FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
69. Pemandangan dari Balkon



“Hm ...” Seru Sabi dengan nada berbisik, dia tidak tau lagi apa yang harus dia katakan.


“Hmm?” Queen meniru ucapan Sabi dengan memberi bubuk nada dramatisasi, membuat Sabi tertunduk merasa sedikit bersalah.


“Waah ... memang yah, orang-orang hanya pandai berkomentar tanpa tau kerja keras dibalik keindahan sebuah desain yang telah kubuat.” Ucap Queen dengan nada yang sedikit ngegas, sambil mendorong manekin yang ada di dekatnya sampai terjatuh dan membuat Sabi, maupun Joy tersentak kaget dibuatnya.


“Apakah kamu tau?! Baik aku maupun Joy dan lainnya sudah bekerja keras mengerjakan pakaian-pakaian ini. Bahkan kami kurang tidur, makanpun kami terburu-buru karena harus bergegas menyelesaikan semua pakaian yang kamu lihat ini! Satu pakaian saja membutuhkan banyak orang, dan mereka hanya fokus pada pakaian, bukan pada sampah.” Sambung Queen, semakin meluapkan emosinya.


“Kami desainer, bukan tukang bersih-bersih.” Tegas Queen. “dan jika kamu berpikir kami tidak memperkerjakan tukang bersih-bersih, kamu salah total. Bodoh! Kami punya banyak asisten rumah tangga di rumah ini.”


“Ssst!!!” Sabi langsung menyumpal mulut Queen dengan jari telunjuknya dan Queen sontak langsung terdiam.


“Sepertinya kamu sangat lelah.” Seru Sabi menarik tangan Queen.


“Apa yang kamu lakukan?!” Sergah Queen melirik tangannya yang ditarik oleh Sabi.


“Where can I get some fresh air? (Dimana aku bisa mendapatkan udara segar?)” Sabi menoleh ke arah Joy yang menatapnya heran.


“Fresh air? do you think the air in this room is dirty?! (Udara segar? Apakah kamu pikir udara di ruangan ini kotor?!)” Timpal Joy.


Sabi memutar matanya, mendengar kebodohan Joy dalam mengambil kesimpulan. “Balcony. where's the balcony?! (Balkon. Dimana balkon?!)”


“Oh, there.” Joy menunjuk ke sebuah pintu yang ada diujung ruangan itu. “Wait. I will open the door to the balcony for you.” Joy sedikit berlari menuju pintu itu dan membukanya perlahan.


Seketika angin pantai berhembus masuk ke dalam ruangan dan memberikan rasa sejuk. Mata Sabi, langsung tertuju pada pemandangan laut yang sedikit terhalang oleh tubuh Joy yang berdiri di pintu.


“Mau kesana?” Tawar Queen dan Sabi mengangguk setuju, tanpa keraguan Sabi menarik tangan Queen menuju balkon dengan sedikit berlari kecil.


“Waah ...” Lidah Sabi berdecak kagum, terus memandangi pantai dan laut dari balkon lantai dua di rumah itu.


Mereka bisa melihat dengan jelas betapa tenangnya ombak dengan jernihnya laut berwarna biru, yang sesekali terlihat bersinar terpancar oleh cahaya matahari.


“Cantik.” Sekali lagi Sabi berdecak kagum melihat keindahan pemandangan laut yang tengah dilihatnya ini.


“Thankyou.” Sahut Queen, tiba-tiba.


Sabi menoleh, melihat Queen dengan tatapan heran. Tak mengerti dengan maksud ucapan Queen.


“Apa?” Sergah Queen, balik melihat Sabi.


“Aku mengatakan laut itu cantik, dan kenapa kamu bilang terimakasih?!” Tanya Sabi, masih belum melepaskan pandangannya dari laut yang terus membuatnya kagum.


Queen mendelik dan tersenyum menatapnya. “Karena kamu mengatakan cantik.”


“Yang aku katakan cantik itu laut, bukan kamu.” Tegas Sabi.


“Apapun yang kamu puji dengan menggunakan kata cantik, berarti kamu mengatakan aku cantik.” Sergah Queen lagi.


“Kenapa begitu?” Sabi mendelik, melihat Queen dengan tatapan bingung.


“Karena aku cantik!” Jawab Queen singkat, yang sukses membuat Sabi mendesis mendengar ucapannya dan Queen semakin terkekeh melihat ekspresi Sabi yang seakan tidak terima dengan ucapannya barusan.


