FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
46. Sebuah Fakta



Sabi melirik pada Bunga yang sedang menatap Zulaikha dengan tatapan menyelidik. Dibalik Vas, Zulaikha tidak bisa berkata - kata dan jantungnya tidsk berhenti berdetak kencang karena takut akan konsekuensinya.


“Bukan urusanmu!” Ucap Sabi yang menatap Bunga dengan tatapan tak suka.


“What?” Sergah Bunga tak mengerti melihat Sabi yang main sambung - sambung tidak jelas.


“Dasar gila urusan!” Imbuh Sabi lagi lalu pergi menjauh dari Bunga.


Masih belum selesai geramnya dengan Queen, Bunga malah datang - datang gila urusan ingin tau segala hal yang dia ingin lakukan.


“Dasar! Dia belum berubah sedikitpun.” Ucap Sabi kesal, mengingat sifat bunga yang sedari remaja tak pernah berubah. Selalu kenanak - kanakan dan manja.


Sekali lagi telfonnya tidak diangkat oleh Queen meskipun dengan nomor telfon yang berbeda.


“Ciih.. dia pikir dia siapa sok sibuk dan sok - sok an tidak mau mengangkat telefon dari nomor baru.” Gerutu Sabi yang memaki di depan layar handphone nya.


Aku harus kemana jika Queen tidak bisa kujadikan alasan untuk kabur dari sini?! Aah.. sial!!!!


...........


“Sial! Karenamu, dikira Sabi aku yang gila urusan. Padahal kamu yang gila urusannya sampe pake acara nguping segala lagi.” Gerutu Bunga pada Zulaikha yang terpojok.


Zulaikha tidak bisa berkata apa - apa. Dia memang salah, ketahuan sedang menguping. Sementara itu tidak boleh dia lakukan selama berada di rumah ini.


“Kamu bilang dulu kamu yakin menang bisa bersaing untuk menjadi sekertaris dari seorang Andi Sabiru? dan sekarang apa?! Kamu malah mau jadi sekertaris yang suka menguping urusan bossnya sendiri, gitu?! Wah.. benar - benar kamu yaa!!!” Ejek Bunga yang geram pada Zulaikha yang terlihat sedikit munafik baginya.


Sosok Zulaikha yang dulu terlihat sangat optimis dengan kemampuan kepintarannya, sekarang malah suka menguping pembicaraan orang lain. Hal ini membuat penilaian Bunga terjadap Zulaikha jadi rendah dari pandangan awal Bunga bertemu dengannya dulu.


“Jadi sekarang kepintaranmu digunakan untuk menguping pembicaraan orang lain? Untuk apa?! Untung mengambil untung lalu disebarkan ke orang lain?!”


“Bunga..” Panggil Zayn yang tiba - tiba datang menghampiri mereka berdua.


“Zayn..” Bunga berbalik, mendapati Zayn yang menatapnya dingin.


“Tuan Zayn..” Gumam Zulaikha.


“Zayn.. lihat orang ini. Dia tukang nguping. Bisa bahaya orang seperti ini ada di sekitar kita.” Adu Bunga pada Zayn.


Zayn menatap Zulaikha yang terlihat terpojok akan kata - kata Bunga yang mengintimidasi.


“Aku akan mengurusmu setelah ini. Bunga, ikut aku.” Ajak Zayn menarik tangan Bunga.


Sontak hal itu membuat Bunga seolah lupa dengan kejadian tadi. Perasaan Bunga langsung berbunga - bunga seperti wajahnya yang bersemu merah layaknya bunga mawar karena merasa saking senangnya.


Zayn menarik Bunga masuk ke dalam ruangan dan berjalan beriringan dengannya. Disamping itu, sebelum Zayn masuk ke dalam ruangan, Zayn melirik Zulaikha diam - diam dan menunjuk ke arah pintu keluar dengan menggelengkan sedikit kepalanya.


Melihat hal itu, Zulaikha mengangguk mengerti dan pergi ke arah yang Zayn arahkan.


