FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
3. Persaingan



Beberapa hari setelah ujian tulis penerimaan karyawan baru dilaksanakan, Kini mereka harus melewati beberapa tes lagi yaitu, tes kesehatan, tes psikologi, tes membawa kendaraan, baik motor maupun mobil, tes kelincahan serta loyalitas para pelamar dalam menghadapi tugas yang diberikan Direktur.


Seleksi ini tidak heran membuat beberapa pelamar memundurkan diri secara suka rela karena merasa terbebani dengan berbagai tes yang harus mereka lewati. Beberapa pelamar menganggap tes ini terlalu berlebihan, namun bagi beberapa pelamar yang memiliki kesabaran mumpuni dan mental sekuat baja menganggap ini bukanlah apa-apa, karena pastinya gaji yang akan mereka peroleh setelah lulus pasti akan mampu membayar lelah dan keluh mereka saat ini.


"Seseorang coba tampar wajahku..." Keluh Bunga yang kelelahan. "Apa aku benar melamar di sebuah mall sebagai sekertaris?!" sambil mengipas - ngipas wajahnya yang kemerahan karena terlalu banyak terkena sinar matahari. "Mengapa aku merasa seperti melamar sebagai security? aaaaa... ini sangat sulit.." Merengek didepan cermin kecilnya.


"Apakah kamu lelah?" tanya seseorang yang duduk disebelah Bunga.


"iiiyaaa.." mengangguk-angguk lesu dengan ekspresi wajah memanja.


"kalau begitu berhentilah sekarang, agar sainganku berkurang satu."


Kening Bunga berkerut, wajahnya yang tadi memasang wajah manja mendadak berganti dengan ekspresi kesal. Bunga segera menoleh kesebelah dan mendapati Zulaikha, gadis yang pernah mengkritiknya beberapa hari yang lalu. "Loooh.. kamu masih adaa?!"


"Menurutmu?" sahutnya dengan percaya diri.


Bunga segera berdiri dari tempat duduknya dan terus melihatnya dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan teliti. Zulaikha turus membalas perlakuan Bunga dengan melihat Bunga dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Aa..!!!" Bunga berteriak kesal. Zulaikha tersenyum menang mendengar teriakan Bunga yang membuat mereka jadi sorotan oleh orang-orang yang ada disekitar mereka.


"Asstagahh... Kok bisa orang membosankan seperti kamu bisa bertahan sampai dibabak terakhir?! harusnya kamu sudah tereliminasi!" Cetusnya kesal sambil menunjuk - nunjuk Zulaikha dengan cermin andalannya.


"Makanya pakai otak!" jawab Zulaikha dengan percaya diri sambil menunjuk - nunjuk kepalanya dengan tatapan yang mengejek.


"Hahh?!"


Bunga menarik nafasnya dalam - dalam, berusaha menahan emosinya yang ingin meluap, sambil memegang cerminnya erat-erat yang sangat ingin dia pakai untuk menampar wajah Zulaikha.


Yaaa! Dasar ****** gila! dasar songong! muka tripleks! Tepos! semoga nanti kamu ketemu dengan orang yang lebih songong dari kamu!


Segera setelah memaki Zulaikha dalam hatinya, dia meninggalkan Zulaikha yang masih duduk menatapnya dengan tatapan mengejek.


Bunga segera masuk kedalam toilet dengan rasa kesal dan resah yang menghantui hatinya. Didalam toilet dia tidak henti - hentinya memaki Zulaikha sambil menghentak - hentakkan kakinya ke lantai. Untung saja didalam toilet hanya dia seorang, kalau ada pasti dia sudah dimarahi karena berisik.


"Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi, aku sudah begitu kesulitan untuk sampai dibabak ini.. Wajahku jadi berminyak dan iritasi, kulitku juga jadi belang dan tumitku jadi luka karena banyak kesana kemari memakai sepatu yang tinggi seperti ini.." keluh Bunga dengan tatapan putus asa.


Tiba - tiba seseorang masuk kedalam toilet dan memasuki toilet tepat disebelah Bunga. Toilet yang hanya berbataskan sebuah dinding tipis, membuat sedikit saja apa yang dia katakan dapat didengar orang disebelahnya, membuatnya segera membungkam mulutnya agar tidak terus berceloteh dan menggerutu.


"Oooh iyaaa...!" Tiba - tiba saja terbesit sebuah ide dikepalanya yang membuat senyumnya kembali merekah.


"Ini adalah babak terakhir dari tahap seleksi dan sebentar adalah sesi wawancara.. aku tahu apa yang harus aku lakukan." segera dia menggeledah isi tanya dan mengambil sebuah spidol permanen.


*Bunga segera melepas heels* nya dan merobek sedikit stocking nya dibagian telapak kakinya, lalu menuliskan sebuah nama yang tidak asing.


"Hehehee... Sebelum Direktur memberikan pertanyaan - pertanyaan yang sulit, aku bakalan menginjak kakiku yang ada namanya direktur. Dengan begitu dia tidak akan berkutik dan bakalan mangut - mangut kayak anak meong." Seru Bunga sambil tertawa kecil, memakai sepatunya kembali dan meninggalkan toilet dengan raut wajah yang girang.


"Ternyata di dunia ini masih ada orang bodoh yang percaya takhayul seperti itu!" seru Zulaikha yang ternyata berada disebelah toilet tempat Bunga mengumpat. "Silahkan pakai trik takhayul mu itu Bunga.. Itu tidak akan mempengaruhi kenyataan dan hasil akhir, karena ketika realita yang berbicara maka realitalah yang menang!" Ucapnya dengan percaya diri.


