FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
65. Lembur 2



Tiba-tiba Sabi teringat kembali ocehan Queen padanya, karena tidak memperlakukan pakaian rancangan Queen dengan baik. Segera dia mengecek merk setelan jas yang dia pakai. Benar saja, dibagian dalam jasnya terdapat merk ‘QL’ dengan sebuah mahkota di atas huruf ‘Q’.


“Queen Lee ...” Gumam Sabi, meremas Jasnya dan meletakkan kembali jas itu di sofa tempat dia tidur tadi.


Sabi mengedarkan pandangannya berkeliling ruangan. Tidak ada satu benda pun yang bisa dia jadikan sebuah selimut untuk menutupi kaki Zulaikha yang meringkuk kedinginan.


Kecuali sebuah benda yang ada diatas meja. Membuat Sabi menjatuhkan pandangannya, menatap taflak meja yang lumayan besar dan sedikit tebal. Akhirnya dia memutuskan mengambil taflak meja itu dengan menyingkirkan beberapa benda yang bertumpuk diatasnya.


Terasa merepotkan, namun dia juga tidak tau kenapa dia harus melakukan itu pada sekertarisnya. Seharusnya dia tidak usah peduli. Tapi tangannya terus bergerak memindahkan beberapa benda untuk mengambil taflak meja itu. Lalu diletakkannya taflak meja itu menutupi kaki Zulaikha yang meringkuk kedinginan.


“Nah, sekarang kamu tidak terlihat seperti udang.” Gumamnya tersenyum bangga. Lalu menguap setelah itu, karena merasa masih mengantuk.


Tangannya beberapa kali menepuk-nepuk pipinya, untuk mengusir rasa kantuk. “Jangan tidur, jangan tidur. Nanti akan repot jika mimpi buruk di kantor. Oke?!” Ucap Sabi tegas, berbalik menuju meja kerjanya.


Dia memutuskan untuk kembali bekerja dan menyelesaikan pekerjaannya. Setidaknya tadi dia sudah tidur, meskipun hanya beberapa jam saja. Jadi tidak apa jika kembali bekerja. Pikirnya.


...........


Matahari perlahan mulai menampakkan sinarnya, masuk ke dalam ruangan kerja Sabi, melalui sela-sela jendelanya. Suara kendaraan mulai ramai terdengar berlalu lalang di jalan raya, seolah sedang berpacu mengejar sang waktu.


Sabi menarik nafasnya, sambil menekan tombol enter pada keyboard komputernya, menyimpan dokumen yang telah dia kerjakan semalaman. Dia benar-benar bergadang dan tidak tidur. Mata pandanya mulai terlihat jelas menggantung di bawah matanya yang sayu karena kurang tidur selama beberapa hari ini.


“Aaakhh...” sabi mengangkat kedua tangannya ke atas, lalu meregangkan tulang belakangnya sampai terdengar suara gertakan tulang disana dan dia tersenyum puas.


“Akhirnya selesai.” Imbuhnya, tersenyum bangga melihat pekerjaannya yang telah selesai dalam satu hari. Bahkan dia sendiri tidak menyangka akhir-akhir ini dia bisa serajin ini.


Sekali lagi dia menarik nafasnya lesu, mengingat gambaran Gio yang tiba-tiba terlintas di kepalanya.


Jika saja bukan karena bocah tengik itu, mungkin sekarang aku masih bisa bersantai-santai dan mengerjai si Zayn muka tripleks itu. Gumam Sabi, menatap layar komputernya yang tidak memiliki wallpaper.


Sial! Aku jadi harus bekerja segiat ini, daripada harus menanggung malu karena mulut berbisanya itu. Dia menggertakkan gerahangnya karena saking geramnya pada Gio, sepupu sekaligus musuh bebuyutannya.


Meskipun mereka memiliki hubungan keluarga, tapi bukan berarti Gio tidak akan menyingkirkannya dari perusahaan keluarga Andi ini. Maka dari itu, kedatangan Gio membuat jiwa Sabi sama sekali tidak tenang setiap harinya. Ditambah lagi, Sabi yang sudah tidak memiliki Ayah dan Ibunya yang bukan berasal dari keluarga berada. Maka hak dan dukungannya dalam keluarga Andi, tidaklah sebesar Gio yang memiliki banyak dukungan dan pihak Ayah maupun Ibunya.


Sabi menggigit bibirnya, lalu mengusap wajahnya penuh keputus asaan. “Kenapa aku harus punya sepupu iblis sepertinya?! Aaakhh ... Dia sangat merepotkan. Aku harap dia menghilang saja dari muka bumi ini.” Keluh Sabi yang terus mengingat perlakuan buruk Gio padanya.


“Hooaaammm ...” Zulaikha menguap sambil meregangkan tulang belakangnya. Lalu duduk termangu di sofa, mengumpulkan nyawanya yang belum terkumpul semua.


“Sudah bangun?” Tanya Sabi memastikan.


Zulaikha tertegun mendengar suara itu. Matanya celingak celinguk mencari keberadaan Sabi yang seharusnya tidur di depannya. Tapi sofa itu kosong, hanya tersisa sebuah jas disana. Sementara Sabi tidak terlihat.


“Apa yang kamu cari, hah?!” Tanya Sabi lagi.


Mata Zulaikha yang masih mengantuk lansung membulat sempurna dan segera menoleh ke belakang, tepat pada meja kerja Sabi. Disana terlihat Sabi yang tengah memangku satu kakinya sambil menatapnya, seolah-olah Sabi telah lama berada disana.


Oh My God!!! Zulaikha langsung melirik jam tangannya, panik.


Pikirnya dia bangun kesiangan, karena melihat Sabi yang sudah di meja kerjanya tanpa wajah bantal sepertinya.


“Jam 6?” Gumam Zulaikha sedikit terkejut dan juga heran, dia lalu melirik kembali ke belakang. Mengamati gelagak Sabi, yang juga tengah memikitksnnya.


“Kamu kesiangan.” Ucap Sabi, dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Zulaikha terkekeh malu, dirapikannya rambutnya yang sedikit berantakan. “Aku tidak kesiangan tuan muda, ini masih jam 6 pagi.”


“Bagiku kamu tetap kesiangan, karena aku yang lebih dulu bangun.” Sergah Sabi memangku kedua tangannya di depan dada.


“Maafkan saya, tuan muda.” Zulaikha tertunduk malu, tiba-tiba dari deoannya. Tiba-tiba terdengar suara kekehan Sabi.


“Hey, aku bercanda!” Ucap Sabi, sembari membungkam mulutnya yang tersa ingin terus tertawa.


Zulaikha yang melihat tingkahnya, langsung tersenyum dan menggaruk kepalanga canggung. Dia bingung apakah dia juga harus ikut tertawa atau tidak, karena baginya, tidak ada yang lucu untuk membuatnya tertawa. Alhasil, dia hanya menyunggingkan senyumannya sampai Sabi berhenti tertawa sendiri dan mengatainya.


“Tidak asik!”