
Matahari mulai kembali ke tempat peristirahatannya. Semua karyawan mulai berlomba - lomba keluar dari kantor dengan semangat. Termasuk Sabi dan Zulaikha yang dengan semangatnya berjalan keluar dari kantor.
Ketika angin malam mulai menerjang tubuhnya hingga membuat tubuhnya merasa sedikit kedinginan, Sabi segera meregangkan tubuhnya. Seolah - olah dia habis mengerjakan pekerjaan yang banyak.
Tuan muda ... tuan muda ... seharian tidak bekerja lama, tapi lagaknya seperti orang yang lembur 3 hari.
Zulaikha tersenyum melihat Sabi dari belakang.
Merasa tengah diperhatikan, Sabi segera berbalik dan mendapati Zulaikha yang sedang tersenyum padanya.
“Kenapa?” Tanyanya bingung.
“Tidak, tidak kenapa - kenapa tuan muda.” Jawab Zulaikha sambil tersenyum.
“Jangan mencoba membohongiku atau akan kutambah jumlah air matamu yang keluar hari ini.”
Mendengar ucapan Sabi, seketika Zulaikha sedikit tertawa. Menatap Sabi dengan mata yang begitu berbinar.
“Hey.. kamu ketawa? Kamu pikir aku sedang bercanda?!” Sabi melitoti Zulaikha dengan wajah yang serius.
Jika awal pertemuan mereka Sabi seperti ini, mungkin Zulaikha akan merasa takut. Namun sekarang, setelah semua yang dia dengar dari mulut Sabi betapa boss nya ini sangat memperhatikan dirinya. Zulaikha tidak lagi takut, justru menganggap ucapan Sabi barusan hanyalah sebuah guyonan.
“Is is is ...” Sabi berdesis melihat Zulaikha yang hanya tersenyum padanya.
“Ah iya ... Tuan muda, apakah kita tidak pulang bareng Nona Queen?”
“Berhenti menyebut namanya hari ini. Aku lelah, biarkan dia pulang sendiri. Setelah aku memarahinya, aku tidak tau dia dimana.” Jawab Sabi cuek.
Mendengar itu, Zulaikha mengangguk perlahan dan sedikit tersenyum.
..........
Disebuah koridor yang sepi, terlihat Zayn berjalan bersama seorang gadis yang berusaha menggandeng tangannya namun selalu dihempaskan begitu saja. Siapa lagi gadis itu jika bukan Bunga, yang selalu setia dan berusaha meluluhkan hati Zayn yang sedingin es.
“Bagaimana kalau kita makan malam di restoran Jepang yang ada didekat sini?!” Ucap Bunga berusaha berjalan berdampingan dengan Zayn.
“Tidak.” Jawab Zayn singkat.
“Atau kita makan burger, mau?!” Ajak Bunga lagi, masih belum menyerah.
“Tidak.”
“Makan di restoran China, mau? Mau yaa?!” Ajak Bunga lagi.
Zayn menarik nafasnya panjang, dan menghentikan langkahnya. Kepala Zayn terasa sedikit pusing dengan keberadaan Bunga yang seperti perangko, tak mau melepaskan diri darinya.
“Mau?” Tanya Bunga mulai bersemangat.
“Sebagai seorang gadis muda dari kalangan atas, seharusnya kamu malu jika melakukan hal seperti ini.” Ucap Zayn, mulai kesal dengan Bunga.
“Hm? Malu?! Kenapa harus malu? Aku tidak mengajakmu ke restoran low budjet. Jadi untuk apa aku malu.”
Zayn kembali menarik nafasnya panjang, sambil memegangi kepalanya yang mulai pening dibuat Bunga.
“Bukan persoalan tempat low budjet atau high. Tapi soal kamu yang mengajakku makan seperti seorang wanita tang tidak punya kelas. Kamu terlihat sangat rendah sekarang, mengajak lelaki yang bahkan telah menolak ajakan itu lebih dari satu kali.” Akhirnya kata - kata yang pedis dan jujur dari relung hati yang paling dalam,dari seorang Zayn keluar.
“Zayn ...” Gumam Bunga tak percaya mendengar ucapan Zayn yang menyentuh harga dirinya.
