FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
81. Rumah Duka



Queen termenung memikirkan foto yang tadi dia lihat di kamar Nyonya Salma, sambil memangku dagunya dengan sebelah tangan. Anak lelaki itu terasa sangat familiar baginya. Sorot matanya, bahkan semua tekstur wajahnya pun terlihat sama.


Atau mungkin mereka kembar?! Ya ampun, tidak mungkin!!! Dia anak satu-satunya. Atau mungkin wajah mereka mirip?! Doublegenger?! Aiissh... lebih tidak mungkin. Eh, tapi bisa saja mungkin.


Beragam pertanyaan yang datang, langsung dijawab Queen sendiri didalam kepalanya. Membuat raut wajahnya semakin berkerut memikirkan foto anak lelaki itu.


“Nona Queen, anda belum pergi?!” Seru Pak Tri yang baru saja keluar dari rumah, sedang mengantar Zulaikha ke mobil. Bersama dengan beberapa paper bag di masing-masing tangan mereka.


Queen menengok dan melirik Zulaikha dan Pak Tri bergantian. Seketika sesuatu terlintas dibenaknya, membuatnya berjalan mendekati Zulaikha.


“Aku tadi menaruh dua pakaian dalam satu tas untuk Nyonya Sura. Bisakah kamu mengembalikan yang satunya ke kamar?!”


Zulaikha menatapnya tanpa bersuara, kemudian mengangguk perlahan. Lalu pergi kembali ke kamar Nyonya Sura, seperti yang diperintahkan Queen Lee padanya karena membantah hanya akan semakin menyita waktunya.


Entah mengapa hari ini Queen Lee begitu judes setiap melihat Zulaikha. Bahkan setiap melihat Zulaikha, rasanya Queen ingin mengunyahnya mentah-mentah lalu meludahkannya ke tanah.


Perubahan suasana hatinya yang menurun pada Zulaikha mungkin disebabkan karena Zulaikha yang pernah memfitnahnya pada Sabi, hingga dia dan Sabi sempat bertengkar di kantor karenanya. Yah meskipun mereka sering bertengkar, setidaknya bertengkar karena kesalahan masing-masing bukan karena kesalahan yang tidak pernah dibuatnya.


Terlebih lagi Queen Lee bukan tipikal orang yang mudah memaafkan jika orang yang berbuat salah padanya belum meminta maaf, bisa dipastikan orang itu akan selalu menjadi pusat rasa kesalnya kelak. Seperti yang Queen lakukan saat ini.


“Nona, anda bisa meminta saya atau asisten rumah tangga lainnya untuk membawa pakaian itu ke atas.” Tegur Pak Tri.


“Tidak usah pak. Itu pakaian wanita, jadi privasi.”


“Tapi anda bisa meminta asisten rumah tangga.”


“Hmm ... aku tadi tidak memperhatikan dua asisten rumah tangga itu.” Sorot mata Queen menunjuk dua asisten rumah tangga perempuan yang sedang berdiri dibelakang Pak Tri. “Tapi, tumben sekali Pak Tri peduli pada orang lain. Biasanya cuek dan acuh. Tapi tidak apa ... pertahankan!” Imbuh Queen, mengacungkan jempolnya pada Pak Tri. Kemudian berlalu dan masuk ke dalam mobil pribadinya.


...........


Di rumah duka keluarga Laha, dimana rumah kediaman orangtua dari Nyonya Denissa, mulai terlihat ramai. Tikar import yang lembut, telah digelar diruangan tempat jenazah Nyonya Denisa terbaring. Disana terlihat beberapa orang berkumpul dan menangis bersama melihat wajah cantik Nyonya Denissa untuk yang terakhir kalinya.


Beberapa orang lainnya terlihat membacakan surah Yasiin dengan lantunan yang lembut, beriringan dengan suara tangisan yang terus pecah dalam ruangan itu.


Sesekali Sabi melirik jam tangannya. Sangat nampak di wajahnya bahwa dia sedang gelisah sekarang.


“Tuan muda ...” panggil Zulaikha, dan Sabi berbalik melihatnya yang baru saja datang dengan beberapa paper bag ditangannya.


“Darimana saja kamu? Kenapa lama sekali Zu?! Ibuku sudah gelisah menunggumu.” Katanya langsung mengambil paper bag itu, dan langsung pergi meninggalkan Zulaikha.


“Zu ...” panggil Sabi, berhenti dan berbalik melihat Zulaikha yang mengekorinya. “Jangan mengikutiku, Ibuku sedang dalam mood yang tidak baik sekarang karenamu. Dia bisa saja akan memarahimu, jika dia melihatmu sekarang. Jadi, tunggulah aku disini.” Ujar Sabi dan Zulaikha mengangguk mengerti.


