FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
42. Bunga Lily 2



“Zuuu...” Sabi berucap lirih sambil menutup matanya, berusaha melihat ke dalam pikirannya dan merasakan sebuah perasaan yang pernah dia rasakan dengan perasaan yang tengah dia rasakan saat ini.


Sebuah memori yang samar, perlahan - lahan menjadi semakin jelas dan teringat di kepalanya. Rasanya dia seperti ditarik kembali ke masa lalu, melihat sebuah kenangan yang sepertinya terhapus dari memorinya.


“Zuuu... zuuu... zuuu...” panggil Sabi kecil yang mencari sesuatu di sebuah semak - semak kebun belakang rumah mereka.


Tiba - tiba sekuntum bunga lily mendarat di depan wajahnya. Sedikit perih tapi mampu dia tahan.


“Aakhh..” keluh Sabi kecil, mengelap wajahnya yang terasa sedikit perih.


Seorang anak perempuan yang tiba - tiba muncul itu segera tertawa senang melihat Sabi kecil menderita.


“Zuu.. kamu_”


“Tadi seseorang memberikanku bunga. Jadi aku akan memberikan bunga ini pada orang yang sedang bahagia.” Sergah anak kecil yang bernama Zu sembari tersenyum.


“Iyakah? Tapi aku biasa saja.” Ledek Sabi kecil.


“Hmmm..” Anak perempuan itu terlihat sedikit berpikir. Diliriknya Sabi dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tiba - tiba sebuah ide muncul dikepalanya.


Segera dia mengambil rambutnya yang terikat satu dibelakang lalu mendekatkan ujung rambutnya ke telinga Sabi.


“Hey apa yang kamu lakukan? Geli tau.” Seru Sabi heran.


“Membuatmu bahagia.” Sahutnya sambil menggelitik daun telinga Sabi dengan ujung rambutnya.


Sabi sontak merasa geli dan langsung tertawa. Dia berjingkrak - jingkrak berusaha menghindar dari anak perempuan itu sambil terus tertawa merasa geli.


“Tuhkan, sekarang kamu jadi bahagia.” Seru Zu sembari tersenyum usil pada Sabi.


“Iya.. karena kamu.” Sergah Sabi, lalu memanyunkan mulutnya berusaha menahan mimik wajahnya agar tida terlalu bahagia.


Zu tertawa girang, tanpa beban. Dicubitnya kedua pipi Sabi yang tembem.


“Asalkan kamu mengizinkan aku ada didekatmu, aku akan terus membuat kamu bahagia.” Ucap Zu sambil tersenyum hingga kedua matanya menyipit sempurna.


“Tuan muda.. tuan mudaa..” panggil Zulaikha, menepuk - nepuk pipi Sabi. Membuyarkan Sabi dari kenangannya.


Ha?! Gumam Sabi tersadar dari pikirannya sendiri.


“Tuan muda, apakah anda baik - baik saja?!”


“Ha?! Mm.. iya. Im oke.” Sahut Sabi dengan raut wajah yang masih sedikit bingung.


Sabi melirik kesekitar. Menyadari dirinya yang sangat dekat dengan Zulaikha, refleks tubuhnya segera menjauhi Zulaikha. Diliriknya lagi, gadis yang ada didepannya itu. Jantungnya kembali berdebar mengingat kenangan yang dia berhasil ingat.


“Sebaiknya kita pulang.” Ucapnya dingin, berusaha menghindar dari Zulaikha.


Zulaikha langsung mengangguk mengerti, dan bergegas menelfon Pak Van untuk datang menjemput mereka. Sedangkan Sabi terlihat sibuk menyapu dadanya, berusaha menenangkan jatungnya yang masih berdetak kencang mengingat memori tadi.


Ya ampun ada apa denganku?!


Sekali lagi Sabi menepuk dadanya yang dirasanya tak normal.


Pak Van menghentikan mobil tepat di depan tempat Sabi berdiri. Segera lelaki paruh baya itu melepaskan sabuk pengamannya untuk membukakan pintu untuk Sabi. Namun dengan cepat Sabi memberi kode untuk tidak perlu melakukannya.


Secara mandiri, Sabi membuka pintu mobil sendiri namun masih dengan wajah yang bingung.


Zulaikha pun ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di depan, sebelah Pak Van. Zulaikha berbalik dan melihat keadaan Sabi yang dianggapnya sedikit menghawatirkan.


