FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
71. Ice Cream & Macet



“Apa kamu benar-benar sudah tidak peduli pada saudarimu?! Sampai mengabaikan apa yang aku perintahkan padamu.” Bentak Zayn, menarik tangan Zulaikha masuk ke dalam mobilnya.


Zulaikha hanya diam, tidak bisa berkata-kata. Setidaknya diam lebih baik, daripada harus membantah yang ujung-ujungnya akan membuatnya meluap.


Setelah mereka berdua mendengar ucapan Pak Eddie, bahwa yang datang ke tempat Queen Lee adalah Sabi. Baik Zulaikha maupun Zayn langsung segera bergegas pergi, sampai akhirnya di depan kantor, Zulaikha terus dimarahi oleh Zayn karena lalai dalam menjalankan perintahnya.


Zulaikha sampai harus diseret ke mobil pribadi Zayn, dan pergi ke tempat Queen bersama dengan Zayn dan juga Ridwan sebagai supir.


Dalam perjalanan, Zulaikha terus melihat pergelangan tangannya yang sedikit memerah karena cengkraman tangan Zayn yang sangat kuat. Lelaki itu seperti mengeluarkan segala kekuatannya tadi saat menarik dirinya masuk ke dalam mobil dengan kasar.


Zayn dengan nafas yang masih memburu kesal, mengusap wajahnya, tidak mempedulikan seorang wanita disebelahnya yang tengah menatap sedih pergelangan tangannya yang memerah, akibat perlakuan kasar Zayn.


Tidak ada suara apapun didalam mobil, selama dalam perjalanan. Begitu hening, dan canggung. Tapi di kursi kemudi, seseorang berusaha untuk tidak bicara mesikipun dia sangat ingin. Siapa lagi jika bukan Ridwan. Seandainya saja tidak ada Zulaikha di dalam mobil ini, pasti sejumlah pertanyaan sudah dia lontarkan pada Zayn sekarang. Tapi dia tidak boleh melakukannya di depan Zulaikha.


“Sepertinya akan membutuhkan waktu lama untuk sampai.” Seru Ridwan, yang akhirnya membuat suasana dalam mobil sedikit terasa hidup.


“Kenapa?” Tanya Zayn, segera mengangkat pandangannya ke depan.


“Di depan sepertinya ada kecelakaan. Lihatlah, begitu banyak kendaraan terjebak.” Ridwan menyahut dan menunjuk ke pusat kemacetan dengan sorot matanya. “Termasuk kita.” Imbuhnya.


“Segera cari jalan memutar.” Pintah Zayn, semakin merasa tidak tenang.


“Sepertinya tidak bisa tuan. Kita terjebak, lihatlah disamping kiri, kanan dan belakang. Kita benar-benar terjepit. Tidak ada celah untuk keluar.” Sahut Ridwan lagi dan Zayn mengerang kesal, memukul kursi tempatnya duduk.


...........


“Disini kamu rupanya.” Seru Sabi, mengintip dari balik pintu.


Queen mengerang, memutar bola matanya. Menghindar dari Sabi.


Sabi masuk mendekati Queen, dengan sebuah mangkuk berisikan ice cream rasa cokelat.


“Waah ... ruangan apa ini? Ruangan ini terasa seperti istana yunani. Nuansa vintage, mewah dan juga Eropanya sangat kental.” Sabi berdecak kagum melihat ruangan besar itu, dengan beberapa manekin tanpa kepala telah terpasang pakaian yang indah terpajang indah disana.


“Ini ruangan yang aku maksud, tempat aku meletakkan semua pakaian yang telah jadi.” Jawab Queen singkat, tidak mau menatap Sabi.


“Ada apa denganmu? Apa kamu marah padaku?” Celetuk Sabi, semakin mendekati Queen yang sedang duduk di sofa putihnya yang lembut. “Makanlah ini, supaya suasana hatimu membaik.” Sabi menyodorkan mangkuk berisi ice cream itu pada Queen.


Queen mendorong lembut mangkuk itu, dan tidak mau menatap mangkuk itu.


“Hey, ini enak. Cobalah. Aku yakin kamu pasti ketagihan.” Sabi mendorongnya lagi, masih terus membujuk Queen.


“Aku percaya.” Ucap Queen tapi tetap menolak mangkuk ice cream yang disodorkan Sabi.


