FIND YOU In MY MEMORIES

FIND YOU In MY MEMORIES
21. Pesta Sambutan



Dengan penuh semangat, Zulaikha naik ke atas menghampiri Sabi yang masih enggan melihat kehadiran dirinya di pesta.


"Tuan mu_"


"Kenapa kamu datang ke rumahku?" tanya Sabi ketus memotong ucapan Zulaikha.


"Saya diminta tuan Zayn untuk datang ke rumah anda karena rumah anda sedang merayakan pesta, jadi saya ditugaskan untuk membantu anda tuan." jawab Zulaikha tegas.


"Pulang sana.." usir Sabi sambil menunjukkan pintu keluar dengan jari telunjuknya.


"Maaf tuan saya tidak bisa. Bukankah tugas saya yaitu meringankan tugas tuan muda?! jadi saya harus berada dimanapun tuan berada." dengan tegas Zulaikha tetap bertahan pada posisinya.


Sabi mengerang kesal.


Aarrghhh...


Sialan kamu Zayn, ini dua mata sudah sakit melihat ornamen pink pink disegala penjuru rumah dan kamu mengirim zebra ini untuk datang ke rumah.


"Tuan mu_"


"Aiishh.. diam! diam! berisik!" Sergah Sabi, lagi - lagi memotong ucapan Zulaikha.


"Pergi sana! mataku sakit liat kamu yang seperti Zebra!" bentak Sabi sambil berlalu meninggalkan Zulaikha.


Ketika sampai dibawah tangga, tak senggaja Sabi menyambar seseorang yang tak lain adalah Zayn bersama dengan asisten pribadinya Ridwan.


"Be careful." seru Zayn.


(hati - hati)


Awalnya Sabi acuh, namun setelah mendengar suara yang tak asing baginya. Segera dia menoleh dan mendapati Zayn yang sedang menatapnya dengan tatapan tidak suka.


"oh oh oh.. ada si hebat Zayn rupanya." seru Sabi sambil cengengesan melihat Zayn yang masih berdiri dengan tatapan tidak senang.


"hey.. ada apa?!" Sabi mendekat memegangi pundak Zayn, berlagak peduli padahal bermaksud untuk mengejek dan membuat Zayn kesal.


Dan benar saja, Zayn kesal dengan tindakan Sabi. Segera ditepisnya tangan Sabi yang sedang memegangi pundanya.


"heeeey.. Santai aja kali, ini pesta bukan medan perang. Jangan terlalu norak gitu dong bro!" serang Sabi seraya mengelap tangannya yang barusan disentuh oleh Zayn.


Ridwan yang melihat hal itu, segera bergerak dan mendorong Sabi hingga Sabi termundur beberapa langkah.


"Yaaa! berhentiii..!" Zulaikha sedikit berteriak, berusaha tenang, dan melerai Ridwan dan Sabi yang saling berhadapan.


"hey ini pesta.. jangan membuat kekacauan ditempat seperti ini!" bentak Zulaikha dengan nada suara yang dikecilkan agar orang - orang tidak menyaksikan pertengkaran bodoh para lelaki ini.


"Minta dia untuk berhenti mengganggu Zayn maka hidupnya akan tenang!" bentak Ridwan. Lalu mendorong Zulaikha hingga gadis kecil itu terhuyung ke belakang dan menghantam tubuh Sabi.


"Aa.." desis Zulaikha.


"Maaf tuan muda." Zulaikha segera mencari keseimbangan kembali dan berdiri menundukkan kepalanya pada Sabi.


"Tidak apa - apa."


"Hey.. Apakah kamu waria? hahh?!" Sabi mulai memanas dan menarik Zulaikha untuk berdiri di belakangnya. Mata gadis itu mendadak membulat tak percaya dengan perlakuan tuannya.


"Bisa - bisanya kamu kasar seperti itu pada seorang gadis, kalau mau main kasar sama sesama pria bukan sama gadis!" bentak Sabi, sontak membuat semua para tamu undangan tiba - tiba meliriknya.


