
“Kamu benar-benar periang Queen Lee, sampai kamu dengan mudahnya tersenyum seperti itu di depan orang yang sedang berduka.” Ucap Nyonya Salma menyindir halus Queen Lee.
“Maafkan aku.” Queen duduk tepat disebelah Nyonya Salma dan mengabaikan sindiran yang ditujukan padanya. “Tadinya aku ingin memasang wajah sedih pada nenek, tapi ... itu hanya akan semakin menekan emosionalmu. Jadi sebaiknya aku tersenyum, siapa tau senyumku bisa menular.” Sambungnya lagi, membuat pundak Nyonya Salma bergidik mendengarnya.
“Mana bisa aku tersenyum dalam keadaan seperti ini.” Gumam Nyonya Salma, hampir tak terdengar dan Queen meraih tangan Nyonya Salma. Mengelusnya lembut dan memberinya dukungan lewat sentuhannya.
“Tentu saja bisa.” Tegas Queen. Membuat Nyonya Salma memandangnya serius. “Nenek harus tersenyum, agar hatimu bisa kuat. Bukankah hati seorang ibu harus kuat setegar karang demi anak-anaknya?! Ingat, Nenek masih memiliki seorang anak yang sedang bertarung untuk tetap hidup di rumah sakit. Jadi, Nenek harus kuat demi anakmu dan tentu saja demi cucu-cucumu juga. Mereka bahagia melihat nenek tersenyum, dan sedih melihat nenek terus-terusan bersedih seperti ini.” Imbuhnya, membuat Nyonya Salma menatapnya serius.
“Tapi aku sedang berduka, jadi wajar jika aku sekarang merasa sedih Queen. Aku kehilangan Dua anak, menantu bahkan cucu. Sekarang aku kehilangan seorang menantu lagi.” Ucap Nyonya Salma serius.
“Aku tau.” Queen menepuk punggung tangan yang telah berkerut itu. “Wajar saja jika bersedih karena kehilangan seseorang dalam hidupmu. Tapi bukan berarti harus terus-terusan bersedih, meratap bahkan sampai mengabaikan orang-orang disekitar yang masih hidup bersama Nenek.” Kata-kata itu langsung membuat mata Nyonya Salma membulat.
“Nenek harus bangkit dari rasa terpuruk yang terus membelenggu perasaan itu. Tidak baik, jika terus-terusan seperti itu. Nenek membuat beberapa orang didekatmu merasa tidak berarti.” Kata Queen, menarik tangannya kembali.
“Kalaupun memang benar orang yang pergi adalah orang yang begitu berarti, setidaknya hargai perasaan orang-orang yang masih ada disekitar Nenek sekarang. Mereka juga masih keluargamu. Mereka membutuhkan senyuman hangatmu.” Jelas Queen, memalingkan wajahnya dan menatap seseorang yang sedang bersembunyi dibalik dinding.
Nyonya Salma menarik nafasnya panjang, dan mengelap pelupuk matanya yang sedikit basah. Dia sadari, selama ini dia hanya fokus pada orang-orang yang pergi meninggalkannya dan mengabaikan beberapa orang yang masih hidup disekitarnya.
Selain itu, dia juga sadar betapa naif dirinya yang merasa paling tersakiti disini. Rasa bersalah perlahan timbuh dihatinya, pada Sabi yang selalu berusaha membuatnya tertawa dan pada Andi Syafar serta Nyonya Sura yang terus merawatnya dengan baik. Mereka bahkan sampai tidak memajang foto keluarga karena ada beberapa orang dalam foto keluarga itu yang telah meninggal dunia.
Mereka juga membuat peraturan untuk tidak membicarakan atau menyebutkan nama orang yang telah meninggal, hanya untuk menjaga perasaan Nyonya Salma yang terus berkabung.
“Ya Tuhan ... kenapa aku begitu naif dan egois?!” Suara Nyonya Salma -bergetar, menyadari sikapnya yang selama ini salah.
“Sudah ... tidak usah pikirkan itu sekarang. Sekarang Nenek harus bangkit dan berhenti meratapi nasib atas orang-orang yang telah pergi.” Kata Queen menenangkan Nyonya Salma dengan rangkulannya pada pundak wanita rentah itu.
“Terimakasih Queen Lee ... terimakasih sudah menghiburku dan juga menyadarkan orangtua yang naif dan egois ini.”
Queen hanya tertawa mendengarnya dan semakin merangkul erat pundak wanita tua itu.
Setelah beberapa saat menenangkan Nyonya Salma, dia akhirnya berpamitan undur diri. Nyonya Salma melepaskannya dengan senyuman tulus yang terukir diwajah keriputnya.
Queen membalasnya dengan senyuman terbaiknya, lalu berbalik, fokus melihat dinding yang sedari tadi menjadi pusat perhatiannya. Entah siapa yang ada dibalik dinding itu, tapi orang yang berada dibalik dinding itu membuatnya kesal. Karena terus menguping dan membuatnya tidak bisa menanyakan sosok anak kecil yang ada di foto bersama Nyonya Salma.
Seorang gadis dengan rambut hitam tergerai panjang, serta pakaian kantor hitam putih yang tidak asing. Membuat mata Queen yang melihat sosok dibalik dinding itu, tidak terkejut. Raut wajahnya justru terlihat santai karena menyadari gadis itu adalah Zulaikha, sekertaris pribadi Andi Sabiru.
“Oh ... jadi tugas lain dari seorang sekertaris pribadi adalah menguping?!” Queen tersenyum menyeringai ke arah Zulaikha yang terkejut dengan kehadirannya.