“Jangan hanya isi dompet atau tempat makanmu yang high budjet atau high apapun sebutannya itu. Tapi ... jadikan dirimu wanita yang berkelas. Aku tau kamu sudah berasal dari kalangan atas, tapi sikapmu sama sekali tidak mencerminkan itu.” Imbuh Zayn.
Zayn berdesis melihat Bunga dari ujung kaki sampai ujung kepalanya. Menatap Bunga dengan tatapan tak suka dan risih.
“Sangat mengecewakan. Jika aku jadi dirimu, aku akan sangat malu.” Sambung Zayn.
Dengan mata yang mulai berkaca - kaca, dan hati yang tergores malu dengan segala ucapan yang Zayn ucapkan. Bunga meremas tangannya, menahan segala amarah yang membara dalam dadanya.
“Kenapa? Marah? Silahkan, karena itu kebenarannya.” Ucap Zayn seakan sengaja memancing amarah gadis yang ada didepannya ini.
“Untung saja aku menyukaimu. Jika tidak, aku akan menghajarmu.” Sahut Bunga dengan suara bergetar, lalu melangkah pergi meninggalkan Zayn yang perlahan tersenyum melihat kepergian Bunga.
“Aaakhh ... sepertinya memang berat jika tidak ada Ridwan disisiku. Aku jadi harus mengatasi perempuan itu sendiri.” Ucap Zayn sembari menarik nafas panjang lega.
Zayn memang tipe lelaki yang tidak banyak bicara, namun sekalinya dia bicara dengan orang yang dia anggap mengesalkan pikirannya. Maka setiap kata yang keluar dari mulutnya, hanyalah duri yang akan menusuk harga diri dan perasaan dari lawan bicaranya.
“Ooh ... jadi dia bukan kekasihmu, aku pikir dia kekasihmu. Ternyata kamu masih belum berubah ya?! Masih dingin dan cuek.” Seru Queen yang tiba - tiba muncul entah dari mana.
Zayn sedikit terperanjat kaget. Namun dengan cepat dia segera mengatur ekspresinya agar tetap normal didepan Queen.
Queen berjalan mendekati Zayn tanpa keraguan sedikitpun.
“Sungguh, kemarin aku pikir dia kekasihmu. Karena dengan mesranya dia menggandeng lenganmu.”
Queen bertepuk tangan girang dengan raut wajahnya yang tak kalah girang, tersenyum lebar dan terlihat sangat bahagia.
“Kamu sengaja melakukan itu agar aku melihatnya dan patah hati?!”
Zayn mengalihkan pandangannya, berusaha menghindar dari tatapan mata Queen.
“Hey.. tidak perlu melakukan itu untuk membuatku patah hati.” Ucap Queen lagi, dengan senyum yang mulai memudar.
Zayn tetap diam, dan membungkan kedua bibirnya.
“Kamu pergi dan meninggalkanku di New York saja sudah berhasil mematahkan hatiku.” Sambung Queen yang tertunduk sedih memperhatikan pergelangan tangan Zayn.
Perlahan - lahan Zayn melirik Queen yang menunduk seolah sedang memperhatikan pergelangan tangannya. Segera Zayn memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, lalu mengalihkan pandangannya.
“Kamu bahkan mengurungku di New York, dan mematahkan seluruh sayap dan usahaku untuk mengejarmu.” Queen menelan salivanya perlahan yang terasa besar dan menyakitkan.
“Meskipun begitu, kamu tidak akan bisa pernah bisa mematahkan tekadku untuk mengejarmu.”
Zayn tertawa mendengar ucapan Queen. Diliriknya gadis itu dengan tatapan tajam dan menghina, seolah - olah orang yang ada didepannya ini adalah orang yang sangat rendah dan sangat hina.
“Kamu sangat rendah. Bahkan lebih rendah dari Bunga. Mengejar lelaki yang bahkan telah meninggalkanmu serta mematahkan segala usahamu.” Ucap Zayn dingin dengan penekanan membuat setiap kata yang terucap dari mulutnya adalah sebuah hinaan berat untuk Queen.
Queen perlahan tersenyum, dan senyumannya semakin melebar dan merekah lalu tertawa tak kalah besar dari tawaan Zayn sebelumnya.
“Kamu benar!” Sahut Queen, menepuk pundak Zayn beberapa kali. Membuat pria itu sedikit tertegun dengan sikapnya.