...........


Sabi berdiri menatap langit malam yang penuh bintang dari balkon kamarnya. Terlihat dia telah melapas jasnya dan menyisakan kaus oblong putih. Sesekali dia menarik nafas, memikirkan nasibnya di masa depan yang akan jadi apa di keluarga ini dengan kekurangannya yang dianggap seperti aib bagi keluarganya.


Sabi melirik ke sebelah, tepat pada balkon kamar Queen. Lampu di balkon masih belum menyala, menandakan orang yang menempati kamar itu belum kembali. Sabi kembali menarik nafasnya. Menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Dia pun merasa apa yang dia lakukan benar - benar tidak berguna, namun setidaknya dia melakukan gerakan daripada diam saja.


Sabi melirik sorotan lampu mobil yang masuk, diperhatikannya baik - baik itu mobil siapa dan siapa yang akan turun dari mobil itu. Ternyata saat mobil itu semakin mendekat, entah mengapa dia merasa sedikit kecewa karena itu mobil pribadinya yang dibawa oleh Pak Tri.


Sabi kembali menarik nafas panjang.


“Ada apa denganku?”


Terlihat dari atas balkon, Zulaikha celingak celinguk seperti sedang mencari sesuatu. Gadis itu kesana kemari tidak jelas dan Sabi terus melihat Zulaikha dari balkonnya.


“Apa yang dia lakukan malam - malam berkeliaran seperti itu?!” Gumam Sabi.


Melihat Zulaikha yang berhenti sejenak seolah sedang berpikir, dia pun jadi berpikir sejenak apa yang dilakukan gadis itu? Apakah dia mencari sesuatu? Terbesitlah handphone Zulaikha yang ada di saku celananya.


“Ya ampun.. benar! Handphone nya.” Seru Sabi segera mengeluarkan handphone milik Zulaikha.


Dia menekan tombol on untuk menyalakan handpone itu lalu dilambai - lambaikan tangannya memanggil Zulaikha dari atas balkonnya.


“Zu..” teriak Sabi sedikit kencang.


Zulaikha berbalik mencari arah suara yang dirasanya tengah memanggil namanya. Setelah beberapa saat celingak celinguk ke samping kiri kanan dan belakang, akhirnya Zulaikha mendapati orang yang memanggilnya ternyata Sabi yang berada di balkon kamarnya.


Gadis itu tersenyum lega sesaat setelah melihat Sabi yang ternyata tidak kemana - mana, melainkan hanya di kamarnya saja.


“Tuan muda, aku naiknke atas yah.” Ucap Zulaikha lalu berlari menuju kamar Sabi.


Tak menunggu waktu lama, terdengar suara Zulaikha memanggil nama lengkap Sabi dengan sopan dari balik pintu kamar.


“Masuk..” sahut Sabi santai, masih tak mau beranjak dsri balkon.


Zulaikha masuk dengan nafas yang terengah - engah dan mendekati Sabi. Sabi meliriknya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Sebuah tawa pun sedikit terdengar dari mulutnya.


Apa ini? Kenapa dia menertawakanku?! Apa ada yang salah dariku?! Gumam zulaikha sambil merapikan rambutnya yang terus dikuncir satu ke belakang.


“Tidak salah memang Zayn memilihmu sebagai sekertaris yang memenuhi standart dewa yang ku pasang.” Seru Sabi.


Mendengar nama Zayn disebut oleh Sabi, Zulaikha jadi teringat tadi saat sebelum naik tangga ke kamar Sabi, dirinya sempat bertemu dengan Zayn yang mencegatnya. Disana Zayn memberikan kertas jadwal pertemuan yang harus Sabi lakukan besok.


“Oh iya tuan muda, berhubung anda menyebutkan nama tuan Zayn. Ini ada titipan dari tuan Zayn.” Zulaikha mengambil sebuah kertas dari dalam sakunya, lalu diberikan pada Sabi.


Sabi yang melihat kertas itu terjatuh, segera mendekat dan mengambil sendiri kertas itu.