“Bohong. Jika kamu tidak percaya, kenapa kamu tidak mau mencobanya?!” Sabi kembali menyodorkan mangkuk itu pada Queen.


Queen menggeleng dan menjauhkan mangkuk itu dari pandangannya.


Sabi duduk tepat disebelah Queen, menatap gadis itu lekat. Entah mengapa dia merasa senang setelah mendengar ucapan Queen yang mempercayainya. Tidak semua orang bisa percaya dengan mudah apa yang diucapkannya, apalagi sampai mengakuinya seperti itu. Itu membuat dirinya merasa senang, bahwa dia memiliki seseorang selain Jon yang percaya padanya.


“Kenapa kamu melihatku seperti itu?!” Ketus Queen, mendapati Sabi yang terus memandangnya lekat.


Sabi menggeleng, lalu tersenyum. “Tidak.” Ucapnya senang, dan mulai melahap ice cream itu perlahan.


“Mau kusuap?!” Serunya lagi, masih mencoba menggoda Queen.


“Aiishh ... singkirkan itu dari pandanganku!” Queen berusaha menghindari sendok ice cream yang terus disodorkan Sabi, dan Sabi tertawa melihat Queen yang terus berusaha menghindari sendok ice cream itu seperti anak-anak yang sedang menghindari sendok yang berisi obat.


“Kamu ketawa?!” Geram Queen, menatap tajam Sabi . Membuat Sabi semakin suka menggodanya, lalu menjulurkan lidahnya, dan Queen semakin merasa kesal.


Queen langsung merampas mangkuk beserta sendok ice cream itu dari tangan Sabi.


“Uuu ... akhirnya dia mau mencobanya.” Goda Sabi melirik Queen dengan tatapan meledek.


“Oh ya?!” Dengan cepat Queen langsung mencubit paha Sabi hingga membuat Sabi mengerang kesakitan dan dia langsung mengisi mulut Sabi dengan gumpalan ice cream. Membuat mulut Sabi langsung terasa keram seketika.


“Aaaa ...” Sabi semakin berteriak dan Queen tertawa terbahak-bahak melihatnya.


Mau tidak mau, Sabi meniup-niup ice cream yang ada di mulutnya untuk mengurangi rasa dingin yang menyerang mulutnya sekaligus. Seperti sedang meniup makanan panas yang terlanjur masuk ke dalam mulut, begitulah dia sekarang dan itu membuat Queen semakin tertawa melihatnya.


“Kamu pikir itu panas?!” Ucap Queen lalu tertawa lagi.


“Aishh ... dahaar keham!” Ketus Sabi, yang masih terbata. Membuat Queen semakin tertawa dibuatnya.


“Apa? Keham?! Hahahaa ...”


“Sini, berikan itu padaku!” Sabi mengambil mangkuk ice cream dari tangan Queen. “Bisa-bisa aku mati karena keram mulut, hanya karena kamu. Kan tidak lucu, jika beritaku muncul di koran. Seorang konglomerat ditemukan mati tergeletak di lantai akibat keram mulut, karena memakan ice cream terlalu banyak.” Imbuhnya, membuat Queen semakin tertawa tanpa jeda. Sampai memukul-mukul tubuhnya beberapa kali karena tidak bisa mengerem mulutnya untuk berhenti tertawa.


...........


“Aku tidak akan memaafkanmu jika kejadian ini terulang lagi.” Ucap Zayn, menatap tajam Zulaikha yang ada di sebelahnya.


“Saya minta maaf, tuan.” Sahut Zulaikha, tertunduk menatap pergelangan tangannya yang memerah.


“Ciiih ...” Zayn hanya mendesis membuang pandangannya keluar jendela.


“Ada satu hal yang membuat saya bingung.” Seru Zulaikha, perlahan mengangkat wajahnya. “Kenapa anda selalu merasa panik dan hawatir jika tuan muda Sabiru ada di dekat Nona Queen Lee?!” Imbuh Zulaikha memberanikan diri menatap Zayn.


Ridwan yang mendengar itu, langsung menatap spion dalam mobil. Melihat mereka berdua yang duduk di kursi belakang. Sedangkan Zayn masih diam dan tidak menjawab.


“Saya tau alasannya untuk membuat tuan muda Sabiru agar selalu bergantung padaku, tapi itu tidak menjawab rasa penasaranku terhadap rasa hawatir anda yang seperti ini.” Sambung Zulaikha.


Bersambung ...