“Hey ... jangan pernah menganggapku high value woman. Karena aku hanyalah gadis rendahan bahkan anak buangan, serta gadis yang penuh kepalsuan dan banyak kekurangan.” Imbuh Queen dengan tersenyum lebar di depan Zayn.
“Dan kamu bangga dengan semua itu?” Sergah Zayn.
“Iya aku bangga!” Jawab Queen dengan lantang.
“Dan harusnya kamu bersyukur karena seorang Queen Lee yang rendahan ini, mengejarmu bahkan mencintaimu setelah ditinggalkan ataupun dipatahkan beberapa kali olehmu tak pernah mundur ataupun membencimu. Karena ...”Sambung Queen, semakin mendekati Zayn.
Zayn terus menatap Queen, tanpa berkedip. Menunggu kalimat berikutnya terucap, tanpa memperlihatkan keantusiasannya mendengar setiap kata yang Queen lontarkan.
“Karena ... jika aku menjadi high value woman, lelaki yang aku cintai bukanlah dirimu.” Imbuh Queen, sambil mendorong dada Zayn beberapa kali dengan jari telunjuknya.
Queen tersenyum menang menatap Zayn yang terus diam menatapnya tanpa ekspresi.
“So ... bersyukurlah jika saat ini aku yang rendahan ini masih mengejarmu. Karena saat aku berhenti, maka saat itulah aku menjadi high value woman atau telah lenyap dari muka bumi ini.” Imbuh Queen dengan tersenyum menang sambil mengangkat sebelah alisnya.
Sementara Zayn tetap diam menatap Queen tanpa ekspresi.
Queen meraih tangan Zayn, lalu diserahkannya sebuah kantong plastik bening yang isinya sebuah somay dengan sebuah bumbu kacang yang memancarkan aroma harum, menggiurkan setiap hidung yang mencium aroma itu.
Zayn melirik kantong plastik yang diserahkan Queen dengan tatapan heran.
“Makanlah, saya jamin kamu bakalan suka. Kalau perlu makan dengan nasi, biar kenyang. Kamu sudah seperti tulang, sangat kurus.” Ucap Queen, lalu pergi meninggalkan Zayn yang masih menatapnya heran.
Zayn terus melihat gadis itu pergi meninggalkan dirinya, sampai Queen benar - benar hilang dari pandangannya.
Sebuah senyuman sekilas terangkat di wajah Zayn, meskipun tak lama. Dia melirik lagi kantong plastik bening itu.
“Kurus? Ciih.. yang benar saja.”
...........
Di kamarnya, Sabi menyapu pandangannya ke seluruh ruangan kamarnya. Meresapi sunyi yang menyelimuti ruangan kamar. Sesekali di dengarnya suara tawa dsri lantai bawah, dimana keluarga Paman Andi Syafar berkumpul, membicarakan kehebatan dari sepupunya Gio.
Sabi menarik nafas panjang. Bisa dia rasakan betapa tak sukanya dia pada rumah ini, ketika kembalinya Gio dalam rumah.
Sabi berjalan menuju balkon kamarnya. Lagi - lagi dia menatap bintang yang bertaburan di langit malam. Entah mengapa, matanya sedikit melirik ke arah sebelah.
Dengan cepat, Sabi menampar wajahnya pelan.
“Apa yang kamu lakukan?! Kenapa melirik ke sebelah hah?!” Gerutu Sabi pada dirinya, menyadari dirinya yang melirik ke balkon kamar Queen.
“Aku tidak mencarinya.”
Sabi mengadahkan pandangannya kembali ke langit menatap bintang.
“Aku tidak penasaran dia ada dimana. Lampunya mati, mungkin dia masih diluar dan sedikit lagi mungkin dia akan pulang.” Ucapnya lagi berusaha membohongi dirinya sendiri bahwa dia penasaran dimana Queen berada.
Sejak mereka bertengkar sore tadi, Queen tidak terlihat sedikitpun dipelupuk mata Sabi.
“Aaakhh..” keluh Sabi, sambil menghentakkan tangannya kesal sekaligus putus asa atas perasaan bersalahnya pada Queen.
Pandangannya langsung beralih ke balkon kamar Queen yang masih gelap gulita. Nampak raut wajah Sabi terlihat sedikit khawatir, mengingat perdebetannya dengan Queen.
