FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
73. Kunjungan Zayn



*Ding dooongg ....


Suara bel berbunyi.


Joy dan Ella saling menatap satu sama lain.


“Apakah ada tamu lain?” Gumam Ella.


“Attends une minute, laisse-moi ouvrir la porte. (Tunggu sebentar. Biar aku yang membukakan pintu.)” Seru Joy, yang langsung dicegat oleh Ella.


“Juste moi. (Aku saja.)” Ucap Ella dan Joy menurut tak membantah.


...........


Setelah beberapa jam terjebak dalam macet, akibat kecelakaan truk yang tergiling di jalan raya. Membuat jalanan lumpuh total selama beberapa jam. Mereka akhirnya sampai di tempat tujuan mereka, tempat Queen atau Queen menyebutnya sebagai rumah fashion karena menyimpan berbagai rancangannya yang akan dipakai pada Event yang diselenggarakan oleh Pak Eddie Sugio.


“Jadi Nona Queen Lee punya rumah sendiri? Lantas kenapa dia tinggal di rumah kediaman Andi?” Gumam Zulaikha melirik rumah itu secara keseluruhan.


Zayn dan Ridwan hanya diam, mendengarnya.


Pintu perlahan terbuka. Sosok Ella muncul dibalik pintu, melihat mereka bertiga tanpa senyuman. “Cari siapa?”


“Queen Lee.” Jawab Ridwan.


“Sudah buat janji sebelumnya?” Tanya Ella lagi.


“Katakan, Zayn Adijaya datang.” Seru Zayn, maju memperlihtkan dirinya di depan Ella.


Mata Ella sedikit membesar melihat kehadiran Zayn, tamu yang sangat dinantikan oleh Queen. Bagaimana bisa dia menolak kehadiran Zayn, sekalipun Zayn tidak membuat janji sebelumnya. Queen akan sangat senang hari ini.


“Silahkan masuk.” Ucap Ella, mempersilahkan mereka masuk.


“Dimana nona Queen Lee?” Tanya Ridwan.


“Nona sedang di lantai dua, saya akan membawa anda bertemu dengan Nona kami. Silahkan terus ikuti saya.” Jawab Ella, tanpa menoleh.


Mereka bertiga dibawa menaiki sebuah tangga putih yang kokoh, lalu masuk ke sebuah koridor dimana dibeberapa tempat pada dinding itu dihiasi dengan lukisan bunga lily putih. Rata-rata lukisan yang terpajang disepanjang dinding memiliki tanda tangan dari pelukisnya, dengan inisial ‘LW’.


“Waah ... cantik sekali.” Gumam Zulaikha yang berdecak kagum melihat lukisan bunga itu.


Mata Zayn juga tidak ketinggalan untuk melirik lukisan-lukisan bunga yang terasa familiar baginya.


Sampai di depan pintu yang mereka tuju, disana telah ada Joy yang mencegat mereka dengan memangku kedua tangannya di dada. Menatap mereka semua tanpa senyuman.


“Qui sont-ils? (Siapa mereka?)” tanya Joy, sinis.


“Zayn Adijaya.” Jawab Ella singkat. Membuat mata Joy membulat sempurna.


“Oh mon Dieu vraiment?! Wow.. (Oh Tuhan, benarkah?! Waaahh ...)” Seru Joy kegirangan, langsung menghilangkan ekspresi sinisnya tadi. “Bonjour Monsieur Zayn Adijaya. Je suis Joy, la créatrice préférée de Miss Queen Lee.” Sapa Joy, teramat ramah.


Ridwan dan Zulaikha hanya tersenyum canggung, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh wanita stengah pria di depan mereka ini.


“Bon après-midi aussi, Joy. ravi de vous rencontrer. (Selamat siang juga, Joy. Senang berkenalan dengan anda.)” Balas Zayn dengan lancarnya berbahasa Pranciss, membuat Ridwan menganga kagum dengan keterampilan Zayn.


Sedangkan Zulaikha, berusaha mengatupkan bibirnya agar tidak terlihat kagum dengan skill orang di depannya itu. Dia malas untuk terlihat kagum pada seseorang yang kadang menindasnya.


“wow... il est bon en français! (Waah.. dia pandai berbahasa Prancis!)” Seru Joy kegirangan. “Pas étonnant que Miss Queen Lee l'ait tant aimé. (Tidak heran nona Queen Lee begitu menyukainya.)” bisik Joy pada Ella yang masih bisa di dengar oleh Zayn.


Ella segera menyiku lengan Joy, untuk tidak mengatakan yang tidak-tidak tentang Queen di depan Zayn. Membuat Joy langsung sadar dengan sikapnya, dan langsung menutup mulutnya rapat-rapat.


“Tidak apa.” Sahut Zayn ramah, dan Zulaikha mendesis.


