FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
51. Salah Sangka



“Ini makanannya yah, selamat makan.” Ucap pelayan wanita dengan ramah.


“Terimakasih.” Sahut Queen.


“Makasih.” Sabi Langsung mengorek makanannya tanpa tersenyum pada pelayan itu.


Bulu kuduknya memang sudah tak berdiri lagi, tapi bukan berarti rasa takutnya telah hilang. Dia berusaha menutupi rasa takutnya dengan rasa waspada, pada seluruh pegawai di cafe itu.


Namun gadis yang ada di depannya terlihat sangat biasa - biasa saja, seperti tidak ada yang perlu dihawatirkannya tentang hantu atau apapun hal yang berbau horor.


Sabi melirik Queen yang mulai menyantap makanannya.


“Hey..” seru Sabi yang spontan ketika melihat Queen yang dengan lahapnya memakan setumpuk sayuran mentah dengan saos mayonais diatasnya.


Iiikhhh... apakah dia kambing? Dia terlihat seperti sedang makan setumpuk rumput dalam mangkuk. Gumam Sabi, yang langsung menelan salivanya. Seolah langsung bisa merasakan rasa pait dilehernya ketika menelan sayuran mentah itu.


“Hm? Kenapa?” Gumam Queen masih memakan salad sayurnya dengan lahap.


“Aah.. tidak tidak.”


“Makanlah..” imbuh Queen.


“Iya. aku berdoa dulu.” Sahut Sabi, mulai mengangkat tangannya dan berdoa dengan keyakinan yang dianutnya.


“Kamu tidak berdoa?” Tanya Sabi, sambil mulai memotong paha ayam gorengnya.


Queen langsung meletakkan sendok dan garpunya, lalu meneguk sedikit air putih.


“Hmm.. aku? Berdoa?! No!” Seru Queen, dengan tegas.


Sabi mendongakkan kepalanya, memandang gadis itu heran.


“Hey.. bukankah aku pernah mengatakannya padamu? Atau ke sekertarismu itu? Ah.. aku lupa.” Queen menggeleng - gelengkan kepalanya yang juga kebingungan dengan pikirannya sendiri.


Sabi sekilas tertawa dengan tingkah Queen.


“Intinya, aku atheis. Jadi aku tidak berdoa dan aku tidak percaya tuhan.” Imbuh Queen penuh percaya diri.


Seketika Sabi tersedak mendengar ucapan Queen. Queen segera memberikan air putih pada Sabi, Sabi sesegera mungkin meneguknya dengan perlahan sampai gelas itu benar - benar kosong.


“Benarkah?” Tanya Sabi tak percaya.


Queen mengangguk dengan tatapan polosnya.


Wah... aku tidak menyangka ada orang asli negaraku yang atheis.


“Kenapa kamu sekaget itu? Bukankah kamu dulu kuliah diluar negeri? Jadi harusnya kamu tidak perlu kaget kan?! Soalnya diluar negeri atheis itu hal yang biasa.” Tutur Queen.


“Tidak, tidak. Aku hanya tidak menelan makananku dengan sempurna.”


“Bohong!”


“Iya betulan, aku ngga bohong!” Sangkal Sabi, berusaha meyakinkan Queen.


Queen tersenyum kecil lalu kembali memakan makanannya, perlahan - lahan.


“Kenapa kamu tidak percaya tuhan itu ada?” Dengan hati - hati Sabi bertanya pada Queen.


“Tidak usah dibahas, aku hanya tidak ingin percaya.” Jawab Queen dengan tatapan yang berubah sayu.


Apakah sesuatu terjadi padanya?! Gumam Sabi yang mulai simpati, ketika menyadari tatapan sayu, Queen.


“Maaf.” Ucap Sabi.


Queen mengangkat kepalanya, dan tersenyum pada Sabi dengan tatapan yang kembali ceria. Seolah mata sayu yang dia tunjukkan beberapa menit yang lalu langsung sirna.


Melihat senyuman Queen, Sabi menyadari satu hal tentang Queen. Bahwa gadis di depannya ini, yang terkadang menjengkelkan dan menakutkan, memiliki sebuah kesedihan dalam hatinya dan tidak bisa mengungkapkannya. Sabi merasa kini mereka memiliki 1 kesamaan lagi, yaitu memiliki kesedihan dalam hati mereka dan tidak mudah untuk diungkapkan pada orang lain.


