
Brengsek kamu jon! gerutu Sabi sambil terus menggigit kepalan jarinya yang mengeras karena kesal.
Merasa tak mendengar suara, Sabi sedikit penasaran. Ditariknya sedikit selimut untuk melihat kondisi sekitar dan mencari kesempatan untuk kabur dari kamar ini.
Oh my God!!! Serunya kembali menggigit kepalan tangannya. Wajahnya tiba - tiba memerah malu mendapati gadis itu sedang duduk diatas tempat tidur. Tepatnya dibawah kakinya, membelakanginya dengan keadaan handuk yang sudah setengah terlepas dari bagian dada sampai pinggang.
Gadis itu terlihat sedang memakai bra nya yang berwarna hitam elegan nan mewah. Bukan seperti dalaman wanita biasa, sepertinya gadis itu bukan gadi biasa.
Brengsek kau Jooon! brengsek!
Perlahan - lahan Sabi menarik kakinya agar tidak mengenai gadis itu. Namun sepertinya ujung sepatunya sedikit mengenai pantat gadis itu.
Sontak mereka berdua sama - sama terkejut.
Hahh??!! Gadis itu menoleh, dan mendapati ada sesuatu yang bergerak dibalik selimut putih itu.
Gadis itu segera berdiri dan melingkarkan kembali handuknya, perasaannya jadi was - was. Matanya membesar sambil menelan ludah dengan hati - hati.
Diperhatikannya dengan teliti selimut itu. Selimut itu nampak sedikit bergerak dan tidak normal.
Apa itu? ular? Gumamnya gelisah resah melihat ada sesuatu yang bergerak dibalik selimut.
Selamatkan aku ma... aku akan diperkosa! Teriak Sabi dalam batinnya, semakin memperkuat gigitannya.
Namun itu terlalu besar jika dibandingkan dengan ular dan tidak mungkin juga ada ular piton di hotel terkenal seperti ini.
Gadis itu semakin gelisah, jantungnya berdetak tak menentu. Dia beranikan dirinya untuk mendekat dan memegang sesuatu yang menonjol dibalik selimut.
Sambil terus berdoa dalam hatinya, gadis itu akhirnya memberanikan memegang sesuatu yang menonjol dibalik selimut itu. Diremasnya selimut itu, dan dirasakannya ada sesuatu yang keras dibalik selimut itu kemudian disusuli sebuah teriakan dari balik selimut.
"Aaaaaaa...."
"Aaaaaaa...." Gadis itu ikut berteriak tak kalah kuat dari teriakan Sabi.
"Jangan mendekat! jangan coba macam - macam dengankuuu!" Teriak Sabi lagi yang masih dalam ketakutan akan diambil keperjakaannya.
"Aaa_ apa?"
Gadis itu mengerutkan keningnya heran mendengar teriakan Sabi.
Sial nih orang! harusnya aku yang bilang begitu brengsek! Gumam gadis itu geram.
Secepat kilat, gadis itu menarik selimut yang sedari tadi menyelimuti tubuh Sabi hingga seluruh selimut itu akhirnya jatuh berserakan dilantai dan menampakkan seluruh tubuh Sabi yang tengah meringkuk gemetaran.
"Yaaa.. jangan mendekaaaat! aku masih perjakaaa!" Sabi berteriak, menyadari selimut itu telah ditarik paksa dari tubuhnya.
"Jika kamu mendekat, akan kutuntut kamu dan akan kujebloskan kamu ke penjara sampai membusuk dengan tulang - tulangmu." Sambungnya sambil berusaha duduk tanpa mau menoleh ke arah gadis itu.
"Sial!" serunya dengan tatapan kesal.
"Apa?"
"Apa kamu sudah gila? apa kamu pikir aku wanita gampangan yang mau memperkosamu?! Melihatmu saja aku tidak napsu!" Serang gadis itu menatap hina Sabi.
"Apa? tidak napsu?!" Sabi mendelik menatap gadis itu tajam.
"Iya tidak napsu!" sahut wanita itu dengan menekankan di kata napsu.
"Ciihh.. dasar pembohong!" sergahnya.
