FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
35. Ada Geram dan Tawa



"Gendong aku." Seru seorang anak perempuan, memanja pada Sabi yang berusia remaja.


"Sini naik." Sautnya sembari berjongkok di depan anak perempuan itu.


Anak perempuan itu langsung sumringah melihat Sabi, mau menuruti permintaannya. Dia segera naik ke belakang Sabi dan memeluk erat - erat leher anak lelaki yang mau menggendongnya itu.


"Kamu sudah janji ya akan melukisku." Imbuh Sabi, berdiri dan mulai berjalan sambil tersenyum menikmati suasana sore itu.


Anak perempuan itu mengangguk ceria sambil terus tersenyum bahagia dibalik pundak Sabi.


"Jangan berubah pikiran yaa.." ucapnya mendelik, melirik anak perempuan yang digendongnya.


"Jika kamu berubah pikiran.. aku akan menjatuhkanmu." sambungnya sambil menggoyang - goyangkan tubuh anak perempuan itu.


Anak perempuan itu berteriak kaget, terkejut dengan perbuatan Sabi padanya. Namun tak lama terdengar gelak tawa yang gurih dari anak perempuan itu. Dia terus tertawa sambil terus memukul - mukul punggung Sabi, lalu menarik - narik rambut Sabi ke kiri dan ke kanan sesuka hatinya.


"Hey hey.. berhenti. Aku tidak bisa melihat jalan, nanti kita jatuh." teriak Sabi, berpura - pura kehilangan keseimbangan. Membuat anak perempuan itu segera menghentikan aksinya.


"Kenapa? kamu lelah? apa saya berat?" tanya anak perempuan itu melirik Sabi dengan tatapan polosnya.


Sabi tertawa jantan. Pertanyaan anak perempuan itu seperti menggelitik perutnya. Bisa - bisa nya dia merasa dirinya berat, sedangkan tubuhnya begitu kecil dan kurus.


"Hey.. kenapa tertawa?!" anak itu menggoyang - goyangkan kakinya, merengek pada Sabi yang masih terus tertawa geli.


"Dasar Kurus!!!" celetuk Sabi mengejek anak perempuan itu.


Tuan muda.. Tuan muda..


Tiba - tiba terdengar suara seorang perempuan seperti sedang memanggil seseorang. Sabi melirik ke sekitar mencari asal suara itu. Perlahan tubuhnya terasa ringan, diraba bagian belakangnya. Anak perempuan itu telah tiada. Pikirannya semakin panik, jantungnya berdetak tak beraturan. Semakin cepat dan semakin cepat. Nafasnya terasa tertahan, kepalanya pun terasa nyeri. Telinganya ikut berdengung kuat disertai rasa nyeri yang tak tertahankan.


"Aaaaakkkhh..." teriak Sabi, terbangun dari mimpinya.


"Tuan muda.. anda kenapa? kepala anda sakit lagi?" tanya Zulaikha menatap Sabi, hawatir.


Dimana? dimana anak itu? Gumam Sabi, celingak celinguk melirik ke sekitar mobil yang mereka tumpangi.


Tidak ada seorangpun anak kecil di sana bersama mereka, yang ada hanya pak Van yang masih duduk di depan, menatapnya heran. Zulaikha yang sudah berada di luar mobil, dan seseorang dibalik kain yang menutupi seluruh wajahnya. Ditariknya kain itu, memeriksa barangkali anak kecil itu bersembunyi di balik kain itu.


"Heyy.. What are you doing?" decak Queen yang masih setengah sadar, menyadari seseorang telah menarik kain dari wajahnya.


Apa? bukan anak itu? jadii... tadi hanya mimpi? Sabi kembali melirik ke sekitar. Mencoba mengingat - ingat apa yang terjadi.


"Tuan muda.. apa anda tidak mau turun?" tanya Zulaikha memancing perhatian Sabi.