“Tidak apa - apa Queen. Kita sama.” Seru Sabi, meletakkan tangannya diatas tangan Queen.


“Ha? Apakah kamu juga atheis?! Tapi tadi kamu berdoa.” Sergah Queen dengan raut wajah yang kebingungan.


Sabi tergelak tawa. Bisa - bisanya Queen berpikiran bahwa dia atheis. Padahal maksud Sabi dengan kata sama, adalah mereka memiliki kesedihan yang tidak bisa diungkapkan ke orang lain. Itulah kesamaan mereka.


“Tidak Queen. Bukan itu.”


“Lalu apa?” Queen menatap sinis Sabi.


“Lanjutkan makanmu. Kita harus bergegas pergi, karena sekarang pasti sekertarisku sedang mencariku.” Jawab Sabi, mengalihkan pembicaraan.


Queen tidak menyaut, dan melanjutkan kegiatan makannya dengan sangat lahap.


...........


Di ruangan kerja Sabi, Zulaikha tidak menemukan keberadaan Sabi dimanapun. Ruangan Sabi benar - benar sunyi tanpa Sabi yang selalu membuat keributan dalam ruangannya.


Zulaikha menatap dinding kaca yang mengarah ke pemandangan laut. Air matanya mulai menetes sedikit demi sedikit dan akhirnya semakin deras.


Tidak, aku tidak boleh menangis. Aku harus mencari keberadaan tuan Sabi. Gumam Zulaikha yang mengelap air matanya, lalu mengambil handphone miliknya.


Dia menekah tombol panggi pada sebuah kontak yang bertuliskan Andi Sabiru. Belum berapa lama terdengar bungi ‘Tut tut’ pada telfonnya, sebuah nada dering tiba - tiba terdengar dari atas meja Sabi.


Zulaikha mendekat dan yap! Nada dering itu adalah nada handphone Sabi, yang ternyata hanphone Sabi tertinggal di atas mejanya.


Aissh.. tuan muda kamu dimana? Suasana hatiku sedang tidak baik sekarang, aku sedang tidak ingin bermain petak umpet denganmu. Karena rasanya air mataku akan tumpah lagi.


Aaa... maafkan aku tuan muda.


Zulaikha menangis semakin sesegukan. Suasana hatinya benar- benar berantakan. Meskipun kadang wajahnya terlihat datar, dan seperti wanita tangguh yang worka holic, tapi hatinya begitu lembut. Hingga membuatnya terkadang cengeng, ketika suatu hal tidak berjalan dengan baik di hidupnya.


Zulaikha terus menangis menumpahkan segala kesedihannya. Tanpa merisaukan apapun, air mata Zulaikha jatuh semakin deras. Tanpa dia sadari, pintu terbuka dan didepannya telah berdiri Queen yang menatapnya datar.


Zulaikha langsung terangkat kaget menyaksikan Queen yang ternyata sedang menyaksikannya menangis. Buru - buru dia menghapus air matanya, dan mengatupkan kedua bibirnya untuk berhenti mengeluarkan suara tangisannya.


“Aku tidak tau apa yang terjadi denganmu. Tapi mendengar tangisanmu dari luar, mungkin hari ini hidupmu tidak berjalan dengan baik.” Ucap Queen, memangku kedua tangannya di depan dadanya.


Zulaikha memilih bungkam sambil terus mengelap pelupuk matanya yang basah.


“Cepat lap air matamu. Sebentar lagi tuan mudamu akan sampai disini. Tadi aku menyuruhnya untuk kembali turun ke bawah, karna aku tidak mau dia melihatmu menangis seperti ini. Bukankah ini sebuah hal yang memalukan jika disaksikan atasanmu?! Jadi hapus air matamu.” Sambung Queen.


Bahkan dia menganggapku memalukan. Aahh.. Tuhan. Kuatkan aku. Gumam Zulaikha dalam hatinya sambil mengangguk mengiyakan ucapan Queen.


“Kamu harus kuat. Seperti inilah kehidupan para pekerja di perusahaan, melelahkan dan terkadang memuakkan dan juga menyedihkan. Makanya aku memilih untuk menjadi bos dan membangun perusahaanku sendiri.” Imbuh Queen lagi, sembari sedikit tersenyum menatap Zulaikha.


Semua orang kaya sama saja, suka pamer. Aku pikir dia berbeda, ternyata sama saja. Zulaikha mengalihkan pandangannya, merasa mulai tak senang dengan Queen.