Matanya membulat sempurna setelah melihat kertas kecil itu yang ternyata sebuah foto usang yang memperlihatkan 2 anak kecil laki - laki dan perempuan yang berdiri berseblahan.


“Tuan muda, anda tidak apa - apa?” Tanya Zulaikha yang menyadari ekspresi terkejut Sabi.


Kenapa anak perempuan ini sangat mirip dengan anak perempuan yang selalu ada dalam mimpiku?!


“Tuan muda..” panggil Zulaikha yang semakin mendekatkan dirinya.


“Stop!” Sergah Sabi yang langsung menghentikan langkah Zulaikha yang semakin mendekat padanya.


Wajah Zulaikha mulai menampakkan kehawatirannya. Matanya memandang penuh kehawatiran dengan perasaan yang tidak tenang. Entah apa yang dilihat Sabi dalam potongan kertas itu, hingga membuatnya bereaksi seperti itu.


Sabi memperhatikan wajah anak perempuan di foto itu lalu sandingkan dengan wajah Zulaikha yang tepat berdiri di depannya. Tanpa ragu - ragu dia melihat secara terperinci wajah anak perempuan itu dengan Zulaikha.


Semua bagian hampir terlihat sama, mulai dari alis, mata dan bibir semua terlihat sama. Jantung Sabi kembali berdetak kencang, kepala juga berdenyut - denyum memberikan sensasi sakit kepala seperti biasa.


Ditengah - tengah kesakitan yang dia rasakan, dia berusaha tetap tegar menahan sakit kepalanya itu sambil mengingat - ingat kejadian random yang selama ini dia alami bersama Zulaikha.


Setiap bersama dia, aku pasti akan merasakan sakit kepala seperti ini dengan jantung yang berdetak tidak karuan. Setiap kepala dan jantungku seperti ini, pasti kenangan yang pernah hilang dari memoriku kembali dengan membawa wujud anak perempuan yang semakin hari semakin jelas.


“Aakhh..” rintih Sabi masih menahan sakit kepalanya. Dia tidak boleh terkapar duluan sebelum mengerti dengan semua ini.


“Tuan muda..” seru Zulaikha melangkah mendekati Sabi namun kakinya tertahan karena Sabi menolaknya untuk mendekat.


“Tuan muda.. anda tida apa - apa?” Tanya Zulaikha yang gelisah melihat keadaan Sabi yang menghawatirkan.


Kaki Sabi terlihat bergetar, berusaha tetap berdiri memandangi wajah Zulaikha yang semakin dilihatnya semakin menjadi seperti anak perempuan yang selama ini menjadi penghuni mimpi buruknya disetiap malamnya.


Apakah kamu benar - benar anak itu? Zu?


“Aakhhh...” rintih Sabi yang semakin kesakitan dan berakhir dengan jatuh pingsan menghantam lantai.


“Tuan muda..”


Zulaikha segera mendekati Sabi dan memeluk tubuh lelaki itu.


“Tuan muda.. tuan muda.. ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?”


..........


Di sebuah kamar yang besar dan mewah, dengan desain yang modern bercampur klasik. Queen terlihat sedang duduk di sebuah tempat tidur besar yang bernuansa warna putih. Lagu klasik piano yang didengarnya melalu speaker dengan volume yang kuat membuatnya tidak mendengar sebuah panggilan masuk di hanphone nya.


Queen terlihat sibuk menggambar sebuah desain baju di sebuah sambil sesekali tersenyum kecil dan raut wajah yang menunjukkan sebuah ketenangan pada jiwanya.


Queen begitu menikmati setiap lantunan melodi piano yang bermain merdu bersama dengan warna warna yang dia padukan disetiap desain baju yang dia buat.


Tiba - tiba terdengar pintu kamar terbuka, seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang serba hitam dan rambut yang dibiarkan tergerai panjang, masuk ke dalam kamar Queen sambil membawa sebuah nampan aluminium yang diatasnya ada beberapa botol obat kaca dan sebuah suntik.


