FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
32. Kehilangan & Menemukan



Air mata jatuh perlahan dari pelupuk mata sayu itu. Perlahan - lahan air mata itu jatuh semakin banyak, memberi pilu dalam dada dan sesak yang tak tertahankan.


Sekeras apapun dia berusaha bisu menahan sakit dalam dadanya, Queen semakin gagu dan gemetar perih. Matanya melirik punggung Zayn yang berjalan semakin menjauhinya, meninggalkan luka.


Tidak. Aku tidak boleh berakhir seperti ini.


Queen menarik nafasnya dalam - dalam, menguatkan tekadnya dan menyisihkan kesedihannya untuk mengejar Zayn, cinta pertamanya yang sangat dia cintai.


"Zeedd.. tunggu." teriak Queen sambil berlari, berusaha mengejar langkah kaki Zayn yang telah jauh berada di depan cafe.


Queen berlari kecil, perlahan - lahan langkahnya semakin berat dan sempoyongan. Sesekali berhenti, berusaha mencari keseimbangan. Namun langkahnya yang terhenti membuat Zayn, semakin jauh dari pandangan matanya.


Tidak. Aku harus mengejarnya!


*Deg!


Sebuah nyeri tiba - tiba menyerang dadanya, rasa sakit yang lebih hebat dibanding rasa sakit akibat patah hati yang tengah dia rasakan saat ini.


Aah.. jangan dulu, jangan sekarang.


Jari lentik yang sedikit bergetar itu, meremas kuat dress yang dia pakai, seolah tidak peduli dress putih itu akan sobek karna di remas sekuat itu. Matanya perlahan - lahan semakin sayu. Pandangan yang terus menatap punggung Zayn yang semakin menjauh, perlahan - lahan kabur memudarkan pandangannya.


Aku mohon, jangan sekarang. Pliiss..


"Aa..!!!" Jeritnya, lalu menggigit bibirnya berusaha menahan sakit yang dia rasa.


Queen menjerit kesakitan, memancing perhatian seluruh pegawai cafe dan juga beberapa pengunjung.


"Astagah.. dia kenapa?"


"Hey.. dia kesakitan."


Seorang pelayan cafe segera menghampiri Queen, yang mulai berdiri sempoyongan.


"Mba.. apa anda baik - baik saja?" tanya pelayan cafe, menyentuh pundak Queen, ragu - ragu.


*Bruukk!!!


Tubuh Queen ambruk menghantam lantai.


"Seseorang.. telfon ambulans!" teriak pelayan cafe, panik sembari menggoyang - goyangkan tubuh Queen.


Pengunjung pun tak kalah paniknya melihat pemandangan siang ini. Beberapa pelayan cafe wanita datang menghampiri tubuh Queen yang tergeletak tak berdaya tanpa tenaga. Mereka memopoh tubuh ramping itu, lalu membawanya ke sofa.


Berbagai pertolongan pertama, mereka lakukan untuk menyadarkan Queen. Dimulai dari menggosokkan minyak kayu putih di hidungnya, melepaskan sepatunya, dan memanggil - manggilnya sambil menepuk - nepuk pipinya. Semuanya masih gagal, belum mampu menyadarkan Queen.


"Hey.. ambulans datang!" Seru seorang penunjung cafe, berteriak setelah melihat mobil ambulans yang baru saja datang di depan cafe.


"Eeh.. Bukankah dia Queen Lee?!" Seru Paman Edie Sugio yang baru saja datang ke cafe. Terkejut dengan apa yang dilihatnya.


"Apakah anda mengenalnya tuan?" tanya pelayan cafe.


"Aah.. iya saya mengenalnya. Dia seorang desainer terkenal dan juga pemilik pakaian branded ternama." jawab Paman Edie, pamer.


"Kalau begitu tuan bisa masuk ke dalam mobil ambulans sebagai walinya? kami tidak tau mau menghubungi siapa, handphone nya pun terkunci." ucap pelayan cafe dengan raut wajah khawatir.


"No, no. Aku tidak bisa. Banyak pekerjaan yang harus kulakukan. Acaraku juga belum selesai, peserta masih padat." Paman Edie menolak, namun berpikir keras agar bisa tetap menolong Queen.


"Aku akan menyuruh orangku untuk menyusul ke Rumah sakit."


"Baik tuan.."