“Tuhkan.” Seru Sabi sedikit tersenyum menatap Queen yang tengah menertawainya.


“Marah kamu hilang setelah menghirup udara segar. Berarti tadi kamu terlalu lelah, sampai marah-marah berlebihan seperti tadi.” Jawab Sabi, membuat Queen berhenti tertawa dan menatapnya canggung.


“Tea time!” Seru Joy yang datang membawakan sebuah nampan berwarna keemas an, dengan dua buah cangkir teh yang juga berwarna keemas an.


Queen berbalik dan tersenyum sambil mengangguk pada Joy yang langsung meletakkan cangkir teh itu dengan hati-hati di atas meja. Dibelakang Joy, terlihat Ella yang juga datang membawa sebuah nampan yang diatasnya ada sebuah piring kecil berisi biscuit cokelat.


“Apakah dia salah satu desainermu?” Tanya Sabi, menunjuk Ella dengan sorotan matanya.


Queen menggeleng. “Bukan. Dia Ella, sekertaris pribadiku.”


“Pantas. Gayanya tidak aneh.” Ucap Sabi, tersenyum ramah pada Ella, yang tidak membalas senyumannya.


“Apa maksudmu tidak aneh? Apa kamu pikir semua desainer gayanya aneh?!” Sergah Queen menatap tajam Sabi.


Sabi langsung terkekeh canggung, bingung mau mengatakan apa. Tapi memang benar, yang dia maksud tepat seperti yang Queen ucapkan tadi. Hanya saja, dia sedikit takut jika Queen akan kembali berceloteh panjang lebar padanya tanpa henti.


“Gaya desainer itu bukan aneh, tapi unik. Kami stylish and fashionable!” Bentak Queen yang langsung duduk, meraih cangkir tehnya. “Kamu saja yang terlalu kulot, kuno, culun dan punya selera yang tua pada fashion.” Gerutu Queen, membuat Sabi tersedak mendengar ucapannya yang penuh dengan hinaan.


“Heyy_” Seru Sabi yang baru saja ingin membantah, tapi langsung disumbat dengan biskuit oleh Queen. Membuat Joy dan Ella tertawa melihat tingkah mereka berdua.


“Kunyah itu baik-baik. Sepertinya kamu lapar.” Gerutu Queen, lalu membelakangi Sabi dan tersenyum diam-diam.


Sabi hanya bisa menarik nafasnya, pasrah. Menuruti apa yang Queen katakan. Karena mau bicarapun, pasti akan sulit karena biskuit sudah terlanjur menyumbat mulutnya duluan.


“Nona, kami permisi dulu.” Ucap Ella, sembari mundur beberapa langkah bersama Joy.


“Kalian mau kemana?” Sabi langsung melirik Ella dan Joy bergantian. “Kalian tidak mau minum teh bersama kami?”


“Tidak, tuan.” Ella menggeleng, tanpa ekspresi.


“We want to eat ice cream with our team. (Kami mau makan es krim bersama tim kami.)” sambung Joy seolah mengerti dengan apa yang ditanyakan oleh Sabi.


“What?! Kalian makan ice cream dan kami hanya minum teh?! Dimana letak hati nurani kalian? Membiarkan tamu meminum teh pada siang hari seperti ini. Seharusnya kalian menyuguhkan es krim, bukan?!” Gerutu Sabi, mengerucutkan mulutnya sambil melirik cangkir tehnya yang sudah beberapa kali dia teguk.


“Jika kamu mau makan ice cream, ikut mereka ke dalam.” Ucap Queen, lalu menyeruput tehnya.


“Kamu tidak ikut mereka?”


“Tidak.” Sahut Queen singkat.


“Kenapa?” Tanya Sabi lagi. Tapi Queen diam dan tidak menjawab lagi.


“Sekedar info, Nona Queen Lee kami tidak memakan makanan yang manis, karena itu mengandung banyak gula.” Tutur Ella, mencoba menjawab pertanyaan Sabi yang tak dijawab oleh Queen.


“Benarkah?! Tapi sepertinya dia sangat suka makanan manis.” Gumam Sabi, mengingat saat Queen begitu rakusnya makan roti di cafe langgannannya.


“Cerewet! Ikut saja mereka kalau kamu mau makan ice cream.” Gerutu Queen langsung berdiri dan meninggalkan mereka bertiga yang masih melongo melihatnya pergi.


“Ada apa dengannya?” Gumam Sabi melirik Joy dan Ella secara bergantian. Namun mereka berdua menggeleng kepala, tidak tahu.


Bersambung ....