Benar. Itu hanya mimpi. Aku kelelahan karena ulah Queen, hingga aku tertidur tanpa ku sadari dan bermimpi indah. Gumam Sabi sembari menarik nafas, lalu dibuang perlahan. Menatap kosong ke depan. Merasa putus asa, ternyata itu hanyalah mimpi. Padahal dia merasa sangat bahagia bersama anak itu, ada semacam perasaan damai dalam lubuk hatinya.


Mimpi itu begitu indah..


Eh.. Mimpi indah?


Apa?! Aku bermimpi indah?


Hey.. Akhirnya! akhirnya setelah sekian lama, aku bisa bermimpi indah. Wajahnya berseri ceria, kendisnya nampak semakin dalam jika dia semakin tersenyum.


Zulaikha yang melihat itu tampak datar, seolah mulai biasa dengan sikap Sabi yang selalu aneh.


"Yeess! akhirnyaaaa!" teriak Sabi sumringah, meloncat - loncat riang ditempat duduk.


"Akhirnya apa tuan?" tanya pak Van menyela Sabi.


"Akhirnya paaak.. akhirnya aku bermimpi indah!" jawabnya girang, menyentuh wajah pak Van dan menggoyang - goyangkannya.


"ii iiya tu tuan.. lepasin wajah aku dong tuan.." Pak Van terkekeh canggung, melepaskan kedua tangan Sabi, perlahan dari wajahnya.


"Ini pasti berkatmu lagi!" Sabi kembali melirik Zulaikha, lalu menarik kedua tangan gadis yang masih belum ngeh dengan ucapannya.


"Setiap ada kamu yang menemaniku tidur, mimpiku selalu bagus. Zuu.. makasih Zuu." imbuh Sabi menggoyang - goyangkan tangan Zulaikha, tersenyum senang sambil sesekali dihiasi tawa.


Apa? Zuu?


..........


Matahari mulai kembali ke tempat peristirahatannya. Suasana perlahan - lahan menggelap, pendaran cahaya bintang - bintang mulai memancarkan sinarnya. Bulan pun tak mau kalah, bersinar penuh menunjukkan purnamanya yang elok.


"Waah.. indah sekali." seru Zulaikha membuang nafasnya perlahan, menikmati indahnya pemandangan malam ini.


"Terimakasih bulan, kamu membuat malamku lebih baik dari siangku hari ini." imbuhnya tersenyum, menatap sayu bulan purnama yang tengah bersinar dengan sangat indahnya.


Diliriknya lagi jam tangan usang miliknya. Waktu menunjukkan pukul 7 malam. Matanya membelalak kaget, dan segera berlari menuju suatu tempat. Meskipun kelelahan, Zulaikha tetap memaksakan dirinya agar bisa secepat mungkin sampai di tempat yang membuat kakinya terus berlari.


Akhirnya langkah kakinya berhenti di depan sebuah rumah makan yang bernuansa ala negara bunga sakura, dimasukinya rumah makan itu. Terlihat dekorasi dan seluruh pegawainya memakai pakaian ala - ala orang jepang jaman dulu. Mata Zulaikha tidak berhenti melihat ke sekeliling, menikmati lingkungan yang bernuansa Jepang. Sesekali Zulaikha berdecak kagum dengan apa yang dia lihat. Hatinya begitu tergugah melihat tempat itu, ditambah lagi pelayan yang ramah dan selalu menegur setiap pelanggan yang masuk dengan menggunakan bahasa Jepang, membuat Zulaikha jadi bersemangat berinteraksi dengan mereka.


"Ohayo.. Nona.." sapa seorang pelayan pria dengan kimono membaluti tubuh besarnya.


"aa.. iya mas." seru Zulaikha canggung.


"Mau ke bilik berapa?" tanya pelayan pria itu ramah, sambil memberi sebuah bunga mawar segar berwarna merah.


"Hm.. aku tidak tau." Zulaikha terkekeh menggaruk lehernya bingung.


"Tapi, aku datang untuk bertemu dengan tuan Zayn Adijaya." Imbuhnya sambil menjentikkan jarinya.


