
Saat sampai di Mall W, mereka disambut dengan sangat meriah. Karangan - karangan bunga sebagai ucapan selamat dan juga penyambutan pada direktur baru berjejer dengan rapihnya. Diikuti dengan pegawai - pegawai mall yang berdiri dan berjejer rapih memberi hormat pada Sabi dan Nyonya Sura.
Sabi membalas hormat pegawai - pegawainya dengan ramah, berbanding terbalik dengan Nyonya Sura yang tetap menegakkan kepala berjalan dengan elegan dan percaya diri tanpa membalas salam dari para pegawai. Beberapa orang penting yang datang juga menyapa Sabi dan Nyonya Sura dengan ramah.
Diseberang tempat Sabi berdiri bersama Ibunya, terlihat seorang pria muda yang tinggi dengan setelan jas yang rapih dan dalaman
rajut berwarna biru tua, bagian kerahnya panjang menutupi hampir seluruh lehernya membuatnya terlihat modis dan berbeda dari penanam saham lainnya yang pada umumnya memakai jas berwarna hitam dengan dalaman kemeja yang tidak lepas dari dasi.
Wajah tampan yang rupawan meskipun tanpa senyun serta tatapan yang tajam dan dingin membuat wajahnya sangat maskulin, diikuti dengan sekertaris dan pengawal pribadinya yang terus setia berada dibelakangnya, sedikit tersenyum lalu menyapa Sabi dan Ibunya kemudian pergi memasuki ruangan.
"Zayn Adijaya.." Seru Sabi.
"Dia sangat tampan dan berwibawa..." Sambung Ibu Sabi sambil tersenyum.
"Mari kita masuk.. semua orang telah menunggu." Ajak seorang pria dengan penampilan kaku, bernama Jaka yang merupakan tangan kanan Ibu Sabi.
Tanpa berkata-kata Sabi dan Ibunya menuruti apa yang dikatakan oleh Pak Jaka, Pak Jaka lalu dengan setianya mengikuti Nyonya - nya dari belakang.
Acara berjalan dengan lancar, semua orang serempak memberi tepuk tangan yang meriah setelah Sabi memberikan pidatonya sebagai Direktur utama yang baru. Sabi memberikan senyum yang bersahabat dan percaya diri, sambil memberi hormat pada penanam - penanam saham dan juga pada pengusaha - pengusaha yang turut hadir sebagai rasa hormat dan terima kasih atas kepercayaan yang mereka berikan padanya untuk menjadi Direktur utama baru di Mall W.
"Tidakkah acara ini terlalu berlebihan?!" Ucap Zayn dingin.
"Menurut saya juga begitu tuan muda." Sahut sekertaris pribadinya yang bernama Ridwan.
"Ini hanya sebuah penyambutan untuk direktur utama baru, namun acara ini dibuat meriah seperti penyambutan CEO baru." Sambil memangku tangannya dengan tatapan yang datar. "Sepertinya mereka suka membuang-buang uang perusahaan untuk seseorang yang bahkan bukan siapa-siapa." Dengus Zayn.
Diantara hiruk pikuk ramainya orang-orang bertepuk tangan untuk Sabi, terlihat Zayn Adijaya yang hanya duduk diam sambil memangku tangannya, menatap Sabi dengan dingin.
"Tuan muda... kita masih punya agenda untuk menghadiri pertemuan dengan Bapak Ali Akbar, sebelum itu ada hal yang harus anda persiapkan." Bisik Ridwan sambil memperbaiki kacamatanya.
Zayn mengangguk mengerti, berdiri dengan tenang dan menatap Sabi yang ternyata sedang melihatnya dari podium, Zayn tersenyum tipis, menundukkan kepalanya sebagai pemberian hormatnya lalu berbalik meninggalkan ruangan.
*Zayn Adijaya*... Kenapa liat-liat hah? Iri yaa?! Sekarang kamu harus mengakui, bahwa tidak selamanya kamu akan berada diatas. Sabi membalas senyuman Zayn dengan penuh percaya diri.
Senyumnya seketika menghilang digantikan dengan tatapan tajam dan dingin. Sedangkan Sabi yang masih berdiri diatas podium, terus menatap punggung Zayn yang tanpa dia sadari bahwa senyumnya perlahan - lahan lenyap.
"Bertahanlah sedikit lagi nak..." Seru Ibu Sabi dengan tatapan penuh kebanggaan. "Ibu akan selalu ada dibelakangmu dan memastikanmu sampai di puncak." Tersenyum dengan sangat cerah, mata yang berkaca-kaca karena haru tak bisa disembunyikannya.