"Hahaha bohong?!" gadis itu tertawa terbahak - bahak namun dengan ekspresi yang datar dan tatapan ganas yang siap menerkam Sabi.
Dasar sinting! Sabi memeluk dirinya sendiri berusaha mempertahankan pakaian yang dikenakannya agar tidak dilepas oleh wanita sinting yang ada didepannya ini.
"Waah gilaa.. sepertinya orang - orang di negara ini semuanya pintar membual!" ucapnya sambil menggigit bibirnya menahan kesal yang rupanya mulai memenuhi rongga dadanya.
Tak lama kemudian, secepat kilat tangan gadis itu meraih sebuah vas bunga keramik yang ada disebelahnya.
Praaakkk!!! Sebuah vas bunga keramik membentur sempurna mengenai sandaran tempat tidur tepat disebelah Sabi hingga membuatnya berteriak kaget.
"Aaaaa...!!!"
"Apa kamu sudah gila haaah?!" teriaknya kesal, masih setengah kaget dan memegangi jantungnya.
Sinting ni cewe. Kalo kena kepala tadi, auto jadi pocong aku!
"Gila?!"
"Kamu yang gilaa! Bisa - bisanya kamu menuduhku mau memperkosamu sedangkan kamu yang menerobos masuk kekamarku. Kamu yang mau memperkosa malah teriak seolah - olah diperkosa!" Sergah gadis itu menatap Sabi tajam.
"Apa?! kamarmu?! dasar tidak tau malu, ini kamarku!" teriak Sabi membalas tatapan gadis itu lebih tajam.
Praaaakkk..!!! Segera kembali terdengar vas bunga keramik membentur disandaran tempat tidur tepat disebelah Sabi hingga membuat Sabi terperanjak kaget hampir terbang.
"Heeey..." Teriak Sabi kesal.
"Dasar Gilaaa!" timpal Sabi lagi.
"Apa? Gila?! kamu yang gila! berani - beraninya kamu masuk ke kamarku dan kamu bilang ini kamarmu?!" Balas teriak gadis itu disusuli sebuah lemparan gelas yang pecah membentur sandaran tempat tidur tepat disebelah Sabi.
"Aaaaa...!" teriak Sabi histeris.
"Dasar brengsek! keluar kamuuuu!" teriak gadis itu lagi sambik meraih sebuah botol anggur yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Stoooppp! jangan! stooopppp!!!" teriak Sabi berusaha mencegat gadis itu untuk tidak melemparkan botol itu padanya.
Sial! bisa - bisa mati muda jika lama - lama disini!
Sabi segera berdiri dari tempat tidur, sambil mengatur nafasnya yang memburu. Sabi melirik ke arah pintu sambil otaknya mengatur siasat agar bisa keluar dari situasi gila ini.
"Okeee.. okee.. aku akan keluar."
Gadis itu melirik tajam dan kesal ke arah Sabi yang berjalan perlahan mendekati pintu.
Sabi semakin dekat dengan pintu, namun tatapan tajam dari gadis itu bagaikan pisau yang siap menusuk Sabi kapan saja. Apalagi melihat sebotol anggur yang dipegang oleh gadis itu, rasanya nyawa satu - satunya dia miliki saat ini berada diujung tutup botol anggur itu. Karena sewaktu - waktu gadis itu melemparnya maka habislah pula nyawanya.
"Mau kemana?" tanya gadis itu sambil menyunggingkan sebuah senyuman namun dengan tatapan tajam.
"Aaa..? hm..." Dengan kondisi yang gila seperti ini, otak dan lidahnya pun seakan bermusuhan dan tidak bisa diajak kerjasama.
Sial! gadis ini sangat bar - bar!
"Mau kemana?" tanyanya lagi membuat langkah Sabi terhenti.
"Katanya ini kamarmu, maka tinggallah di kamar ini." Sambung gadis itu masih tersenyum dengan tatapan tajamnya.
Sial!
aahh.. pak Van.. Jon.. kalian dimana?!
Gumam Sabi dengan wajah sedikit pucat.