“Tuan muda, anda tidak apa - apa?” Tanyanya sembari berusaha memegang pundak Sabi.


Namun dengan cepat, Sabi menghindar dari tangan Zulaikha. Entah mengapa, dia sedang tidak ingin menatap wajah Zulaikha. Hingga tangan Zulaikha pun, jika bisa akan dia hindari sampai keadaan hatinya membaik.


Melihat Sabi yang seperti menghindarinya, raut wajah Zulaikha terlihat sedikit sedih. Dia menarik tangannya perlahan dan kembali duduk melihat ke depan.


Pak Van yang menyadari keadaan dalam mobil sedang tidak baik - baik saja, tidak mau ikut terlibat dan segera menancap gas agar dia tidak terlalu lama berada dalam situasi canggung ini.


..........


Langit malam semakin menghitam pekat tanpa dihiasi bintang seperti biasanya. Hanya lampu - lampu dari pusat kota yang berpijar, terlihat dari balkon kamar.


Sabi menatap buket bunga yang diberikan oleh Zulaikha siang tadi. Dia berjalan, mencari sebuah wadah dalam kamarnya yang bisa dia gunakan untuk meletakkan bunga cantik itu. Namun sepertinya langit gelap malam mencuri perhatiannya.


Dia berjalan menuju balkon kamarnya, dan menatap langit malam yang terlihat sangat gelap tanpa bintang. Hanya piasan lampu dari pusat kota yang berpijar dan berkelip - kelip.


“Mau hujan yah?!” Tanyanya pada diri sendiri.


Tiba - tiba sesuatu terdengar di telinganya. Seperti suara gesekan yang kuat pada sebuah kertas. Sontak Sabi melirik ke asal suara.


Disana terlihat Queen yang sedang melukis namun dengan ekspresi wajah yang seperti sedang ditekuk.


Dia sedang melukis atau sedang merusak lukisannya?! Gumam Sabi melirik lukisan yang lebih terlihat seperti kumpulan coretan tak ada harga.


“Aakhh..” geram Queen melempar kuasnya ke canvas lukisannya.


Apakah dia sedang depresi?


Sabi sedikit terkejut melihat Queen yang terlihat sedikit marah - marah tak jelas.


Queen lagi - lagi membuang seluruh cat yang ada ditangannya secara sembarangan di canvas.


Mata Sabi terlihat sedikit terganggu melihat Queen seperti itu.


“Hey hey...” panggil Sabi.


“Melukislah yang benar!” Timpalnya lagi.


Queen berbalik menatap Sabi dengan tajam. Seketika Sabi terperanjat kaget melihat tatapan Queen yang tajam padanya.


“Mmm.. maksudku, jangan melukis seperti itu. Buatlah lukisan yang indah, seperti langit malam yang penuh bintang kek, atau apalah..” sergah Sabi, mencoba menenangkan Queen.


“Bukan urusanmu!” Ketus Queen.


Sabi memutar bola matanya, mulai merasa kesal dengan jawaban Queen.


“Eh.. tentu saja urusanku! Kamu melukis seperti itu menggangguku.” Sergah Sabi dengan nada suara yang sedikit meninggi.


Queen langsung melirik tajam Sabi sambil menggigit bibirnya geram.


“Mmm maksudku, tentu saja urusanku. Lebih baik kamu membuat desain saja sana untuk kontes nanti, bukan melukis seperti itu. Cuma membuang - buang waktu mu.” Imbuh Sabi, mengalihkan pandangannya.


“Justru aku melukis untuk mencari inspirasi, dan apa tadi katamu? Langit malam penuh bintang? Hey.. apa kamu tidak lihat langit sekarang, tidak ada satupun bintang yang bisa kulihat untuk kujadikan inspirasi!” Bentak Queen, kesal.


“Hey.. santailah..” tegur Sabi.


“Bagaimana aku bisa santai jika... aaakkhhh!!!!” Queen semakin geram, menendang kaki penongka canvasnya.


“Hey.. hey santai!” Sabi mulai terlihat resah melihat kelakuan Queen. Kedua tangannya seperti ingin menghentikan Queen untuk mendorong canvasnya, namun apa daya dirinya terhalang balkon.


Queen melirik ke arah Sabi yang terlihat lebih heboh daripada dirinya.


“Hey.. aku sedang tidak mencoba bunuh diri. Jadi tidak perlu terlalu heboh seperti itu.” Seru Queen.