Waah... bagaimana bisa dia seramah ini pada orang lain? Padahal dirinya begitu sadis pada siapapun yang tidak patuh padanya. Gumam Zulaikha dalam batinnya.


“Silahkan masuk ke ruangan ini, di dalam juga telah ada tuan muda Andi Sabiru yang sudah datang lebih awal.” Tutur Ella, sembari membukakan pintu itu dengan sopan. Tanpa membuat suara sedikitpun.


Mereka semua masuk ke dalam ruangan itu, dan mendapati Sabi dan Queen yang sedang tidur dalam keadaan duduk, bersandar pada pada sofa. Dimana kepala Sabi bersandar pada pundak Queen, dan kepala Queen tersandar di kepala Sabi.


“Oh mon Dieu! (Oh, Tuhan!)” Seru Joy, yang terkejut melihat Sabi dan Queen yang tidur dengan saling bersandar satu sama lain.


Zulaikha yang sama terkejutnya dengan Joy, berusaha mengendalikan dirinya. Dia tidak menyangka, bahwa Queen dan Sabi sedekat ini. Sampai mereka bisa tertidur dengan nyamannya seperti itu.


Sepertinya aku harus menarik kata-kataku. Mereka akrab, lebih dari yang ku duga.


Zayn dan Ridwan tidak berkata apapun. Namun ekspresi Ridwan, tidak bisa menyembunyikan betapa terkejutnya dia. Berbeda dengan Zayn, yang tertegun, diam. Terus memandangi Sabi dan Queen dari tempatnya berdiri.



“Maaf, sepertinya nona Queen Lee kami ketiduran karena kelelahan.” Ucap Ella, berusaha mencairkan suasana yang terasa menegang karena ekspresi setiap orang yang begitu terkejut.


“Mari kita ke ruangan lain, menunggu nona Queen Lee bangun.” Imbuh Ella.


“Tidak.” Zayn menolak ajakan Ella dengan tegas. “Aku akan menunggu disini.” Sambungnya, langsung duduk di depan, tempat Sabi dan Queen duduk.


“Ah, iya benar. Kami akan menunggu disini.” Sergah Ridwan yang juga ikut duduk disebelah Zayn.


Zulaikha hanya diam, mengikuti apa yang Zayn dan Ridwan lakukan. Tetap berdiri, menatap Sabi dan Queen.


“Bisakah aku meminta teh?!” Seru Zayn, sedikit menyunggingkan senyuman pada Ella dan Joy.


“Ah, iya benar. Maafkan saya atas ketidakpekaan saya, tuan.” Ucap Ella langsung pergi mengajak Joy untuk pergi bersamanya.


Zayn terus melihat Ella dan Joy yang pergi meninggalkan ruangan, sampai pintu itu benar-benar tertutup kembali. Setelah itu, matanya langsung menatap tajam Zulaikha yang berdiri tak jauh darinya.


“Lihatlah, buka matamu dengan lebar.” Ucap Zayn yang ditujukan pada Zulaikha. “Apa kamu baik-baik saja melihat sahabat kecilmu dengan mudahnya akrab seperti ini pada wanita asing yang baru dikenalnya?!”


Zulaikha diam. Tidak menjawab. Karena sejujurnya, perasaannya memang tidak baik-baik saja dengan apa yang dilihatnya saat ini. Tapi dia bisa apa, dia bukan siapa-siapa. Memang betul Zulaikalah sahabat kecil Sabi, tapi bagaimana bisa dia merasa spesial dengan posisi itu sementara Sabi saja tidak mengingat dirinya.


Zayn menarik nafasnya, dan bangkit dari tempat duduknya. Berjalan ke arah Queen yang sedang tidur dengan keadaan duduk.


“Tuan, apa yang akan anda lakukan?” Tanya Ridwan, berusaha mencegat Zayn.


“Zulaikha, kemari. Cepat!” Pintah Zayn, memanggil Zulaikha dengan nada yang sedikit berbisik.


Zulaikha mendekat, namun sedikit ragu. Apa yang akan Zayn lakukan padanya lagi? Pertanyaan itu terus berkumandang di kepalanya.


“Aku akan menghitung sampai tiga, dan dalam hitungan ketiga, pastikan kamu duduk disebelahnya.” Zayn menunjuk Sabiru dengan sorotan matanya yang dingin.


“Ba ... bagaimana caranya?”


“Satu...” Zayn mulai menyentuh tangan Queen. “Dua ...” tangannya mulai menggenggam erat tangan Queen, lalu mundur beberapa langkah dengan tangannya yang masih menggenggam tangan Queen.


“Tiga!” Dengan sekuat tenaga, Zayn menarik tangan Queen hingga gadis yang sedang tertidur itu, tertarik dan masuk ke dalam pelukannya. Memeluk Queen erat, memastikan gadis itu tidak jatuh dari pelukannya.


Bersambung ....