
Zulaikha melingo mendengar ucapan Sabi barusan.
Aisshh ... terlepas dari kepandaian dan kelincahannya dalam menyelesaikan pekerjaan, tapi tidak bisa menutupi fakta bahwa dia orang yang tidak seru. Seperti dugaanku sebelumnya. Sabi mendesis melihat Zulaikha.
“Pulang sana ke rumah, mandi lalu bawakan pakaian kerjaku.” Pintah Sabi.
“Baik, tuan muda.” Zulaikha mengangguk mengerti.
“Oh iya, sekalian antar ini ke kepala divisi periklanan.” Sambungnya sambil mendorong sebuah flash di atas mejanya.
“Saya pikir anda akan mengirimnya lewat email, tuan muda.”
“Kan ada kamu. Jadi kalau kamu mau mengirimnya lewat email, maka lakukanlah.” Sergah Sabi.
“Baik, tuan muda.” Zulaikha mengangguk mengerti, lalu pergi mengambil flash yang Sabi serahkan dan pergi melaksanakan tugas hang diperintahkan Sabi satu persatu. Dimulai dari pulang ke kediaman keluarga Andi, mengambil pakaian kantor Sabi.
Setelah Zulaikha pergi dari ruangannya, dia kembali melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 06.30. Dia lalu mengecek handphone nya, tidak ada pesan dari siapapun kecuali pesan dari Ibunya sendiri.
*Kamu dimana? Kenapa tidak pulang?
*Ibu menghawatirkanmu.
*Balas pesan Ibu, jika kamu membacanya.
Sabi menarik nafasnya, lalu tersenyum melihat 3 buah pesan yang berurut dari Nyonya Sura yang ternyata menghawatirkannya karena tidak pulang semalam. Wajar saja juka Nyonya Sura hawatir, karena Sabi bukanlah tipikal orang hang suka bermalam diluar rumah. Apalagi tanpa memberi kabar pada Nyonya Sura terlebih dahulu, pasti Nyonya Sura tidak bisa tidur dengan nyenyak semalaman karena memikirkan anak lelaki semata wayangnya itu.
Sabi mulai mengetik beberapa kata untuk membalas pesan dari Nyonya Sura, tapi tidak lama kemudian dia menghapusnya lagi. Jarinya seolah terlalu malas untuk mengetik panjang lebar, menjelaskan pada Ibunya tentang keadaannya sekarang. Jadi dia mengambil jalan pintas dengan langsung menelfon Nyonya Sura. Tidak butuh bangak dengungan di telefon, Nyonya Sura langsung mengangkat telfon dari Sabi.
“Halo ... Ibu.” Sapa Sabi, tersenyum ramah.
*Sabiru ... kamu dimana?
Terdengar suara Nyonya Sura yang sedikit ngegas dibalik telfon, sangatvterdengar hawatir dengan keadaan anaknya yang ternyata baik-baik saja di kantor.
“Sabiru di kantor, Bu. Aku minta maaf ya, lupa ngasih tau Ibu kalau aku lembur sampai pagi.” Ucapnya berusaha menenangkan pikiran Nyonya Sura.
*Lembur?! Tumbenan kamu lembur.
“Iya, Bu. Aku juga heran, ada apa dengan diriku sampai bisa lembur seperti ini.” Sabi tergelak tawa, disusuli Nyonya Sura yang juga tertawa mendengar ucapan putra semata wayangnya itu.
*Jangan bekerja terlalu keras, dan jangan terlalu memikirkan Gio. Dia tidak oantas menjadi penerus dalam perusahaan ini. Kamu yang lebih pantas dan berhak.
“Hm ... iya.” Sabi tersenyum kecut, mengepalkan tangannya. “Sudah ya, Bu. Sabi mau sarapan dulu.” Ucapnya ingin mengakhiri pembicaraan yang membuat kepalanya mumet ketika mendengar nama Gio disebutkan.
*Pulanglah, dan sarapan di rumah.
*Ya sudah ... ingat yah, jangan terlalu banyak bekerja hanya karena kamu hawatir tentang Gio akan menyingkirkanmu. Itu tidak akan terjadi! Karena orang seperti dia akan selalu berakhir kalah. Percaya sama Ibu, yah.