“Nona.. sudah saatnya_”


“Oke oke.. tidak perlu dijelaskan lagi. Ini..” sahut Queen yang memotong ucapan wanita paruh baya itu sambil menjulurkan tangan kirinya yang telah terpasang selang infus dipunggung tangannya.


Wanita paruh baya itu mendaki Queen tanpa ekspresi. Namun meskipun begitu, Queen sama sekali tak terlihat seperti terganggu dengan kehadiran wanita paruh baya itu. Merek terlihat akrab dan telah mengenal lama satu sama lain.


Wanita paruh baya itu dengan lincahnya, segera mengambil suntikan lalu diisikan cairan yang ada pada botol kaca kecil. Wanita itu kemudian menyuntikkan cairan itu ke dalam selang infus Queen dengan sangat telaten dan cepat.


“Akh..” rintih Queen yang merasa sedikit perih ketika cairan itu mulai masuk ke nadinya.


Wanita paruh baya itu langsung mengelus - elus punggung tangan Queen dengan lembut.


“Nona.. sebaiknya anda kembali ke Paris saja dan dirawat disana.” Ucap wanita paruh baya itu dengan raut wajah yang mulai menampakkan raut wajah hawatir.


Queen tetap diam, bersenandung bersama iringan musik klasik yang didengarnya.


“Keadaan anda semakin memburuk disini, alat medis disini juga tidak terlalu lengkap dan canggih seperti disana, Nona.” Imbuh wanita paruh baya itu.


“Ella.. Aku ini sehat. Aku akan baik - baik saja disini. Kamu jangan hawatir yah.” Ujar Queen menatap wanita paruh baya yang ternyata bernama Ela.


Queen menepuk - nepuk punggung tangan Ela yang tengah memijat lembut tangan kirinya. Seolah menunjukkan pada Ela bahwa dia baik - baik saja, dan Ela tidak perlu menghawatirkan dirinya.


...........


Sementara di ruangan tempat Paman Andi Syafar mengadakan penyambutan kecil - kecilan untuk putranya. Seluruh keluarga Andi terkecuali Sabi dan para tamu, serius menonton pertunjukkan piano yang bawakan oleh Zayn.


Jari jemari Zayn terlihat begitu lentiknya menekan tuts - tuts piano dengan profesionalnya. Irama yang dia mainkan bertempo cepat hingga membuat penonton yang menyaksikannya berdecak kagum akan keahliannya.


Zayn terlihat tersenyum tipis menatap kedepan, namun bukan pada buku lagu melainkan menatap kosong tanpa arah dan sedang mengingat bahwa rencananya tengah berjalan dengan baik karena telah meletakkan foto masa kecil Sabi bersama dengan seorang anak perempuan.


Mari kita lihat apa yang akan terjadi besok, lusa dan seterusnya setelah kamu melihat itu.


Senyuman Zayn semakin merekah, puas atas rencananya. Tempo permainan piano pun semakin dicepatkannya, lalu dia memainkan piano dengan mata yang tertutup, membayangkan sesuatu dibalik pikirannya yang tidak bisa ditebak.


Orang - orang semakin berdecak kagum dan mulai bertepuk tangan untuknya. Terlebih lagi Bunga yang terlihat sangat kagum dengan penampilan Zayn, tak henti - hentinya dia bertepuk tangan dan tidak sedetikpun matanya beralih dari Zayn yang sedang memainkan piano dengan lincahnya.


Sementara diantara orang yang ramai bertepuk tangan akan talenta Zayn yang mengagumkan, Nenek justru diam membisu menatap nanar Zayn yang sedang bermain piano. Sesekali dia mengelus dadanya dengan raut wajah yang terlihat sedih namun disembunyikannya lewat senyum masamnya.


Jika putra dan cucuku masih hidup, mungkin mereka juga akan memainkan piano saat ini. Gumam Nenek yang merindukan anak dan cucunya yang telah tiada.


Bersambung...