Pelayan pria itu segera mengangguk mengerti, dan menuntun Zulaikha tanpa bicara sepatah katapun lagi menuju bilik tempat Zayn berada.


Rupanya orang yang membuat gadis kecil itu berlari di malam hari adalah Zayn. Entah apa yang membuat Zayn, ingin bertemu dengan gadis itu.


"Silahkan masuk nona.." Pelayan pria itu mempersilahkan Zulaikha untuk masuk, setelah membuka sedikit bilik ruangan itu.


"Ba baik.." Zulaikha perlahan - lahan membuka pintu itu, sambil melirik keberadaan Zayn dengan jantung yang berdebar takut.


Disana, tepat di depan meja makan. Zayn sudah duduk tegap memandang Zulaikha tanpa ekspresi apapun.


Apakah dia sedang marah padaku?! Kenapa dia diam dengan mata melotot seperti itu?! Zulaikha menelan salivanya, masuk meremas tali tasnya.


"Terlambat 10 menit." ucap Zayn melirik jam tangan mewah miliknya.


"Maafkan saya tuan. Ada banyak hal yang terjadi hari ini." Ucap Zulaikha sambil menundukkan kepalanya.


"Oh.. Berarti ada banyak hal yang perlu kamu sampaikan padaku." Zayn menatap tajam Zulaikha, sambil sesekali mengetukkan garpu di piring makannya.


Astagah benar! Dia pasti ingin menagih apa yang aku dan dia telah sepakati kemarin.


"Sekarang ceritakan. Aku tidak suka menunggu." Imbuh Zayn, memberi penekanan pada ketukan garpunya yang terakhir.


"Ba baik Tuan.." Zulaikha mengangguk mengerti dan mulai menceritakan semua yang terjadi hari ini, tanpa ada satu rahasiapun yang dia simpan.


Zayn menyimak serius, sambil melahap makanannya tanpa mempersilahkan Zulaikha ikut makan bersamanya.


"Aku sudah mengatakan semua yang terjadi. Sekarang giliran anda tuan." Zulaikha mengangkat wajahnya, menatap Zayn tajam.


"Baiklah.. katakan apa yang ingin kamu tanyakan padaku." Ucap Zayn sambil menghentikan aktifitas makannya.


Zulaikha menelan salivanya perlahan, sambil terus menatap Zayn yang sedang menatapnya enteng.


"Apakah saudaraku masih hidup?"


"Iya." Jawab Zayn singkat.


Seketika jantung Zulaikha berdebar kencang, matanya mengerjap beberapa kali seolah tak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan.


"Benar."


Mata Zulaikha terlihat berkaca-kaca, seutas senyuman terukir di bibirnya. Perasaan lega mengisi seluruh hatinya yang selama beberapa tahun ini selalu dipenuhi dengan kesedihan dan juga rasa bersalah.


"Kalau begitu dimana dia sekarang?" tanya gadis itu yang sudah lupa dengan rasa gugupnya tadi.


"Aku tidak bisa memberitahumu."


"Apa? kenapa tidak?! Aku sudah memberitahukan semua yang terjadi hari ini padamu tuan. Kenapa anda tidak mau memberitahu padaku dimana saudaraku sekarang? Aku saudaranya, aku berhak tau keberadaannya!" Zulaikha membentak dengan nada suara yang meninggi.


"Cih.. sudah berani ya kamu membentakku." Zayn menyeringai tajam.


Seketika mulut gadis itu langsung kaku, barusan menyadari betapa lepas kendalinya dia barusan. Zulaikha langsung menundukkan kepalanya, memejamkan mata berusaha mengendalikan dirinya yang lepas kendali.


"Maafkan aku tuan."


"Jika kamu ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaanmu tadi. Maka, tukarlah dengan informasi yang lebih berbobot lagi." Sergah Zayn.


Apa?! informasi berbobot?!


