FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
20. Banteng Jon



"Apaa?!" teriak sabi sambil memukul meja merasa tak percaya apa yang barusan dia dengar.


"Kamar yang kamu masuki adalah kamar milik Queen, karena kamar milikmu adalah kamar 1092 sedangkan kamar Queen 1094." Jelas Jon yang tak fokus melihat Sabi melainkan melirik serpihan gelas mahalnya yang telah pecah.


"Jadi dalam kasus ini aku yang salah?"


"Iyaa.. iyaa kamu yang salah! sudah salah ngotot lagi! kalau kamu tidak ngotot ke Queen dan sembarangan bertindak, gelas sultanku pasti sekarang masih utuh." teriak Jon kesal, menyerang Sabi.


"Hey heey.. santailah.. itu hanya gelas! di rumahku mungkin yang begituan banyak."


"Ini gelas langka, dibuat oleh seorang seniman keramik di Paris dan dibuat dengan tangannya sendiri. Setelah dia membuat 10 lusin gelas seperti ini, tak lama dari itu dia tutup usia!" teriak Jon kesal, disusuli raut wajah sedih.


Jon segera turun dari sofa tempat mereka duduk, dan berlutut di depan serpihan gelasnya yang pecah dengan tatapan yang begitu sedih.


"Joon.. kamu itu pria! kamu ngapain menangisi gelas yang pecah?! ada baiknya kamu itu menangisi seorang gadis daripada menangisi gelas yang pecah." Ucap Sabi masih dengan santainya tanpa rasa bersalah.


"Muka kayak preman tapi hobinya ngoleksi gelas." Sambung Sabi diiringi dengan tawa.


Mendengar tawa Sabi yang sangat ringan seolah tanpa ada rasa bersalah dan dosa. Jon menjadi geram hingga diliriknya sebuah pecahan kaca yang lebih besar. Dengan cepat diambilnya pecahan kaca itu dan bangkit lalu nenatap Sabi tajam dengan lubang hidung yang mulai membesar layaknya banteng yang ketika marah.


"Saaaabiiiiiiii...." Teriak Jon sambil mengangkat kaca dilengan kanannya, dengan nafas yang memburu kesal.


Sabi sontak melirik Jon yang rupanya hampir menyerupai banteng yang sedang marah dengan nafas yang memburu kesal.


"O'oow.."


Praaakkk!!! Sebuah kaca melayang, pecah tepat disebelah Sabi dan hampir mengenainya.


"Aaaaaaa.."


Sabi berteriak histeris, dan segera lari keluar dari kamar khusus milik Jon. Ditutupnya segera pintu kamar itu, sambil melirik ke kiri dan ke kanan berusaha mencari jalan tercepat untuk keluar. Sementara Jon dengan kekuatan besarnya, menggedor - gedor pintu kamar dan sesekali mendobrak pintu dengan sekuat tenaga hingga Sabi sendiri tak bisa menahannya terlalu lama.


Tiba - tiba diliriknya seorang pegawai hotel yang sedang lewat membawa sebuah troli yang berisikan berbagai macam jenis peralatan kebersihan.


Ditariknya pegawai itu beserta trolinya, hingga pegawai itu tersandar di pintu kamar beserta trolinya.


"Hey pak.. apa yang anda lakukan?"


"Sudah diam! tugasmu menahan pintu itu sampai aku menghilang dari hotel ini. Oke?!" ucap Sabi sambil berlari meninggalkan tempat pria itu berdiri yang masih dalam kebingungan.


"Memangnya ada apa dibalik pintu? heeeey... hey tuaaaan..." pegawai itu berusaha memanggil - manggil Sabi yang tak memperdulikannya dan terus berlari menghilang dibalik lorong.


...........


Sabi berhenti tepat di depan hotel milik Jon. Berusaha mengatur nafasnya yang terengah - engah.


"Aah gilaa! Jon belum berubah kalau marah. Pantas saja dia belum laku - laku sampai sekarang."


Sabi melirik ke sekitar, berusaha mencari supir pribadinya atau apa saja yang bisa membawanya pergi keluar dari hotel. Lebih baik keluar daripada akan bonyok dihajar oleh Jon dengan tangan besarnya.


