
Aah.. Hari ini cukup melelahkan..
Sabi menikmati air hangat yang berjatuhan dari shower. Tidak ada yang menyangka, dibalik wajah tampan dan imut, dihiasi dengan dua lesung pipi disetiap sisi wajahnya, ternyata memiliki ABS yang juga turut menghiasi perut putihnya.
Sabi membasuh tubuhnya dengan baik dan hati - hati karena baginya dan bagi Ibu, tubuh sempurnanya adalah sebuah infestasi dan pembawa nasib baik sehingga harus dijaga baik - baik jangan sampai terluka seperti terakhir kali. Meskipun dia sama skali tidak mengingat kapan terakhir kali dia terluka karena memori kecelakaan itu benar - benar hilang dari ingatannya. Namun satu yang pasti, bekas jaitan dibelakang kepala dan bekas luka di jidat bisa memberitahunya bahwa dia pernah mengalami kecelakaan yang parah.
"Aah.. bekas luka ini, kenapa sulit untuk hilang?!" memperhatikan lekat bekas luka dijidatnya. "Apa aku operasi plastik saja yaa.." mulai merasa kesal melihat bekas lukanya terlalu menampakkan diri dijidat, membuatnya segera menutup jidatnya dengan rambut depan.
Merasa lelah sendiri melihat wajahnya didepan cermin, Sabi beranjak menuju ruang ganti. Memakai kaus oblong dan celana pendek, dia mulai melakukan tarian - tarian kecil sambil mengambil remot, memutar sebuah lagu jadul milik Maikel Jakson.
Bernyanyi seolah - olah dia penyanyi profesional diselingi dengan tarian khas Maikel Jakson, terlihat konyol namun menyenangkan. Baginya menari seperti ini mampu merilekskan otaknya yang lelah karena Zayn.
Dasar Zayn! Gara - gara kamu, otak cerdasku seharian merasa frustasi dan tertekan. Aaah..tapi membayangkan betapa tersiksanya kamu tadi karena malu, sudah cukup membayar dosamu.
"Hahahaa..." Sabi tertawa bangga, merasa menang mengingat kejadian tadi. Hormon bahagianya mudah sekali terpancing meskipun hanya membayangkan hal - hal sepeleh. Namun sepertinya itu bukan hal sepeleh karena untuk memojokkan seorang Zayn Adijaya seperti itu tidaklah mudah. Jadi sepertinya tidak salah jika Sabi merasa menang dan bahagia atas kalahnya Zayn hari ini.
Tiba - tiba terdengar suara ketukan dari luar pintunya.
"Tuan muda.. makan malam anda sudah siap." ucap seorang pelayan pria paruh baya dari luar pintu, bersama dengan beberapa pelayan wanita muda sambil memegang beberapa makanan.
"Masuklaaaah.." sahut Sabi sambil merebahkan tubuhnya di sofa kulit.
Seorang pelayan pria paruh baya berjalan paling depan diikuti dengan pelayan wanita muda yang memegang makanan milik Sabi.
"Apa kamu sudah menyiapkan makanan ekstra pedis kesukaanku?" tanya Sabi yang masih merebahkan tubuhnya diatas sofa.
"Tentu saja tuan muda.. Ceker ayam pedas ekstra bersama soup." membuka penutup makanan. Aroma rempah yang didominasi dengan bau pedas segera menyambar hidung Sabi. Sabi yang tadinya cuek bebek dengan keadaan pelayannya, tiba - tiba segera bersemangat saat mencium bau makanan kesukaannya.
"Waaah.. kamu luar biasa pak Tri!" Puji Sabi dengan mata berbinar - binar. "Harusnya sekali - kali menunya lokal seperti ini, lagian makanan lokal tidak akan menjatuhkan harga dirimu sebagai orang kaya bukan?!" Sambung Sabi sambil meraih ceker ayam, melahapnya dengan perasaan puas karena rasanya sesuai dengan aroma harum yang dia cium.
Sayangnya Ibu anda terlalu pilih - pilih makanan tuan...
"Silahkan menikmati makan malam anda tuan muda, panggil saya jika anda membutuhkan sesuatu." seru pak Tri.
"Tidak.. tidak.. silahkan pergi." Berusaha bicara dengan mulut penuh.
Para pelayan segera meninggalkan Sabi yang sedang asik menyantap makan malamnya.
Setelah beberapa saat menyantap makan malamnya seorang diri, Sabi meninggalkan sofa tempat dia makan menuju balkon kamarnya sambil terus mendecap - decap lidahnya yang kepedisan.
"Aah gila si pak Tri, pedis banget cekernya!" Keluhnya. Beberapa kali membuka mulut membiarkan angin malam masuk kedalam mulutnya, berharap angin malam mampu menghilangkan pedis yang menguasai area mulutnya.
"Aaaaaaaa! peeediiiiiiisss!" berteriak. "Haaaaaaa....!"
Dia sendiri yang meriquest ceker ayam dengan pedas ekstra, dia sendiri juga yang memaki dan berteriak kesal karena merasa kepedisan. Bagaimana tidak Zayn mengatakannya tulalit dan tidak jelas, jika dia selalu memperlihatkan ketidakjelasannya itu.
