
Setelah perkelahian konyol di meja makan. Sabi masih terus cengingisan bahkan setelah dia membersihkan dirinya. Seolah masih terbayang di kepalanya adegan perkelahian pagi tadi.
“Selamat pagi tuan muda..” Sapa Zulaikha yang baru saja datang bersama dengan beberapa koper dikedua tangannya.
“Apa yang kamu lakukan di rumahku?” Tanya Sabi heran, seolah - olah lupa bahwa hari ini seharusnya dia pergi bekerja.
“Saya datang menjemput anda, Tuan.”
“Ah iya benar!” Seru Sabi diiringi gelak tawa, mengingat agenda mereka hari ini. “Tapi.. ada apa dengan kedua koper itu?” Sabi melirik heran koper yang masih dipegangi oleh Zulaikha.
“Oh iya, saya diperintahkan oleh Tuan Andi Syafar untuk tinggal di rumah besar keluarga Andi, agar mempermudah saya membantu tuan muda dalam pekerjaan.” Jawab Zulaikha lugas, berusaha menyembunyikan fakta bahwa yang mempunyai ide tersebut tak lain adalah Zayn.
Sabi terlihat sedikit heran dengan raut wajahnya yang berkerut. Namun setelah sedikit berpikir dan tanpa curiga sedikitpun, akhirnya dia mengangguk setuju lalu mengantarkan Zulaikha bertemu dengan kepala koki di rumah itu.
“Aku akan membawamu bertemu dengan kepala koki di rumah ini.” Ucap Sabi sambil menggiring Zulaikha menuju dapur tempat Pak Tri berada. “Dia adalah Pak Tri, meskipun dia kepala koki tapi dia yang mengontrol seluruh asisten rumah tangga di rumah ini.” Sambungnya menghentikan langkah kakinya di depan dapur yang terlihat sangat ramai.
Melihat sosok Sabi dan Zulaikha yang berdiri di depan dapur, membuat seluruh orang yang sedang sibuk bekerja langsung berhenti dan menganggukkan kepala. Tak ketinggalan, Pak Tri segera menghampiri Sabi lalu menganggukkan kepalanya.
“Ada yang bisa saya bantu tuan muda?”
“Mulai hari ini Zu akan tinggal di rumah ini. Tolong antarkan dia ke kamarnya sambil jelaskan beberapa peraturan yang harus Zu taati ketika dia tinggal di rumah ini.” Pintah Sabi yang menyoroti dua koper besar yang dibawa Zulaikha.
“Baik Tuan.” Pak Tri mengangguk mengerti.
“Zu, kamu ikut dengan Pak Tri. Ingat jangan terlalu lama, karena kita punya banyak agenda hari ini.” Sabi lalu pergi meninggalkan Zulaikha yang masih mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakannya.
Kenapa dia memanggilku Zu?! Zulaikha menatap heran punggung Sabi yang semakin menjauh darinya.
Sabi melangkahkan kakinya cepat, seolah ada yang sedang dia buru. Dinaikinya anak tangga itu dengan cepat, hingga sampailah dia di depan pintu kamar Queen.
“Queen...” teriak Sabi sambil mengetuk - ngetuk pintu kamar Queen berkali - kali. “Queen.. Queen...”
“Ada apa denganmu? Tidak bisakah kamu hanya mengetuk saja?” Queen membuka pintu, menatap Sabi dengan tatapan tak suka.
“Terserah aku! Ini kan rumahku, kalau tidak senang silahkan pindah sana!” Sabi malah balik memarahi Queen.
Layaknya dua bocah yang saling membenci, setiap ketemu tidak pernah jika tidak akur. Pasti ada - ada saja yang akan membuat kedua orang dewasa itu akan saling beradu mulut. Hingga tujuan Sabi datang menemui Queen jadi terlupakan.
Queen yang bosan berdebat dengan Sabi, langsung segera menutup pintu kamarnya. Namun sebelum pintu kamar itu benar - benar tertutup rapat, kaki Sabi sudah terlebih dahulu menjanggal pintu kamar itu.
“Ooh tidak bisa!!!” Ledek Sabi sambil melirik ke kakinya yang menyangga pintu kamar Queen.