“Hey Queen..” ucap Sabi dengan suara yang sedikit berteriak kesal.


“Kamu bilang gelangmu tadi jatuh dibawah, tapi sudah kucari tidak ada apapun disana.” Keluh Sabi kesal, mengendorkan dasinya dan langsung duduk di sofa kulit kesayangannya.


“Oh ya?!” Seru Queen.


“Oh ya?!!!!” Sergah Sabi mengikuti nada bicara Queen.


“Kamu pikir tidak cape aku naik turun, dari lantai atas ke bawah untuk mencari gelangmu?! Waah.. kamu benar - benar manusia tidak punya hati.” Imbuh Sabi melihat Queen dengan tatapan kesal.


“Baru begitu sudah cape, toh kamu tidak naik turun tangga. Kamu juga naik lift, sok sokan cape. Siapa suruh kamu mau? Dan satu lagi, aku punya hati. Jika aku tidak punya hati maka aku tidak akan bisa hidup tau.” Sergah Queen, tak kalah nyolot dari Sabi.


“Yaah meskipun tidak lama.” Gumam Queen dengan nada yang sedikit berbisik.


Sabi melirik Queen tajam. Berusaha mendengar sebuah ucapan yang samar - samar ditelinganya.


“A apa?” Tanya Sabi berusaha mendengar ucapan Queen yang samar ditelinganya.


“Apaa?!!!” Bentak Queen.


“Maksudku apa yang kamu bilang tadi?! Aku sedikit tidak mendengarnya.” Sahut Sabi, yang mulai menciut mendengar bentakan Queen.


“Dasar tuli!” Bentak Queen lagi, lalu meninggalkan ruangan Sabi. Pergi begitu saja tanpa menutup kembali pintu ruangan.


“Yaaa!!! Aku belum selesai bicara!” Teriak Sabi, geram melihat sikap Queen yang seenaknya.


“Dasar tidak punya hati.” Bentak Sabi, lalu berdiri dan pergi menutup pintu ruangannya dengan kasar. Hingga suara benturan pintu membuat beberapa pegawai yang ada di dekat pintu ruangannya, jadi tersentak kaget.


Zulaikha pun sedikit tersentak kaget saat mendengar suara pintu yang ditutup dengan kasar.


“Setidaknya ucapkan terimakasih. Aku sudah menolongnya hari ini, bahkan bukan sekali tapi dua kali. Waah.. sepertinya dulu dia tidak sekolah TK.” Keluh Sabi sambil kembali duduk ke sofanya.


“Hey Zu.. kamu pasti dulu sekolah TK kan?!” Tanya Sabi, melirik Zulaikha yang duduk tak jauh dari dirinya.


“Memangnya kenapa tuan?” Zulaikha bertanya balik, mengalihkan pandangannya berusaha menyembunyikan mata sembabnya yang habis menangis.


“Yah.. kalau anak - anak sekolah TK, mereka pasti diajarkan oleh gurunya selalu mengucapkan terimakasih dan berbicara yang baik pada orang lain kan?!”


“Iya memang seperti itu tuan, tapi tidak semua anak - anak yang tidak sekolah Tk memiliki sikap yang buruk. Itu semua tergantung dari sifat dari orang itu sendiri, tuan muda.” Sahut Zulaikha dengan suara yang sedikit serak.


Sabi menatap Zulaikha tajam. Dia menyadari bahwa sekertaris didepannya ini habis menangis. Mata sembab dan suara yang serak, pasti barusan berhenti menangis.


“Apa kamu barusan menangis?” Tanya Sabi dengan ekspresi wajah yang mulai serius.


“Ti tidak tuan muda.”


“Jangan berbohong denganku. Katakan, kenapa kamu menangis? Siapa yang memarahimu?”


“Aku tidak kenapa - kenapa tuan muda.” Sahut Zulaikha, memasang senyuman di depan Sabi.


“Hey.. aku tidak masalah jika kamu menangis karnaku. Tapi aku keberatan jika ada yang memarahi sekertarisku. Yang boleh membuatmu menangis atau membentakmu itu cuma aku. Andi Sabiru.” Jelas Sabi, berusaha menghibur Zulaikha.


Mendengar hal itu, Zulaikha segera mengalihkan pandangannya. Menyembunyikan senyuman kasmarannya dari Sabi. Tidak dia sangka bahwa Sabi bisa seperhatian itu padanya sekarang. Hingga membuat jantungnya kembali berdegup - degup tak karuan.