“Iya, Bu.” Sabi mengangguk mengerti, lalu segera mematikan telefon itu sebelum Ibunya akan membuat obrolan baru tentang Gio, yang tidak akan pernah habisnya.
Matanya menyapu ke seluruh ruangan, dan terpaku pada jasnya gang berserakan di atas sofa. Segera dia berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan mengambil jasnya itu. Beberapa saat matanya terpaku pada merk jas yang ada dibagian dalam jasnya, sebelum dia memakainya dan pergi keluar dsri ruangannya.
Beberapa karyawan terlihat mulai berdatangan, bahkan ada yang terlihat sedikit berlari dan sesaat berhenti untuk membungkuk, memberi hormat padanya dengan semangat.
Dia pasti anak magang. Gumam Sabi, menebak karyawan itu berdasarkan gerak-geriknya.
Dia pasti pegawai baru. Gumamnya lagi saat seorang karyawan yang sangat rapih melewatinya dan membungkuk padanya. Lalu dibalasnya dengan sedikit anggukan kepala.
Kakinya terus melangkah menuju lift, belum saja jaringa sempat menekan tombol pada pintu lift. Lift itu sudah terbuka dengan sendirinya dan disana telah berdiri seorang Andi Fargio Adam, sepupu yang paling dia benci.
Sabi langsung menelan ludahnya, melihat pemandangan yang sangat tidak mengenakkan ini. Ingin rasanya dia menghindar dan pergi, tapi Gio sudah terlanjur berada di depannya. Pergi dan menghindar dari Gio, hanya akan membuat dirinya terlihat menyedihkan dan Gio akan semakin merasa berkuasa.
Jadi mau tidak mau, suka tidak suka. Dia harus tetap masuk kedalam lift, sambil menarik nafas panjang dan Gio tersenyum penuh dengan kesombongan, menyambut Sabi.
“Kamu tidak keluar? Bukankah kamu menekan lantai 3 untuk keluar di lantai ini?!” Ucap Sabi, menahan pintu lift agar tidak tertutup. Berharap sepupunya itu mau keluar, sehingga dia bisa bernafas lega.
“Tadinya begitu, tapi sepertinya tidak lagi.” Jawab Gio, penuh dengan wibawa.
Katakan saja kalau kamu ingin bertemu denganku, untuk mengolok-olokku. Ciiihh ... Gumam Sabi, menarik tangannya dan pintu lift tertutup.
Seolah melampiaskan rasa kesalnya pada Gio, Sabi menekan tombol angka 2 dengan penuh kekuatan. Hampir membuat tombol itu jebol, tapi untung saja tidak.
“Apa kamu lembur?” Tanya Gio, melirik Sabi sebelah mata.
“Bukan urusanmu!” Tegas Sabi.
“Tentu saja ini urusanku, kamu tau sendiri bahwa aku adalah penerus perusahaan ini dan aku yang akan memegang penuh wewenang agas Mall W. Jadi aku harus tau apa yang dikerjakan oleh karyawanku, karena aku tidak suka karyawan yang seperi benalu.” Ucap Gio, menekankan ucapannya pada kata benalu, sambil melirik Sabi. Seolah kata yang diucapkannya itu ditujukan pada Sabi.
Sabi dengan jelas bisa melihat ekspresi Gio dari pantulan dinding lift. Membuatnya semakin geram dengan sikap Gio, yanh sok berkuasa padahal dirinya belum resmi diangkat menjadi CEO.
“Jika kamu ingin tau apa yang karyawanmu lakukan, maka jadilah CEO terlebih dahulu. Jangan banyak bicara apapun seolah kamu telah menjadi CEO. Kamu lebih terdengar seperti orang bisu yang terus bicara, tidak jelas!!!” Timpal Sabi, menekankan kalimatnya pada kata tidak jelas hingga membuat ekspresi sombong, Gio berubah menjadi ekspresi tidak senang.
*Ting!
Pintu lift terbuka, Sabi langsung melangkah keluar tanpa keraguan dan tanpa menoleh sedikitpun pada Gio yang tengah menatapnya kesal.
Yesss! Yees! Yeessss!!! Sabi bersorak kegirangan dalam batinnya.