“Yaaa!!!” Queen berteriak kesal, membuka kembali pintu kamarnya lebar - lebar.
“Sebenarnya apa maumu hah? Aku sedang malas untuk berdebat hari ini.”
“Bersiap - siap sana. Kita akan bertemu dengan Paman Edie.”
Mendengar ucapan Sabi, Queen langsung tergelak tawa.
Bisa - bisanya mengatakan itu saja, mereka harus adu mulut dan bertengkar seperti kucing dan tikus.
“Hey.. apakah ada yang lucu?” Sabi memelototi Queen yang masih tertawa sambil menggeleng - gekengkan kepalanya.
“Kamu yang lucu.” Segera Queen menghentikan tawanya lalu membalas lototan mata Sabi yang tak kalah besarnya dengan matanya.
Apa dia sedang mengejekku?! Dasar gadis licik.
Tanpa meninggalkan sepatah katapun, Queen menendang kaki Sabi hingga lelaki itu merintih kesakitan, lalu dengan cepat dia menutup pintu kamarnya.
“Yaaaa!!! Apa kau gila hah?!!”
Dari kejauhan, Zulaikha memperhatikan Sabi yang masih berteriak kesal sambil terus menggedor - gedor pintu kamar Queen. Zulaikha hanya bisa menarik nafasnya dalam - dalam menyaksikan drama marah - marahan anak kecil yang sedang diperankan oleh orang dewasa.
Segera Zulaikha menaiki anak tangga lalu menghampiri Sabi dan mengingatkannya agar segera berganti pakaian yang rapih. Namun karena masih kesalnya dengan Queen, bukannya segera menurut, Sabi malah meneriaki Zulaikha sebagai pengganti Queen. Lalu pergi masuk kedalam kamarnya.
Sabar Lai... sabarr... Zulaikha hanya bisa menyapu dadanya, berusaha sabar menghadapi lelaki dewasa dngan sikap anak - anak.
...........
Di dalam mobil, seperti biasa Queen menutup kepalanya dengan jaket hitam miliknya. Sabi yang tepat berada disebelah Queen hanya bisa menggelengkan kepala melihat betapa anehnya Queen ketika naik mobil.
Sementara Zulaikha yang duduk di kursi depan, diam - diam menyaksikan Sabi dari pantulan kaca yang ada di depannya.
“Kamu pasti tipe orang yang mabuk perjalanan kalau naik mobil kan?” Ledek Sabi sambil melirik Queen.
“Tutup mulutmu. Jangan sembarang bicara.” Sanggah Queen masih tetap tenang dibalik jaketnya.
“Oh yaa?!”
“Diam atau kuhajar kau nanti?!” Ancam Queen.
Zulaikha yang merasa drama percekcokan sedikit lagi akan dimulai langsung segera berbalik dan melerai mereka.
“Tuan muda... selagi masih dalam perjalanan, sebaiknya anda membaca laporan yang saya buat untuk diserahkan pada Pak Eddie.
“Oh iya benar! Sini, berikan tapnya.” Seru Sabi sambil menjulurkan tangannya pada Zulaikha. Meminta tap berisikan laporan yang dimaksud Zulaikha.
Zulaikha menatap tangan itu dalam - dalam. Tiba - tiba terbesit sebuah kenangan layaknya film lama yang diputar kembali. Tangan besar Sabi terlihat mengecil, dan wajah Sabi berubah menjadi anak lelaki yang berumur sekitar 12 tahunan tengah tersenyum padanya.
“Kamu..” seru Zulaikha, menatap Sabi dengan mata yang berkaca - kaca.
“Hmm.. kenapa? Mana tapnya?”
Kata - kata Sabi sontak membuyarkan lamunan Zulaikha. Sosok anak lelaki itu langsung hilang dan tergantikan dengan wajah Sabi yang menatapnya heran.
“Hey.. apa kamu barusan melamun?” Tanya Sabi lagi.
Zulaikha tergelak tawa, menyadari bahwa dirinya baru saja melamunkan anak lelaki yang merupakan cinta pertamanya dulu.
Astagah.. apa yang aku lakukan?! Bodoh!!!!
...........