Bagi seorang single parent tentu tidaklah mudah untuk membesarkan, mendidik dan membawa anaknya bisa sukses maju sebagai Direktur utama. Butuh usaha dan kesabaran yang besar untuk mencapai semua yang telah mereka lalui. Terlebih lagi, dia dan Sabi bukanlah keluarga inti dari keluarga Andi.
Namun karena keluarga inti keluarga Andi, yang merupakan putra tertua di keluarga itu telah meninggal. Sehingga banyak warisan yang akan dialihkan dan juga jabatan yang telah disiapkan untuk keturunan dari putra pertama, dialihkan pada mereka yang merupakan keturunan dari anak angkat Andi Salma.
Andi Salma yang merupakan nenek dari Sabiru, telah menjanda saat umurnya masih berkisar 30an dan menjadikan dia salah satu pewaris dari harta mendiang suaminya Andi Saleh. Andi Saleh dan Andi Salma memiliki seorang putra tunggal yang bernama Andi Deswa Akbar.
Setelah beberapa tahun menjanda, Andi Salma mengadopsi dua anak sekaligus untuk menjadi saudara dari anak satu-satunya yang merasa kesepian. Mereka adalah Andi Shabir, mendiang dari ayah Andi Sabiru dan Andi Syafar yang merupakan anak angkat kedua.
Andi Deswa Akbar memiliki istri yang juga berasal dari keluarga konglomerat, putri satu-satunya dikeluarga Lubis. Yaitu Dewi Kumalasari Lubis. Sehingga membuat bisnis perusahaan Andi semakin melejit. Mereka dikaruniai seorang putra yang bernama Andi Maladewa Akbar, yang akan menjadi pewaris satu-satunya dari dua keluarga konglomerat.
Namun sangat disayangkan, takdir baik tidak berpihak pada keluarga inti Andi. Andi Deswa Akbar beserta istrinya dinyatakan meninggal dalam tragedi kecelakaan mobil, dan putra mereka satu-satunya menjadi yatim piatu diusia yang masih sangat muda.
Belum lama sepeninggalnya Andi Deswa Akbar meninggal bersama sang istri, Andi Shabir juga dinyatakan meninggal setelah terkena serangan jantung. Setelah terus mendapat duka yang berturut-turut, Andi Maladewa yang merupakan pewaris tunggalpun dinyatakan hilang dan meninggal. Sehingga membuat beberapa warisan terpecah, dan dibagi pada keturunan Andi Shabir dan Andi Syafar.
Berdasarkan hal itulah mengapa Nyonya Sura tidak sedetikpun, dia melepaskan tatapannya dari putra tercintanya yang masih berdiri di podium. Terus tersenyum bangga melihat putranya, bisa berada di posisi itu dengan mengandalkan keberuntungan takdir yang berpihak pada mereka.
Pak Jaka datang dan membungkukkan kepalanya, "Nyonya, mari saya antar anda keatas untuk berfoto dengan tuan muda". Menunjukkan jalan untuk Nyonya yang sangat dia hargai.
"Ibuu..." Sabi tersenyum melihat Ibunya yang telah berdiri disampingnya. Memeluk dan mencium pipi Ibu tercintanya, dia lalu merangkul tangan putih Ibunya dan Ibunya pun menyambut rangkulan Sabi dengan senyum cerah dan kepala yang disandarkan dipundak milik anak lelaki semata wayangnya.
...........
Disisi lain mall terdapat ruangan yang sedang ramai, tak kalah ramainya dari ruangan tempat penyambutan Sabi menjadi Direktur utama. Didalam ruangan itu penuh dengan orang - orang yang berpakaian putih hitam, pakaian yang umumnya dipakai ketika melamar kerja.
Yaa.. ruangan itu adalah ruangan ujian bagi pencari kerja yang ingin melamar menjadi asisten pribadi direktur yang baru.
Sabi menginginkan asisten yang cerdas dengan ingatan yang kuat, disiplin, kompeten, lincah, loyal dan 95% harus mendekati sempurna. Sehingga babak ujian bagi pelamar dia adakan, agar pelamar dengan poin tertinggilah yang akan menjadi sekertaris pribadinya.