Setelah beberapa saat meraung - raung dan merengek karena kepedisan. Sabi melangkah menuju tempat tidurnya. Matanya terlihat sangat lelah. Dia menyisir seluruh ruang kamar, mendapati meja tempat tadi dia makan telah bersih.
hoaaamm.. Menguap sambil terus menyeret kakinya ke tempat tidur. Sesampainya diujung tempat tidur, dia melempar tubuhnya, berbaring, sedikit menggosok - gosokkan kakinya ke selimut putih yang tebal dan nyaman. Setelah beberapa saat dia merebahkan tubuhnya, Sabi terlarut dalam tidur melepaskan seluruh penatnya hari ini.
....
"Bang... berhentiii!" teriak salah seorang anak laki - laki yang lebih kecil. Mengejar, berusaha menggapai punggung anak laki - laki yang dikejarnya.
"tidak maauuu! kejarlah aku..." terus berlarii meninggalkan jauh anak laki - laki yang mengejarnya.
"Aku capeeek bang... aku menyerah!" berhenti, berusaha mengatur nafasnya yang terengah - engah.
"Mengejarku saja kamu tak sanggup." Serunya sambil berhenti berlari. Anak laki - laki yang lebih muda hanya menatap punggung anak laki - laki didepannya, berdiri tanpa suara.
"Tapi kamu sanggup menyingkirkanku!" Sambungnya sedikit berteriak penuh amarah, seketika berbalik dan menyerang anak lelaki yang lebih muda darinya.
Leher dan nafasnya terasa sesak, tulang lehernya terasa seakan mau patah, jantung berdegub - degub kencang tak beraturan, kepala terasa mau pecah.
le.. passs... le.. lee.. pass.. le.. pas..kan.. aku..
Suara rintihan tertatih - tatih berusaha dia ucapkan, namun hanya dapat bergumam.
Rasa sakit semakin hebat terasa diseluruh lehernya menjalar kebagian kepala, rasa sakit itu semakin menyiksa membuatnya semakin tak berdaya.
Aaa... a.. khhff.. Tenaganya semakin melemah dan semakin tak berdaya.
"Tuan mudaaa... Tuan mudaaa!" teriak Pak Tri sambil menggoyang - goyangkan tubuh Sabi. Berusaha menyadarkan Sabi, meskipun apa yang dia lakukan ternyata sia - sia. Panik melihat keadaan Sabi, dengan keadaan tangan yang mencekik lehernya sendiri, kaki yang kejang - kejang sambil merintih kesakitan.
Masih dalam keadaan panik, Pak Tri berusaha mencari solusi untuk menyadarkan Sabi dari mimpi buruknya.
Sial! dia mimpi buruk lagi! bangunlah tuaan.. anda tidak boleh memperlihatkan sisi lemah anda pada seisi rumah. Gumam Pak Tri panik, melirik air putih atas meja sebelah tempat tidur Sabi.
"Maaf tuan muda.." seru Pak Tri sambil meraih air putih, lalu menyiram dengan keras air putih itu ke wajah Sabi.
"Aaaaaa!" teriak kaget, tersadar dari mimpi buruknya.
"Tuan muda.. anda tidak apa - apa?!" Pak Tri mendekati Sabi yang berbaring syok.
"haa.. " Sabi memandang pak Tri kosong, pikirannya kacau, jantungnya pun masih berdegub - degub kencang tak beraturan dan wajahnya masih pucat pasi.
"Tuan muda... sebaiknya anda tidak perlu ke kantor untuk hari ini. Anda perlu beristirahat agar kondisi anda tidak semakin memburuk." ujar Pak Tri yang menyadari kondisi Sabi masih belum stabil sepenuhnya.
Sabi berusaha bangun untuk duduk, namun.. dia seakan tak punya tenaga untuk bangun. Pak Tri melihat Sabi dengan tatapan iba, laki - laki dewasa sepertinya mampu dibuat tak berdaya hanya karena bermimpi buruk. Pak Tri segera membantu Sabi untuk bangun dari posisi berbaring.
Ini mimpi buruk bahkan lebih buruk dari yang sebelumnya.. Sabi mengerang kesal menyadari dirinya benar - benar tak berdaya karena hanya sebuah mimpi buruk.
"Saya akan mengambilkan sarapan untuk anda tuan muda. Supaya tenaga anda bisa segera pulih kembali." ucap Pak Tri sebelum meninggalkan Sabi yang masih mengingat - ingat mimpi buruknya.
Sebelumnya hanya satu anak dan sekarang ada dua anak. Aaarghhh.. Satu anak perempuan itu saja masih misteri, sekarang muncul lagi anak laki - laki, tapi kali ini.. kenapa dia berusaha membunuhku?
Wajah Sabi yang masih terlihat pucat pasi dipenuhi dengan perasaan penuh tanda tanya. Mimpi yang selama ini berulang tentang seorang anak perempuan kini beralih menunjukkan seorang anak laki - laki yang berusaha membunuhnya. Siapa sebenarnya kedua anak itu? Apakah mereka bagian dari masa lalunya atau mereka hanyalah sekedar bunga tidur biasa yang sekedar hadir tanpa alasan?!
bersambung...