Namun tangan Sabi begitu kuat untuk dilepaskan begitu saja dengan tenaganya yang belum sepenuhnya pulih.
"Tidak, sampai kamu mau bekerjasama denganku." ucap Sabi lagi, masih berusaha memaksa Queen.
"Heii.. ini tindakan kejahatan. Kamu menyakiti orang sakit!"
"Oh yaa?! Tadinya aku berfikir begitu." Sergah sabi meledek ucapan Queen yang berlagak lemah di depannya.
"Ku pikir kamu sedang sekarat, berjuang dengan maut. Ternyata kamu masih segar - segar saja seperti tidak ada hal buruk yang terjadi padamu. Pintar sekali kamu berbohong, sampai membuat Paman Edie panik luar biasa." sambung Sabi yang masih kesal menyebut nama paman Edie, semakin mempererat genggaman tangannya.
Queen mendesis nyeri, remasan tangan Sabi membuat tangannya terasa nyeri dan memerah. Jika terlalu lama tangannya di remas Sabi seperti itu, bisa - bisa tangannya akan patah, pikirnya.
"Apa? Paman Edie? siapa lagi itu?!" Queen semakin bingung dibuat Sabi.
"Bisa - bisanya kamu tidak tau dia. Dia itu_"
"Tuan mudaa.." teriak Zulaikha menghampiri Queen dan Sabi yang masih berdebat.
"Hei aku sudah menemukannya." seru Sabi, menoleh ke arah Zulaikha.
Melihat Sabi yang tengah lengah menyapa Zulaikha, Queen segera mengambil kesempatan untuk kabur dari tawaran Sabi. Jika tidak sekarang, bisa - bisa dia terus di paksa untuk bekerjasama dengannya. Sementara Queen sudah bertekad untuk beristirahat, dan fokus untuk mengejar Zayn. Tidak ada lagi bekerja. Dia hanya ingin mengejar Zayn, itu saja.
Dasar Gila!
Dengan cepat Queen segera menggigit lengan Sabi dengan sekuat tenaga. Sabi merintih kesakitan, dan refleks melepaskan genggaman tangannya pada Queen.
"Yyaa! Apa yang kau lakukan hah?!" Teriak Sabi geram.
Namun saat dia berbalik, Queen sudah tidak ada ditempat dia berdiri tadi. Queen sudah lebih dulu lari, pada saat Sabi mengerang kesakitan seperti bayi.
Eh.. dia dimana?
"Tuan muda.. dia lari kesana." Ucap Zulaikha, menunjuk ke arah pintu keluar.
Aiissh. dasar merepotkan! Tidak di rumah, tidak di tempat umum, selalu menyusahkanku.
"Heey.. jangan lari!" teriak Sabi, memancing perhatian pasien dan perawat UGD.
Segera Sabi berlari mengejar Queen.
"Tuan.. tuan.." teriak seorang staff UGD yang berusaha menghentikan Sabi. Namun Sabi tidak menoleh, malah terus berlari mengejar Queen.
Zulaikha yang berada di belakang Sabi, refleks berhenti dan berbalik. Melihat staff UGD yang memanggil mereka untuk mendekat ke lobi.
Zulaikha kembali melirik Sabi yang sudah berlari meninggalkan ruang UGD. Lalu dia kembali melirik staff yang datang menghampirinya.
Aiisshh..
"Ada apa ya?" tanya Zulaikha, gelisah.
"Mohon maaf mba. Administrasi nona tadi belum di selesaikan." jawab staff UGD.
"Astagah.. aku pikir dia sudah mengurusnya tadi." seru Zulaikha kaget melihat nota biaya perawatan Queen.
"Maaf mba belum, jadi bisa ke loket sebentar?!" ajak staff itu, menuntun Zulaikha menuju loket.
Aiisshh.. sial! belum juga gajian, tapi pengeluaranku sudah sebanyak ini.
...........
"Hey.. berhenti!!!" teriak Sabi yang masih mengejar Queen.
Sial! kenapa dia begitu gigih mengejarku sih? Andai saja aku sedang tidak lemah seperti ini, sudah kubanting dia! Gumam Queen, kesal. Sesekali menoleh ke belakang memeastikan keberadaan Sabi yang terus mengejarnya.
"Berhenti mengejarku.. aku tidak mau bekerja sama denganmu!" teriak Queen, terus berlari sambil menghindari beberapa orang yang sedang berjalan di depannya.
"Tidak, aku tidak akan berhenti mengejarmu sampai kamu mau bekerja sama denganku." balas Sabi berteriak, tak sengaja menyambar beberapa orang yang ada di depannya.
Queen tetap keras menolak tawaran Sabi, dia semakin mempercepat larinya yang tanpa dia sadari, dia berlari tanpa mengenakan sepatunya.
Perlahan - lahan dia merasa perih dan dingin sekaligus di bagian telapak kakinya. Kepalanya sekali lagi menoleh kebelakang melirik posisi Sabi yang tepat berada di belakangnya.
Aah.. kakiku sakit. rintihnya, memelankan langkahnya lalu melirik kakinya yang telanjang tidak mengenakan sepatu.