Tubuh Queen segera diangkat dengan tandu, masuk ke dalam mobil Ambulans. Tanpa wali, tanpa seseorang kerabat dekat yang menemaninya. Sendiri.. benar - benar orang yang berjuang sendiri atas hidupnya.


...........


"Aakhh.." Sabi mengerang kuat, tersadar dari pingsannya.


"Tuan muda.. anda sudah sadar." seru Zulaikha, tersenyum lega menghapus kegusarannya yang dari tadi terus menghantui perasaannya.


"Aa.." Sabi mendesis ngilu, merasa sakit dibagian kepalanya.


"Tuan muda.. kamu tidak apa - apa? haruskah kita ke rumah sakit?"


"Tidak, jangan lakukan itu." sahut Sabi melirik Zulaikha.


Tatapannya semakin dalam memperhatikan Zulaikha. Sembari mengingat - ingat wajah seorang anak kecil yang sempat dia lihat ketika kesakitan tadi.


"Tuan.. kenapa anda melihatku seperti itu?" Zulaikha jadi salah tingkah. melihat Sabi yang terus menatapnya dalam.


"Coba tersenyum." pintahnya, masih menatap dalam mata Zulaikha.


Yyaa.. Apa ini?! kenapa dia tiba - tiba memintaku untuk tersenyum?! Apakah kepalanya sesakit itu, sampai sikapnya jadi aneh seperti ini?!


Wajah Zulaikha memerah mendengar perintah Sabi yang tidak masuk akal.


"Tersenyumlah.. Ini perintah dari atasanmu!" ucap Sabi, kali ini dengan suara dalam menandakan bahwa saat ini dia sedang sangat serius.


Aiishh.. sial! kenapa aku jadi grogi? jantung kenapa pake acara berdebar juga sih? bisakah kalian tenang, wahai anggota tubuhku beserta organ - organ dalam?!


"Tu tuan muda.. sebaiknya anda ke rumah sakit, sepertinya anda sakit. Hehehe.." ucap Zulaikha ragu - ragu sambil menarik sedikit sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman kecil yang canggung.


Senyumnya sama. Apakah anak kecil yang selama ini ada di mimpiku adalah dia? Apakah mereka adalah orang yang sama?!


Mata Sabi berkaca - kaca menatap wajah Zulaikha, yang dia rasa mirip dengan anak kecil yang selama ini ada di mimpinya. Seakan tidak percaya dan juga bingung sekaligus dengan apa yang terjadi.


Apa yang bisa membuatnya terjebak dengan anak kecil yang sering muncul dalam mimpinya bersama dengan wanita yang mirip dengan anak kecil itu, yang sekarang berada tepat di depannya. Apakah sekarang takdir memudahkan jalannya untuk menyelesaikan mimpi buruknya? Dia masih belum tau.


Rasa bahagia pun mengekori kebingungan dan tanda tanya yang belum terpecahkan di kepalanya.


"Hahahahhaa..." Sabi tergelak tawa, menyentuh lembut pipi Zulaikha.


"Tu.. tuan.. anda kenapa?" Zulaikha melirik pak Van yang dari tadi menyaksikan dari depan.


"Ya ampuun.. apa yang aku lakukan selama ini? kenapa aku begitu tidak menyadari kehadiranmu?"


Ya Tuhan.. Ada apa dengannya? kenapa dia tambah aneh? apakah dia punya penyakit jiwa?! Gumam Zulaikha sambil sedikit terkekeh, berusaha menghargai tawa yang Sabi lontarkan.


*Tuutt..tutt..ttuttt...


"Sebentar.. ponselku bergetar." Sabi mengalihkan pandangannya dari Zulaikha, mengambil handphone yang dia letakkan di saku celananya.


Astagah.. Paman Edie?!


Sabi menekan layar handphone nya, mengangkat panggilan dari paman Edie.


~Hey.. darimana saja kamu hahhh??!


Suara paman Edie memekakkan telinga, dia berteriak kesal dari seberang telepon.


"Loha.. Paman Edie, ada apa yaa?" Sabi berusaha sopan, meski masih menjauhkan handphone nya dari telinganya.


~Kamu dimana haa?! sudah ribuan kali aku menelfonmu dan kenapa tidak diangkat hahh? katamu kamu mau membantu, kenapa malah kabur hah?


"Gawat! dia marah!" ucap Sabi, memberitahu Zulaikha yang ternyata bisa mendengar suara paman Edie meski tidak di Louspeak.