"Berhubung Sabi sudah senang dan mulai bergantung padamu. Aku akan mengirimmu untuk tinggal di kediaman keluarga Andi, dan mencari informasi berbobot untuk ditukarkan dengan jawaban dari pertanyaanmu barusan." Imbuh Zayn, berdiri menatap Zulaikha yang masih duduk menunduk.


"Tapi tuan_"


"Kalau kamu tidak mau, tidak apa." Sergah Zayn memotong ucapan Zulaikha.


"Tapi jangan pernah bermimpi untuk bertemu dengannya." Imbuhnya lagi.


Seketika mata Zulaikha melotot. Tangannya terlihat menggumpal geram atas perkataan Zayn. Kenapa bisa ada orang seperti itu, suka memanfaatkan keadaan susah orang lain demi kepentingannya sendiri. Sungguh Egois dan tidak punya rasa simpati.


Zayn kemudian pergi meninggalkan Zulaikha tanpa meliriknya sedikitpun. Dia meninggalkan gadis itu tanpa rasa iba sedikitpun, seolah rasa simpatinya kepada sesama manusia telah hilang.


Dibukanya pintu ruangan itu, di sana terlihat sudah ada Ridwan yang berdiri menanti Zayn. Mata pengawal setia itu sedikit mendelik ke arah Zulaikha, namun dia sama saja seperti Zayn. Tidak peduli. Mereka berdua pergi meninggalkan Zulaikha yang masih termenung geram atas keadaan yang dia alami.


..........


#Ruang Makan Kediaman Keluarga Andi


Di meja makan yang cukup besar, telah berkumpul Nyonya Sura, Sabi, Nenek dan juga Queen yang sementara menyantap makan malam mereka tanpa bersuara sedikitpun.


Keluarga ini begitu kaku. Apa semua keluarga memang seperti ini?! Queen terlihat memperhatikan satu persatu anggota keluarga Andi yang sedang menyantap makanannya tanpa memulai percakapan.


Pasti akan menyenangkan jika ada Nyonya Denisa di sini. Queen menarik nafas panjang lalu dihembuskan perlahan bersama dengan rautan wajahnya yang murung.


"Ada apa Queen? Apakah makanannya tidak enak?" Tanya Nyonya Sura, yang ternyata memperhatikan Queen diam-diam.


"Makanannya enak, sangat enak. Hanya saja, entah mengapa aku merasa ada yang kurang." Jawab Queen menghentikan tangannya yang dari tadi terus mengorek - ngorek piring.


"Lidahnya kampungan. Tidak biasa makan makanan orang kaya." Celetuk Sabi sembari mengambil sebuah daging bakar dari atas piring yang tak jauh dari depan Queen.


Ciih..


Dengan cepat Queen menancapkan garpunya tepat pada daging bakar yang hendak Sabi ambil.


"Yaa.. apa yang kau lakukan?" Seru Sabi kaget mendapati daging bakarnya ditahan oleh Queen.


"Tentu saja untuk mengambil daging ini." Ledek Queen.


"Punyamu saja belum kau makan sama skali, dan kamu sudah ingin mengambil daging ini? Dasar rakus!" Balas Sabi yang tak mau kalah.


Queen langsung mendelik ke arah Sabi.


"Apa kamu tidak tau? Seperti ini cara orang kaya makan! Kamu orang kaya atau cuma numpang kaya?!"


Mendengar ucapan Queen, Nyonya Sura langsung meletakkan garpu dan pisaunya dengan kasar di atas meja. Sabi dan Queen yang tadinya bertengkar langsung terdiam dan melirik ke arah Nyonya Sura. Bahkan Nenekpun menyapu dadanya karena sedikit kaget dengan suara hentakkan yang nyonya Sura buat.


"Saya sudah selesai makan. Silahkan lanjutkan makan kalian." Ucap Nyonya Sura, kemudian berlalu pergi meninggalkan rasa tidak enak di hati Queen.


