
"Kamu janji?" tanya seorang anak perempuan.
"Aku janji!" jawab seorang anak laki - laki dengan mantap.
Anak laki - laki itu melangkah mendekati anak perempuan yang sedang membelakanginya. Kerudung motif bunga berwarna ungu dilingkar menutupi sebagian rambutnya yang sangat hitam terikat kebelakang. Sambil berbalik, kerudung anak perempuan itu tertiup angin sehingga menutupi sebagian wajahnya yang terpapar sinar matahari, membuat wajah anak perempuan itu terlihat samar - samar. Namun satu yang pasti, anak itu memiliki senyum indah yang meneduhkan.
Saat jarak mereka begitu dekat, anak lelaki itu ingin menggapai dan memegang tangan anak perempuan berkerudung, tiba - tiba saja angin menerbangkan kerudung anak perempuan itu dan dengan cepat tangan yang tadi ingin menggapai dan menggenggam tangan anak perempuan itu segera menangkap kerudung yang diterbangkan oleh angin.
Disaat yang bersamaan, anak perempuan itu terjatuh dari tebing tempat mereka berdiri. "Aaaaaaaa..." teriak ketakutan anak perempuan yang berusaha menggapai tangan anak laki - laki didepannya.
Berusaha saling menggapai tangan satu sama lain, namun anak perempuan itu jatuh semakin jauh... dan menghilang.. beriringan dengan mimpi yang berlalu.
'Ttuuuttt... Ttuuuuttt. ' Suara handphone bergetar tepat disebelah tempat tidur seorang pria yang sedang tidur dengan raut yang gelisah.
Seketika pria itu terbagun dari tidurnya. Dia terlihat tampak sangat terkejut dan ketakutan, keringat yang membasahi wajah dan kaus hitamnya seakan bisa ikut menceritakan apa yang dirasakannya ketika bermimpi seperti itu.
Dia bangun dari tidurnya, duduk dan mendekap lututnya. Meskipun handphone-nya terus bergetar, namun dia tetap tidak beranjak dari posisinya.
"Ada apa denganku?!" Tanyanya pada dirinya sendiri sambil meremas rambutnya. "Kenapa aku selalu memimpikan hal yang sama? dan kenapa itu terasa menakutkan?" sambungnya dengan suara yang lirih.
Pintu kamar pria itu tiba-tiba dibuka oleh seorang wanita muda dengan pakaian berwarna hitam putih, yang merupakan asisten rumah tangga di rumah pria tersebut. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian mewah yang merupakan Ibu dari pria yang masih syok dengan mimpinya, masuk bersama dengan asisten rumah tangga itu.
"Belum siap - siap?" tanya wanita paruh baya, yang akrab disapa dengan Nyonya Sura. Dia bertanya dengan nada yang lembut pada putra satu-satunya. Pria itu tidak menjawab dan hanya mengangguk pertanyaan dari Ibunya.
"Apakah tuan muda bermimpi lagi?" tanya asisten rumah tangga yang bernama Mila. Lagi - lagi pria itu hanya mengangguk tanpa menoleh sedikitpun. "Mungkin tuan muda harus berkonsultasi dengan psikiater untuk bisa menemukan penyebab dari mimpi buruk itu." Sambung Mila.
Nyonya Sura menatap Mila dengan tatapan kesal dan tajam, "Diam kamu Mila!" bentaknya. "Apa kamu pikir anak saya gila?!".
"Tidak nyonya.. saya hanya.." segera Mila membela dirinya namun dipotong oleh pria itu. "Apakah kalian bisa keluar dari kamarku? aku ingin bersiap - siap." Potong pria itu tanpa menoleh.
"Baik... jangan terlalu lama, kita akan terlambat!" sahut Ibunda tercintanya dengan elegan sedangkan Mila hanya menunduk sambil menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan kamar bersama dengan Nyonya Sura yang melirik Mila dengan tatapan kesal.
Pria itu mengerang kesal... segera dia bangkit dari tempat tidur dan menyingkirkan selimut putih yang masih menutupi sebagian tubuhnya dengan kasar.
Seperti itulah aktifitas pria itu setiap paginya. Namanya adalah Andi Sabiru Perwira, dia lebih sering disapa dengan nama Sabi. Tapi orang - orang yang derajatnya berada dibawahnya, sering menyapanya dengan Tuan muda Sabi atau pak Sabi.
Nama mall itu adalah 'W', orang - orang sering menyebutnya dengan 'double you mall' dan hari ini, merupakan peresmiannya sebagai direktur baru di mall tersebut.
Sabi mengenakan jas terbaik yang telah disiapkan oleh pelayan pribadinya, dimana pelayan itu secara khusus melayani dirinya dari dia sebelum tidur sampai dia akan tidur lagi. Semua yang Sabi kenakan hari ini merupakan barang - barang yang dirancang oleh desainer - desainer terkenal dan ternama saat ini. Salah satu merk yang sering dia pakai adalah merk QL dari desainer yang berasal dari Paris.
Di depan cermin, Sabi terus melihat pantulan dirinya. Bekas luka yang terlihat samar - samar dibagian jidat membuatnya teringat pada bekas luka yang lebih besar tiga kali lipat yang ada dibagian belakang kepalanya. "Siapa anak kecil yang selalu hadir dalam mimpiku? apakah dia bagian dari traumaku di masa lalu? atau..?" gusarnya.
Sabi mengambil pomade merk ternama yang jadi favoritnya, mengusapkannya kebagian belakang kepalanya untuk memastikan bahwa rambut dibagian belakang telah tertata rapih. Dia lalu beranjak pergi namun baru selangkah dia beranjak dari depan cermin, dia segera mundur lagi dan kembali bercermin untuk menurunkan rambut dibagian depan sehingga bekas luka yang ada dijidatnya tertutup.
Ibu Sabi yang telah lama menunggu Sabi di dalam mobil tak henti - hentinya memeriksa jam tangannya yang serasi dengan pakaian mewah nan elegan yang dia pakai. Dengan santai Sabi turun dari kamarnya sambil tersenyum dengan percaya diri, serentak seluruh pelayan yang dilewatinya segera membungkuk untuk memberi hormat padanya. Kulit yang bersih, tatapan mata yang lembut, hidung mancung serta senyuman yang friendly membuatnya terlihat seperti seorang yang berwibawa dengan aura yang bersahabat.
Waaahhh.. tampannya! Gumam seorang asisten rumah tangga wanita.
Jangan tersenyum tuan muda! senyummu melelehkan hati.
Bagaimana bisa orang sekaya ini memiliki senyum yang ramah!
*Cuci mata yang berfaedaaah... :D*
Gumam pelayan-pelayan wanita yang menyaksikan Sabi*.
Nyonya Sura melihatnya dari dalam mobil, membuat perasaannya yang tadi resah menjadi sedikit tenang dan bangga melihat putranya terlihat seperti laki - laki yang hebat.
"Hy Mom.. Are you ready?" Sapa Sabi pada Ibunya yang sedang tersenyum lembut padanya.
"Of course!" jawab Nyonya Sura dengan tenang.
Sayang... lihatlah, putramu terlihat tampan dan gagah sepertimu. Bantulah kami dari sana, agar putra satu-satunya milikmu bisa menjadi orang yang sukses melebihi dirimu. Gumam Nyonya Sura, terus tersenyum pada putra semata wayangnya.
Bersambung...