Seketika matanya tertuju pada sebuah mobil taxi yang baru saja berhenti mengantarkan seorang penumpang. Disampirinya mobil taxi itu dengan sempoyongan.


"Sabiiiii..." teriak Jon dari dalam hotel.


Sabi sontak melirik, dan melihat Jon yang sedang berlari ke arahnya dengan tatapan liar seakan ingin membunuhnya.


"Aaaaa.."


Seketika tenaganya terisi kembali. Hingga yang tadinya berjalan sempoyongan karena lelah kehabisan tenaga, mendadak langsung lari ketika melihat Jon dibelakang yang tengah mengejarnya dan tanpa menunggu aba - aba Sabi langsung masuk ke dalam taxi. Menutup pintu mobil dengan gegabah, dikuncinya pintu mobil dengan tatapan pucat lalu menaikkan jendela taxi hingga dia bisa bersembunyi dibalik jendela.


"Pak.. cepat paaak!" pintah Sabi pada supir taxi yang keheranan melihatnya yang tengah bersembunyi seperti maling yang habis tertangkap basah.


"Pak.. apakah anda pencuri?" tanya supir taxi itu, berusaha memastikan.


"Pencuri pencuri... mana ada pencuri setampan dan serapih ini pak?!" Sergah Sabi kesal.


"tapi pak_"


"Ya ampuuun pak jalan ajaaa... nanti aku kasih 3 kali lipat dari harga normal!!!"


"Tapi pak_"


"Paaaaak.. jalan paaak.. si banteng sudah dekat paaak!" ucap Sabi yang mulai panik melihat Jon yang sudah di sebelah pintu taxi.


"Paaaaak cepaat paaaakkkkk!" teriak Sabi sambil melemparkan sejumlah uang yang tak dia hitung lagi berapa jumlahnya.


Melihat uang seratus ribu yang berhamburan didepannya. Si supir taxi segera menancap gas dan melaju meninggalkan hotel dan Jon yang tadinya berusaha membuka pintu taxi.


"dari tadi kek pak.. kan kalo gini enaak." Sabi mengelus dadanya lega.


...........


Beberapa saat kemudian, Sabi sampai disebuah rumah besar yang tak lain adalah rumahnya atau lebih tepatnya rumah keluarga Andi.


"Pak sudah pak.. ini sudah terlalu banyak."


"Sudah ambil saja!" ucap Sabi sambil berlalu meninggalkan supir taxi yang masih menatap Sabi dengan tatapan senang bukan kepalang.


Didalam rumah, Sabi melihat ke sekitar dan merasa ada yang janggal dengan rumahnya. Nuansa rumah terlihat lebih ramai dari biasanya dan para asisten rumah tangga terlihat lebih sibuk dari biasanya.


"Ada apa ini?" tanyanya pada dirinya sendiri.


"Selamat datang tuan muda.." Sambut Mila dengan raut wajah yang sangat ramah.


"Ada apa ini Mila? kenapa rumah jadi aneh seperti ini?" tanya Sabi yang kebingungab melihat ornamen - ornamen tambahan yang ada di langit - langit rumahnya.


"oh ini tuan.. ini bukan aneh tuan, ini namanya syantik nan kreatif!" jawab Mila ramah.


"Ini semua ide nyonya, ibu anda tuan." ucap Mila dengan nada yang berbisik.


"Hah? kenapa Ibu melakukan ini semua? apakah karena dia bosan hingga dia mau merubah tatanan rumah lagi?!"


"Tidak tuan, tidak!"


"Lalu apa? cepat bilang! jangan bertele - tele Milaaaa.." cetus Sabi yang mulai kehilangan kesabarannya.


Mila kemudian agak lebih mendekat ke telinga Sabi.


"Nyonya akan mengadakan pesta penyambutan." bisik Mila.


"Hah? pesta penyambutan? untuk siapa? Gio? atau Gia? atau untuk Gio dan Gia? hahh?!" Sabi semakin penasaran, dan Mila semakin senang melihat tuannya semakin antusias dengan pembicaraan yang jarang - jarang terjadi seperti ini.