"Aku pikir setelah lulus dari bangku kuliah akan terasa santai, karena aku tinggal mencari pekerjaan dan menghamburkan CV ku disetiap perusahaan yang membuka lowongan. Setelah itu aku tinggal menunggu panggilan wawancara, tapi.. siapa sangka sekarang aku harus berhadapan lagi dengan lembar ujian, mana belum belajar lagii!" Keluh salah seorang pelamar kerja wanita dengan wajah yang setengah pucat.
"Ayoolaah.. kamu tidak perlu gugup begitu!" Hibur seorang pelamar wanita dengan paras yang cantik. "Bagaimana aku tidak merasa gugup, sekarang aku merasa seperti akan ikut ujian kelulusan SMA, dan itu membuatku pusing..." balasnya.
"Namaku Bunga... oke, Bunga bakalan jelasin sedikit yang bunga pelajari. " Ujarnya sambil merapikan rambut.
Aa? tadi aku nanya namanya yaa?! kok aku ngga ingat yaa.. gumamnya masih dengan wajah yang setengah pucat.
Bunga menepuk bahu wanita yang sedang diajaknya bicara, sontak wanita yang sedang lunglai, pusing dan tak berdaya memikirkan soal ujian mendadak kaget dan fokus memperhatikan Bunga.
"Kamu ngga boleh gugup gitu.. singkirkan semua kegugupanmu!" sambil tersenyum dengan percaya diri.
Laahh.. emang kenapa kalo gugup?! aku juga manusia kaliii.
"Kegugupan bisa membuat kecantikan sejati yang ada pada dalam diri kita menghilang..." mengibaskan rambut panjangnya ke belakang.
Haaa?!
"Sementara kecantikan itu adalah point utama, ingat! point utama! karna CEO - CEO atau Direktur -direktur itu bakalan milih sekertaris wanita yang cantik... Jadi jagalah penampilanmu dan jagalah kecantikanmu!" jelasnya sambil cengingisan.
wanita yang diajaknya bicara hanya melongo tak percaya dengan perkataan Bunga.
"Niihh.." Bunga menyodorkan sebuah lipstik berwarna merah merona.
"ngga usah nanya - nanya lagi yaa.. ha? untuk apa? pokoknya pake ajaaa.. Biar keliatan cantik sedikit okee?!" paksanya.
"Ini adalah ujian, ujian dilakukan untuk menguji isi otak kalian, bukan untuk melihat kecantikan kalian... Jika mereka ingin melihat kecantikan kalian, mungkin mereka tidak akan mengadakan ujian bagi para pelamar, tapi.. mereka akan mengadakan fashion show !" Cetus seorang gadis dengan pakaian yang sangat rapih dan kaku.
waah waah waahh... siapa ni cewe kulot?! datang- datang entah dari negeri mana main nyambung-nyambung ngga jelas kek telfon iseng. Gumam bunga yang melirik kesal pada gadis yang menyanggah kata-katanya.
wanita pucat yang tadinya sedang menggoreskan lipstik merah dibibirnya mendadak berhenti ketika mendengar perkataan Zulaikha.
"Udah.. udah.. ngga apa - apa.. pake aja! udah terlanjurkan, salah - salah dipake cuman setengah." Bunga menepuk - nepuk bahu wanita itu dengan manja.
Ya Allah.. tanda - tanda tak lulus kah ini?! Gumam wanita pucat yang semakin putus asa.
Dasar katroo!!!
Bunga melirik gadis yang dia panggil katro dengan tatapan kesal.
"Sesi pertama telah selesai... pelamar sesi kedua silahkan ikut saya dengan berbaris rapih dan tertib!" Teriak salah seorang panitia yang berdiri di pintu masuk ruang tunggu.
"Kita lihat saja nanti, kacantikan atau si otak sok tau yang lulus!" tantang Bunga sambil menggoyang-goyangkan cerminnya didepan wajah Zulaikha. "Namaku Bunga... Putri Bunga Mentari, kamu harus mengingat namaku baik - baik yaaa.. biar kamu bisa ngecek, nama aku nanti yang terpampang di papan pengumuman bahwa si cantik yang lulus."
Gadis katro tak membalas ucapan Bunga yang dengan percaya dirinya bahwa dia akan lulus dalam tes itu. Gadis itu hanya menarik nafas panjang dan mengangkat kedua alisnya.
Begitulah gadis katro itu, selalu serius dengan apapun yang dia lakukan. Opitimis serta kompeten, baik dengan tugas maupun dengan lawan bicaranya. Perkenalkan.. nama gadis itu adalah Zulaikha Azzahra. Gadis cerdas yang membenci kekalahan.
Bersambung....