Aishh.. pantas!
Diliriknya ke sekitar berusaha mencari jalan yang cepat untuk menghindari Sabi yang berusaha mengejarnya. Tidak ada jalan berbelok ke kiri, jika berlari terus ke depan dia akn terus di kejar Sabi. Jika berbelok ke kanan, disana ada lampu lalu lintas yang sedang merah.
Ahaa! ambil jalan kanan. Serunya riang, melanjutkan langkahnya yang mulai pincang.
Gawat! dia mau menyebrang. Sabi semakin mempercepat larinya, berusaha mengejar Queen.
Lampu lalu lintas mulai berganti warna menjadi merah. Semua pejalan kaki berhenti untuk lewat jalan penyebrang untuk pejalan kaki.
Masih bisa. Masih ada waktuku 5 detik untuk menyeberang ke sebelah, sebelum kendaraan mulai berjalan.
Queen terus melangkah menyeberang jalan. Pejalan kaki lainnya berteriak, dan terus meneriakinya memberi peringatan. Namun dia tetap keras kepala. Langkah kakinya yang mulai terseok, terus berusaha lari menyeberangi jalan yang besar itu.
Sabi yang menyaksikan itu, tidak tinggal diam. Dia juga segera menyeberang menyusul Queen. Menambah kecepatannya. Kendaraan mulai berjalan, mobil - mobil ramai memberikan suara klaksonnya.
"Maaf.. maaf.." ucapnya berlari sambil menghindari mobil yang lalu lalang di depannya.
Sementara Queen terus berlari dengan kecepatan yang sudah berkurang banyak, karena telapak kakinya yang terasa perih hingga membuatnya setengah pincang.
Jauh dari arah sebelah kiri, datang sebuah mobil dengan kecepatan di atas rata - rata. Jika Queen tidak cepat sampai ke pinggir jalan, dia bisa tertabrak mobil itu. Sabi yang melihat hal itu, segera berlari sekuat tenaganya, sembari menghindari mobil - mobil yang terus berlalu lalang di jalanan.
*Piiiiiiiiipppp piiiiipppp...
Suara klakson mobil itu semakin terdengar kuat dan dekat. Queen menoleh ke arah klakson. Matanya membulat sempurna melihat mobil yang datang ke arahnya. Seketika sebuah serangan panik datang padanya, membuat jantungnya berdebar kencang dan membuatnya kesulitan bernafas.
Sebuah kenangan buruk, terlintas datang menghampirinya. Kenangan yang membuatnya kesulitan bernafas dan juga membuat tubuhnya kaku seketika. Kenangan buruk itu adalah kejadian saat dia mengalami kecelakaan mobil beberapa tahun yang lalu, merenggut banyak hal darinya dan juga membuat trauma yang begitu mendalam untuknya.
"Queen.." teriak Sabi, masih terus berlari mendekatinya.
*Piiiiipppp... piiiiippppp
Mobil itu kembali memberi klakson peringatan agar segera menyingkir dari jalanan. Sepertinya dia hilang kendali. Orang - orang ramai meneriaki Queen yang diam membisu, ketakutan menghadapi traumanya.
Segera Sabi meraih tangan Queen lalu menarik Queen ke arahnya. Tubuh Queen tertarik, menghantam tubuh Sabi. Kedua tangannya langsung melingkar memeluk Queen, memberikan perlindungan. Tubuh mereka menyatu tanpa jarak sedikitpun.
*Ceettttt!!!
Mobil itu langsung berhenti di tempat Queen berdiri tadi.
"Yaa..!!! Apa kamu gila hah? untung saja kamu sudah menyingkir. Jika tidak, jadi tempe tadi kamu. Huuf.. padahal sudah ku rem sekuat tenagaku tadi." Teriak pengendara mobil itu. Disusuli suara klakson yang riuh dari pengendara lainnya.
"Maaf.." ucap Sabi pada pengendara itu.
Pengendara itu lanjut, menancapkan gasnya sambil terus memaki - maki Queen dan Sabi. Orang - orang yang berkumpul melihat kejadian itu, bubar dan kembali tenang.
"Ayo kita menepi." ucap Sabi, sambil mengangkat tubuh Queen dengan kedua tangannya.
Aaa?! seru Queen, kaget merasa tubuhnya diangkat oleh Sabi.
Perlahan - lahan dia membuka matanya dan menyaksikan wajah Sabi yang sedikit berkeringat dari bawah. Suasana sore hari yang saat itu teduh dengan awan yang cerah, membuat wajah Sabi semakin bersinar dilihatnya.
Mata Queen mengerjap beberapa kali, tak percaya apa yang dilihatnya. Sabi melirik Queen, merasa dirinya sedang diperhatikan. Dengan cepat Queen kembali menutup kedua matanya, menghindari lirikan mata Sabi.
Sial! hampir saja ketahuan. Bisa - bisa nanti dia ke geeran. Gumam Queen.
"Hey.. kita sudah sampai di trotoar." seru Sabi.
Queen masih diam dan belum mau membuka kedua matanya.
Apa dia pingsan? atau tidur?
"Queen.." panggil Sabi sambil membenturkan dahinya pada dahi Queen.