"Bukan tuan, tapi pesta penyambutan untuk tamu kaya yang datang dari paris." Bisik Mila lagi.


"Apa? hanya untuk menyambut tamu sampai - sampai Ibu melakukan semua ini? Apakah Bibi Denisa tidak keberatan dengan semua ini?"


"Tidak tuan! sama sekali tiiidak. Malahan Nyonya Denisa sangat senang dengan kehadiran tamu itu." jawab Mila bersemangat.


"Bahkan nyonya Denisa juga ikut turun tangan membantu pelayan di dapur." Bisik Mila.


"Apa? kamu seriusss?"


"Iya tuuuan.."


"Milaaa!" Bentak pak Tri yang datang dari belakang mengagetkan mereka berdua, terlebih - lebih Mila. Matanya langsung membulat sempurna dan wajahnya mulai pucat.


"Hehehe.. pak Tri. Darimana saja pak? tadi aku mencari bapak tapi tidak ketemu - ketemu." Ucap Mila berusaha melindungi dirinya dari cercaan pak Tri.


"Jangan ngasal kamu! cepat sana kembali bekerjaa!" Bentak pak Tri sambil menarik tubuh Mila menjauh dari Sabi. Hingga membuat Mila mendesis kesakitan, lalu kembali ke dapur dengan raut wajah sedih.


"Kamu tidak perlu berlebihan seperti itu Pak Tri." ucap Sabi berusaha membela Mila.


Mendadak ekspresi wajah Mila berubah senang, hingga raut sedih yang terukir di wajahnya seolah - olah tidak pernah terukir. Dengan girang Mila berjalan dengan bahagia karena mendengar tuan Sabi membelanya dari ocehan pak Tri.


"Maaf Tuan muda.." ucap pak Tri sembari menundukkan kepalanya.


"Siapa yang akan datang?" tanya Sabi sambil melirik ke seluruh ruangan berusaha mencari Ibunya.


"Maaf tuan, saya juga tidak tahu. Karena baik nyonya Denisa maupun Nyonya Sura tidak mengatakan siapa yang akan datang. Hanya yang mereka katakan bahwa tamu yang akan datang ini adalah tamu spesial yang datang jauh - jauh dari Paris."


"dan mereka senang akan hal itu?"


"Iya tuan.. terlebih lagi Nyonya Denisa. Nyonya sangat senang, hingga Tuan Syafar sangat mendukung pesta ini." jawab pak Tri.


"oh.. baiklah. Selama tidak ada yang meributkan perihal pesta ini, yaa tidak masalah. Asalkan kedua wanita itu tentram - tentram saja." ucap Sabi dengan raut wajah yang tenang.


..........


Malam yang ditunggu - tunggu oleh kedua nyonya besar di rumah keluarga Andi, akhirnya tiba. Seluruh ruangan telah selesai ditata dengan rapih dan cantik. Pesta yang bernuansakan pink pastel dipadu dengan warna ungu muda, membuat rumah megah nan anggun itu seolah - olah berubah menjadi rumah yang bernuansa manis dan tak bosan untuk dipandang oleh kaum hawa.


Sabi yang sedari tadi melirik tamu - tamu yang mulai berdatangan dari balkon lantai dua depan pintu kamarnya. Sesekali dia menarik nafas, dan merasa jenuh dengan nuansa pesta yang serba pink.


"Arrrgh... pernak pernik ini membuat mataku sakit." keluh Sabi sambil menggosok lembut matanya.


"dan tamu ini.. kenapa semuanya perempuan? apakah tamu spesial itu adalah perempuan juga?" tanyanya pada dirinya sendiri.


"Tuan muda.."


terdengar suara seorang wanita tiba - tiba memanggilnya dari bawah. Segera Sabi mendongakkan kepalanya ke bawah dan mendapati Zulaikha yang berdiri tegap melambai ke arahnya dengan pakaian kantor hitam putihnya.


*A*pakah dia zebra? kesana kemari dengan pedenya memakai pakaian hitam putih.


Bersambung...