“Katakan, siapa yang membuatmu menangis? Zayn? Queen?”


Zulaikha mengangguk saat mendengar nama Zayn disebut.


“Oooh jadi dia. Dasar Queen!” Sabi segera berdiri.


Zulaikha segera mendongakkan kepalanya, melihat Sabi yang melangkah terburu - buru keluar dari ruangannya.


“Tu tuan mudaa..” teriak Zulaikha berusaha menghentikan Sabi, namun Sabi tidak menghiraukan dan terus keluar dari ruangannya.


“Ya ampun, ada apa dengannya? Semoga dia tidak salah orang.”


Zulaikha kembali meremas roknya, merasa tak tenang.


“Tidak.. tuan muda tidak boleh membuat masalah disini.”


Dengah buru - buru Zulaikha berlari mengejar Sabi.


...........


“Yaa Queen..” teriak Sabi, sambil meraih tangan Queen.


Queen berbalik, menatap Sabi heran.


“Ada apa denganmu hah?!” Bentak Sabi, meremas tangan Queen kasar hingga memerah.


“Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu.” Sahut Queen, sinis.


“Dasar tidak punya hati!” Bentak Sabi.


Mendengar kata itu, Queen sedikit kesal. Dengan segala kekuatannya, Queen berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan Sabi.


“Bisakah kamu tidak mengatakan itu?!” Ucap Queen, menatap tajam Sabi.


“Kenapa? Marah? Seharusnya aku yang lebih marah padamu. Jika kamu tidak tau mengucapkan kata terimakasih padaku, jangan membuat sekertarisku menangis. Karna itu hakku, membuat dia menangis cuman aku yang boleh melakukannya.” Jelas Sabi menghempaskan tangan Queen kasar.


Dari tempat mereka berdua berdiri, terlihat Zulaikha yang baru saja datang menyaksikan pertengkaran mereka berdua yang sedang berlangsung di koridor menuju lobi lantai satu, jalan khusus untuk karyawan.


Zulaikha melirik ke sekitar, dan tidak mendapati siapapun yang ada di koridor itu terkecuali mereka bertiga. Zulaikha menarik nafas lega, karena tidak ada yang menyaksikan Sabi yang tengah bertengkar. Akan jadi masalah untuk dirinya ataupun Sabi, jika Sabi ketahuan punya tempramen yang buruk di depan umum.


Segera Zulaikha menghampiri Sabi dan Queen yang masih beradu mulut. Namun belum berapa langkah, tiba - tiba tangannya ditarik seseorang, menjauh dari koridor dan masuk ke dalam sebuah aula yang tengah kosong.


Zulaikha sedikit kaget, namun segera bungkam ketika mengetahui orang yang menariknya adalah Zayn.


“Biarkan mereka berkelahi.” Ucap Zayn, dengan nada berbisik tepat didepan wajah Zulaikha.


“Ta tapi tuan_”


Zayn segera membungkam mulut Zulaikha dengan jari telunjuknya, yang ditempelkan tepat dibibir Zulaikha. Hingga membuat gadis itu seketika terdiam, dan tidak berani membuka mulutnya sedikitpun.


“Kan aku sudah bilang padamu, orang yang harus lebih dekat dengannya adalah kamu. Jangan biarkan mereka berdua dekat. Buatlah dia selalu bergantung padamu. Bukan pada wanita itu.” Jelas Zayn menatap mata Zulaikha dengan jarak yang sangat dekat.


“Kamu harus menjadi orang yang paling dia butuhkan. Jika ada orang lain yang lebih dekat dengannya selain kamu, maka kamu harus membuat orang lain itu menjauh darinya.” Sambung Zayn, melepaskan jari telunjuknya perlahan.


“Bukankah Sabiru adalah orang yang pernah dekat denganmu dulu?” Imbuh Zayn memunculkan rasa penasaran dibenak Zulaikha.


Bagaimana bisa dia tau?! Gumam Zulaikha sambil mengangguk perlahan.


“Kamu tidak perlu tau bagaimana aku bisa tau tentang itu. Tugasmu adalah membuatnya dekat denganmu dan buat dia bergantung denganmu atau dia akan bergantung pada wanita itu.” Ucap Zayn sedikit menusuk perasaan Zulaikha.


Bersambung...