“Apakah dia tidak akan pulang karena aku menyuruhnya untuk pergi dari rumahku?!”
“Dia akan pulang kan? Dia tidak akan masukkan ke hati kata - kataku tadi kan?!”
“Dia tidak akan pingsan dijalan karena kedinginan tidur diluar kan?!”
“Aaakhh.. sial! Kenapa jadi aku yang merasa bersalah padanya?! Yang harusnya merasakan perasaan ini tuh dia! Lagian kenapa juga dia memarahi sekertarisku yang berharga. Setidaknya jika tidak tau mengucapkan terimakasih, jangan memarahi orang tanpa alasan.” Ucap Sabi pada dirinya sendiri.
“Aaarggh ... berhenti merasa bersalah padanya. Dia tidak akan kenapa - kenapa. Lagian dia anak muda terkaya urutan ke lima di dunia, jadi dia tidak punya alasan untuk tidur kedinginan di luar sana.” Imbuhnya berusaha menepihkan kegusarannya pada Queen yang belum kunjung pulang ke rumah.
“Berada disini lama - lama hanya membuatku mengingatnya. Lebih baik aku tidur.” Gerutu Sabi, lalu membalikkan badannya.
Alangkah terkejutnya Sabi, ketika berbalik ternyata disana telah berdiri Zulaikha yang sedang menatapnya sambil tersenyum.
“Zuuu ... apa yang kamu lakukan disitu?”
“Saya datang seperti biasa, tuan muda.” Sahut Zulaikha santai.
Sial! Apakah dia mendengarkan ucapanku dari tadi?! Aaakh... Gumam Sabi.
“Apakah kamu sudah lama berdiri disitu?” Tanya Sabi berusaha memastikan.
“Tidak tuan, saya barusan datang.” Jawab Zulaikha sambil tersenyum.
Tentu saja sudah dari tadi saya disini, dan mendengar segala keluh kesah anda. Terutama ucapanmu yang menganggapku sekertarismu yang berharga. Wah wah.. Gumam Zulaikha, yang merasa bahagia atas apa yang didengarnya barusan.
Sabi mengelus dadanya, merasa bersyukut bahwa Zulaikha tidak mendengar ucapannya barusan. Karena itu akan jadi hal yang memalukan jika Zulaikha sampai melapor ke Queen bahwa dirinya merasa bersalah pada Queen setelah memarahi Queen sore ini.
Sabi sudah bisa membayangkan ekspresi ketawa Queen saat menertawakan dirinya yang menghawatirkan gadis yang dimarahinya.
Sabi berjalan menuju tempat tidurnya, dan merebahkan tubuhnya perlahan. Zulaikha pun mengikuti duduk disebelah tempat tidur Sabi.
“Apakah Zayn sudah menerima proposal rapat yang aku serahkan padamu?” Tanya Sabi, dengan mata yang sudah tertutup.
Zulaikha segera menelan salivanya dan mengangguk.
“Iya sudah, tuan muda.”
“Apa yang dia katakan?l
“Katanya jangan terlambat saat rapat besok.” Jawab Zulaikha tegas.
“Baiklah..” ucap Sabi, sebelum dia tenggelam dalam tidur lelapnya.
Melihat Sabi yang sudah tertidur hanya dalam beberapa menit saja, Zulaikha langsung mengelus dadanya, merasa lega.
Untung saja tadi sore saat Sabi sedang berkelahi dengan Queen, Zayn memberikan Zulaikha maaf dan meminta Zulaikha untuk mengirimkan proposal rapat itu lewat email dan sejutu untuk hadir dalam rapat besok. Tapi dia harus mengorbankan Queen untuk dikambing hitamkan, sehingga semua kesalahan yang dilakukan Zulaikha akan dimaafkan Zayn.
Sedikit egois, namun harus dia lakukan demi saudaranya yang hilang dan demi Sabi sendiri. Dia telah kehilangan banyak orang ketika usianya masih sangat muda, sehingga baginya tidak apa mengorbankan Queen untuk dikambing hitamkan untuk mempertahankan beberapa orang. Terlebih lagi, Sabi yang merupakan sahabat kecilnya dulu kini telah kembali dalam hidupnya. Meskipun Sabi sama sekali belum mengenalinya.
Bersambung ....