Kedatangan mereka bertiga ke lokasi seleksi model, membuat beberapa kameramen dan wartawan yang sedang meliput langsung fokus pada Queen Yang berjalan dengan moleknya dan tak lupa memakai kacamata hitam yang bertaburkan berlian. Membuat dirinya terlihat lebih dari seorang selebriti papan atas.
Beberapa karyawan Pak Eddie yang menyaksikan pemandangan itu langsung segera berlari menghampiri mereka bertiga.
“Lewat sini Nona dan Tuan muda..” seru karyawan itu ramah menuntun jalan menuju tempat pak Eddie.
Sesampainya di salah satu ruangan. Karyawan itu nempersilahkan mereka bertiga untuk masuk ke dalam ruangan itu. Ternyata di sana sudah berdiri Pak Eddie dengan senyuman yang cerah, secerah matahari pagi menyambut kedatangan mereka.
“Queen Lee.. selamat datang di Negara tercintaku.” Teriak Pak Eddie, berlari menghampiri lalu menjabat tangan Queen dengan penuh harapan.
Queen hanya tersenyum canggung melihat tingkah orang tua itu padanya. Karena baginya ini adalah pemandangan biasa yang sering terjadi ketika orang - orang bertemu dengan dirinya. Saking terlalu biasanya bagi dia, dia sampai kehilangan rasa senang yang benar - benar membuat hatinya terasa senang. Bukan canggung.
“Mari duduk...” ucap Pak Eddie mempersilahkan Sabi dan Queen untuk duduk, sementara Zulaikha tetap berdiri dari kejauhan memperhatikan ketiga orang penting dan berpengaruh yang sedang bernegosiasi.
Setelah melewati pembicaraan dan kesepakatan yang panjang. Akhirnya Queen setuju menandatangani kontrak untuk bekerjasama dalam event yang akan diselenggarakan oleh Pak Eddie.
Sementara Zulaikha yang menperhatikan dari jauh hanya bisa geleng - geleng kepala dengan tingkah dan selera Queen yang sangat tinggi tentang sebuah event. Ternyata membujuk Queen untuk bekerjasama, sama repotnya dengan membujuk Pak Eddie untuk bekerjasama.
Akhirnya Pak Eddie mendapatkan lawan yang seimbang dengannya, yang cukup membuat kepalanya pusing dengan Queen.
Terlihat wajah Sabi tersenyum senang menatap Zulaikha dari depan sambil mengacungkan jari jempolnya dengan bangga. Sedikit canggung, Zulaikha membalas senyuman lelaki itu dengan sedikit senyuman miliknya.
“Lets go..” Seru Queen menepuk bahu Sabi hingga membuat Sabi terangkat kaget.
“Oh iya, ayo!”
Mereka bertiga kembali berjalan keluar ruangan, baru saja mereka keluar dari ruangan, mereka langsung di sambut oleh angin pantai yang berhembus kuat membawa rasa kering menyengat di kulit.
“Huhh... ini lah salah satu alasan mengapa aku benci negara ini.” Keluh Queen lalu memakain kacamata hitamnya kembali.
“Hey.. kamu berasal dari negara ini. Tidak baik bicara seperti itu.” Sanggah Sabi yang kesal dengan ucapan Queen.
“Aku memang berasal dari negara ini. Tapi itu beberapa tahun yang lalu. Sekarang aku bukanlah orang dari negara ini.” Bantah Queen, menyoroti Sabi dengan menurunkan sedikit kacamatanya. Memperlihatkan tatapan mata tak sukanya pada lelaki yang sedang menyanggahnya.
“Ciihh.. Dasar sombong!” Bantah Sabi, melangkah mendekati Queen.
Zulaikha yang berada diantara mereka berdua langsung segera menengahi kedua orang dewasa itu agar tidak beradu mulut di depan umum. Bukan hanya Sabi yang akan kena masalah jika Sabi tersorot kamera dengan perbuatan yang tidak baik. Melainkan dirinya sendiri juga akan terkena masalah, bukan hanya di pecat tapi dia juga tidak akan mendapatkan info apapun tentang saudaranya.
“Stop stop stop!!!” Zulaikha sedikit berteriak menahan tubuh Sabi yang mulai mendekati Queen.
“Sebaiknya kita mencari tempat untuk beristirahat. Tuan muda dan Nona Queen pasti haus kan?” Tawar Zulaikha sambil melirik Sabi dan Queen secara bergantian.