Keadaan langsung menjadi sunyi karena semua perhatian terfokus pada Sabi dan Ridwan yang sedang memanas.


"Berhenti tuan muda." bisik Zulaikha, lalu menarik Sabi untuk menjauh dari Zayn dan Ridwan.


"Stop Wan!" ucap Zayn tegas, menatap tajam Sabi dan Zulaikha secara bergantian.


Tiba - tiba terdengar suara mic diketuk - ketuk berapa kali oleh seorang wanita paruh baya dengan paras yang cantik nan anggun. Wanita itu dibaluti dengan pakaian putih elegan dengan rambut hitam legam yang disanggul rapih menambah ke eleganan dirinya. Wanita itu tak lain adalah Nyonya Denisa, istri dari paman Andi Syafar.


"Selamat malam para hadirin.. Tamu saya yang terhormat, tuan dan nyonya." ucap Nyonya Denisa dengan nada suara yang lembut hingga mampu mengalihkan pandangan para tamu menuju padanya.


"Malam ini saya mengadakan sebuah pesta kecil - kecilan di gubuk sederhanaku ini untuk menyambut kedatangan seseorang." sambung Nyonya Denisa.


"Ciih.. gubuk katamu??!" ucap Zayn yang tak terlalu suka dengan ucapan Nyonya Denisa barusan.


Sementara Sabi terlihat sedang melirik Ibunya Nyonya Sura yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Nampak wajah Ibu yang terlihat sedikit tak suka melihat nyonya Denisa yang berada di tengah kerumunan para tamu.


"Namun sebelum saya memanggilnya untuk ikut bergabung bersama kita semua. Silahkan ambil gelas yang diberikan oleh pelayan saya." ucap Nyonya Denisa yang mempersilahkan para tamu untuk memegang gelas yang berisikan minuman anggur mewah.


"Nyonya dan tuan, tenang saja. Isi dari gelas itu bukanlah sembarang anggur, atau anggur murahan yaa.." Nyonya Denisa tertawa kecil sambil sesekali melirik Nyonya Sura. Menunjukkan bahwa betapa hebatnya dirinya sekarang ini, ditatap oleh orang - orang kaya lainnya.


"Oke, sepertinya semua tamu telah memegang gelas anggur. Nah.. tanpa perlu menunggu lama - lama lagi, inilah tamu spesial kita. Seorang desainer muda ternama dan merupakan seorang anak muda terkaya nomor 5 di dunia, mari kita sambut Queen Lee..." Ucap Nyonya Denisa dengan brsemangat, disusuli oleh suara riuh tepuk tangan oleh para tamu.


"Waoow.. anak muda terkaya nomor 5 di dunia?! Hebat!" seru Zulaikha kagum diiringi tepuk tangan yang tak kalah meriah dari tamu - tamu lain.


Pintu kamar perlahan terbuka dan Queen keluar dari kamar dengan anggunnya.



"Wanita bar bar?!" Mata Sabi membulat sempurna, tak menyangka bahwa tamu yang dianggap spesial dan hebat ternyata adalah wanita yang hampir membunuhnya di hotel secara bar bar.


"Serius waniita bar - bar itu anak muda terkaya nomor 5?" sekali lagi Sabi masih belum percaya apa yang dilihatnya saat ini.


Ketika semua orang terkagum - kagum pada Queen yang sedang berjalan menuruni tangga. Zayn dan Ridwan santai meresapi minuman anggur yang disodorkan oleh pelayan.


"Waah.. dia sempurna. Sudah cantik, sukses lagi." kata seorang tamu yang berada tepat disebelah Zayn.


"Iya.. dia sempurna. Aku iri dengannya." sahut seorang tamu wanita yang tak sengaja menyenggol bahu Zayn. Karena terlalu bersemangat untuk melihat Queen secara detail.