Setelah beberapa saat menunggu, Sabi dan Ibunya keluar dari dalam kamar. Baju serba hitam yang terlihat rapih dan mode, membuat mereka berdua terlihat seperti bukan menghadiri acara pemakaman. Selera fashion Queen memang patut diancungi jempol, karena bisa membuat pakaian hitam polos itu terlihat modis ditubuh seorang janda dan putranya yang polos polos menyebalkan.


Raut wajah yang datar tanpa senyuman, terukir di wajah mereka berdua. Sebagai tanda tengah berduka atas meninggalnya adik ipar sekaligus tante bagi Sabi. Sabi yang menyadari keberadaan Zulaikha, masih ada ditempat dia meninggalkannya tadi. Langsung memberi kode lirikan mata untuk bersembunyi agar menjauh sejauh mungkin dari sorotan mata Nyonya Sura.


Jika tidak, Nyonya Sura bisa memberi ucapan sarkas padanya di depan semua orang. Itu tentunya akan sangat menyakitkan bagi Zulaikha, jadi Sabi sebisa mungkin menghindarkan dia dari rasa sakit dan juga rasa malu secara bersamaan.


Sedikit gelagapan, Zulaikha berusaha menghindar dengan membalikkan tubuhnya menghadap tembok, menempel layaknya cicak. Sabi langsung tertunduk, berusaha menahan tawanya setelah melihat tingkah gelagapan Zulaikha yang sukses memancing selera humornya. Segala upaya dia lakukan agar tidak tertawa dan menjadi pusat perhatian di rumah duka. Dimulai dari menundukkan wajahnya bahkan sampai mencubit pahanya.


Dasar!!!


Semua orang berkumpul di ruang tengah, mengikuti rangkaian demi rangkaian acara pemakaman. Kemudian berlanjut penguburan yang dilakukan tak jauh dari kediaman keluarga Laha, tempat dimana seluruh keluarga Laha dikebumikan secara khusus.


Tangisan semakin pecah melengking, meraung, dan meratap saat tanah benar-benar telah menutupi lubang yang menjadi tempat kembali semua manusia. Rasanya air mata Sabi juga ingin ikut keluar, mendengar tangisan dari keluarga Nyonya Denisa yang merasa sangat kehilangan wanita cantik dan baik sepertinya.


Meskipun terkadang Paman Andi Syafar tidak sejalan dengan pemikiran Ibunya, tapi Nyonya Denisa tidak pernah memperlakukan dia dan Nyonya Sura dengan buruk, selama dia hidup. Nyonya Denissa wanita yang baik, bahkan sempat terlintas dibenak Sabi bahwa Nyonya Denissa tidak pantas untuk Pamannya, dan Nyonya Denissa pantas mendapatkan lelaki lain yang lebih baik dari Pamannya.


Tapi apalah daya, mereka ditakdirkan berjodoh sampai ajal menjemputnya dan memisahkannya dari sang suami yang sampai sekarang belum sadarkan diri di rumah sakit.


“Wanita yang malang, bahkan diakhir hayatnya suaminya tidak bisa hadir mengantarnya ke peristirahatan terakhirnya.” Gumam Nyonya Sura dengan suara yang kecil hampir tak terdengar.


...........


Disaat sebagian besar keluarga dan tamu pergi mengantar jenazah Nyonya Denissa untuk dikebumikan. Disebuah ruangan yang tenang, jauh dari kerumunan orang-orang yang sibuk berlalu lalang di rumah duka keluarga Laha. Nyonya Salma terduduk disebuah kursi, menunduk lesu meratapi nasibnya yang dianggapnya begitu sial.


Tangannya yang renta, terlihat bergetar menggenggam dress hitamnya yang dipakainya untuk berkabung. Suara langkah kaki seseorang tiba-tiba terdengar menggema di ruangan itu. Langkah kakinya semakin kuat dan terdengar semakin mendekat ke tempat Nyonya Salma sedang duduk meratapi nasibnya.


Mata Nyonya Salma tertuju pada sepasang heels pump hitam polos, yang sekarang terlihat berada tak jauh dari kakinya. Segera Nyonya Salma mengadahkan pandangannya, melihat orang dari pemilik heels pump itu.


“Queen Lee ...” gumam Nyonya Salma, melihat sosok Queen Lee yang hadir dengan warna serba hitam, dan Queen Lee melambai lembut padanya.


“Hay ...” Sapa Queen Lee sambil tersenyum cerah.


Bersambung ...