“Baiklah..” Sabi setuju, mengundurkan niatnya untuk mendekati Queen.
Zulaikha kembali melirik Queen yang masih diam, menunggu jawaban Queen atas sarannya.
Queen memutar bola matanya kesal. “Terserah” akhirnya dia mengeluarkan pendapatnya meskipun terdengar seperti bodoamat.
“Baiklah.. kalau begitu kita makan disana!” Tunjuk Zulaikha pada sebuah cafe yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Queen dan Sabi sontak langsung menoleh ke arah yang Zulaikha tunjuk. Berbeda dengan ekspresi Sabi yang semangat, mimik wajah Queen justru terlihat murung ketika melihat cafe itu.
Cafe itu...
Queen segera meremas roknya. Rasa kesalnya pada Sabi tadi, langsung berubah menjadi sedih yang memenuhi seluruh relung hatinya.
Bagaimana tidak, cafe itu adalah tempat dia dan Zayn bertemu beberapa hari yang lalu. Namun tidak disangka, dia akan masuk lagi ke dalam cafe yang menyimpan kenangan menyedihkan antara dirinya dan Zayn.
“Hey..” panggil Sabi, berusaha menyadarkan Queen dari lamunannya.
“Apa kau tidak mau ikut?” Tanya Sabi lagi, fokus melihat mata Queen dibalik kacamata.
Apakah dia tidur? Sabi menyentuh tangan Queen, lalu digoyang - goyangkannya tangan Queen.
Merasa tangannya ada yang sentuh, Queen segera tersadar dari lamunannya. Namun menyadari ada sebuah wajah yang sangat dekat dengan wajahnya, membuatnya tersentak kaget dan refleks memukul wajah Sabi sekuat mungkin.
“Aawwwe..” sabi meringis nyeri merasakan kulit wajahnya barusan ditampar oleh Queen.
“Yaa.. apa kau gila haah?!” Teriak Sabi lagi, masih memegangi pipinya yang memerah.
Queen tergagap, dan bingung mau mengatakan apa. Suasana hatinya sedang tidak baik sekarang. Dia malas berdebat, malas dan malas. Hanya itu yang dirasakannya sekarang.
“Aku minta maaf. Aku tidak sengaja.” Ucap Queen judes, pergi meninggalkan Zulaikha dan Sabi.
Pikiran dan hatinya sedang tidak bisa diajak untuk bekerjasama. Rasanya malas dan kacau sekaligus. Moodnya berantakan. Hingga Queen segera menyebrang jalanan tanpa menengok ke kiri ataupun ke kanan.
“Yaa Nonaa..” teriak Zulaikha yang berusaha meraih Queen yang sudah terlalu jauh darinya.
“Awaas!” Seru Sabi yang berhasil meraih tangan Queen, lalu menariknya hingga jatuh kedalam pelukan Sabi untuk yang kedua kalinya.
“Kamu ini kenapa sih? Suka banget bikin orang repot.” Gerutu Sabi masih mendekap Queen dalam pelukannya.
“Bukan urusanmu!”
Sabi segera melepaskan dekapannya. Memegang kedua pundak Queen kuat.
“Hey.. kamu harus ingat, masih ada kontrak kerja yang harus kamu tepati. Setelah itu, mau kamu lopat dari gunung pun terserah.”
“Iya aku tau.” Sahut Queen, sambil melepaskan dirinya dari kedua tangan Sabi.
“Hm.. tuan, nona. Kalau begitu ayo kita pergi ke cafe itu. Sebelum kita bertiga jadi sorotan wartawan disini.” Lerai Zulaikha.
Sabi berdeham mengerti. Melangkah menuju jalan raya, tak lupa menarik tangan Queen.
Mata Queen langsung membulat sempurna melihat Sabi dengan cueknya menarik tangannya untuk berjalan beriringan dengannya.
“Kamu kayaknya suka digandeng yah.. Mau nyebrang jalan saja harus digandeng.” Seru Sabi sambil tersenyum tipis ke depan tanpa menoleh sedikitpun pada Queen.
Bersambung....
Jangan lupa klik like dan coment yah teman2.. mari kita saling mendukung satu sama lain🤗🤗🤗