Gadis itu perlahan - lahan mendekat kearah Sabi masih dengan ekspresi yang sama. Sedangkan Sabi semakin merasa terpojok dan kakinya semakin dingin ketakutan dengan gadis yang ada didepannya saat ini.
Tanpa ragu - ragu Sabi mempercepat langkahnya, gadis itu pun semakin mempercepat langkahnya. Sabi menambah kecepatan berjalannya jadi setengah berlari, begitupula gadis itu. Rasanya gadis itu semakin dekat, dan dekat dan dekat dengan belakangnya. Sabi bisa merasakan botol anggur itu sedikit lagi akan membentur kepalanya hingga darah segar memancar indah dari kepalanya itu.
No.. no.. nooooo!
Rasa takut semakin menguasainya, Sabi akhirnya memilih lari. Menarik pintu, lalu keluar dari kamar itu.
Sabi menarik nafas lega, namun diperhatikannya leka - lekat pintu yang belum tertutup itu, nampak sebuah benda terbang ke arahnya dan praaaaakk!!!
"Aaaaaaa....!!!" teriak Sabi memecahkan keheningan koridor.
Sebuah botol anggur mendarat dengan sempurna dan membetur tepat disebelah pundak sebelah kiri Sabi dan pecah memancarkan larutan merah kemana - mana. Termasuk ke wajah dan ke pakaian Sabi.
Untung saja saat botol itu mendarat disebelahnya, dia sempat menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Hingga wajahnya tidak tergores sedikitpun. Hanya jasnya saja yang sedikit sobek terkena beling pecahan botol anggur.
"Aaaa.. psikopaaaaaaat!!!" teriaknya lagi saat melihat gadis itu tersenyum padanya, sebelum akhirnya pintu kamar gadis itu menutup dengan sendirinya.
"Tuan.. tuaan.. apakah anda baik - baik saja?" ucap seorang pegawai hotel menyadarkan Sabi dari rasa takutnya.
"psikoopaat, psikopaat.." teriaknya disana sambil mencengkram kerak pegawai itu.
"Maaf tuaan.. lepaskan tuan lepaskaan.." pegawai pria itu berusaha melepaskan cengkraman Sabi namun cengkramannya teramat kuat hingga dia tidak berdaya dan hanya memasang wajah memelas.
Orang - orang yang tadinya hanya sekedar lewat, jadi singgah dan melihat Sabi yang heboh. Sontak pengunjung hotel jadi panik melihat pemandangan yang dilihat mereka saat ini. Beberapa pegawai hotel datang berlarian, melihat situasi yang sedang heboh di lantai itu.
Berselang kemudian, Jon pun datang berlari dengan wajah panik. Wajahnya semakin terlihat panik saat melihat wajah Sabi yang penuh dengan cairan merah dan hampir membasahi keseluruh pakaiannya.
"Sabi.. apa yang terjadi? kenapa kamu berdarah seperti ini?!" tanya Jon panik.
"Tunggu.. tunggu.. ini bukan bau darah." Sambungnya kali ini dengan raut wajah heran saat mencium aroma anggur yang kuat.
"Tuan, cairan merah ini adalah anggur bukan darah." ucap seorang pegawai pria, memperlihatkan botol anggur yang telah pecah disebelah Sabi.
"Apa?!" serunya tak percaya.
"Jon.. kamu punya pengunjung psikopat Jon.." Sabi akhirnya buka suara, sambil menunjuk - nunjuk kamar gadis yang tadi melemparnya.
Jon melirik kamar yang ditunjuk Sabi. Bukannya terkejut Jon justru nampak heran.
"Apa kamu yakin?"
"iya yakin Jon! didalam itu psikopat." jawabnya yakin dengan wajah yang masih pucat.
"Ngga mungkin Sabi.."
"Apa? kenapa ngga mungkin?" Matanya membulat sempurna, seketika pucat.
"Didalam kamar itu tidak ada orang? hahh?" tanyanya lagi, sambil melirik pintu kamar gadis itu dengan tatapan nanar.
Yaaa.. apakah barusan aku bertemu dengan hantu?!
Bersambung...