"Aa.." Queen mendesis, membuka kedua matanya.
"Yyaa! apa yang kau lakukan?" bentak Queen, menyembunyikan rasa malunya dengan perbuatan Sabi.
"Aku pikir kamu pingsan." celetuk Sabi, cuek.
"Tidaklah..." sergah Queen berlagak cuek.
"Ya kalau gitu turun!" bentak Sabi, sambil menggoyang - goyangkan tubuh Queen.
Queen tertawa kecil atas perbuatan Sabi padanya. Dia tidak bisa menyembunyikan tawanya dari Sabi. Tangannya memukul Sabi beberapa kali meminta Sabi untuk berhenti melakukan tindakan konyolnya itu.
Sabi memperhatikan tawa wanita yang sedang dia gendong itu, begitu renyah layaknya bayi. Seolah ketakutan yang sempat dia lihat tadi saat dijalan, langsung hilang berganti bahagia.
Semakin melihat tawa Queen, dia semakin masuk ke dalam dunia bahagia yang Queen torehkan dibalik tawanya. Seutas senyuman terukir di wajah Sabi, membentuk dua buah sumur di masing - masing pipinya.
"Hey.. turunkan aku." seru Queen menepuk dada Sabi, menyadarkan Sabi dari hipnotis tawa Queen.
"Aa? oh iyaa.." Sabi tersadar dari pikirannya dan segera menurunkan Queen dari kedua tangannya.
Queen mengatur keseimbangannya dengan kakinya yang terasa perih. Namun tiba - tiba tangan Sabi menarik Queen lagi, membuat Queen menengok Sabi dan menatapnya tajam.
"Hey.." seru Queen.
"Jangan mencoba kabur lagi." ucapnya membalas tatapan mata Queen.
"Hmm.. Maaf jika tadi aku kasar. Tapi berbahaya jika kamu kabur lagi. Tadi kamu hampir tertabrak. jika kamu kabur lagi, aku mungkin tidak bisa menyelamatkanmu lagi." Sambungnya, mengalihkan pandangannya.
"Aku tidak akan kabur lagi jika kamu tidak memaksaku untuk bekerjasama denganmu."
Sabi menarik nafasnya panjang.
"Hey.. aku mohon. Bekerjasamalah denganku. Aku membutuhkanmu sebagai juri di acara itu dan juga sebagai desainer di acara itu." bujuk Sabi memegang kedua pundak Queen sambil menatap kedua mata Queen.
"Kalian bisa mencari orang lain. Aku sudah istirahat. Ada hal yang ingin aku lakukan, dan itu tidak mudah."
"Aku akan membantumu melakukan hal itu. Ku mohon, tolonglah aku."
"Maaf aku tidak bisa." Tolak Queen, menyigkirkan kedua tangan Sabi dari pundaknya.
"Aku mohon Queen.. Hanya kamu yang bisa membantuku. Pliiss.." Sabi kembali memegang kedua pundak Queen, menatapnya dengan tatapan putus asa.
"Stupid!" maki Queen melepaskan tangan Sabi lagi dari pundaknya.
"Aku tidak bisa. Aku tidak bisa menyia - nyiakan waktuku untuk acara itu. Karena ada yang harus aku lakukan. Ku mohon jangan memaksaku." Queen berbalik, membelakangi Sabi.
"Carilah orang lain, ada banyak desainer di dunia ini. Bukan hanya aku." Sambungnya melangkah, meninggalkan Sabi.
"Queen.. aku akan melakukan apapun untuk membantumu. Asal bantulah aku. Aku mohon." teriak Sabi, memohon berusaha menahan Queen.
Queen tetap tidak peduli, dan terus melangkah meninggalkan Sabi.
"Aaishh.. Sialan Zayn pasti akan menjatuhkanku lagi." Seru Sabi menendang angin, kesal.
Apa? Zayn? Zed? Queen menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Sabi yang sudah seperti orang stres menendang - nendang angin, seolah - olah sedang menendang Zayn.
"Zayn siapa yang kamu maksud?" tanya Queen dengan sedikit berteriak.
Haa?!
"Zayn Adijaya, kenapa?" tanya Sabi, cuek dan putus asa.
"Kenapa kamu bisa berurusan dengannya?" tanya Queen lagi.
"Karna dia bekerja di kantorku, sebagai wakil direktur pengelola senior. kenapa?"
"Kamu bilang akan melakukan apapun untuk membantuku?"
"Iya. jika kamu mau membantuku." jawab Sabi ragu - ragu.
"Oke. Aku akan bekerjasama denganmu." sergah Queen sambil menjulurkan tangannya, sebagai tanda sahnya ikatan kerja diantara mereka.
Mata Sabi membulat sempurna, setelah mendengar ucapan Queen. Segera dia mendakti Queen dan menjabat tangan Queen erat, menatapnya penuh keyakinan dengan senyuman kemenangan di bibirnya.
"Baik." ucap Sabi penuh semangat.
Bersambung...
Jangan lupa Like yaa.. 😉 karena Like itu gratis dan tidak berbayar. Oke?!
Terimakasih telah membaca 😄