Apakah Nyonya Sura marah padaku?! Aiissh.. pasti dia tersinggung dengan ucapanku. Dasar baperan. Queen mendesis lalu melirik Sabi dengan tatapan tak suka.


"Apa? kenapa? kenapa kamu melirikku seperti itu?" Sergah Sabi mengangkat garpunya di depan Queen.


"Hey.. Stop it!" bentak Queen, berusaha menghentikan tangan Sabi yang terus mengayun - ayunkan garpunya di depan wajahnya.


"Oh yaa? oooohh..." Sabi masih terus meledek Queen.


"Hey.. stop it!" bentak Queen lagi.


"Jika tidak stop, aku akan membatalkan perjanjian tadi sore." Ancam Queen, sambil tersenyum licik.


"Oh yaa?! Ooohhh yaaa?!" Ledek Sabi dengan wajah yang dibuat - buat.


"Hey hey.. makan saja makanan kalian, tidak usah saling mengejek seperti itu." Tegur nenek yang sedari tadi nemperhatikan pertikaian mereka berdua.


"Dia duluan nek.." Seru Queen menunjuk - nunjuk Sabi dengan sendoknya.


"Hey.. perhatikan sendokmu! air di sendokmu kecipratan ke aku." Sabi mengelap wajahnya yang kena sesikit air sayur Queen.


Queen langsung tergelak tawa dan terus mengayun - ayunkan sendoknya di depan wajah Sabi.


"Oh yaa? oooh yaaa?!" Ledek Queen sebagaimana Sabi meledeknya tadi.


"Heeey.. Stoop.. stooop!!!"


Nenek langsung tersenyum dan sedikit tertawa dibuat Queen dan Sabi. Sabi yang mendengar hal itu, langsung melirik Nenek yang berada di sebelah Queen.


Nenek ketawa?! Gumam Sabi tak percaya melihat Nenek kesayangannya yang sudah lama tidak tertawa, sekarang tertawa tepat di depannya.


Tiba - tiba perasaan bahagia menyetrum hatinya, membuat rasa usilnya untuk menjahili Queen semakin bertambah.


"Hiyaa.. rasakan ini!" Sabi melempar selembar daun selada pada Queen hingga mendarat tepat di wajahnya.


"Hahahaha.. waa.. hahaha.." Sabi terbelalak melihat wajah Queen yang setengah tertutup oleh daun selada.


Nenekpun ikut tertawa melihat Wajah Queen.


"Neek.. lihat Nek, dia seperti tumpukan salad hidup." celetuk Sabi membuat Nenek semakin tertawa.


"Aiishh.. kamuu.." Queen segera menyingkirkan selada yang ada di wajahnya, lalu meremas sayur yang ada di atas piringnya.


"Jurus siraman sayuuur.. Haaa..!!!" Queen segera melemparkan sayur yang diremasnya tadi tepat di depan wajah Sabi. Hingga membuat wajah Sabi, seperti mangkuk sup yang dipenuhi dengan aneka sayur.


"Hahaha..." Quen tertawa tak kalah heboh dari Sabi.


"Nek.. lihat nek. Wajahnya seperti mangkuk sup!" Seru Queen sambil terus terbahak - bahak melihat wajah Sabi.


"Sudah sudah hentikan.. Perut Nenek sakit ketawa terus." kata Nenek yang berusaha berhenti tertawa, namun gagal karena masih merasa geli.


"Nenek.. Tapi aku masih tampan kan seperti ini?" Sabi langsung bergaya imut seperti anak kecil.


"Imut kan nek? Imut kan?"


Nenek tidak bisa menjawab sepatah katapun, hanya tawa yang keluar dari mulutnya.


Melihat Nenek yang menertawai Sabi, Queen pun tidak bisa berhenti tertawa, tawanya malah semakin menjadi - jadi hingga memancing tawa Sabi, dan mereka bertiga tertawa bersama. Hingga kekakuan yang ada dalam ruang makan tadi, langsung hilang ditelan suara tawa mereka bertiga.


Bersambung....