
Di dalam ruangannya yang nyaman, terlihat Sabi yang duduk masih dengan ekspresi kesal. Hal itu bisa terlihat jelas dari kedua alisnya yang masih berkerut. Terus mengotak - atik handphone miliknya, entah apa yang dia lakukan tapi satu yang pasti, dia tidak bekerja. Mungkin jika Zayn melihat ini, dia bisa kena marah dari Zayn untuk yang kedua kalinya. Karena Zayn membenci karyawan yang pemalas dan juga karyawan yang suka berleha - leha.
"Aaahh.. sial! hari ini buruk sekali!" seketika Sabi melepaskan handphone yang sedari tadi dia sentuh. "Apa yang harus kulakukan?!" menatap setumpuk kertas yang harusnya dia kerjakan. "Oh no no noo! saya sedang tidak mood dengan anda, oke?!" berbicara pada tumpukan kertas, seolah - olah kertas itu habis menawarkan diri untuk bermain bersama.
Sabi memalingkan pandangannya, menyapu seluruh ruangan dan tiba - tiba saja dia mendapati Zulaikha yang sedang berdiri di pintu masuk sambil menatapnya tajam.
"Astagah..!" Sontak Sabi terkejut, sambil memegang dadanya.
Sial! ngapain dia balik lagi?!
Zulaikha memberanikan diri untuk mendekat, berusaha tersenyum meski senyuman itu terlihat pelik.
Apa lagi yang dia mau lakukan?! dasar tidak tau malu! Sabi memalingkan wajahnya enggan melihat Zulaikha yang berdiri tepat didepannya.
"Maaf tuan muda, apakah ada yang bisa saya bantu?!" tanya Zulaikha ramah. Lebih tepatnya berusaha ramah.
Iyaa.. baguss! pertahankan keramahanmu itu Zulaikha.. Zulaikha berusaha tersenyum, meskipun senyumnya tak terbalaskan.
"Maaf tuan muda, apakah ada yang bisa saya bantu?!" Sabi mengikuti ucapan dan nada suara Zulaikha. "Dasar tidak tau malu! aku kan sudah mengusirmu.. kenapa masih berani datang memunculkan batang hidungmu itu padaku hahh?!" Bentak Sabi. "Datang datang seperti tidak ada salah dan dosa, langsung main tanya 'apakah ada yang bisa saya bantu?!' " Sambungnya sambil mengejek cara bicara Zulaikha.
Sial.. Kurangajaar! Maki Zulaikha dalam batinnya. Sabar.. Sabarr... sambil memejamkan mata sebentar, berusaha mengendalikan emosinya.
"Kenapa? marah? tidak suka? sana pergi! aku kan sudah mengusirmu. Kamunya saja yang tidak tau malu, masih saja datang. Seolah - olah aku menerimamu. Ciiih.."
"Maaf tuan muda, saya tidak marah.. dan saya juga tidak akan pergi."
"Ooh.. jadi urat malu kamu sudah putus yaa?!" ejek Sabi, sambil terkekeh.
Sabar.. Sabar.. Sabar laai.. Zulaikha berusaha tetap tersenyum meskipun rasanya dia ingin memaki orang songong yang sedang berdiri didepannya ini.
"Hahahaa... Dasar tidak tau maluu!" Berdiri dari duduknya, pergi melangkahkan kakinya keluar dari ruangan. Sesaat dirinya melewati Zulaikha yang ada didepannya, dengan sengaja Sabi menyenggol kuat bahu Zulaikha hingga membuat Zulaikha hampir terjatuh.
Sial!
"Anda mau kemana tuan muda?!" tanya Zulaikha, segera mengikuti langkah kaki Sabi.
"Bukan urusanmu!"
"Tapi anda harus bekerja, ini belum jam makan siang." Masih berusaha mengikuti langkah kaki Sabi.
"Masa bodoh!"
Gila ni orang. Mentang - mentang keluarganya pemilik perusahaan, dia bertindak semau dan sesukanya. Zulaikha geram, menghentikan langkahnya berusaha berpikir mencari cara untuk membuat Sabi bekerja.
Berpikir Laii.. berpikirr... Zulaikha berusaha berpikir, menyapu ruangan berusaha membaca keadaan sekitar dan yap! Zulaikha mendapati setumpuk kertas pekerjaan diatas meja, seolah belum terjamah oleh tangan Sabi.
"Maaf tuan muda.. pekerjaan anda telah menumpuk. Anda harus segera menyelesaikannya." Ucap Zulaikha berusaha mengentikan Sabi yang sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapannya.
Sial! Jika si tuan Zayn otak dingin itu melihat tuan muda keluar sementara aku disini, habislah aku! keluh Zulaikha, yang bisa membayangkan bagaimana nasibnya setelah ini. Namun tiba - tiba, sebuah kata terbesit dibenaknya.
benar! jika tuan Zayn tau! Zulaikha tersenyum senang, sambil mengatur pita suaranya.