Zayn segera menengok ke tamu wanita itu, dan mendapati ekspresi beragam dari para tamu wanita yang ada disekitarnya. Ada yang senang dan ada juga yang menatap sinis ke Queen, yah bisa dibilang itu tatapan dengki dan iri hati. Bahkan ada beberapa wanita yang berbisik - bisik menggosipi Queen yang sementara lewat didepan mereka.


Melihat hal itu Zayn tersenyum sinis, dan segera mengalihkan pandangannya.


Deg!


Pandangan Zayn terhenti pada wanita cantik yang sedang jadi sorotan saat itu yaitu Queen. Tatapan mata mereka bertemu. Ada sebuah raut yang tak bisa tertebak, terukir di wajah Zayn. Sementara Queen membalas dengan senyuman, kemudian kembali mengalihakn pandangannya ke para tamu lainnya.


Lil...


"Tuan, disana ada CEO Andi Syafar. Sebaiknya anda menyapanya." ajak Ridwan.


Zayn masih diam, menatap punggung Queen yang telah menjauh darinya.


"Tuan..." panggil Ridwan.


"Tuan..." panggil Ridwan lagi, kali ini dengan menggoyangkan lengan Zayn, menyadarkan Zayn dari lamunannya.


"Yaa.. iya."


"Anda kenapa tuan?" tanya Ridwan penasaran.


"Hm.. tidak apa - apa." sahutnya singkat.


Disisi lain, diseberang tempat Zayn berdiri bersama Ridwan. Terlihat Sabi sedang menghampiri ibunya, Nyonya Sura. Mereka terlihat sedang bercakap dengan raut wajah yang cukup serius. Lalu tak lama kemudian Sabi pergi meninggalkan Ibunya dengan membuang nafas kesal dan muka yang sedikit berkerut.


"Tuan muda.. apakah anda baik - baik saja?" tanya Zulaikha menghampiri Sabi yang berjalan keluar dari hiruk pikuk keramaian pesta.


"Pergi sana, jangan menggangguku."


"Tuan muda, aku tidak bisa pergi jika anda tidak baik - baik saja seperti ini." Zulaikha menolak tegas.


"Aku baik - baik saja. Pulanglah sana."


"Apakah anda yakin tuan?" tanya Zulaikha memastikan.


"Iya! pergi sana!" bentak Sabi, mengusir Zulaikha.


Mau tak mau, Zulaikha akhirnya menurut. Setidaknya dia sudah berusaha untuk selalu ada disamping bosnya.


Dengan berat hati dan sedikit senang, Zulaikha pergi meninggalkan Sabi yang mulai pergi entah kemana.


"Oke, saatnya pulaaaang.." seru Zulaikha girang dengan raut wajah bahagia.


Zulaikha kemudian menyusuri pintu keluar dengan berlenggak lenggok kegirangan hingga dia tak memperhatikan bahwa ada tamu yang tiba - tiba muncul di depannya entah darimana, lalu menyenggolnya.


"Maaf.." ketus tamu itu lalu pergi meninggalkan Zulaikha yang masih dalam posisi bertahan pada sebuah meja.


Dasar orang kaya. sudah salah, jutek lagi. Keluhnya sambil memperbaiki sebuah bingkai foto kecil yang tak sengaja dia jatuhkan.


"Untung tidak pecah."


Eeh.. ini..


Matanya tiba - tiba membelalak.


Foto seorang anak berumur 13 tahunan dengan pakaian rapih sambil memegang sebuah layangan. Membuatnya teringat pada seseorang yang dia kenal. Orang yang sudah lama tidak pernah lagi dia lihat. Orang yang selama ini dia cari - cari keberadaannya dan sekarang dia melihat sosok itu dalam bingkai foto itu.


"Apakah ini dia?" Matanya berkaca - kaca senang sambil berusaha memastikan kembali bahwa anak yang dalam foto itu adalah orang yang selama ini dia cari - cari.


"Ini pasti dia. Kalaupun hanya sekedar mirip, tidak mungkin akan persis seperti ini." ungkapnya yakin, tersenyum, sambil mengelus foto itu dengan lembut.


Bersambung ...