Matanya Queen sedikit membelalak, melirik buket bunga lily miliknya yang sekarang ada ditangan Sabi.


Oh.. jadi dia memberikannya pada manusia itu.


“Bunga yang cantik.” Imbuh Queen.


Sabi melirik bunga yang dipegangnya.


“Kamu mau?”


“Ah.. tidak. Keadaanku sedang tidak bahagia.”


“Lalu apa hubungannya?”


“Diam saja! Aku sedang mencari inspirasi.”


“Mau keluar mencari inspirasi?”


Sabi segera mengatupkan mulutnya, tak percaya dengan apa yang dikatakannya barusan.


“Kemana?”


“Kemana saja.” Imbuh Sabi.


“Oke.” Queen segera masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Sabi yang masih berdiri di balkon.


Apakah aku mengatakan hal yang benar?!


Setelah beberapa menit memikirkan tindakannya yang benar atau tidak. Terdengar pintu kamar Sabi diketuk beberapa kali. Sabi segera berjalan membukakan pintu kamarnya.


Disana telah berdiri seorang Queen dengan gaun yang bernuansa vintage.


“Kamu mau kemana?” Tanya Sabi, heran.


“Yya!!! Tadi katanya mau keluar.” Teriak Queen kesal.


“Ah i iya sih. Tapi kenapa kamu begitu rapih?”


“Aku memang selalu seperti ini. Cantik, rapih dan modis.” Jawab Queen dengan sangat percaya diri.


“Ta tapi_”


“Cepatlah...” Queen langsung menarik tangan Sabi keluar dari kamarnya.


“He hey.. tunggu sebentar!”


“Apalagi?”


“Aku cuma memakai hodi dan celana panjang olahraga.” Sahut Sabi melirik pakaian yang dipakainya.


Queen pun ikut melirik Sabi dari ujung kaki sampai ujung kepala. Queen sedikit menggeleng lalu kembali menarik tangan Sabi.


“Tidak apa.” Ucapnya terus menarik Sabi menuruni tangga.


Sabi menurut dan mengikuti Queen membawanya pergi.


Mereka sama - sama menghentikan langkah ketika sampai di depan mobil yang terparkir. Queen melirik Sabi, menunggu Sabi masuk ke dalam mobil. Namun Sabi pun terlihat hanya bengong tanpa melakukan apapun.


“Hey.. masuk.” Seru Queen memberi kode Sabi masuk dan duduk di kursi kemudi.


“Aku?”


Queen mengangguk sambil tersenyum.


“Tidak tidak. Aku tidak bisa mengemudi.” Jawab Sabi menggelengkan kepalanya, keberatan dengan ide Queen.


“Serius? Waah.. aku tidak percaya, ternyata masih ada orang kaya yang tidak tau bawa mobil.”


“Kamu saja.” Pintah Sabi cemberut.


Queen langsung melirik Sabi, juga memasang wajah cemberut seperti yang dilakukan Sabi.


“Kenapa?” Tanya Sabi.


“Aku juga tidak tau.” Jawab Queen lalu tertawa ringan.


“Bisanya kamu tidak tau. Aku pikir hanya aku saja.” Timpal Sabi diselingi tawa.


“Jangankan menyetir, duduk di depan dan melihat langsung mobil berjalan aku tidak sanggup.” Sergah Queen dengan wajah yang tiba - tiba datar.


“Kenapa bisa?”


“Aku hanya trauma.”


“Sama. Aku juga trauma.” Timpal Sabi.


Queen melirik Sabi yang memasang wajah yang ditekuk. Ternyata mereka berdua sama - sama orang yang pernah mengalami trauma dengan kecelakaan mobil. Setidaknya Queen tidak merasa sendiri sekarang. Dia punya teman sefrekuensi dalam hal trauma, jadi itu adalah hal baik karena Sabi akan jadi orang yang bisa memahaminya setelah Zayn.


Queen tersenyum menatap Sabi.


“Hey.. jangan jadikan trauma kita sebagai hambatan untuk keluar mencari inspirasi.” Seru Queen menepuk pundak Sabi.


Sabi menatap Queen lalu menyunggingkan senyuman. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia merasa tidak apa - apa tentang trauma yang dimilikinya.


Mungkin Queen sedikit menyebalkan, tapi kali ini dia merasa Queen orang yang menyenangkan karena dia bisa mengerti dirinya yang memiliki trauma dengan kecelakaan mobil.


“Kalau begitu tunggu, akan kupanggilkan supir.” Ucap Sabi.


