
Dalam rumah itu terlihat besar, luas dan megah dengan sentuhan style modern klasik gaya Eropa. Padahal jika dilihat dari luar, rumah ini terlihat seperti rumah besar biasa yang sama dengan rumah pada umumnya. Tapi ternyata desain dalam rumah ini begitu memanjakan mata setiap orang pecinta style Eropa.
Harus Sabi akui, rumah ini memang tidak sebesar rumah kediaman keluarga Andi, tapi tumah ini jauh lebih bagus daripada kediamannya jika dilihat dari desain. Membuatnya sesekali berdecak kagum melihat keseluruhan detail dari desain dan juga pernak pernik yang ada di rumah itu.
“We arrived! (Kita sampai!)” Ucap lelaki aneh itu, menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu besar, dengan corak bunga Lily putih disetiap sudutnya.
Sabi menoleh, dan Lelaki aneh itu membukakan pintu itu dengan gemulai dan sedikit lebay. Seolah-olah dia sedang membuka sebuah pintu istana, hingga membuat Sabi mendesis dan menatapnya dengan tatapan aneh.
Lelaki aneh itu masuk ke dalam ruangan itu dan Sabi terus mengikutinya. Disana terlihat beberapa pakaian yang telah terpajang rapih disebuah manekin tanpa kepala, dan beberapa potongan kain serta beberapa alat pallet yang berhamburan di lantai. Sangat berantakan.
Apa ini? Kenapa sangat berantakan?!
Sabi tidak percaya melihat ruangan besar dan vintage itu sangat berantakan.
“M. Eddie, est venu! (Tuan Eddie, telah datang!)” Seru Lelaki aneh itu dengan suara yang lantang, seolah sedang memberitahukan pada seseorang.
“Quoi? Vraiment? ce ne sera pas un peu plus tard dans l'après-midi ?! (Apaaa? Benarkah? Bukannya nanti sore?!)” Sebuah suara yang terdengar familiar di telinga Sabi, menyaut dari tempat lain yang terdengar sedikit jauh.
Sabi menoleh mencari sosok yang menyahut itu, namun bayangan dari sosok yang telah tergambar di kepalanya sama sekali tidak terlihat sedikitpun.
“Je ne sais pas non plus! (Aku juga tidak tahu!)” Sahut Lelaki aneh itu dengan bernada dan kuat, seperti sedang setengah bernyanyi.
“Miss Queen Lee was in another room. She will come. (Nona Queen Lee sedang berada di ruangan lain. Dia akan datang.)” Bisik Lelaki aneh itu, yang mulai ramah pada Sabi.
Sontak bulu kuduk Sabi langsung berdiri geli saat lelaki aneh itu berbisik padanya, atau lebih tepatnya ngeri lebih pantas untuk diucapkan daripada geli. Karena dia sangat tidak menyukai lelaki yang bergaya berlebihan seperti wanita, dan juga nyentrik.
Sebuah suara langkah kaki yang terdengar seperti setengah berlari, datang dari ruangan lain yang ada di ruangan itu. Memancing sorot mata Sabi dan melirik sosok itu yang tak lain adalah Queen Lee.
“Astagah, Saya minta maaf. Saya tidak tau bahwa Pa_” Ucap Queen menggantung saat melihat Sabi yang ada di depannya. “Biru?” Gumam Queen, sedikit terkejut melihat kehadiran Sabi yang tak terduga.
“Biru?” Gumam Lelaki aneh itu yang sama bingungnya juga dengan Queen.
“Maafkan aku sedikit mengecewakan ekspektasimu. Tapi, aku diminta oleh Paman Eddie kemari untuk melihat hasil rancanganmu.” Sabi menjawab kebingungan mereka.
“Ta ... tapi_”
“Paman Eddie dan Zayn, tidak bisa datang. Jadi aku yang mewakili mereka hari ini.” Sabi berusaha menjelaskan agar Queen tidak banyak bicara lagi, dan tidak membuat kehadirannya seperti tak diharapkan disini.
“Oh ... sayang sekali.” Sahut Queen, tersenyum simpul mendengar Zayn yang tidak jadi datang. Padahal tadi dia sangat senang.
“Apa maksudmu sayang sekali? Apa kamu tidak senang dengan kedatanganku?!” Sabi mendelik menatap Queen tajam. Membuat Queen langsung terkekeh canggung.
“Maksudku bukan seperti itu.” Queen membantah lembut, menggoyang-goyangkan tangannya di depan dada. “Ini adalah separuh dari hasil rancanganku. Kamu bisa melihatnya sendiri, sangat indah bukan?!” Queen bergerak ke salah satu pakaiannya, dan menyentuk pakaian itu dengan lembut.
“Et moi? (Bagaimana denganku?)” Seru Lelaki aneh itu dengan nada yang sedikit berbisik pada Queen, tapi Sabi masih bisa mendengarnya.
Queen tersenyum dan mengangguk mengerti, mendekati lelaki itu. “Oh iya, perkenalkan ini adalah Joy.” Ucap Queen, memperkenalkan Lelaki aneh itu pada Sabi.
“Joy, présente, c'est Andi Sabiru. Vous pouvez l'appeler Sabi ou Biru. C'est à vous de choisir celui qui rend votre cœur heureux. (Joy, perkenalkan ini adalah Andi Sabiru. Kamu bisa memanggilnya Sabi atau Biru. Terserah mana yang buat hatimu senang.)” Sambung Queen, dan Lelaki aneh bernama Joy itu membungkuk anggun pada Sabi, membuat Sabi kembali mendesis geli melihat Joy.
“Dia adalah perancang busana di rumah fashionku di Paris. Dia jauh-jauh terbang dari Paris kesini untuk membantuku menyelesaikan pakaian yang akan digunakan pada event kalian.” Jelas Queen, dan Joy tersenyum bangga meskipun Joy tidak tau dengan apa yang Queen ucapkan. Tapi Joh yakin, bahwa Queen sedang memujinya.
“Bukan hanya Joy saja. Tapi ada beberapa karyawan berbakatku yang aku datangkan dari Paris dan mereka semua sedang berada di ruangan sebelah, sedang fokus bekerja.” Sambung Queen.
“Apakah hanya ini saja?” Tanya Sabi memperhatikan beberapa pakaian yang terlihat sedikit dimatanya. “Peserta yang lolos tahap seleksi ada puluhan orang, dan kenapa hanya sedikit seperti ini?” Hardik Sabi.
Queen mendesis melihat sikap belagu Sabi, begitu pula Joy hang ikuti mendesis. “Pakaian untuk tema pertama sudah selesai dengan jumlah puluhan, berdasarkan jumlah peserta yang lolos tahap seleksi. Pakaian itu berada di ruangan lain.” Jawab Queen tegas.
“Lalu mana? Aku datang kemari untuk melihat seluruh rancanganmu. Bukan untuk melihat separuh seperti ini, dan .... dengan sampah yang berserakan dimana-mana.” Sabi menendang potongan kain yang ada di depan sepatunya, membuat Queen kembali mendesis kesal.
“Aaiiiissshh ...” Queen mendesis sambil melayangkan tinjunya ke depan wajah Sabi, benar-benar hampir mengenai wajah Sabi. Hingga membuat Sabi tertegun , langsung mengingat betapa nekadnya Queen saat dia marah. Kamu ini bisa tidak hangan banyak berlomentar?! Siapa suruh untuk datang lebih awal, sementaraL janji kunjungsnmu adalah sore.”jadi jangaj salahkan siapapun jika yang kamu lihat keadaannusa seperti itu. Sergah Queen kehilangan kesabarannya.
Bersambung ....