"Iya tuan aku bisa mendengarnya. Gawat tuan.. Apa yang harus kita lakukan?" saut Zulaikha, panik.


~ Iya aku marah! jadi kamu tidak usah kembali ke acaraku. Katakan itu pada Zayn. Aku tidak akan bekerjasama dengan kalian!!!


~Tidak! Tidak usah kemari! aku tidak membutuhkanmu! pulang saja kamu ke perusahaanmu, pulang saja memanja pada pamanmu itu!!!


"Yya.. paman.. paman jangan begitu. Aku mohon maaf, aku tau aku salah. Aku akan memperbaikinya. Apapun yang paman katakan akan aku lakukan. Apapun itu, tapi paman jangan marah lagi. oke?!" Bujuk Sabi, sambil mengikuti instruksi dari Zualikha yang ada di sampingnya.


"Iya begitu.." ucap Zulaikha dengan nada kecil seperti orang yang sedang berbisik.


~Tidak, kamu tidak bisa melakukan itu. Sudah terlambat!!!


Kali ini paman berteriak lebih keras dari yang tadi.


"Astagah dia marah besar." bisiknya pada Zulaikha.


"Ambil terus hatinya tuan, kita tidak boleh pulang dengan rasa malu ke kantor." balas Zulaikha, masih dengan nada yang berbisik.


Aiishh.. sial! Sabi mengutuki dirinya yang lengah dalam berurusan dengan Paman Edie.


Seharusnya dia harus bisa siap siaga jika berurusan dengan Paman Edie. Karena ketika lalai seidkitpun seperti ini, dia akan marah besar dan sulit untuk dibujuk kembali. Jika tidak dibujukpun akan lebih parah, dia akan menaruh dendam pada orang itu.


Rasanya Sabi ingin melempar handphone nya jauh - jauh. Kepalanya baru saja terasa baikan, dan suara orang tua itu sudah bikin kepalanya mumet lagi. Apalagi memikirkan dampaknya, arghh... bukan sesuatu yang enak untuk dibayangkan Sabi.


"Paman.. Aku minta maaf. Aku akan melakukan apapun, tidak ada kata terlambat. Aku akan melakukan yang paman perintahkan. Sekarang. jika paman memintaku sekarang yaa akan kulakukan sekarang." Bujuk Sabi di ujung kesabarannya, sambil sesekali menarik nafas menahan kesal.


~Aaarghh.. Dasar!!!


~Cepat sekarang kamu ke RS, cari Queen Lee disana dan bantu dia!


"Aa.. apa? Queen Lee? membantu Queen? Asstagah.. paman bisa meminta sesuatu yang lain. Akan aku lakukan, tapi jangan tentang dia. Mendengar namanya pun aku sangat kesal, dan lebih kesal dari sekarang ini." ucap Sabi spontan, segera menutup mulutnya menyadari ucapannya yang bodoh.


~Oohh.. jadi kamu sedang kesal sekarang hah? kalau begitu sudah, aku tutup telfonnyaaa!


Bukannya semakin mereda, amarah paman Edie semakin naik, namun tidak kunjung menutup telfonnya.


"Pa paman jangan doong.."


~Kalau kamu mau perusahaanmu bekerjasama denganku dalam event besar. Maka kamu harus membantu Queen, dan memintanya untuk bekerjasama denganku untuk event besarku nanti!


Apa? Aiishh.. ada apa denganku hari ini? kenapa begitu sial?! sudah jatuh, tertimpa tangga dan dilempar mangga lagi. Aarrggh..


~Halooo.. kenapa diam? jika kamu tidak mau, aku akan mengutus Zayn saja atau aku akan mengutus orang lain.


"Oke.. oke. Aku akan ke sana sekarang." ucap Sabi sedikit keberatan, menutup matanya berusaha menahan kesal.


~Jangan pernah menghubungiku lagi seumur hidupmu jika kamu tidak membawa Queen untuk bekerjasama dengankuu!!!


Paman Edie berteriak dengan seluruh tenaganya lalu memutuskan panggil telefon secara sepihak.


Aisshh..


"Dasar orang tua bengeeek!!! main tutup - tutup telfon, seenaknya, ga tau diriiii!!!" Bentak Sabi membantingkan Handphone nya di kursi mobil.


"Aaaa..!!!" Berteriak sambil meremas rambutnya.