"Tuan muda.. anda tidak bisa keluar bersantai - santai jika pekerjaan anda masih tertumpuk." Zulaikha sedikit berteriak memperingati Sabi yang sedang membuka pintu. "Jika tuan Zayn tau, aku tidak tau apa yang akan terjadi setelah ini."
Sontak ucapan Zulaikha mengentikan langkah kaki Sabi yang sudah selangkah berada diluar ruangan.
Sial! Sabi menggerutu kesal, seketika mengingat wajah Zayn.
Sabi berbalik menatap Zulaikha. Saat kedua mata itu bertemu, Zulaikha dengan cepat menundukkan pandangannya.
Jangan tatap matanyaa.. jangan mengulang yang kemarin! jangan! jangan! Zulaikha menatap ujung sepatunya, berusaha menghindar dari bersitatap dengan Sabi.
"Aahhh.. diluar sepertinya panas sekali.." seru Sabi seraya menutup pintunya kembali. Berusaha berbohong agar tidak terkesan takut pada Zayn.
"Iya tuan muda, diluar panas sekali. Sebaiknya anda tetap didalam ruangan sambil mengerjakan pekerjaan anda yang masih menumpuk."
"Hm... kau benar!" Sabi membenarkan ucapan Zulaikha, meskipun dalam hatinya dia sebenarnya sangat tidak mood untuk bekerja. Namun dia tidak punya pilihan lain, saat ini dia sedang tidak memiliku kartu yang bagus, yang bisa dia gunakan untuk membuat Zayn malu dan risih.
Hahh.. Apa yang harus aku lakukan pada pekerjaam gila ini?! Sabi menatap lamat - lamat setumpuk kertas yang ada didepannya. Sesekali dia menarik napas panjang, berusaha menerima kenyataan bahwa dia harus bekerja.
"Saya akan membawakan tuan, es teh untuk membantu tuan muda merilekskan pikiran." Pamit Zulaikha sopan. Sabi meliriknya tajam, seolah terbesit sesuatu yang menyenangkan dipikirannya.
"eitss.. aku ngga suka es teh!" Cegat Sabi.
"Lalu.. tuan muda mau minum apa? biar saya ambilkan."
"Panas - panas begini saya biasanya minum pop ice cincau rasa vanila blue."
"Hey.. jangan bilang kamu belum pernah minum Pop ice!" Seru Sabi tak percaya, bahwa orang biasa seperti Zulaikha tidak tau dimana harus membeli minuman favorite rakyat +62.
"mmm.. Saya pernah minum tuan muda."
"Kamu belinya dimana?"
"mmmm... Dipedagang kaki lima pinggir jalan, biasa juga di sekitar kompleks." jawab Zulaikha ragu - ragu.
"Itu kamu tau! Cepat pergi sana!" Usir Sabi.
Apaa?! dia beli minuman itu dipinggir jalan? tidak mungkiin... mustahiil.
"Hey..." Sabi menjentik - jentikkan jarinya kesal ke depan wajah Zulaikha yang masih bengong menatapnya, seolah tak percaya. "Buruan pergi sana!" Sabi sedikit berteriak, menyadarkan Zulaikha.
"Ii.. ii iya tuan muda." Zulaikha gelagapan masih tak percaya. "Beneran di pedagang kaki lima?!" tanyanya memastikan.
"Iyalah.. mau kamu dimana?"
"Saya juga tidak tau tuan.." sahut Zulaikha, sedikit tersenyum.
"Cepat pergi sanaaa! agar aku bisa bekerjaa!" Sabi berteriak kesal.
Sial! kenapa sih ni orang, ribut mulu. Tidak bisa salah sedikit langsung kacau.
"ii iya tuan muda.." Dengan cepat Zulaikha mengangguk, menuruti keinginan bosnya dan segera berlari keluar ruangan.
Sementara itu, Sabi tersenyum licik melihat sekertarisnya yang gelagapan menuruti perintahnya.
"Game pengunduran diri, dimulai!"
"Akan kubuat kamu menyerah dengan sendirinya. Silahkan tunggu dan rasakan, sensasi penyiksaan ala Andi Sabiru." Sabi tersenyum licik menatap punggung Zulaikha yang semakin menjauh, berlari meninggalkan kantor.
Aiiisshh.. sial! Tuhan, dosa apa yang aku perbuat sampai mendapat boss seperti dia?! Dengan menggunakan high heelsnya, Zulaikha berlari menyusuri koridor kantor.
Orang - orang kantor nampak terheran - heran menyaksikan seorang pegawai baru yang berlarian tanpa mempedulikan kakinya yang menggunakan heels.