“Untuk apa? Kita bisa naik taksi.” Sergah Queen enteng.


“Serius? Naik taksi? Tapi aku punya beberapa supir.”


“Tidak seru.” Rengek Queen.


“Lalu? Bagaimana caranya kita mendapatkan taksi?”


“Gampang! Ayo...” Queen menarik tangan Sabi, lalu berlari kecil dibawah langit malam menuju pintu gerbang yang berada sedikit jauh dari teras rumah keluarga Andi.


Sesekali Sabi melirik Queen. Wanita yang tadinya terlihat seperti depresi, tapi kini terlihat sangat tenang dan benar - benar bebas. Diliriknya lagi tangannya yang digandeng oleh Queen, benar - benar Queen menggenggam tangannya tanpa rasa canggung.


Queen berbalik melirik Sabi yang tengah menatapnya. Queen membalas tatapan Sabi dengan sebuah senyuman, senyuman yang ringan hingga Sabi yang melihatnya jadi ikut tersenyum lepas tanpa beban.


Sesampainya di depan gerbang, Queen menelfon seorang supir taksi yang rupanya adalah taksi langganannya.


“Kita menunggu beberapa menit lagi yah... tidak lama kok.” Queen mengedipkan matanya sembari tersenyum.


Sabi hanya diam, memperhatikan gadis yang ada di sampingnya ini. Gadis ini sangat sulit ditebak untuknya, terkadang bisa membuatnya emosi tapi terkadang bisa membuatnya senang dan merasa bebas seperti sekarang ini.


Sabi menarik nafasnya lega, lalu mendorong Queen. Queen yang sedang menggunakan heels, hampir saja terjungkir ke depan jika Sabi tidak cepat menahan tangannya.


Queen langsung melirik Sabi dengan tatapan kesal. Melihat Queen yang seperti itu, Sabi hanya tergelak tawa. Segera dia mendapatkan beberapa pukulan dari Queen yang kesal dengan tingkahnya.


“Au au.. sakit Queen.” Keluh Sabi yang terus berusaha menghindar dari pukulan Queen.


Queen tetap tidak berhenti, justru melihat Sabi merintih kesakitan seperti itu membuatnya semakin bersemangat memukul Sabi.


“Queen sakit.. auuu..”


“Hahahaa rasakan!!!” Queen pun tertawa menikmati kesakitan yang dikeluhkan Sabi padanya.


Hingga mobil taksi datang, mereka tidak menyadari bahwa mereka menikmati setiap menit dalam menunggu dengan saling kejar - kejaran layaknya anak kecil.


“Nona Queen..” panggil supir taksi yang ternyata sudah sangat akrab dengan Queen.


“Eh eh taksinya sudah datang.” Seru Sabi girang, seperti melihat jemputan yang datang menjemputnya di sekolah.


Dengan cepat Sabi berlari memasuki taksi, Queen pun mengikuti masuk ke dalam taksi dan duduk tepat disebelah Sabi.


Setelah memasang sabuk pengaman, Sabi masih bingung kenapa taksi itu tak kunjung jalan. Sabi melirik Queen, ingin bertanya pada Queen. Namun dirinya sedikit terkejut melihat Queen yang sedang melepaskan sebuah kain yang dia lilit di tas mininya, dan dia pindahkan di wajahnya untuk menutupi matanya.


“Kenapa kamu menutup matamu seperti itu?” Tanya Sabi sedikit heran.


“Sudah kubilang tadi, aku trauma. Tidak sanggup melihat mobil yang sedang berjalan. Jadi aku selalu menutup mataku seperti ini agar aku tidak melihat apapun selama perjalanan.” Jawab Queen santai.


“Kamu pasti sangat ketakutan jika tidak menutup matamu.” Imbuh Sabi prihatin melihat kondisi Queen.


“100! Kamu benar!” Sahut Queen girang.


Pantas saja kemarin saat naik mobil bersamanya, Queen selalu menutup kepalanya dengan jaket atau sebuah kain hitam. Ternyata traumanya sangat berat. Melihat Queen yang seperti itu, Sabi jadi merasa sedikit bersyukur karena trauma yang dialaminya tidak separah Queen.


Aku belum tau ceritamu seperti apa. Tapi melihatmu seperti ini, aku tau kamu pastilah sangat tangguh dan sabar. Gumam Sabi tersenyum, menatap Queen dengan tatapan yang dalam.


Bersambung...