"Tuan muda.. tuan.. tenang tuan.." Zulaikha berusaha menenangkan Sabi, meski ragu - ragu untuk bersuara kuat. Takut akan diteriaki lagi seperti sebelumnya.


"Awas saja jika si kurus krempeng itu tidak mau bekerja sama denganku. Akan ku tarik2 - tarik rambut ulat bulunya itu sampai botak!!!" ucap Sabi kesal, meremas - remas tangannya sendiri. Membayangkan dirinya sedang menarik - narik rambut Queen sesuka hatinya.


"Tu.. tuan muda.."


"Aaaakhhh..." Teriak Sabi geram, menatap tajam kedepan.


Astagah.. sepertinya dia sakit. Sakit jiwa. Zulaikha hanya bisa menelan salivanya, ketika melihat sikap Sabi yang aneh dan tak terkontrol ini.


"Jalan pak Van! kita menunu Rumah Sakit terdekat!!!" teriaknya sinis, penuh stamina.


"Baik Tuan.." pak Van mulai menancap gas, dan melajukan mobil yang mereka tumpangi.


..........


#Di Rumah Sakit


Terlihat Queen baru saja tersadar, setelah beberapa jam tak sadarkan diri. Dengan raut wajah yang pucat pasi, Queen berusaha bangkit dari tempat tidur.


"Nona.. sebaiknya anda jangan dulu banyak bergerak." ucap seorang perawat yang datang menghampiri Queen di ranjang pasiennya, UGD.


"Aku tidak peduli. Aku tidak mau terbaring di tempat tidur ini terus - menerus." ucapnya dingin.


"Tapi nona.. hasil anastesi anda menunjukkan_"


"Stop!" bentak Queen memotong ucapan perawat itu.


"Aku tau diriku lebih dari siapapun. Jangan mengguruiku. Aku akan mengurus tubuhku sendiri." sambungnya dingin.


Sepertinya patah hati membuat suasana hatinya yang tadi paginya hangat, sekarang jadi sedingin es batu. Pandangannya pun terlihat kosong dan acuh tak acuh pada apa yang terjadi sekarang.


Jari jemarinya meraba sebelah punggung tangannya yang telah tertusuk jarum infus.


Aish.. Aku benci benda ini!


Secepat kilat, dia menarik jarum infus itu terlepas dari telapak tangannya. Tanpa mendesis kesakitan sedikitpun, dia hanya diam menyaksikan darah tercucur dari telapak tangannya sambil tersenyum masam.


"Astagah nona.. apa yang anda lakukan?!" teriak perawat itu histeris.


"Diam!" bentak Queen meninju kasur.


"Jangan banyak drama. cepat bersihkan darahku!" pintahnya dingin tanpa memandang perawat itu.


Sementara di luar rumah sakit, Sabi dan Zulaikha masuk ke ruang UGD sambil terus celingak - celinguk mencari ranjang Queen.


"Tuan muda.. aku akan bertanya pada bagian administrasi sebentar." ucap Zulaikha permisi pamit, menuju ke bagian administrasi UGD.


Sabi hanya mengangguk menatap dalam Zulaikha, dan membiarkan gadis itu berlari menuju loket administrasi UGD.


Aku mencari Queen dulu, habis itu aku akan menanyakan padanya langsung. Gumam Sabi, yakin. Melanjutkan pencariannya.


Pandangannya menyapu ke sekitar tempat tidur yang berjejer rapih, mencari sosok wanita langsing dengan rambut coklat bergelombang. Tidak menemukan hasil, dia melanjutkan langkahnya semakin masuk ke dalam ruang UGD. Membuka satu persatu, gorden yang menutupi ranjang pasien.


"Hmm.. beautiful." puji Queen pada dirinya sendiri, memandangi dirinya di depan cermin kecil miliknya setelah menggunakan lipstik merah merona. Membuat wajah pucat pasinya langsung hilang, digantikan dengan wajah segar yang sexy.


"Nona.. sebaiknya anda di rawat dulu." seru perawat yang masih menatapnya heran. Baru kali ini dia melihat pasien yang baru saja sadar dari pingsannya selama berjam - jam dan ketika bangun langsung memakai lipstik.


"Tidak. Aku sudah sehat sekarang." saut Queen dingin, tidak mempedulikan ucapan perawat.


*Srekkk..


Tiba - tiba gorden di tarik.


Queen dan perawat segera menoleh.



"Hehh.. disini kamu rupanya." seru Sabi, menatap Queen tajam.



Bersambung...