..........


Disebuah ruangan wawancara, dimana kursi bagi para pelamar kerja telah terjejer rapih didepan sebuah meja panjang yang telah tertata dengan rapihnya. Diikuti dengan papan nama disetiap tempat yang akan diduduki oleh pemilik dari papan nama tesebut.


Sesi pertama wawancara dimulai, setiap sesi akan masuk 5 orang pelamar kerja untuk diwawancarai. Sesi wawancara ini merupakan babak terakhir dan penentuan siapa yang akan berhasil lulus dan siapa yang akan gugur.


Sesi wawancara juga merupakan sesi yang paling mendebarkan, karena para pelamar akan diwawancarai langsung oleh Andi Sabiru yang merupakan Direktur baru di Mall W. Disisi lain berdebar karena perasaan gugup namun disisi lainnya lagi mendebarkan karena melihat visual dari direktur baru yang mempesona.


Sekalipun mungkin jika pelamar wanita gugur, pelamar wanita itu mungkin tidak akan terlalu sedih, karena setidaknya dia bisa melihat secara langsung visual dari direktur Andi Sabiru yang sangat jarang terekspos media. Keberadaannya yang sangat jarang didalam negeri membuatnya jarang diekspos oleh media yang haus akan cerita kehidupan glamour keluarga - keluarga terhormat dan kaya raya.


Lima orang pelamar duduk dengan rapih didepan meja pewawancara yang menatap mereka dengan tatapan tajam. Meskipun dalam hati berdebar - debar tak karuan karena gugup, namun Zulaikha berusaha duduk dengan tenang sambil membusungkan dadanya untuk menutupi rasa gugupnya.



Berbeda lagi dengan Bunga yang terus menerus melihat cermin, memastikan bahwa riasannya tidak berantakan sedikitpun sehingga dia bisa terlihat cantik didepan pewawancara.


Selang beberapa menit, seorang pria tampan memasuki ruangan dan langsung duduk disebelah tempat duduk Sabi. Terlihat papan namanya menunjukkan bahwa dia adalah Zayn Adijaya yang merupakan seorang wakil direktur di Mall W.


Bunga menganga dengan raut wajah bahagia dan takjub melihat visual dari wakil direktur yang mengalahkan visual direktur Andi Sabiru.


Menyadari bahwa dirinya terus disorot karena ketampanannya, Zayn hanya bisa berpura - pura tidak menyadari hal itu dengan memasang wajah datar tanpa ekspresi.


"Kenapa terlambat?" tanya Sabi sambil melirik Zayn yang masih sibuk membaca sebuah kertas yang dipegangnya.


"Maaf... tadi saya ada urusan mendadak." jawabnya dingin yang masih sibuk dengan kertas dan polpennya.


Lihaaat.. coba lihaaat kelakuannya! Heeeyy.. Aku direkturmu! jabatanku lebih tinggi darimu, berhentilah bersikap seolah - olah kamu itu ada diatasku! Dasarrrr tiang listrik karatan!


Sabi mengolok - olok Zayn dengan memonyongkan bibirnya dan menggerak - gerakkan bibirnya dengan tidak jelas kesana -kemari karena merasa kesal dengan perilaku Zayn yang dingin.


Tepat didepan meja Sabi, Zulaikha ternyata terus memperhatikan Sabi dengan seksama dan menatapnya dengan tatapan tajam lekat.


Entah apa yang gadis muda itu pikirkan, dia menatap Sabi dengan tatapan yang tajam dan lekat. Berbeda dengan gadis - gadis lainnya yang selalu menatap Sabi penuh cinta dan hasrat ingin memilikinya. Layaknya tatapan Bunga pada Zayn. Setidaknya begitulah gadis muda normal akan menatap pria tampan.


Sesi wawancarapun dimulai, Namun saat Direktur Andi Sabi berbicara, Bunga secepat kilat menghentakkan kakinya dengan semangat sambil tersenyum dengan percaya diri. Zayn yang mendengar suara hentakkan kaki Bunga tetap acuh tak acuh dengan keadaan, sementara Sabi dan beberapa pewawancara lainnya langsung segera menyorot Bunga yang merupakan tempat bunyi asal suara dentuman barusan.


Zulaikha segera melirik Bunga yang masih senyum dengan percaya diri setelah membuat suara dentuman yang cukup besar dan dia mendapati Bunga yang tersenyum dengan percaya dirinya, tidak memperlihatkan sedikitpun kegugupan pada raut wajahnya dan barulah dia sadari bahwa Bunga bukanlah lawan biasa jika soal tampil berbicara menunjukkan kualitas dirinya. Meskipun terkadang dia bertindak konyol dan manja.


Aku bahkan belum mengeluarkan senjataku, tapi kamu sudah lebih duluan memakai senjatamu dan mengambil start. Aku tidak akan kalah darimu, karena aku... benci kekalahan.


Zulaikha segera menatap kembali Direktur Sabi yang ada didepannya dan bersiap untuk mendengarkan pertanyaan - pertanyaan berbobot dari calon bossnya, dimana jawaban dari pertanyaan - pertanyaan itulah yang akan menentukan nasibnya beberapa tahun kedepan. Tapi...


*Whaatt?! Dia bergosip?! Apa yang dia pikirkan?! Apakah dia boodoh bergosip diawal sesi wawancara sementara sesi wawancara harusnya telah dimulai. Oh Tuhan*... kenapa aku yang merasa malu?!


Bersambung...