FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
75. Sedikit Kisah



Setelah menyelesaikan urusan mereka, urusan kantor dan juga urusan pribadi antara Zayn dan Zulaikha. Ridwan dan Zayn memutuskan untuk pergi lebih dulu dan meninggalkan Zulaikha bersama dengan Queen dan juga Sabi yang masih tertidur pulas.


“Aku tidak tau apa yang terjadi diantara kalian dulu, tapi aku yakin kalau dulu kalian sangat dekat. Iyakan?” Seru Ridwan memecahkan keheningan saat di dalam mobil.


Zayn diam, tidak merespon pertanyaan dari sekertaris pribadi yang telah merangkap jadi teman dekatnya itu.


Tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, Ridwan mengintip Zayn dari balik kaca spion dalm mobil. Disana, Zayn hanya diam mengedarkan pandangannya di luar jendela.


“Melihatmu tetap diam seperti itu, aku yakin jawaban dari pertanyaanku adalah, iya. Iyakan?!” Sekali lagi Ridwan melontarkan pertanyaan sembari mengintip ekspresi Zayn dari balik kaca spion. Karena melihat ekspresi Zayn saja, Ridwan sudah mampu menebak apa yang akan Zayn jawab.


Begitulah Ridwan selama ini bertahan hidup bersama Zayn yang dingin dan tidak banyak bicara. Karena jika tidak seperti itu, mereka tidak akan sedekat sekarang dan akan sulit memahami bossnya itu.


“Ada apa denganmu?! Tidak biasanya kamu seperti ini.” Ucap Ridwan, mumpung hanya ada mereka berdua didalam mobil. Jadi ini kesempatan yang bagus untuknya melontarkan segala rasa penasarannya yang sempat dia tahan tadi.


“Fokus saja menyetir. Aku tidak ingin mengalami kecelakaan karena kecerobohanmu.” Sahut Zayn, akhirnya buka suara. Menundukkan pandangannya sayu.


Melihat respon Zayn yang tidak seperti biasanya, dingin dan berwibawa. Ridwan bisa mengambil kesimpulan, bahwa bossnya itu sedang memikirkan sesuatu yang sangat mendalam. Lebih melibatkan hati daripada otak, karena ketika Zayn sedang berpikir melibatkan otaknya, maka jiwa wibawanya alan terlihat. Tapi sekarang, yang terlihat hanyalah sebuah kemuraman di wajahnya yang dingin.


“Tadi aku membantumu membohongi nona Queen Lee.” Kata Ridwan, terus mengemudikan mobil dengan kecepatan rata-rata dan Zayn menyimak. “Jadi setidaknya aku harus tau apa yang terjadi diantara kalian. Sehingga kedepannya aku bisa tau apa yang akan kulakukan ketika berhadapan dengan gadis keras kepala itu.” Imbuhnya, membuat Zayn menyunggingkan senyuman ketika mendengar kata keras kepala diucap Ridwan untuk menggambarkan seorang Queen Lee.


Zayn menarik nafasnya perlahan, dan menatap pergelangan tangannya. “Kamu sama saja seperti Queen Lee, keras kepala dan tidak bisa menahan apa yang mengganjal di kepalamu.” Ucap Zayn, lalu membuang pandangannya keluar jendela. “Tanyalah, apa yang mengganjal di kepalamu.” Imbuhnya.


Ridwan tersenyum lebar mendengar ucapan Zayn, dan mulai memelankan kecepatan mobil. Agar dia bisa lebih fokus mendengarkan sekaligus berfikir, karena sepertinya ini akan jadi cerita yang lumayan bagus untuk dia nikmati.


“Kapan kamu pertama kali bertemu dengannya?” Sebuah pertanyaan klasik yang akan mampu menjawab semua rasa penasaran Ridwan, terucap. Membuat sudut mulut Zayn sedikit terangkat, membuat sebuah senyuman kecil disana.


“Aku bertemu dengannya saat aku kelas 6 SD, jadi .... sekitar umurku 12 tahun lebih, dan Queen saat itu mungkin berumur 10 tahun.” Jawab Zayn, mulai membayangkan dirinya yang saat itu masih muda. “Saat itu aku baru saja lulus SD, jadi sedang liburan dan saat liburan itulah aku bertemu dengannya.” Sambungnya.


“Woow ... jadi kalian sudah bertemu sejak masih kecil yah. Tidak heran kalian terlihat sangat akrab meskipun kamu begitu dingin padanya.” Tutur Ridwan.


“Benarkah?!”


Ridwan mengangguk mengiyakan pertanyaan Zayn.


“Seharusnya aku lebih keras lagi menghindarinya.” Ketus Zayn dan Ridwan terkekeh.


“Hmm ... sepertinya kamu salah.” Sangkal Ridwan, menyela ucapan Zayn, membuat Zayn mengernyitkan dahinya. “Kamu tidak bisa menghindarinya, Zay. Buktinya saja, sekarang kamu yang datang menghampirinya.” Sambung Ridwan, membuat ekspresi Zayn berubah.


“Aku melakukan itu karena Zulaikha terlalu bodoh melaksanakan tugasnya.” Ucapan pembelaan dilontarkan Zayn. “Jika saja kita tidak kesana, pasti ketika Sabiru terbangun, hubungannya dengan Queen semakin dekat.”


Ridwan semakin terkekeh mendengar pembelaan Zayn terhadap dirinya. Ucapan Zayn bagaikan pembelaan untuk menutupi kekeliruannya dalam mengartikan kata menghindar dengan kata cemburu.


“Kamu takkan bisa menghindarinya, Zayn.” Tegas Ridwan, tersenyum dibalik kursi kemudinya, yang menyadari pikiran Zayn lebih dari Zayn sendiri.


“No. No.” Ridwan menggeleng. “Kamu takkan bisa. Kecuali nona Queen Lee sendiri yang menghindarimu.” Imbuhnya membuat pandangan Zayn kembali tertunduk dan berpikir.


............


Sabi membuka matanya perlahan, pelan-pelan mengangkat kepalanya yang tersandar di bahu Zulaikha.


“Aaakkhh ...” seru Sabi meregangkan tubuhnya.


Dia sedikit merasa segar, setelah tertidur beberapa jam. Bahkan yang membuatnya senang, kali ini dia tidur tidak mimpi buruk lagi.


“Tuan muda, ini pakaian ganti anda.” Ucap Zulaikha mengulurkan tasnya yang berisi pakaian kerja untuk Sabi.


Sabi spontan menoleh padanya, dan melihat wajah Zulaikha dengan heran.


“Zuuu ..?!” Ucapnya.


“Iya, tuan muda.”


“Sejak kapan kamu disini?”


“Sudah dari tadi, tuan muda.” Jawab Zulaikha, sedikit tersenyum.


“Benarkah?! Lalu Queen dimana?”


“Nona Queen Lee sedang bekerja, tuan.”


Sabi sedikit berpikir mendengar jawaban Zulaikha.


Hmm ... pantas saja. Pantas aku tidak bermimpi buruk. Ternyata karena dia yang menemaniku.


“Aku tidak tau apa yang kamu lakukan padaku selama aku tertidur. Tapi ... terimakasih Zu.” Ucap Sabi, tersenyum lembut pada Zulaikha.


“Terimakasih atas apa, tuan muda?”


“Hmm ... tidak. Aku hanya ingin berterimakasih saja padamu.” Sahut Sabi, menyentuh pucuk kepala Zulaikha. “Haruskah aku mandi disini atau di kantor?”


“Terserah anda, tuan. Mana yang baik menurut anda.” Jawab Zulaikha, menahan senyum sumringahnya.


Bersambung ....