Mata Zulaikha sedikit melotot dan salah tingkah setelah dipergoki oleh Queen. Dia pikir, Queen tidak akan menyadari keberadaannya. Tapi ternyata, dia salah. Queen Lee sangat jeli melebihi ekspektasinya.
“Jangan berpikir bahwa aku yang terlalu jeli karena menyadari kehadiranmu. Tapi, salahkan dirimu yang terlalu naif karena berpikir dirimu tidak akan diketahui karena menguping.” Cerca Queen Lee memangku tangannya didepan dada.
“Maaf Nona, sepertinya anda salah paham.” Dari banyaknya alasan yang bisa dia ucapkan, tapi hanya kata itu yang dengan mulusnya terlontar dari mulut Zulaikha yang tengah gelagapan menghadapi Queen.
Queen tertawa mendengarnya, dan memancing perhatian Nyonya Salma yang ada dalam ruangan.
“Kamu pembohong yang bodoh!” Caci Queen mulai menatap Zulaikha dengan tatapan menghakimi. “Katakan, katakan apa maksudmu mengupingku dengan Nyonya Salma? Siapa yang menyuruhmu? Katakan!” Cerca Queen dengan nada suara yang mulai meninggi dan tajam.
Jika itu terjadi, maka identitas dirinya sebagai mata-mata Zayn Adijaya akan terbongkar. Usahanya ingin mengetahui keberadaan adiknya akan sia-sia. Dia benar-benar menyesali tindakannya sekarang dan dia juga merasa serba salah karena berada disituasi yang serba salah.
Apa yang harus kukatakan?!
Oh Tuhan, aku tidak boleh dipecat hanya karena menguping. Aku membutuhkan pekerjaan ini.
Zulaikha tidak punya pihan lain, selain menarik Queen Lee menjauh dari ruangan itu. Tangannya segera menarik tangan Queen Lee secara paksa, hingga Queen tertarik dan menjauh dari pintu ruangan itu.
“Hey sekertaris sialan, apa yang kau lakukan hah?! Lepaskan!!!”
Sebisa mungkin Queen menghentikan tindakan Zulaikha yang terus menariknya secara paksa. Kakinya berhenti bergerak dan sebisa mungkin menumpukan segala berat badannya pada kakinya. Hingga membuat Zulaikha sedikit kewalahan menariknya dan memutuskan untuk berhenti, sambil sesekali mengatur nafasnya yang kewalahan.
Queen menyeringai, melihat kesempatan disaat Zulaikha lengah menanganinya. Tangannya yang dicengkeram oleh Zulaikha diputarnya hingga tangan Zulaikha juga ikut terputar, membuat Zulaikha mengeluh dan refleks melepaskan cengkraman tangannya pada lengan Queen.
Dengan cepat tangan Queen Lee yang satunya meraih tangan Zulaikha sebelum Zulaikha benar-benar menarik kembali tangannya, lalu mencengkram tangan Zulaikha lebih kuat dua kali lipat dari yang sebelumnya dia lakukan.
Aakhh ....
“Katakan padaku! Apa maksudmu menguping pembicaraanku dengan Nyonya Salma?! Bukankah kamu sudah tau, bahwa menguping majikan tidaklah baik!” Queen semakin mencengkram tangan Zulaikha kuat, membuat gadis itu semakin mendesis menahan sakit.
“Anda salah paham nona.”
“Oh ya?! Kalau memang aku salah paham, lantas kenapa kamu menarikku menjauh dari ruangan itu? Kenapa?! Kamu tidak mau Nyonya Salma sampai tahu bukan bahwa sekertaris pribadi cucunya adalah seorang tukang nguping?!” Cerca Queen, semakin menambah kuat cengkramannya.
Aakkhhh ...
Rasa sakit akibat cengkraman tangan Queen membuat Zulaikha semakin kesakitan dan menggigit bibirnya. Matanya menatap tajam mata Queen Lee yang juga tengah menatap tajam matanya. Tatapan mata Queen Lee begitu kuat dan tajam, hingga Zulaikha tidak bisa melihat sebuah ketakutan disana yang bisa dia manfaatkan untuk menggertaknya.
Jika terus-terusan seperti ini, maka dirinya bisa kalah telak dari Queen Lee dan posisinya juga akan terancam. Semua usahanya selama ini jadi sia-sia.
Tentu saja dia tidak boleh kalah semudah ini. Sambil terus mencari celah, sebuah sosok yang dia kenali berjalan mendekat ke arah mereka. Mata Zulaikha langsung berbinar dan sebuah ide pun muncul. Mau tidak mau, suka tidak suka, bagus tidak bagus. Dia harus melakukan ini.
Semakin sosok itu berjalan mendekat, dan Queen Lee sibuk mencercanya. Zulaikha menghitung mundur dalam batinnya untuk membuat waktu pas, agar sesuai dengan rencananya.
3 ... 2 ... 1
Tepat setelah batinnya menyebutkan angka satu, dia langsung menjatuhkan dirinya ke lantai dan merintih dengan kuatnya. Berlagak seakan telah disakiti oleh Queen Lee.
“Eh ...”
Sosok yang sedari tadi dinantikan oleh Zulaikha yang tak lain adalah Sabiru. Langsung mengadahkan pandangannya ke depan dan melihat Zulaikha yang sedang dirundung oleh Queen Lee.
“Zuuu ...” teriak Sabi.
Bersambung ...