"Aisssh... dimana bisa kutemukan penjual kaki lima ditengah kota seperti ini?! Ya Tuhan.. Kenapa harus dia yang jadi bossku?" Dengan nafas terengah - engah, Zulaikha memperhatikan sekelilingnya, berusaha menemukan sosok penjual kaki lima. Namun Nihil, sekelilingnya nampak bersih dari penjual. "Liat saja nanti, akan kubuat kamu bergantung padaku! Liat saja nantiiii!" dengan sedikit berteriak, sambil mengentakkan kakinya. Zulaikha pergi meninggalkan lingkungan kantor, dengan semangat yang membara.
Sementara itu didepan kantor, terlihat sebuah mobil pribadi berwarna hitam mengkilat baru saja berhenti. Seorang gadis dengan memakai gaun berbrokat putih biru, dan sepatu high heels berwarna biru turut menghiasi kaki jenjangnya yang mulus semakin bercahaya. Rambut panjangnya yang berwarna hitam diombre dengan warna coklat, dibiarkannya terurai bergelombang membuatnya semakun anggun. Sambil tersenyum, supir pribadinya membukakan pintu mobil.
Dengan anggun, dia turun dari mobil dan tersenyum ayu kepada semua mata yang memandangnya kagum. Dia adalah Bunga, Bunga Puspita Negara. Putri dari seorang kapten Adijaya Negara yang merupakan seorang tentara angkatan darat dan Ayu Puspita, seorang pebisnis sekaligus penanam saham di Mall W, bisnis keluarga Andi.
Bunga tidak begitu dikenal di perusahaan tempat ibunya berinvestasi. Sehingga tak heran, banyak mata yang tertuju padanya mengira bahwa dia adalah seorang model. Namun siapa sangka, dengan wajah cantiknya dan kaki yang jenjang, dia lebih memilih menjadi seorang pebisnis. Meneruskan usaha milik ibunya.
Kaki jenjang itu membawanya ke sebuah ruangan, ruangan yang banyak disegani oleh orang - orang kantor dan pejagaan serta kedisiplinan yang ketat. Ya ruangan siapa lagi kalau bukan ruangan Zayn Adijaya. Dia lebih disiplin dan ketat melebihi presdir Andi Syafar.
Sesaat sebelum Bunga sampai diruangan yang ingin dia tuju. Bunga disapa oleh staff pria yang menjaga lantai tempat ruang kerja Zayn.
"Maaf. ada yang bisa saya bantu?!"
Bunga tak menjawab, dia hanya melontarkan sebuah senyum dan berpaling, terus berjalan tanpa mempedulikan pegawai yang menyapanya. Dengan cepat, segera pegawai pria itu mencegat Bunga hingga langkahnya terhenti.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Maaf.. anda tidak bisa masuk keruangan Tuan Zayn tanpa melalui lobi." ucap pria itu tegas.
"Apa kamu tidak tau siapa saya?" tanya Bunga dengan percaya diri, sambil meremas bahu pria yang mencegatnya.
"Maaf.. kami tidak peduli dengan status setiap orang yang ingin mengunjungi Tuan Zayn. Dia tetap harus melalui lobi, sesuai dengan peraturan yang tuan Zayn tetapkan." tegas pria itu, seraya meremas tangan Bunga agar melepaskan cengkramannya pada bahu lebarnya.
Bunga mendesis kesakitan. "Apa kau sudah gila?!" teriak Bunga. "Minggir! atau akan kubuat kau menyesal telah menghalangi jalanku." mendorong tubuh kekar pria yang ada didepannya dengan sekuat tenaga, meskipun pria itu sama skali tidak bergeser dari titik tempat dia berdiri. Pria itu tetap tidak mau menyingkir, dia tetap kokoh berdiri. Karena dia sadar, akan ada konsekuensi yanh lebih buruk jika dia mendengar ancaman dari seorang wanita yang ada didepannya saat ini.
"Yaaa!" Bunga berteriak kesal. "Sekali lagi kubilang minggir tapi kau tidak mau minggir, aku jamin tidak akan ada hari esok untukmu diperusahaan ini!" bentak Bunga, melirik kesal pria yang ada didepannya.
"Memangnya kamu siapa? berani - beraninya kamu mengancam pegawaiku?" Sahut seorang pria berbadan kekar dengan kacamata yang tertahan dihidung mancungnya nan kokoh. Namun masih terhalang oleh tubuh tinggi pegawai pria yang ada didepan Bunga.
"Siapa lagi itu?" Berusaha mencari asal suara. "Sepertinya pegawai - pegawai disini semuanya kurang tata keramah." Ucap Bunga kesal, sambil terus mencari asal suara yang menyela pembicaraannya.
"Saya Ridwan, sekertaris pribadi tuan Zayn." Singkat Ridwan. Seketika pria yang tadinya berdiri menghalangi Bunga, segera bergeser hingga nampak sosok Ridwan tepat didepan Bunga.
Bunga dengan geram, menatap kesal Ridwan. Sementara Ridwan dengan santainya menatap Bunga dengan tatapan tajam tanpa senyuman yang menggoresi wajahnya.
Bersambung...